Senin, 29 Juni 2026

Wawancara tentang Situasi Terkini di Iran

Kami membagikan kepada kalian sebuah wawancara dengan seorang kawan Marxis dari Iran. Ehsan Sohrabian Mehryazdi pernah aktif dalam gerakan kiri di Iran, dan kini tinggal di Trier. Kami berbincang dengannya pada pertengahan April, yakni sekitar satu setengah bulan setelah dimulainya perang agresi oleh Amerika Serikat dan Israel. Wawancara ini telah kami terjemahkan, tetapi isinya tetap merupakan perspektif Ehsan sendiri dan, sejauh mungkin, mempertahankan pilihan kata-katanya. Dalam wawancara ini, Ehsan menjelaskan perkembangan sejarah serta situasi politik terkini di Iran. Ia juga menguraikan bagaimana perjuangan gerakan kiri terus berlanjut di bawah kondisi negara yang represif, serta bagaimana masa depan yang ditentukan sendiri oleh rakyat dapat dibangun di Iran. Dan masih banyak lagi.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ehsan atas kesediaannya berbagi pandangan dan pengalaman ini.

Siapa Anda dan di organisasi mana Anda pernah atau sedang beraktivitas?

Saya adalah seorang aktivis gerakan kiri di Iran. Sejak muda saya mempelajari Marxisme, dan pada awal tahun 2000-an saya mulai terlibat dalam kerja politik serta aktivisme sosial.

Seperti apa aktivitas politik Anda di Iran?

Sebelum menjawab, izinkan saya terlebih dahulu menjelaskan situasi politik di Iran, khususnya kondisi gerakan kiri. Pada dekade 1980-an, gerakan komunis di Iran dibantai dengan cara yang paling kejam. Pada masa itu, Iran menjadi sebuah "ladang pembantaian massal" bagi kaum komunis, kelompok kiri, dan kekuatan politik yang memperjuangkan kebebasan. Puluhan ribu orang disiksa hingga tewas di penjara-penjara rezim, dieksekusi, atau dibunuh di jalanan, di rumah-rumah mereka, di tempat persembunyian, maupun di lokasi-lokasi lainnya. Ribuan jenazah dikuburkan di kuburan massal tanpa penanda apa pun. Hingga hari ini, mengunjungi makam-makam tersebut masih dilarang, dan banyak orang terus menghadapi penangkapan, kekerasan, serta hukuman penjara hanya karena berziarah atau menuntut keadilan, misalnya keluarga para korban dan para pencari keadilan (Justice Seekers, anggota gerakan keadilan). Dalam beberapa kasus, mereka yang ditahan bahkan dijatuhi hukuman mati. Golzar Khavaran merupakan salah satu kuburan massal yang paling dikenal. Dekade 1980-an merupakan salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Iran. Dekade 1990-an juga merupakan masa penindasan yang sangat brutal serta pembunuhan politik yang dilakukan secara sistematis oleh negara, bukan hanya terhadap lawan-lawan politik, tetapi juga terhadap orang-orang yang memiliki pandangan berbeda, baik di dalam maupun di luar negeri. Di Iran, rangkaian pembunuhan tersebut dikenal sebagai "Pembunuhan Berantai". 

Kita juga tidak boleh melupakan bahwa selama bertahun-tahun itu, pemerintah-pemerintah Barat, termasuk negara-negara Eropa, menjalin kerja sama yang sangat erat dengan rezim Iran. Negara-negara tersebut tidak menanggapi secara serius berbagai kasus pembunuhan terhadap lawan-lawan rezim, memilih bungkam, bahkan dalam beberapa kasus memulangkan para pelaku pembunuhan itu ke Iran dengan pesawat. Sebagai contoh, pemerintah Austria menolak menangkap orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap Dr. Abdul Rahman Ghassemlou (1989, mantan ketua Partai Demokrat Kurdistan Iran) dengan alasan "kekebalan diplomatik". Alih-alih ditangkap, pelaku justru dipulangkan dari Austria ke Iran. Ia kemudian menjadi anggota tim perunding nuklir Iran, dan kini terlibat dalam perundingan diplomatik dengan Amerika Serikat di Pakistan.

Sepanjang kekuasaan Republik Islam Iran, setiap bentuk aktivitas politik yang bersifat kepartaian maupun kegiatan politik yang terorganisasi dianggap sebagai kejahatan berat dan dihukum dengan sanksi yang sangat keras, seperti hukuman penjara bertahun-tahun bahkan hukuman mati. Pada tahun-tahun setelah 2000, ketika gerakan kiri mulai bangkit kembali di Iran, berbagai kekuatan kiri mengorganisasikan aktivitas mereka melalui serikat-serikat profesi dan serikat buruh, organisasi pekerja, organisasi perempuan, organisasi hak asasi manusia, organisasi hak anak, dan sebagainya. Dari sudut pandang pemerintah, organisasi-organisasi ini juga tetap dianggap ilegal. Anggota-anggotanya terus-menerus menghadapi pengawasan, penangkapan, dan pemenjaraan. Meskipun demikian, risiko aktivitas politik semacam ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan aktivitas kepartaian. Karena itu, saya pun bekerja sama dengan organisasi-organisasi buruh, para aktivis gerakan perempuan, gerakan keadilan (Justice-Seeking), dan berbagai bidang lainnya. Secara khusus, sejak tahun 2008 saya aktif dalam Asosiasi Pembela Hak-Hak Buruh. Organisasi ini merupakan organisasi kiri yang demokratis, tempat orang-orang dari berbagai kecenderungan Marxis bekerja bersama. Perlu saya tegaskan bahwa organisasi ini bukanlah satu-satunya organisasi semacam itu, melainkan hanya salah satu dari sekian banyak organisasi yang hingga kini tetap aktif, terus berjuang, dan terus mengorganisasi diri di tengah kondisi penindasan.

Bagaimana Anda menilai situasi Iran saat ini di tengah serangan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat?

Serangan Amerika Serikat dan Israel telah memperburuk sekaligus memperumit situasi secara drastis. Perang ini bukan hanya menyebabkan terbunuhnya warga sipil, kehancuran, dan rusaknya infrastruktur negara. Perang juga memberi rezim kesempatan untuk memperluas penindasan secara besar-besaran dengan dalih "keadaan perang" serta melalui tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar dan palsu, seperti "bekerja sama dengan negara-negara musuh". Selama hari-hari perang ini, negara, di balik bayang-bayang pengeboman dan pemberitaan perang, kembali mengaktifkan mesin eksekusi dan pembunuhannya di dalam penjara. Mereka mengeksekusi orang-orang yang telah bertahun-tahun dipenjara karena alasan politik. Dalam waktu yang sangat singkat ini, lebih dari 4.000 orang ditangkap berdasarkan tuduhan yang sama sekali tidak berdasar, lalu dibawa ke ruang-ruang penyiksaan dan penjara. Setiap hari, orang-orang di jalan menjalani penggeledahan badan secara menyeluruh (termasuk pemeriksaan terhadap bagian-bagian tubuh yang paling pribadi), sementara telepon genggam mereka diperiksa di jalan, di kafe, maupun di restoran. Perang ini telah memberi penguasa dalih untuk memperluas skala penindasan dan menciptakan suasana teror serta ketakutan. Izinkan saya mengatakannya secara terus terang dan sederhana: rezim Iran bukanlah sekadar sebuah kediktatoran biasa, melainkan sebuah rezim fasisme religius yang sangat represif.

Pada saat yang sama, harus dikatakan bahwa kekuatan-kekuatan yang kini mengebom rakyat serta infrastruktur vital adalah kekuatan yang sama yang dahulu memainkan peran penting dalam membawa fasisme Islam berkuasa, dan selama bertahun-tahun bekerja sama secara erat dengannya. Korban sesungguhnya dari perang ini adalah rakyat Iran. Di satu sisi, mereka terbunuh akibat pengeboman yang bersifat kriminal, sementara rumah dan kehidupan mereka dihancurkan. Di sisi lain, mereka menghadapi penindasan yang semakin brutal dengan dalih perang. Lebih jauh lagi, mereka dirampas dari kemungkinan untuk menjalani kehidupan yang bermartabat selama beberapa dekade mendatang. Hal itu terjadi melalui penghancuran infrastruktur ekonomi dan industri, seperti fasilitas minyak, kilang, pabrik, dan sebagainya, serta infrastruktur perkotaan seperti jembatan, jalan raya, jalur kereta api, bandara, sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Bagaimana bentuk perlawanan di Iran terhadap negara Iran dan struktur-strukturnya?

Perlawanan di Iran terhadap rezim dan struktur kekuasaannya hadir dalam berbagai bentuk. Gerakan ini pada dasarnya bersifat terdesentralisasi dan tumbuh dari bawah. Bentuk-bentuknya meliputi pemogokan buruh, aksi protes para guru dan pensiunan, gerakan perempuan, komunitas LGBTQ+, protes mahasiswa, perjuangan lingkungan hidup, gerakan keadilan yang dipimpin oleh keluarga para korban eksekusi dan pembunuhan, perlawanan sipil, serta gelombang protes sosial berskala besar. Dalam berbagai perjuangan tersebut, kaum komunis dan kelompok kiri, arus nasionalis yang berhaluan kiri maupun liberal, kaum feminis, aktivis anti-represi, aktivis lingkungan, aktivis serikat buruh dan sindikat, serta berbagai pegiat hak asasi manusia lainnya turut berperan aktif. Aktivis dari partai-partai oposisi juga terus melanjutkan perjuangan mereka meskipun harus menghadapi risiko yang sangat besar, mulai dari hukuman penjara yang panjang hingga ancaman hukuman mati. Di samping itu, rakyat terus melakukan perlawanan sipil terhadap berbagai undang-undang dan kebijakan rezim. Setiap beberapa minggu, bahkan terkadang jutaan orang turun ke jalan untuk menyampaikan protes. Namun, tanggapan pemerintah terhadap aksi-aksi tersebut tidak pernah berubah: peluru, penangkapan, penyiksaan, pengakuan paksa, dan eksekusi. Ciri paling menonjol dari gerakan perlawanan ini adalah tidak adanya kepemimpinan yang terpusat serta ketergantungannya pada jaringan-jaringan informal. Kondisi ini sekaligus menjadi kekuatan dan kelemahannya. Di satu sisi, struktur yang terdesentralisasi membuat gerakan lebih mampu bertahan menghadapi represi. Di sisi lain, kondisi tersebut menyulitkan pembentukan organisasi yang berkelanjutan dan efektif. Situasi ini merupakan akibat langsung dari represi yang berlangsung secara sistematis dan masif.

Apa peran kekuatan-kekuatan sosialis dalam perjuangan ini?

Kekuatan-kekuatan sosialis memainkan peran yang penting dalam perjuangan yang sedang berlangsung di Iran, meskipun sebagian besar aktivitas mereka bersifat tidak resmi dan tersebar. Mereka berupaya merumuskan tuntutan-tuntutan yang berorientasi pada kepentingan kelas pekerja dan keadilan sosial, serta membantu merencanakan dan mengorganisasi pemogokan yang dilakukan oleh buruh, guru, perawat, mahasiswa, pensiunan, dan kelompok-kelompok lainnya. Selain itu, mereka juga mendukung gerakan feminis, gerakan pembela hak-hak anak dan pekerja anak-anak, gerakan pencari keadilan, serta berbagai gerakan lain yang memperjuangkan kebebasan, hak asasi manusia, dan keadilan sosial. Kekuatan-kekuatan sosialis berusaha menganalisis aksi-aksi protes dan pemogokan dari perspektif kelas dan politik kiri, sekaligus membangun hubungan antara berbagai perjuangan yang masih terpisah-pisah. Bagian penting lain dari kerja mereka adalah memproduksi dan menyebarluaskan pengetahuan politik serta teori. Kegiatan ini meliputi penulisan dan penerjemahan teks-teks Marxis, analisis terhadap kondisi sosial-ekonomi, serta upaya memperkuat kesadaran kelas di kalangan kaum muda dan para aktivis yang baru bergabung dalam gerakan-gerakan sosial. Selain itu, kaum sosialis juga berperan dalam menyebarkan metode-metode pengorganisasian, memperkuat jaringan di dalam kelas pekerja, serta mengorganisasi berbagai bentuk aksi kolektif.

Dalam kondisi seperti apa kaum sosialis berjuang di Iran?

Negara Iran diperintah oleh rezim fasis yang, pada saat yang sama, menerapkan bentuk kebijakan ekonomi neoliberal yang sangat ekstrem dalam hubungannya dengan tatanan internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga-lembaga neoliberal resmi seperti Dana Moneter Internasional (IMF) berulang kali memuji reformasi ekonomi pemerintah ini, khususnya langkah-langkah seperti penurunan biaya tenaga kerja, pencabutan subsidi, dan program penyesuaian struktural. Iran adalah surga bagi para pemilik modal, tetapi neraka bagi kelas pekerja yang bergantung pada upah dan mereka yang dieksploitasi. Sementara segelintir orang hidup bak di istana dengan kemewahan, mayoritas masyarakat bahkan tidak memiliki syarat minimum untuk menjalani kehidupan yang bermartabat. Demi bertahan hidup, sebagian orang, termasuk anak-anak berusia di bawah lima tahun, terpaksa mencari makanan di tempat sampah. Setiap tahun, inflasi ekonomi meningkat rata-rata sekitar 50%, sementara upah justru terus menurun. Saat ini, upah bulanan bagi pekerja dengan bayaran terendah kurang dari 100 euro, padahal harga banyak bahan makanan dan kebutuhan pokok bahkan lebih tinggi dibandingkan di Eropa. Padahal, Iran sebenarnya adalah negara yang sangat kaya. Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar ketiga dan cadangan gas terbesar kedua di dunia. Selain itu, Iran juga memiliki kekayaan tambang yang sangat melimpah, seperti emas, tembaga, besi, fosfat, serta ribuan sumber daya mineral lainnya. Namun, sebagian besar kekayaan tersebut dijarah oleh para pemimpin pemerintahan beserta keluarga mereka. Anak-anak para pejabat pemerintah memiliki kekayaan, perusahaan, dan istana yang sangat besar di berbagai negara. Dimensi ekonomi ini sangat penting untuk memahami posisi kelas negara serta bentuk hubungannya dengan masyarakat, kelas pekerja, dan kekuatan-kekuatan sosialis.

Perpaduan antara fasisme dan neoliberalisme sebagai bentuk modern kapitalisme otoriter telah menjadikan negara Iran memiliki karakter yang sangat brutal. Dalam kondisi seperti ini, kaum sosialis menghadapi bentuk-bentuk represi sistematis yang paling ekstrem. Pengorganisasian partai secara terbuka pada praktiknya hampir mustahil dilakukan dan disertai risiko serius berupa penangkapan, hukuman penjara jangka panjang, penyiksaan, pengakuan paksa yang disiarkan di televisi, bahkan hukuman mati. Selain itu, para aktivis, keluarga mereka, dan jaringan sosial mereka juga berada di bawah pengawasan yang sangat ketat. Karena itu, sebagian besar aktivitas sosialis berlangsung secara tidak resmi, semi-resmi, atau melalui kerangka serikat buruh, organisasi profesi, dan masyarakat sipil, yaitu ruang-ruang yang memberikan sedikit lebih banyak kebebasan untuk bergerak, tetapi tetap sangat berbahaya.

Bagaimana bentuk represi terhadap gerakan pembebasan di Iran?

Represi terhadap gerakan pembebasan di Iran bersifat struktural, sistematis, dan menyeluruh. Rezim menindas setiap suara kritis serta siapa pun yang tidak mendukung kebijakan yang berkuasa dengan berbagai cara. Bahkan orang-orang yang menafsirkan Islam secara berbeda dari pemerintah pun turut menjadi sasaran represi. Perlu dicatat bahwa masyarakat Iran saat ini sangat tidak religius, bahkan cenderung antireligius. Dari sudut pandang rezim Islam, keadaan ini tidak dapat diterima. Siapa pun yang menyatakan dirinya bukan seorang Muslim dianggap sebagai murtad (orang yang meninggalkan agama), dan hukumannya adalah mati. Represi besar-besaran telah dimulai sejak hari setelah rezim berdiri pada Februari 1979. Anda dapat melihat rekaman peristiwa 8 Maret 1979 di internet. Dengarkan slogan-slogan yang diteriakkan. Perempuan merupakan kelompok pertama yang mengalami penindasan berat di Iran. Represi sistematis tersebut meliputi penangkapan massal, hukuman penjara yang berat, penyiksaan, pengakuan paksa, eksekusi, serta tekanan langsung terhadap keluarga para aktivis politik dan masyarakat sipil.

Selain itu, aparat keamanan berusaha menghancurkan setiap bentuk pengorganisasian yang berkelanjutan dari dalam dengan menyusup ke organisasi-organisasi sosial dan struktur pengorganisasiannya. Di samping represi fisik, terdapat pula bentuk represi psikologis dan sosial, yaitu penciptaan suasana ketakutan yang meluas, ancaman yang terus-menerus, pengucilan dari pekerjaan dan pendidikan, serta penyingkiran sistematis para aktivis dari kehidupan sosial. Salah satu metode lain yang digunakan rezim adalah menciptakan "oposisi buatan" yang bertujuan mencegah pengorganisasian dan radikalisasi perjuangan sosial, atau mengarahkannya ke jalan buntu. Di satu sisi, terdapat kelompok-kelompok paralel yang dikendalikan oleh aparat keamanan untuk membangun jaringan identifikasi dan jebakan guna menangkap para oposisi. Di sisi lain, sebagian pejabat dan anggota rezim menyebut diri mereka sebagai "kaum reformis". Arus reformis di Iran berbeda dengan "reformisme" di negara lain. Kelompok ini menginginkan kelangsungan sistem yang ada dengan mengusung slogan-slogan reformis yang pada kenyataannya tidak pernah diwujudkan.

Meskipun demikian, perlawanan dan perjuangan melawan seluruh aparatus negara tidak pernah berhenti. Hal ini terlihat, misalnya, dalam peristiwa yang berkaitan dengan Revolusi Januari 2026. Revolusi tersebut bermula dari protes terhadap kenaikan harga dan kondisi kehidupan yang sangat buruk. Beberapa juta orang turun ke jalan, tetapi satu-satunya jawaban pemerintah adalah peluru. Dalam beberapa hari saja, puluhan ribu orang ditembak, ratusan ribu orang terluka, ribuan orang kehilangan mata akibat tembakan peluru gotri, dan hampir enam puluh ribu orang ditangkap. Banyak dari mereka yang ditangkap dijatuhi hukuman mati hanya melalui persidangan yang berlangsung beberapa menit tanpa akses kepada pengacara. Banyak yang telah dieksekusi, sementara banyak lainnya masih menunggu pelaksanaan hukuman mati mereka.

Peran apa yang dimainkan oleh kelompok monarkis dalam aksi-aksi protes?

Arus monarkis pada umumnya cenderung bersifat ekstremis dan otoriter, bahkan sebagian memiliki ciri-ciri fasis. Beberapa tokoh mereka secara terbuka maupun tersirat menyerukan penindasan, penyingkiran, bahkan penggantungan kelompok-kelompok pesaing dan oposisi di pohon atau tiang lampu jalan. Namun, perlu dipahami bahwa masyarakat Iran merupakan masyarakat yang sangat beragam dengan sekitar 92 juta penduduk. Kelompok monarkis juga merupakan bagian dari keragaman tersebut, tetapi mereka bukan mayoritas masyarakat. Tentu saja, persentase yang kecil dalam masyarakat sebesar itu tetap dapat berjumlah beberapa juta orang, bahkan melebihi jumlah penduduk banyak negara. Meski demikian, dalam skala keseluruhan masyarakat Iran, mereka tetap merupakan kelompok minoritas.

Kehadiran mereka yang sangat kuat di media sebagian besar merupakan hasil dukungan internasional dari kekuatan-kekuatan dunia seperti Amerika Serikat. Fakta bahwa arus monarkis memiliki media yang sangat profesional serta stasiun televisi 24 jam yang megah dengan biaya mencapai miliaran menunjukkan dari mana sumber pendanaannya berasal. Pemerintah dan media Eropa, Amerika Serikat, serta Israel kerap berupaya menampilkan mereka sebagai alternatif politik bagi situasi yang ada di Iran. Karena itu, peran kaum monarkis lebih menonjol di media dan di kalangan diaspora daripada dalam realitas sosial di dalam Iran. Hubungan organik dan struktural mereka dengan basis sosial di Iran sangat terbatas. Mereka terutama dipromosikan di luar negeri sebagai alternatif politik dan berupaya menyebarkan narasi mereka mengenai masa depan politik Iran.

Sementara itu, perlawanan di dalam Iran memiliki karakter yang beragam. Sebagian besar aksi protes di negara tersebut berpusat pada tuntutan keadilan, perlawanan terhadap penindasan, dan penolakan terhadap struktur-struktur otoriter, bukan pada tuntutan untuk mengembalikan monarki. Pada saat yang sama, tidak mengherankan jika dalam masyarakat yang berjumlah 92 juta jiwa terdapat sebagian orang yang, karena keputusasaan, tertarik kepada arus-arus tersebut. Oleh karena itu, terdapat kesenjangan yang sangat dalam dan jelas antara narasi kelompok monarkis dengan realitas gerakan-gerakan sosial di Iran.

Peran apa yang dimainkan oleh suara-suara warga Iran di pengasingan atau diaspora?

Suara warga Iran yang tinggal di luar negeri dapat memainkan peran penting dalam membawa protes-protes di Iran ke perhatian dunia melalui penyebaran informasi, menarik perhatian media, memberikan tekanan politik, dan membangun solidaritas internasional. Namun, pada saat yang sama terdapat jarak antara realitas kehidupan dan pengalaman yang dijalani di dalam Iran dengan ruang politik diaspora. Jarak ini terkadang menimbulkan perbedaan analisis, persaingan politik, bahkan fragmentasi dalam representasi politik berbagai gerakan. Karena itu, peran diaspora sekaligus penting dan juga diperdebatkan. Berbagai kelompok warga Iran di pengasingan memiliki tingkat pengaruh yang berbeda-beda terhadap media di negara tempat mereka tinggal. Arus kiri, demokratis, pembela kebebasan, dan kelompok yang dekat dengan rakyat pada umumnya memiliki akses yang sangat terbatas ke media massa. Akibatnya, kemampuan mereka untuk menyuarakan aspirasi rakyat yang sebenarnya juga terbatas. Hal inilah yang sering kali menyebabkan suara kelompok kanan ekstrem dan kaum monarkis yang mendorong perang lebih banyak terdengar. Meski demikian, kekuatan-kekuatan demokratis tetap telah berupaya dan terus berupaya menjadi suara rakyat Iran, meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Namun, saya berpendapat bahwa upaya-upaya tersebut, baik di masa lalu maupun saat ini, masih belum memadai. Diperlukan usaha yang lebih besar, serta pengembangan berbagai kemungkinan dan saluran baru agar suara rakyat Iran dapat didengar dengan lebih luas.

Bagaimana Anda memandang kontribusi kiri global terhadap situasi di Iran?

Kiri global tidak memiliki satu posisi yang seragam. Sebagian menunjukkan solidaritas terhadap gerakan-gerakan sosial di Iran, khususnya gerakan perempuan dan gerakan buruh. Namun, sebagian lainnya terjebak dalam dualisme geopolitik: kelompok ini terlalu berfokus pada "perlawanan terhadap Barat/AS" atau, karena menolak intervensi eksternal, gagal mengambil sikap yang tegas terhadap penindasan di dalam negeri. Akibatnya, salah satu persoalan terbesar adalah tidak adanya pemahaman yang konsisten mengenai kemandirian gerakan-gerakan sosial di Iran, sementara analisis kelas direduksi menjadi sekadar persaingan geopolitik. Kelompok kiri ini sebagian terdiri atas sisa-sisa partai yang dahulu pro-Uni Soviet atau kecenderungan Trotskis tertentu. Alih-alih melihat kondisi nyata di Iran dan menyusun analisis kelas berdasarkan kenyataan tersebut, mereka justru mengadopsi propaganda media Iran ataupun media Barat. Krisis analisis ini juga tercermin dalam kondisi sosial partai-partai tersebut: umumnya mereka memiliki basis sosial yang sangat terbatas dan tidak mampu membangun hubungan nyata dengan kelas pekerja maupun massa rakyat. Isu utama dan paling sentral bagi mereka justru adalah persaingan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat.

Namun, untuk memahami posisi Iran dengan lebih baik, kita harus menengok jauh ke belakang. Kita harus memahami bagaimana rezim Islam lahir dan bagaimana hubungan internasionalnya berkembang selama bertahun-tahun. Revolusi 1979 adalah sebuah revolusi demokratis yang mengusung tuntutan kebebasan dan keadilan sosial, yang telah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Pemberontakan pada tahun 1979 merupakan tahap terakhir dari proses tersebut. Pelopor revolusi ini adalah partai-partai, organisasi-organisasi, dan arus-arus kiri, Front Nasional Iran, Organisasi Mujahidin Rakyat Iran (MEK), Partai Tudeh, serta banyak kekuatan demokratis lainnya. Bagi kekuatan-kekuatan imperialis dunia, pada puncak Perang Dingin, bergabungnya jutaan rakyat Iran ke dalam revolusi dan memenuhi jalan-jalan karena kesabaran mereka telah habis merupakan sebuah sinyal bahaya.

Setelah revolusi dimulai, para pemimpin negara-negara G7 dalam "Konferensi Guadeloupe" (4–7 Januari 1979) memutuskan bahwa kekuatan fundamentalis religius di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini harus dibawa ke tampuk kekuasaan di Iran untuk mencegah kaum komunis dan kekuatan-kekuatan anti-imperialis mengambil alih pemerintahan. Dengan demikian, beberapa tujuan dapat dicapai sekaligus. Pertama, memastikan bahwa kaum komunis, kekuatan kiri, kekuatan demokratis dan anti-imperialis, maupun Front Nasional Iran tidak berkuasa. Kedua, membendung pengaruh Uni Soviet. Ketiga, menjamin kelangsungan aliran minyak. Keempat, membuka kemungkinan mengepung Afghanistan, yang saat itu diperintah oleh pemerintahan kiri yang dekat dengan Uni Soviet. Selain itu, terdapat pula tujuan-tujuan geopolitik dan strategis lainnya.

Karena alasan itu, pada awal Oktober 1978, Khomeini dibawa ke Neauphle-le-Château di Prancis untuk melakukan perundingan. Di sana, Khomeini berjanji akan menjaga kelangsungan aliran minyak serta membantai dan menindas kekuatan-kekuatan komunis, kiri, anti-imperialis, dan nasionalis. Selanjutnya, mulai 4 Januari 1979 (bertepatan dengan dimulainya "Konferensi Guadeloupe"), Jenderal Huyser datang ke Teheran untuk berunding dengan para pemimpin angkatan bersenjata negara serta mengarahkan mereka mengenai pergantian rezim dan dukungan terhadap Khomeini. Poster-poster Khomeini dicetak dan didistribusikan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran. Selain itu, sebutan "Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Iran" pertama kali disiarkan oleh layanan berbahasa Persia “Radio Amerika”. Struktur kekuatan militer dan aparat penindasan pada dasarnya dialihkan kepada rezim baru tanpa perubahan yang berarti.

Selama bertahun-tahun ketika rezim Islam secara lahiriah mengusung slogan-slogan anti-Amerika dan anti-Israel, dalam praktiknya rezim tersebut menjalin hubungan rahasia dan luas dengan kedua negara tersebut. Sebagai contoh, pada akhir Mei 1986, sebuah delegasi yang terdiri atas anggota CIA, Dewan Keamanan Nasional AS, dan Mossad, yang dipimpin oleh Robert McFarlane, datang ke Teheran untuk melakukan perundingan serta membahas penjualan senjata. Israel bertindak sebagai perantara dalam transaksi tersebut. Peristiwa ini beberapa bulan kemudian dibongkar oleh sebuah majalah Lebanon dan dikenal sebagai Iran-Contra, salah satu skandal terbesar pada dekade 1980-an. Pada tahun-tahun berikutnya, hubungan tersebut terus berlanjut, antara lain melalui kerja sama luas antara Iran dan Amerika Serikat dalam Perang Afghanistan (2001) dan Perang Irak (2003). Setelah jatuhnya Saddam Hussein, kendali atas Irak pada praktiknya diserahkan kepada Iran; pembentukan pemerintahan dan arah politik Irak berada di bawah pengaruh Iran. Namun, perbedaan mulai muncul pada tahun 2002 setelah program nuklir Iran terungkap. Sejak saat itu berlangsung berbagai putaran perundingan antara Iran, Amerika Serikat, Eropa, Tiongkok, dan Rusia. Perselisihan semakin memburuk karena Iran tetap bersikeras mempertahankan kapasitas nuklirnya hingga mencapai situasi seperti sekarang.

Sayangnya, sebagian kiri global hanya memusatkan perhatian pada pertentangan antara rezim Iran dan pemerintah Amerika Serikat. Dalam praktiknya, mereka justru membela salah satu rezim religius yang paling reaksioner dan represif, tanpa memperhatikan akar-akar kompleks dari naiknya rezim Islam ke tampuk kekuasaan serta hubungan rahasia maupun terbukanya dengan imperialisme, khususnya dengan Amerika Serikat. Dalam pandangan ini, konsep imperialisme disederhanakan dan hanya dibatasi pada Amerika Serikat. Setiap negara yang memiliki perselisihan dengan Amerika Serikat otomatis dianggap sebagai "anti-imperialis". Dengan demikian, peran ekonomi-politik rezim Iran dalam hubungan global serta karakter neoliberalnya yang sangat ekstrem diabaikan. Penindasan sistematis terhadap rakyat pun tampak diperkecil atau dianggap tidak penting dalam analisis mereka. Mungkin sudah saatnya partai-partai tersebut, yang umumnya menganggap diri mereka sebagai Leninis, membaca kembali buku Lenin, “Imperialisme sebagai Tahap Tertinggi Kapitalisme”.

Apa perspektif bagi kehidupan yang bebas dan ditentukan sendiri di kawasan ini?

Perspektif bagi kehidupan yang bebas dan ditentukan sendiri di Iran maupun di kawasan ini tidak akan lahir melalui intervensi dari luar ataupun melalui alternatif-alternatif otoriter yang dipaksakan dari atas, melainkan melalui kelanjutan dan pendalaman perjuangan-perjuangan sosial dari bawah. Perspektif ini bergantung pada gerakan buruh, gerakan perempuan dan LGBTQ+, gerakan mahasiswa, gerakan keadilan, gerakan kelompok etnis tertindas, serta berbagai bentuk perlawanan sosial lainnya. Prasyarat utamanya adalah membangun hubungan yang berkelanjutan di antara gerakan-gerakan tersebut, memperkuat pengorganisasian yang independen, dan mengatasi fragmentasi yang disebabkan oleh represi. Perjuangan untuk keluar dari lingkaran despotisme, perang, dan ketergantungan menuntut solidaritas lintas negara di antara gerakan-gerakan buruh, serta perjuangan yang berlangsung secara bersamaan melawan imperialisme, kekuasaan represif di dalam negeri, dan kapitalisme neoliberal. Untuk itu, penguatan ikatan internasionalis dengan kekuatan-kekuatan kiri dan demokratis memiliki arti yang sangat mendasar.

Pengalaman seperti Confederation of Iranian Students–National Union (CISNU) menunjukkan bahwa kerja sama yang luas di antara berbagai kekuatan sangat mungkin diwujudkan. Pengalaman historis "Internasional Pertama" juga dapat menjadi inspirasi untuk melampaui sikap sektarian, perpecahan, dan keterisolasian. Kita tidak lebih "komunis" daripada Marx, Engels, Proudhon, Bakunin, maupun tokoh-tokoh lainnya. Karena itu, kita pun dapat bekerja sama satu sama lain.

Untuk mengatasi kondisi saat ini, beserta berbagai keterbatasan dan ketidakmampuan gerakan kiri di tingkat internasional, kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu dan menghidupkannya kembali dalam konteks masa kini. Pada akhirnya, hanya dengan mengatasi keterisolasian serta memperluas solidaritas di tingkat nasional, regional, dan global, masa depan yang bebas, manusiawi, dan ditentukan sendiri dapat dibangun. Masa depan yang lebih baik dan lebih manusiawi adalah sesuatu yang mungkin diwujudkan, dan kita harus secara sadar serta bersatu untuk membangunnya.


Diterjemahkan dari:

Ketuhanan: Sebuah Kritik terhadap Gagasan tentang Tuhan

Penulis: Johann Most


1. Dari Iman

Banyak hal dipercayai tentang Tuhan, padahal sesungguhnya tidak ada apa pun yang diketahui tentang-Nya. Sebab iman adalah penyangkalan terhadap pengetahuan. Seseorang hanya percaya pada apa yang tidak diketahuinya; terhadap apa yang telah diketahuinya, ia tidak lagi memerlukan kepercayaan.

Seseorang dapat menduga sesuatu, atau menganggap sesuatu mungkin terjadi. Namun, mempercayai sesuatu tanpa mengetahui dasarnya adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Pengetahuan bersifat positif, sedangkan iman bersifat semu. Iman adalah kegilaan, sebab orang beriman mengakui bahwa ia tidak mengetahui sesuatu yang sebenarnya hanya ada dalam khayalannya, tetapi pada saat yang sama ia memperlakukan khayalan itu seolah-olah merupakan kenyataan. Ketika seseorang berkata, "Aku percaya kepada Tuhan”, itu berarti ia tidak mengetahui apakah Tuhan benar-benar ada atau tidak. Namun, ia tetap merasa yakin akan keberadaan-Nya, tanpa mengetahui dari mana keyakinan itu berasal. Ia mengklaim bahwa ia "merasakan" keberadaan Tuhan, padahal apa yang disebut sebagai "perasaan" itu tidak lebih dari sebuah ilusi. Ia sekadar percaya kepada Tuhan, dan baginya hal itu sudah dianggap cukup.

Bahkan ada orang-orang yang bukan hanya mengatakan bahwa mereka percaya kepada Tuhan, tetapi juga mengklaim memiliki hubungan langsung dengan-Nya. Dalam kasus seperti ini, yang terjadi hanyalah halusinasi.

Iman memungkinkan, bahkan melahirkan, tak terhitung banyaknya gagasan tentang Tuhan. Kesamaan dari semua gagasan itu adalah anggapan bahwa Tuhan merupakan suatu makhluk yang lebih berkuasa daripada manusia dan mengendalikan kehidupan mereka. Bayangan tentang kekuatan yang lebih tinggi itu berkembang hingga menjadi keyakinan akan kemahakuasaan, lalu bercabang menjadi berbagai gambaran yang sering kali menimbulkan rasa takut.

Karena itu, tidak mungkin memberikan definisi yang tepat mengenai konsep Tuhan. Namun demikian, dapat dibuktikan bahwa kepercayaan kepada Tuhan pada hakikatnya tidak lebih daripada suatu bentuk kegilaan. Membahas semua jenis Tuhan yang pernah dibayangkan manusia bukan hanya hampir mustahil, tetapi juga tidak perlu. Cukuplah jika gagasan-gagasan utama mengenai Tuhan dibedah dan dikritik, sebagaimana akan dilakukan dalam pembahasan berikutnya.


2. Tidak Ada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Baik

Jika Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Baik benar-benar ada, dan jika Ia menghendaki agar kita mengenal-Nya (sebab itulah yang dituntut oleh kemahabaikan-Nya), mengapa Ia tidak menampakkan diri? Jika Ia sungguh Maha Baik, mengapa Ia membiarkan kita tetap tidak mengetahui keberadaan-Nya? Mengetahui bahwa ada Tuhan yang Maha Baik tentu merupakan hal yang sangat penting. Seandainya Ia benar-benar Maha Baik, tidak ada alasan untuk takut bahwa penampakan-Nya akan menakutkan kita. (Ataukah kebaikan ilahi justru berarti kejahatan bagi manusia?) Dan jika Ia Maha Kuasa, tentu Ia dapat dengan mudah melindungi diri-Nya sendiri maupun kita dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Namun, karena tidak ada Tuhan yang menyatakan diri-Nya, tidak ada alasan untuk meragukan bahwa Tuhan yang sekaligus Maha Baik dan Maha Kuasa itu memang tidak ada.

Argumen ini saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa tidak ada Tuhan yang sekaligus Maha Baik dan Maha Kuasa. Oleh karena itu, argumen-argumen lain sebenarnya tidak lagi diperlukan.


3. Tidak Ada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana

Jika Tuhan yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa benar-benar ada, dan Dialah yang menciptakan dunia, bagaimana mungkin Ia menciptakan begitu banyak makhluk yang tidak bijaksana? Bagaimana mungkin makhluk yang sepenuhnya bijaksana menghasilkan sesuatu yang tidak bijaksana? Apakah kebijaksanaan-Nya begitu tinggi sehingga Ia menganggap bijaksana untuk tidak membagikannya kepada makhluk ciptaan-Nya? Ataukah para penganut agama hendak mengklaim bahwa segala sesuatu di dunia ini memang sudah bijaksana?

Dari sini jelas bahwa tidak ada Tuhan yang sekaligus Maha Bijaksana dan Maha Kuasa.


4. Tidak Ada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Adil

Jika Tuhan yang Maha Adil dan Maha Kuasa benar-benar ada, dan karena itu juga Maha Tahu, sehingga mengetahui seluruh penderitaan kita serta mampu mengakhirinya, mengapa Ia tidak melakukannya? Mengapa Tuhan yang Maha Adil dan Maha Kuasa membiarkan ketidakadilan merajalela? Mengapa Ia dengan tenang membiarkan seorang tiran membunuh anak yang tak berdaya? Mengapa Ia membiarkan yang lemah binasa sementara yang kuat terus berjaya? Bagaimana mungkin seseorang menyimpulkan dari kenyataan-kenyataan seperti itu bahwa Tuhan yang Maha Adil dan Maha Kuasa benar-benar ada?

Seandainya Tuhan Yang Maha Kuasa memang ada, maka Ia justru merupakan monster yang paling sempurna. Kekejaman demi kekejaman terjadi tanpa pernah terdengar satu pun kata, "Berhenti!" dari-Nya. Jutaan makhluk mengerang dalam belenggu perbudakan tanpa pernah dibebaskan oleh-Nya. Jutaan lainnya dibantai oleh kaum barbar yang mengamuk, sementara Tuhan Yang Maha Kuasa, sang monster itu, hanya memandang semua itu dengan tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Bukan hanya itu. Jika Tuhan Yang Maha Kuasa benar-benar ada, maka Dialah penyebab seluruh penderitaan, sebab tidak ada sesuatu pun yang dapat terjadi tanpa kehendak-Nya.

Menurut konsep Kekristenan, Tuhan seperti itu sebenarnya bukanlah Tuhan yang sejati, karena Ia tidak memiliki kemahabaikan maupun keadilan yang sempurna. Namun, dari sini muncul pertanyaan berikutnya: apakah kemahakuasaan itu sendiri benar-benar ada?


5. Tidak Ada Tuhan yang Maha Kuasa

Jika Tuhan Yang Maha Kuasa benar-benar ada, maka sebagaimana dikatakan oleh Mikhail Bakunin, Ia harus disingkirkan. Sebab, seperti yang telah kita lihat, Ia tidak mungkin menjadi apa pun selain seorang tiran. Namun, justru karena Ia Maha Kuasa, setiap usaha untuk membebaskan diri dari-Nya akan sia-sia. Bahkan seandainya Tuhan Yang Maha Kuasa sendiri menghendaki kebinasaan-Nya, pembebasan tetap mustahil. Sebab jika Yang Maha Kuasa adalah segala-galanya, sumber segala sebab, dan kehendak dari kehidupan itu sendiri, maka kehancuran-Nya berarti kehancuran segala sesuatu, termasuk diri kita sendiri.

Jika Tuhan adalah Yang Maha Kuasa, manusia tidak akan pernah mungkin menjadi makhluk yang bebas. Sebab jika Tuhan sungguh Maha Kuasa, manusia hanya dapat menjadi budak. Bahkan, jika Yang Maha Kuasa benar-benar ada, manusia tidak akan dapat disebut budak sekalipun. Ia hanyalah suatu benda yang sama sekali tidak memiliki kekuatan maupun sifat apa pun, sesuatu yang menurut akal sehat sama artinya dengan tidak ada. Namun manusia jelas merupakan sesuatu yang nyata. Karena itu, tidak ada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lebih jauh lagi, jika Tuhan Yang Maha Kuasa benar-benar ada, manusia tidak akan memiliki kehendak bebas. Akan tetapi, tak terhitung banyaknya kenyataan yang menunjukkan bahwa manusia memang memiliki kehendak bebas yang berkembang. Karena itu, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak ada.


6. Tidak Ada Tuhan yang Maha Hadir

Jika Tuhan Yang Maha Hadir benar-benar ada, dan karena itu hadir di mana-mana, maka kita seharusnya dapat melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan merasakan-Nya. Jika Ia berada di mana-mana, maka Ia juga harus berada di hadapan mata kita, di lidah kita, dan di mana pun kita dapat menangkap-Nya dengan indra kita. Namun kenyataannya tidak demikian. Maka Tuhan Yang Maha Hadir itu tidak berada di mana-mana, dan akibatnya sama sekali tidak ada. Ia hanyalah sesuatu yang tidak terlihat, tidak terdengar, tidak dapat dicium, tidak dapat dikecap, dan tidak dapat dirasakan.

Lalu, bagaimana mungkin seseorang mengakui keberadaan suatu makhluk yang sama sekali tidak dapat dipersepsi? Orang mungkin akan berkata bahwa Yang Maha Hadir itu bersifat tidak berwujud, sesuatu yang rohani. Andaikan, tanpa mengakuinya sebagai benar, hal itu memang demikian, bagaimana mungkin seseorang dapat membuktikan keberadaan-Nya?

Ketidakmasukakalan gagasan tentang Tuhan yang Maha Hadir namun tak dapat dipersepsi akan segera tampak jika dipikirkan sejenak. Roh yang tidak menempati ruang apa pun itu konon justru berada di mana-mana!

Karena dalam konsep Tuhan Yang Maha Hadir tidak ada satu tempat pun di mana Ia tidak berada, maka akibatnya Ia adalah segala sesuatu. Ya, Tuhan Yang Maha Hadir itu adalah segala sesuatu, termasuk bunga yang berwarna-warni, monyet meraung, palungan penuh kotoran yang berbau menyengat, dan sebagainya. Namun, kita tetap tidak dapat melihat, mendengar, mencium, mengecap, ataupun merasakan-Nya! Ini sungguh aneh. Dan untuk memahaminya, ternyata bukan akal budi yang dibutuhkan, melainkan iman yang besar.

Lalu, siapakah yang bahkan mampu membayangkan sesuatu yang tidak berwujud? Tidak berwujud! “Sesuatu" yang tersusun dari ketiadaan! Tetapi hal seperti ini memang tidak boleh dipikirkan. Hal itu harus diimani.


7. Tentang Tuhan Kaum Panteis

Tuhan kaum panteis sama sekali tidak berguna. Bagi mereka, Tuhan adalah dunia, adalah alam. Dengan demikian, manusia pun hanyalah bagian dari Tuhan, sehingga Tuhan kaum panteis bukanlah “pribadi” (personal). Ini adalah Tuhan yang sangat ganjil. Ia hanyalah suatu entitas, serupa dengan negara atau "masyarakat”. Ia akan menjadi Maha Kuasa hanya jika Ia merupakan seorang pribadi. Namun, seperti halnya negara, Ia hanya ada sejauh Ia diakui. Ia sendiri tidak mampu bertindak. Urusan-urusannya harus dijalankan oleh para wakil-Nya, karena Ia hanyalah bayangan kabur hasil khayalan, semacam hantu. Sebagaimana dikatakan oleh Heinrich Heine, Ia adalah "makhluk malang yang penuh lamunan, terjalin dan menyatu dengan dunia, seolah-olah terpenjara di dalamnya, lalu menguap di hadapanmu tanpa kehendak dan tanpa daya."

Wahai kaum panteis, sebut saja alam sebagai alam. Sebut saja dunia sebagai dunia. Mengapa segala sesuatu yang sudah memiliki nama masih harus diberi nama lain yang justru dengan sangat jelas memperlihatkan apa sebenarnya maksud di baliknya?


8. Dari Alkitab

Alkitab sebenarnya sama sekali tidak membuktikan adanya Tuhan. Kitab itu hanyalah sebuah buku yang dipenuhi kisah-kisah mengerikan, kemustahilan, dan kontradiksi. Kisah penciptaan, misalnya, merupakan kebohongan yang terang-terangan dan bahkan saling berkontradiksi. Di satu bagian Alkitab dikatakan bahwa manusia diciptakan sebelum hewan, sedangkan di bagian lain dikatakan bahwa manusia diciptakan setelah hewan.

Kontradiksi-kontradiksi seperti itu bukanlah hal yang luar biasa dalam Kitab Suci. Lagi pula, bagaimana mungkin penulis Alkitab mengetahui kapan dan bagaimana Tuhan menciptakan dunia? Namun demikian, cukuplah ditegaskan bahwa Alkitab adalah hasil karya tangan manusia. Ia tidak mungkin merupakan sesuatu yang lain. Tidak ada satu pun bukti yang mendukung klaim bahwa kitab itu berasal dari wahyu ilahi. Dan tidak ada satu pun isinya yang membuktikan keberadaan Tuhan yang selama ini tidak pernah terbukti. Yang justru kita temukan di dalamnya bukanlah bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, melainkan bahwa gagasan tentang Tuhan merupakan ciptaan manusia.


9. Tentang Tuhan Orang Kristen

Menggambarkan Tuhan dalam Kekristenan secara tepat adalah hal yang mustahil, sebab pandangan umat Kristen tentang Tuhan mereka sendiri berbeda-beda hingga sangat jauh. Barangkali gambaran terbaik tentang Tuhan orang Kristen adalah bahwa Ia tidak dapat didefinisikan. Namun, sesuatu yang tidak dapat didefinisikan juga tidak dapat dikritik. Dan memang demikianlah Tuhan dalam Kekristenan: tidak dapat didefinisikan. Kecuali jika seseorang memilih untuk mempercayai salah satu sekte tertentu.


10. Tentang Jiwa yang Abadi

Para penipu agama juga menyebarkan kebohongan besar bahwa manusia memiliki jiwa yang abadi. Sampai saat ini, belum pernah ada yang dapat membuktikan bahwa sesuatu yang disebut “jiwa” benar-benar ada. Sebaliknya, yang dapat dibuktikan adalah bahwa apa yang disebut fungsi-fungsi mental tidak lain hanyalah fungsi-fungsi fisik.

Tetapi, apa artinya pembuktian ilmiah bagi orang-orang yang beriman? Mereka percaya, dan karena itu mereka tidak dapat diyakinkan oleh bukti.

Kekristenan hanya mengakui bahwa manusialah, bukan hewan, yang memiliki jiwa abadi. Orang Mesir Kuno justru lebih konsisten dalam kegilaan semacam ini. Sebagaimana diceritakan, mereka percaya bahwa hewan juga memiliki jiwa, dan bahwa setelah seseorang meninggal, jiwanya akan mengembara, bahkan sering kali berdiam di dalam tubuh kucing, anjing, atau buaya. Semua itu merupakan kegilaan yang sangat menggelikan, setidaknya jika seseorang cukup tenang untuk menertawakannya dan tidak ikut terjangkit kegilaan tersebut.


11. Siapa yang Menciptakan Dunia?

Pertanyaan siapa yang menciptakan dunia? telah berulang kali diajukan. Orang-orang beriman menjawab bahwa Tuhanlah yang menciptakannya. Sementara itu, orang-orang lain, para penganut kepercayaan yang tidak beriman kepada Tuhan, mengatakan bahwa dunia tidak memiliki awal maupun akhir. Saya sendiri tidak mampu membayangkan dunia tanpa awal dan tanpa akhir. Namun, saya juga tidak mampu membayangkan dunia yang memiliki awal dan akhir. Akan tetapi, ketidaktahuan ini sama sekali bukan bukti bagi saya bahwa Tuhan itu ada. Sebab mempercayai sesuatu hanya karena saya tidak dapat memahaminya merupakan bentuk kebodohan yang nyata. Justru ketika seseorang tidak memahami sesuatu, ia seharusnya semakin giat menyelidiki dan mengkajinya kembali, bukan menyerah begitu saja. Bahkan lebih baik menghentikan pembahasan suatu persoalan dan tidak lagi memikirkannya daripada menyerah kepada kepercayaan yang bodoh. Lagipula, apa pentingnya bagi saya siapa yang menciptakan dunia? Karena dunia ini sudah ada, saya menerimanya sebagaimana adanya dan berusaha menikmati kehidupan di dalamnya sebaik mungkin. Namun kepada mereka yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia, saya ingin mengajukan pertanyaan ini: Siapa yang menciptakan Tuhan? Di sini kita kembali berhadapan dengan persoalan yang sama, yaitu pertanyaan tentang asal-usul penyebab pertama. Dengan demikian, seluruh dalih tentang Tuhan pun kembali runtuh.

Menurut Corvin, hanya ada satu penyebab bagi keberadaan dunia, yakni satu Tuhan. Ia kemudian berkata: "Apa yang disebut kaum ateis sebenarnya tidak menyangkal keberadaan Tuhan, karena hal itu merupakan kebodohan yang mutlak. Mereka hanya menolak gagasan tentang Tuhan sebagai pribadi." Pernyataan itu tidak lebih dari omong kosong.

Corvin menggunakan nama “Tuhan” untuk menyebut "kekuatan yang diduga ada oleh setiap orang, meskipun tidak dipahami, yang dianggap sebagai asal-usul dan pemelihara segala sesuatu yang ada, yaitu dunia."

Namun Corvin justru membantah dirinya sendiri ketika ia mengatakan: "Setiap orang yang mampu berpikir akan membentuk suatu gagasan tentang makhluk itu sesuai dengan tingkat perkembangan akal budi yang dimilikinya sejak lahir. Gagasan itulah Tuhannya, sehingga setiap manusia adalah pencipta Tuhannya sendiri." Kalimat terakhir itu saja sudah cukup. Dengan demikian, gagasan itulah yang menciptakan dunia! Tidak perlu komentar lagi.


12. Tentang Mereka yang Menghukum "Para Penghujat"

Para pendusta yang mengatasnamakan Tuhan dan menghukum "para penghujat" merupakan golongan tiran yang menyedihkan. Jika Tuhan Yang Maha Kuasa benar-benar ada, Ia tentu dapat menghukum para "penghujat" itu sendiri. Mengapa orang-orang beriman harus mencampuri urusan antara Tuhan dengan "si penghujat"? Mengapa mereka tidak membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya? Mengapa mereka tidak membiarkan Tuhan sendiri yang menjatuhkan hukuman? Bukankah hukuman langsung dari Tuhan akan jauh lebih meyakinkan bagi orang yang tidak percaya, sekaligus menjadi bukti nyata akan keberadaan-Nya? Para wakil Tuhan itu mungkin akan berkata bahwa mereka bertindak atas perintah-Nya. Namun, kecuali jika mereka benar-benar gila, mereka sesungguhnya tahu betul bahwa Tuhan tidak ada. Itulah sebabnya mereka mengklaim kewenangan yang tidak mereka miliki untuk memerangi kaum ateis. Dan lagi, jika Yang Maha Kuasa benar-benar ada, maka kewenangan yang mereka klaim itu pun merupakan ciptaan-Nya. Bahkan penghujatan yang dilakukan terhadap-Nya juga pasti merupakan kehendak-Nya. Lalu mengapa Ia menghendaki agar sebagian orang menghujat-Nya, hanya supaya kemudian mereka dihukum oleh orang lain? Apa sebenarnya tujuan sandiwara ini? Makhluk yang Maha Kuasa tidak mungkin menjadi gila. Sebab jika demikian, kemahakuasaan-Nya sendiri akan berakhir.

Namun kenyataannya sangat sederhana: “TUHAN TIDAK ADA!” Dan mereka yang menghukum apa yang disebut sebagai "penghujatan" hanyalah orang-orang yang gila atau tiran yang secara sadar menjalankan tirani mereka.


13. Kebajikan dan Dosa

Semua tiran berkata, sekalipun mereka sendiri tidak mempercayai apa pun, bahwa iman diperlukan untuk mempertahankan apa yang mereka sebut sebagai ketertiban. Tidak ada yang lebih tepat daripada pernyataan itu. Begitu “gagasan tetap” (fixed idea) tersebut runtuh, maka pembedaan antara kebajikan dan dosa, beserta segala turunannya, ikut runtuh pula, karena semua itu bertumpu pada gagasan tersebut. Kebajikan dan dosa lahir dari penipuan ilahi. Ketika asal-usulnya lenyap dan hasil khayalan itu terus menggantung di udara, manusia akan mulai bertanya kepada dirinya sendiri: Mengapa suatu tindakan harus disebut sebagai kebajikan atau dosa? Pada akhirnya, ketika khayalan tentang Tuhan terbukti tidak lebih dari sekadar khayalan, manusia akan menyadari bahwa suatu tindakan, pada dirinya sendiri, bukanlah kebajikan maupun dosa. Ungkapan tentang “tujuan moral dunia” hanyalah gelembung sabun yang melayang sebentar lalu pecah ketika berhadapan dengan benturan kepentingan.

Para penipu agama mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Kuasa memberi ganjaran dan hukuman kepada manusia. Namun bagaimana mungkin seseorang menganggap bahwa Yang Maha Baik memberi ganjaran atau hukuman kepada manusia yang justru Ia sendiri ciptakan sebagai makhluk yang bajik ataupun berdosa? Bukankah segala sesuatu, menurut mereka, hanya terjadi melalui Dia, dan segala sesuatu adalah karya-Nya? Namun kita telah melihat bahwa tidak ada Yang Maha Adil ataupun Maha Kuasa. Oleh karena itu, penipuan tentang neraka dan surga pun tampak dengan jelas. Kita tidak pernah melihat Tuhan ataupun iblis, tidak pernah melihat surga ataupun neraka. Akan tetapi, penipuan terbesar barangkali adalah gagasan tentang “kehidupan setelah kematian”. Hanya orang bodoh yang menciptakan khayalan semacam itu.

"Kita semua sempurna”, kata Max Stirner, "dan tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang berdosa." Ada orang-orang gila yang membayangkan dirinya sebagai Tuhan Bapa, Tuhan Putra, atau Manusia di Bulan. Demikian pula, dunia dipenuhi orang-orang bodoh yang menganggap dirinya sebagai pendosa. Namun sebagaimana orang-orang pertama itu bukanlah Manusia di Bulan, demikian pula mereka bukanlah pendosa. Dosa mereka hanyalah khayalan.

Akan tetapi, orang mungkin akan menyanggah: "Setidaknya kegilaan atau obsesi mereka itulah dosa mereka." Obsesi mereka tidak lain adalah hasil yang mampu mereka capai, buah dari perkembangan mereka sendiri, sama seperti keyakinan Martin Luther terhadap Alkitab hanyalah sejauh yang dapat ia capai melalui perkembangannya. Yang satu berakhir di rumah sakit jiwa karena hasil perkembangannya, sementara yang lain sampai ke Pantheon atau Valhalla melalui perkembangan yang sama.

Kamulah yang membawa sosok pendosa itu di dalam kepalamu. Karena itulah kamu menemukannya. Karena itulah kamu memaksakannya ke mana-mana. Jangan menyebut manusia sebagai pendosa, maka mereka pun bukan pendosa. Kamulah satu-satunya pencipta dosa. Kamulah yang mengaku mencintai manusia, tetapi justru melemparkan mereka ke dalam lumpur dosa. Kamulah yang membagi mereka menjadi orang jahat dan orang bajik, menjadi manusia dan monster. Kamulah yang mengotori mereka dengan ludah obsesimu sendiri. Sebab yang kamu cintai bukanlah manusia, melainkan gagasan tentang "manusia". Tetapi saya berkata kepadamu: “Kamu tidak pernah melihat seorang pendosa. Yang pernah kamu lihat hanyalah pendosa dalam mimpimu.” Seseorang hanya dapat berdosa terhadap sesuatu yang dianggap suci. Begitu kesucian itu dilenyapkan, dosa pun tidak lagi mungkin ada, sebagaimana seseorang tidak lagi dapat mencuri ketika hak milik sudah tidak ada. Lenyapkan yang suci, maka kebajikan dan dosa pun kehilangan seluruh maknanya. Kebajikan tidak lebih baik daripada dosa. Kebajikan juga hanyalah khayalan, juga hanyalah sebuah angan-angan kosong. Kebajikan dikatakan menyenangkan hati Tuhan. Namun karena Tuhan tidak ada, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyenangkan hati Tuhan. Dan karena itu, kebajikan pun tidak ada. Sebagaimana tidak ada pendosa, demikian pula tidak ada orang yang bajik.


14. Untuk Apa Agama Digunakan? 

Sudah jelas untuk apa seluruh penipuan tentang Tuhan itu diciptakan, yaitu untuk mengeksploitasi massa rakyat. Selama orang-orang masih berharap akan memperoleh nasib yang lebih baik di surga, mereka akan lebih mudah dibujuk untuk menerima kehidupan yang penuh penderitaan di bumi ini. Para pendeta, yang sejak dahulu dikenal sebagai orang-orang munafik, juga dikenal sebagai orang-orang yang selalu pandai mengurus kesejahteraan tubuh mereka sendiri. Namun bukan hanya para pendeta. Semua pihak yang mengatasnamakan Tuhan, seperti kaisar, raja, para penguasa, tuan tanah, kaum kapitalis, para rentenir, dan lain sebagainya, menggunakan penipuan agama sebagai sarana yang sangat ampuh untuk meninabobokan massa, lalu menipu dan merampok mereka. Bukankah setiap tiran selalu harus mengatakan bahwa Tuhan itu ada? Ya, agama adalah katup pengaman yang mengalihkan kecerdasan manusia, yang tidak dibutuhkan dalam sistem perbudakan, agar lenyap begitu saja. Dan agama memang harus dipertahankan jika segelintir orang ingin terus berkuasa atas mayoritas.

Agama berusaha menghancurkan saya; ia berusaha menjadikan saya budaknya; ia ingin menentukan tujuan hidup saya. Agama menuntut agar saya mengabdi kepada suatu "makhluk yang lebih tinggi" dan karena itu berusaha mencegah saya mengabdi kepada diri saya sendiri. Agama menuntut agar saya memiliki semangat pengabdian, penyerahan diri, dan pengorbanan demi suatu "makhluk yang lebih tinggi". "Makhluk yang lebih tinggi" itu harus menjadi segala-galanya bagi saya, sehingga saya tidak menjadi apa-apa bagi diri saya sendiri. Namun, bagi diri saya sendiri, sayalah segalanya, dan saya tidak ditakdirkan untuk apa pun. Mereka yang cukup bodoh untuk percaya bahwa dirinya ditakdirkan bagi sesuatu yang "lebih tinggi" kemudian diarahkan oleh kaum rohaniwan sedemikian rupa sehingga mengabdi kepada "makhluk yang lebih tinggi" itu hanya membuang-buang hidup mereka.

Mengabdi kepada suatu "makhluk yang lebih tinggi" merupakan hakikat agama. Apa pun sebutan "makhluk yang lebih tinggi" itu, siapa pun sosoknya, hal tersebut tidak mengubah hakikat persoalannya; menyembah atau mengabdinya tetaplah merupakan penyembahan berhala. Seorang ateis tidak mengakui adanya sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Siapa pun yang mengakui adanya sesuatu yang "lebih tinggi" adalah seorang yang religius.

Setiap agama bertumpu pada gagasan tentang pengorbanan. Karena itu, agama bersifat kejam, tidak adil, menindas, serta merampas kebebasan dan kesadaran saya sebagai pemilik diri sendiri.

Agama hendak memberi saya suatu otoritas, baik otoritas duniawi maupun gaib; sedangkan seorang ateis berusaha membebaskan diri dari segala bentuk otoritas. Agama menghendaki agar saya tunduk; seorang ateis berusaha memberontak. Agama hendak memberi saya seorang tuan; tujuan seorang ateis adalah hidup tanpa tuan. Perbudakan universal merupakan tujuan akhir agama; pendewaan terhadap setiap hantu dan penghancuran semua rantai merupakan tujuan akhir seorang ateis. Karena itu, pilihlah apakah kamu ingin menjadi budak atau menjadi tuan atas diri sendiri. Pilihan itu bergantung pada apakah kamu ingin mengakui adanya sesuatu yang lebih tinggi daripada dirimu, ataukah kamu ingin menjadi yang tertinggi bagi dirimu sendiri.


15. Penutup

Tidak mengherankan jika penipuan tentang Tuhan dapat menyebar sedemikian luas. Setelah agama lahir dari kelemahan dan ketakutan manusia, agama kemudian disebarluaskan dengan segala cara oleh mereka yang berkepentingan dengannya, yaitu para pendeta dan para penipu lainnya. Para penipu yang mengatasnamakan Tuhan tidak pernah menoleransi kritik. Mereka menghindari logika. Mereka bertarung dengan tipu muslihat, menyiksa orang-orang yang tidak percaya secara diam-diam, mencuri atas nama Tuhan. Singkatnya, seluruh cara mereka berjuang bertumpu pada kemunafikan. Tiang pembakaran, roda penyiksa, alat penghancur ibu jari, sepatu Spanyol, kursi penyiksaan, dan berbagai alat penyiksaan lainnya merupakan saksi bisu sekaligus saksi yang fasih atas tirani kejam kawanan pendeta. Setelah rakyat diperintah dan dibodoh-bodohi oleh segelintir orang munafik hingga terpuruk dalam kebiadaban, bukankah dapat dimengerti jika wabah tentang Tuhan itu terus berjaya selama hanya segelintir ateis yang muncul, sementara mereka segera disingkirkan dengan segala cara? Selama belum ada cukup banyak orang yang menyadari kenyataan ini, setiap kemunculan ateis di muka umum selalu dibuat mustahil oleh para pendeta melalui racun, tiang pembakaran, dan berbagai cara lainnya. 

Jelaslah bahwa sejarah para penganut agama sama sekali tidak membuktikan keberadaan Tuhan. Sebaliknya, sejarah itu justru menjadi bukti ketidakberadaan-Nya. Tirani dalam segala bentuknya adalah buah dari agama. Dan tindakan orang-orang beragama, secara umum, justru merupakan tamparan terhadap agama yang mereka khotbahkan sendiri.

Berapa lama para pendeta benar-benar menjadi pelayan Tuhan? Hanya sampai tiba saatnya mereka dapat menjadi tuan atas orang-orang yang beriman.

Dan ketika mereka mengangkat diri dari pelayan Tuhan menjadi para pengeksploitasi, pada saat itulah mereka sendiri menginjak-injak agama. Mereka melakukan, dan terus melakukan, kebalikan dari apa yang mereka khotbahkan. Alih-alih tunduk, mereka memberontak. Alih-alih menjadi pelayan, mereka menjadi tuan. Betapapun suramnya sejarah kaum pendeta, sejarah itu tetap memberikan bukti yang tak terbantahkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk memberontak. Tidak seorang pun yang beriman dapat berpindah keyakinan seandainya benih-benih ketidakpercayaan belum ada di dalam dirinya. Dan kecenderungan menuju ketidakpercayaan itu hingga kini masih hidup dalam diri sebagian besar manusia, terlepas dari segala upaya para pendeta. Karena itulah masih ada harapan untuk memenangkan perjuangan melawan wabah agama. Sejak lahir, setiap manusia memiliki dorongan untuk menyelidiki. Ia berusaha memahami berbagai hal dan menjelaskannya kepada dirinya sendiri. Justru inilah yang dilarang oleh agama. Agama menuntut iman, dan ketika iman mulai berkuasa, segala bentuk kritik pun disingkirkan. Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada iman berarti mengorbankan akal budi dan individualitasnya. Ia menjadi seorang idealis, seorang yang terobsesi untuk membenci materialisme.

Jika ditanyakan apa dasar dari wabah agama, kini jawabannya mudah: penyakit pada alat berpikir manusia. Sebagaimana ada orang yang menderita maniak penganiayaan, ada pula orang yang menderita maniak keagamaan. Dan jika ditanyakan apa penyebab kegilaan itu, hanya ada satu penjelasan: para pendeta yang bersekutu dengan kemelaratan. Pepatah mengatakan, "Kemelaratan mengajarkan orang untuk berdoa." Memang, kemelaratan adalah pencipta agama yang paling ampuh, sebagaimana agama adalah pencipta kemelaratan yang paling ampuh. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kondisi-kondisi material yang lebih baik merupakan obat yang ampuh untuk melawan kegilaan beragama. Hal ini mudah dipahami jika kita melihat kelas-kelas kaya di dunia Kristen. Sebagian besar dari mereka jelas tidak sungguh-sungguh mempercayai agama mereka sendiri, karena tindakan-tindakan mereka hampir selalu bertentangan dengan ajaran agama tersebut. Hal itu hanya dapat dijelaskan oleh kenyataan bahwa, berkat kekayaan serta kehidupan yang lebih baik dan lebih sehat, kelas-kelas kaya pada dasarnya telah melepaskan diri dari agama. Keterikatan pada gagasan tentang Tuhan, di satu sisi, disebabkan oleh pengaruh-pengaruh hipnotis, dan di sisi lain oleh rasa takut, kelemahan, kurangnya kepercayaan diri, serta kebangkrutan rohani. Seseorang yang kehilangan dirinya sendiri, atau tidak pernah menemukan dirinya sendiri, akan menyerahkan dirinya kepada hantunya. Oleh karena itu, agama adalah kekuasaan suatu gagasan atas pikiran; orang yang beragama dikuasai oleh gagasannya sendiri.

Meskipun orang yang menderita kegilaan beragama menganggap dirinya sehat, sesungguhnya ia tetap menderita, dibebani rasa sakit, kemurungan, kesombongan, dan berbagai penderitaan lainnya. Dengan mengabdikan hidupnya kepada gagasan yang dianggap mutlak, murni, dan tak tergoyahkan, ia kehilangan dirinya sendiri, merendahkan serta menyangkal kenikmatan-kenikmatan duniawi (sejauh hal itu masih mungkin dilakukan). Ia menganggap dirinya berada di atas dunia, di atas segala sesuatu yang bersifat indrawi, dan hanya memusatkan perhatian pada yang murni, yang mutlak, yang bersifat rohani, yaitu hantu. Karena itu, ia tidak lagi mampu melihat dengan jernih bahwa dirinya sendiri hidup dalam keadaan diperbudak. Karena jasmani dan jiwanya telah sakit, ia pun menganggap bahwa dunia inilah yang sakit, sia-sia, dan tidak bernilai.


Diterjemahkan dari:

Minggu, 28 Juni 2026

Filsafat Ateisme

Penulis: Emma Goldman

Untuk memberikan pemaparan yang memadai mengenai filsafat ateisme, diperlukan pembahasan tentang perubahan historis kepercayaan kepada suatu Tuhan, sejak kemunculannya yang paling awal hingga masa kini. Namun, hal itu berada di luar cakupan tulisan ini. Meski demikian, patut disinggung bahwa konsep Tuhan, Kekuatan Adikodrati, Roh, Dewa, atau istilah apa pun yang digunakan untuk menyebut hakikat teisme, telah menjadi semakin kabur dan tidak lagi memiliki batas yang jelas seiring berjalannya waktu dan kemajuan peradaban. Dengan kata lain, gagasan tentang Tuhan semakin bersifat impersonal dan samar seiring manusia semakin memahami gejala-gejala alam, serta sejauh ilmu pengetahuan terus menghubungkan dan menjelaskan berbagai peristiwa alam maupun sosial.

Pada masa kini, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai kekuatan yang sama seperti pada awal kemunculan konsep-Nya. Ia juga tidak lagi dianggap mengendalikan nasib manusia dengan tangan besi sebagaimana dahulu dipercaya. Sebaliknya, gagasan tentang Tuhan kini lebih menyerupai dorongan spiritual yang digunakan untuk memuaskan berbagai kecenderungan dan khayalan yang lahir dari beragam bentuk kelemahan manusia. Dalam perjalanan perkembangan umat manusia, gagasan tentang Tuhan dipaksa menyesuaikan diri dengan setiap fase kehidupan manusia, sesuatu yang sepenuhnya sejalan dengan asal-usul gagasan itu sendiri.

Konsepsi tentang para dewa berawal dari rasa takut dan rasa ingin tahu. Manusia purba, yang tidak mampu memahami gejala-gejala alam dan terus-menerus dihantui olehnya, melihat setiap peristiwa yang menakutkan sebagai manifestasi kekuatan jahat yang sengaja diarahkan kepada dirinya. Karena kebodohan dan ketakutan merupakan induk dari segala takhayul, imajinasi manusia purba pun menciptakan gagasan tentang Tuhan.

Sebagaimana dikatakan dengan sangat tepat oleh ateis dan anarkis terkemuka dunia, Mikhail Bakunin, dalam karya besarnya God and the State: "Semua agama, beserta tuhan-tuhan, dewa-dewa, nabi-nabi, mesias-mesias, dan orang-orang sucinya, diciptakan oleh khayalan manusia yang dipenuhi prasangka, yang belum mencapai perkembangan penuh maupun penguasaan sepenuhnya atas kemampuan-kemampuannya. Oleh karena itu, surga keagamaan tidak lain hanyalah fatamorgana tempat manusia, yang ditinggikan oleh kebodohan dan iman, menemukan citranya sendiri, tetapi dalam bentuk yang diperbesar dan dibalik, yakni dijadikan ilahi. Sejarah agama-agama, tentang kelahiran, kejayaan, dan kemunduran para dewa yang silih berganti dalam kepercayaan manusia, dengan demikian tidak lain adalah sejarah perkembangan kecerdasan kolektif dan kesadaran umat manusia. Seiring mereka menemukan, dalam perjalanan sejarah yang terus berkembang, baik di dalam diri mereka sendiri maupun di alam luar, suatu sifat atau bahkan suatu kelemahan besar sekalipun, mereka mengatribusikannya kepada para dewa mereka setelah terlebih dahulu membesar-besarkan dan mengagungkannya tanpa batas, sebagaimana lazimnya anak-anak melalui khayalan keagamaan mereka.. Maka, dengan segala hormat kepada para metafisikawan, kaum idealis religius, para filsuf, politikus, maupun penyair, gagasan tentang Tuhan mengandung penyerahan akal budi dan keadilan manusia; ia merupakan penyangkalan yang paling tegas terhadap kebebasan manusia, dan niscaya berakhir pada perbudakan umat manusia, baik dalam teori maupun praktik."

Dengan demikian, gagasan tentang Tuhan yang terus dihidupkan kembali, disesuaikan, diperluas, atau dipersempit sesuai dengan tuntutan zamannya, telah mendominasi umat manusia dan akan terus melakukannya sampai manusia berani mengangkat kepalanya menyongsong cahaya matahari, tanpa rasa takut dan dengan kehendak yang telah bangkit untuk menjadi dirinya sendiri. Sejauh manusia belajar mengenali dirinya dan membentuk nasibnya sendiri, sejauh itu pula teisme akan menjadi tidak lagi diperlukan. Seberapa jauh manusia mampu menemukan hubungan yang sejati dengan sesamanya akan sepenuhnya bergantung pada sejauh mana ia dapat melepaskan diri dari ketergantungannya kepada Tuhan.

Bahkan kini telah tampak tanda-tanda bahwa teisme, yang merupakan teori spekulasi, mulai digantikan oleh ateisme, ilmu yang bertumpu pada pembuktian. Yang satu melayang di awan-awan metafisis dunia nun jauh di sana, sedangkan yang lain berakar kokoh di bumi. Manusialah yang harus menyelamatkan bumi, bukan surga, jika ia sungguh ingin memperoleh pembebasan.

Kemunduran teisme merupakan pemandangan yang sangat menarik, terutama jika dilihat dari kegelisahan para penganutnya, apa pun corak keyakinan mereka. Mereka menyadari, dengan penuh kecemasan, bahwa massa dari hari ke hari semakin ateistis dan semakin antireligius; bahwa mereka semakin rela menyerahkan alam baka beserta seluruh kerajaan surgawinya kepada para malaikat dan burung pipit. Sebab, semakin hari semakin banyak orang yang disibukkan oleh persoalan-persoalan nyata dalam kehidupan mereka sendiri.

Bagaimana cara membawa massa kembali kepada gagasan tentang Tuhan, roh, Sebab Pertama, dan berbagai konsep sejenis, itulah persoalan paling mendesak bagi semua penganut teisme. Meskipun pertanyaan-pertanyaan ini tampak bersifat metafisis, sesungguhnya semuanya memiliki latar belakang yang sangat nyata. Sebab agama, "Kebenaran Ilahi", pahala, dan hukuman merupakan merek dagang dari industri terbesar, paling korup, paling merusak, paling berkuasa, dan paling menguntungkan di dunia, bahkan melampaui industri pembuatan senjata dan amunisi. Industri itu adalah industri yang mengaburkan pikiran manusia dan membungkam hati nuraninya. Kebutuhan tidak mengenal hukum. Karena itulah sebagian besar penganut teisme merasa terdorong untuk mengangkat persoalan apa pun, sekalipun sama sekali tidak berkaitan dengan Tuhan, wahyu, ataupun alam baka. Barangkali mereka mulai menyadari bahwa umat manusia semakin jenuh terhadap ratusan macam versi tentang Tuhan.

Bagaimana membangkitkan kembali tingkat kepercayaan teistis yang telah mati ini sungguh merupakan persoalan hidup dan mati bagi semua denominasi agama. Karena itulah mereka mengusung toleransi. Namun, toleransi itu bukanlah toleransi yang lahir dari pemahaman, melainkan dari kelemahan. Mungkin inilah yang menjelaskan berbagai upaya di dalam publikasi-publikasi keagamaan untuk memadukan beragam filsafat agama dan teori-teori teistis yang saling bertentangan ke dalam satu semacam kartel antardenominasi. Semakin lama, berbagai klaim mengenai "satu-satunya Tuhan yang benar", "satu-satunya roh yang murni", atau "satu-satunya agama yang benar" semakin ditutupi dengan sikap toleran semu, dalam usaha mati-matian membangun landasan bersama demi menyelamatkan massa modern dari pengaruh "berbahaya" gagasan-gagasan ateistis.

Ciri khas dari "toleransi" teistis adalah bahwa tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh peduli apa yang diyakini orang, asalkan mereka tetap percaya, atau setidaknya berpura-pura percaya. Demi mencapai tujuan itu, digunakanlah cara-cara yang paling kasar dan paling vulgar. Pertemuan-pertemuan kebangunan rohani dan kampanye penginjilan dengan Billy Sunday sebagai tokoh utamanya merupakan contoh yang jelas. Metode-metode semacam itu tentu saja menghina setiap rasa kehalusan budi, dan pengaruhnya terhadap orang-orang yang awam maupun sekadar ingin tahu sering kali mendorong mereka ke dalam keadaan yang menyerupai gangguan jiwa ringan, yang tidak jarang disertai erotomania. Semua upaya yang penuh kepanikan ini memperoleh persetujuan dan dukungan dari para penguasa duniawi, mulai dari penguasa lalim Rusia hingga Presiden Amerika Serikat; mulai dari John D. Rockefeller dan John Wanamaker hingga pengusaha kecil sekalipun. Mereka mengetahui bahwa modal yang ditanamkan kepada Billy Sunday, YMCA, Christian Science, dan berbagai lembaga keagamaan lainnya akan menghasilkan keuntungan yang sangat besar dari massa yang telah dijinakkan, ditundukkan, dan dibuat tumpul daya pikirnya.

Disadari ataupun tidak, kebanyakan penganut teisme memandang Tuhan dan iblis, surga dan neraka, pahala dan hukuman sebagai cambuk untuk memaksa manusia tunduk, patuh, dan merasa puas dengan keadaannya. Kenyataannya, teisme sudah lama kehilangan pijakannya seandainya tidak mendapat dukungan gabungan dari mamon dan kekuasaan. Betapa bangkrutnya teisme sesungguhnya sedang diperlihatkan dengan gamblang di parit-parit pertahanan dan medan-medan perang Eropa.

Bukankah semua penganut teisme telah melukiskan Tuhan mereka sebagai Tuhan kasih dan kebaikan? Namun, setelah ribuan tahun khotbah semacam itu dikumandangkan, para dewa tetap tuli terhadap penderitaan umat manusia. Confucius tidak peduli terhadap kemiskinan, kesengsaraan, dan penderitaan rakyat Tiongkok. Gautama Buddha tetap tidak terusik dalam ketidakpedulian filosofisnya terhadap kelaparan dan penderitaan rakyat India yang tertindas. Yahweh terus menulikan telinga terhadap jeritan pahit Israel. Sementara Yesus Kristus menolak bangkit dari kematian untuk menghentikan para pengikut Kristennya sendiri yang saling membantai.

Seluruh nyanyian pujian kepada "Yang Mahatinggi" selalu mengulang pesan bahwa Tuhan adalah lambang keadilan dan belas kasih. Namun ketidakadilan di antara manusia justru terus bertambah. Berbagai kekejaman yang dilakukan terhadap massa, bahkan di negeri ini saja, tampaknya sudah cukup untuk membuat langit meluap. Namun, di manakah para dewa untuk mengakhiri segala kengerian, ketidakadilan, dan kebiadaban manusia terhadap sesamanya? Tidak, bukan para dewa, melainkan MANUSIA yang harus bangkit dengan amarahnya yang dahsyat. Manusialah yang telah diperdaya oleh semua dewa dan dikhianati oleh para utusan mereka. Manusialah yang harus mengambil tanggung jawab untuk menghadirkan keadilan di bumi.

Filsafat ateisme merupakan ungkapan dari perkembangan dan pertumbuhan akal budi manusia. Sebaliknya, filsafat teisme, jika memang layak disebut filsafat, bersifat statis dan beku. Bahkan sekadar usaha untuk menyingkap misteri-misteri itu, dari sudut pandang teisme, sudah dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap kemahakuasaan Tuhan yang meliputi segala sesuatu, bahkan sebagai penyangkalan terhadap kebijaksanaan kuasa ilahi yang berada di luar manusia. Namun, untungnya, akal budi manusia tidak pernah dan tidak akan pernah dapat dibelenggu oleh sesuatu yang beku. Karena itulah ia terus melangkah maju dalam perjalanannya yang tak pernah berhenti menuju pengetahuan dan kehidupan. Akal budi manusia kini semakin menyadari bahwa "alam semesta bukanlah hasil dari titah penciptaan yang dikeluarkan oleh suatu kecerdasan ilahi, yang menciptakan dari ketiadaan sebuah mahakarya yang kacau tetapi bekerja dengan sempurna." Sebaliknya, alam semesta merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan yang kacau yang bekerja selama kurun waktu yang tak terhitung lamanya, melalui benturan dan bencana dahsyat, melalui gaya tolak dan gaya tarik yang, lewat prinsip seleksi, perlahan mengkristal menjadi apa yang oleh kaum teis disebut sebagai "alam semesta yang dituntun menuju keteraturan dan keindahan." Sebagaimana dinyatakan dengan sangat tepat oleh Joseph McCabe dalam The Existence of God: "Hukum alam bukanlah rumusan yang disusun oleh seorang pembuat undang-undang, melainkan sekadar ringkasan dari fakta-fakta yang diamati, sebuah 'kumpulan fakta'. Segala sesuatu tidak bertindak dengan cara tertentu karena ada suatu hukum, melainkan kita merumuskan 'hukum' itu karena segala sesuatu memang bertindak dengan cara tersebut."

Filsafat ateisme menghadirkan suatu pandangan tentang kehidupan tanpa dunia metafisis di seberang sana maupun tanpa Pengatur Ilahi. Ia merupakan pandangan tentang dunia yang nyata, dunia yang benar-benar ada, dengan segala kemungkinan yang membebaskan, mengembangkan, dan memperindah kehidupan. Pandangan ini berlawanan dengan dunia yang tidak nyata, yang dipenuhi roh-roh, wahyu-wahyu gaib, dan kepasrahan yang picik, yang selama ini telah mempertahankan umat manusia dalam keadaan hina dan tak berdaya.

Mungkin terdengar paradoks, tetapi sungguh merupakan kenyataan yang menyedihkan bahwa dunia nyata yang tampak di hadapan kita beserta kehidupan kita justru selama berabad-abad lebih dikuasai oleh spekulasi metafisis daripada oleh kekuatan-kekuatan nyata yang dapat dibuktikan. Di bawah cambuk gagasan teistis, bumi ini tidak dipandang sebagai apa pun selain tempat persinggahan sementara untuk menguji kesanggupan manusia mengorbankan dirinya kepada kehendak Tuhan. Namun, ketika manusia mencoba memahami apa sebenarnya kehendak itu, ia justru diberi tahu bahwa "akal manusia yang terbatas" sama sekali tidak mungkin menembus kehendak Yang Mahakuasa yang tak terbatas. Di bawah beban kemahakuasaan yang begitu dahsyat itu, manusia dipaksa menunduk hingga tersungkur ke tanah, menjadi makhluk yang kehilangan kehendaknya sendiri, hancur, dan berkeringat dalam kegelapan. Kemenangan filsafat ateisme terletak pada pembebasan manusia dari mimpi buruk tentang para dewa. Kemenangan itu berarti lenyapnya bayang-bayang dunia gaib. Berkali-kali cahaya akal budi telah mengusir mimpi buruk teistis. Namun, kemiskinan, kesengsaraan, dan ketakutan terus melahirkan kembali bayang-bayang tersebut. Entah dalam bentuk lama ataupun baru, apa pun rupa luarnya, hakikatnya tetap tidak banyak berubah. Sebaliknya, ateisme, dalam pengertian filosofisnya, bukan sekadar menolak satu konsep tertentu tentang Tuhan. Ateisme menolak segala bentuk penghambaan kepada gagasan tentang Tuhan dan menentang prinsip teisme itu sendiri. Dewa-dewa sebagai sosok individual tidaklah separah prinsip teisme yang melandasinya, yakni keyakinan bahwa ada suatu kekuatan adikodrati, atau bahkan mahakuasa, yang berhak menguasai bumi beserta manusia yang hidup di atasnya. Yang diperangi ateisme dengan seluruh kekuatannya adalah absolutisme teisme, pengaruhnya yang merusak terhadap umat manusia, serta dampaknya yang melumpuhkan pikiran dan tindakan manusia.

Filsafat ateisme berakar pada bumi, pada kehidupan yang nyata ini. Tujuannya adalah membebaskan umat manusia dari segala bentuk ketuhanan, baik yang bercorak Yahudi, Kristen, Islam, Buddha, Brahmanisme, maupun bentuk-bentuk lainnya. Umat manusia telah menanggung hukuman yang panjang dan berat karena menciptakan tuhan-tuhan mereka sendiri. Sejak para dewa lahir, yang diwariskan kepada manusia hanyalah penderitaan dan penganiayaan. Hanya ada satu jalan keluar dari kekeliruan ini. Manusia harus memutus belenggu yang mengikatnya pada gerbang surga dan neraka, agar ia dapat mulai membangun dunia baru di bumi dengan kesadaran yang telah bangkit kembali dan tercerahkan.

Hanya setelah filsafat ateisme menang dalam pikiran dan hati manusia, kebebasan dan keindahan dapat benar-benar terwujud. Keindahan yang dianggap sebagai anugerah dari surga telah terbukti tidak berguna. Sebaliknya, keindahan akan menjadi hakikat sekaligus tenaga penggerak kehidupan ketika manusia belajar melihat bahwa bumi inilah satu-satunya surga yang layak bagi manusia. Ateisme telah mulai membebaskan manusia dari ketergantungannya pada hukuman dan pahala sebagai semacam meja tawar-menawar surgawi bagi mereka yang miskin jiwa.

Bukankah semua penganut teisme selalu bersikeras bahwa tanpa keyakinan kepada Kuasa Ilahi tidak mungkin ada moralitas, keadilan, kejujuran, ataupun kesetiaan? Moralitas yang bertumpu pada rasa takut dan harapan semacam itu selalu merupakan hasil yang hina, sebagian dipenuhi rasa benar sendiri dan sebagian lagi kemunafikan. Lalu mengenai kebenaran, keadilan, dan kesetiaan, siapakah yang selama ini menjadi pembela paling berani dan pengumandanya yang paling teguh? Hampir selalu mereka yang tidak bertuhan, yakni kaum ateis. Mereka hidup, berjuang, dan bahkan mati demi nilai-nilai tersebut. Mereka memahami bahwa keadilan, kebenaran, dan kesetiaan bukanlah sesuatu yang ditetapkan di surga, melainkan sesuatu yang berkaitan erat dan terjalin dengan perubahan-perubahan besar yang berlangsung dalam kehidupan sosial dan material umat manusia. Nilai-nilai itu bukan sesuatu yang tetap dan abadi, melainkan terus berubah, sebagaimana kehidupan itu sendiri. Sejauh mana filsafat ateisme masih akan berkembang, tidak seorang pun dapat meramalkannya. Namun satu hal sudah dapat dipastikan: hanya melalui api pembaruannya hubungan antarmanusia dapat dimurnikan dari segala kengerian warisan masa lampau.

Semakin banyak orang yang berpikir secara kritis mulai menyadari bahwa kaidah-kaidah moral yang dipaksakan kepada umat manusia melalui teror agama telah membeku menjadi sekadar kebiasaan dan, karena itu, kehilangan seluruh daya hidupnya. Cukuplah melihat kehidupan dewasa ini dengan segala keruntuhannya, pertentangan kepentingan yang melahirkan kebencian, kejahatan, dan keserakahan, untuk menyadari betapa mandulnya moralitas teistis.

Manusia harus kembali menemukan dirinya sendiri sebelum ia dapat memahami hubungannya dengan sesama manusia. Selama Prometheus masih dirantai pada "Batu Karang Zaman", ia akan tetap menjadi mangsa burung-burung pemakan bangkai dari kegelapan. Lepaskanlah belenggu Prometheus, maka malam beserta segala kengeriannya akan sirna.

Ateisme, melalui penolakannya terhadap para dewa, pada saat yang sama merupakan penegasan yang paling kuat atas manusia. Dan melalui manusia, ateisme mengucapkan "ya" yang abadi kepada kehidupan, tujuan, dan keindahan.


Diterjemahkan dari:


Kegagalan Kekristenan

Penulis: Emma Goldman

Para pemalsu dan peracun gagasan, dalam upaya mereka mengaburkan batas antara kebenaran dan kepalsuan, menemukan sekutu yang sangat berguna dalam sifat konservatif bahasa.

Konsep-konsep dan kata-kata yang telah lama kehilangan makna aslinya tetap mendominasi umat manusia selama berabad-abad. Hal ini terutama berlaku ketika konsep-konsep tersebut telah menjadi sesuatu yang diterima begitu saja, ditanamkan ke dalam diri kita sejak masa kanak-kanak sebagai kebenaran agung yang tidak dapat dibantah. Pikiran kebanyakan orang mudah merasa puas dengan warisan dan ajaran yang telah diterimanya, ataupun dengan doktrin orang tua dan guru, sebab meniru jauh lebih mudah daripada mencipta.

Zaman kita telah melahirkan dua raksasa intelektual yang berusaha menilai kembali nilai-nilai sosial dan moral masa lampau yang telah mati, terutama yang terkandung dalam agama Kristen. Friedrich Nietzsche dan Max Stirner melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap benteng Kekristenan, karena mereka melihat di dalamnya suatu moralitas budak yang merusak, penyangkalan terhadap kehidupan, serta penghancur segala unsur yang membentuk kekuatan dan karakter manusia. Memang benar, Nietzsche menentang gagasan moralitas budak yang melekat dalam Kekristenan dengan mengajukan gagasan moralitas tuan bagi segelintir orang. Namun, saya berpendapat bahwa gagasan tentang "tuan" yang dimaksud Nietzsche sama sekali tidak berkaitan dengan kedudukan sosial, kasta, ataupun kekayaan. Yang ia maksud adalah penguasaan atas potensi manusia, keunggulan yang ada dalam diri manusia sendiri, yang memungkinkannya melampaui tradisi-tradisi lama dan nilai-nilai yang telah usang, sehingga ia dapat belajar menjadi pencipta hal-hal yang baru dan indah.

Baik Nietzsche maupun Stirner memandang Kekristenan sebagai kekuatan yang menyeragamkan umat manusia dan melumpuhkan keberanian manusia untuk bertindak dan berkarya. Mereka melihat bahwa setiap gerakan yang dibangun di atas moralitas dan etika Kristen bukanlah usaha untuk membebaskan manusia dari perbudakan, melainkan untuk melanggengkannya. Karena itulah mereka menentang gerakan-gerakan semacam itu dengan seluruh kekuatan mereka.

Terlepas dari apakah saya sepenuhnya sependapat dengan para ikonoklas ini atau tidak, saya sependapat dengan mereka bahwa Kekristenan sangat cocok untuk mendidik para budak, melanggengkan masyarakat yang diperbudak, dan, singkatnya, mempertahankan kondisi yang kita hadapi saat ini. Sesungguhnya, masyarakat tidak mungkin merosot hingga mencapai keadaan yang begitu mengerikan seperti sekarang tanpa bantuan Kekristenan. Para penguasa dunia telah lama menyadari betapa ampuhnya racun yang terkandung dalam agama Kristen. Itulah sebabnya mereka terus memeliharanya. Itulah sebabnya mereka tidak pernah berhenti menanamkannya ke dalam darah rakyat. Mereka sangat memahami bahwa kelicikan ajaran Kristen jauh lebih ampuh dalam membendung pemberontakan dan ketidakpuasan daripada pentungan ataupun senjata api.

Tidak diragukan lagi, saya akan diberi tahu bahwa sekalipun agama adalah racun dan Kekristenan yang telah dilembagakan merupakan musuh terbesar kemajuan dan kebebasan, tetap ada sisi baik dalam Kekristenan "itu sendiri". Bagaimana dengan ajaran Kristus dan Kekristenan mula-mula, mungkin orang akan bertanya. Bukankah keduanya menjunjung tinggi semangat kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan?

Justru anggapan yang terus-menerus diulang inilah yang mendorong saya memilih pokok bahasan ini. Saya ingin menunjukkan bahwa penyimpangan-penyimpangan dalam Kekristenan, sebagaimana penyimpangan-penyimpangan dalam pemerintahan, berakar pada hakikatnya sendiri, dan bukan semata-mata harus dibebankan kepada para penganut atau wakil ajaran tersebut. Kristus beserta ajaran-ajarannya merupakan perwujudan kepasrahan, kepasifan, dan penyangkalan terhadap kehidupan. Karena itulah, ajaran-ajaran tersebut ikut bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan atas namanya.

Saya tidak tertarik pada Kristus dalam pengertian teologis. Tokoh-tokoh cemerlang seperti Bruno Bauer, David Friedrich Strauss, Ernest Renan, Thomas Paine, dan lainnya telah lama membantah mitos tersebut. Saya bahkan bersedia mengakui bahwa Kristus teologis tidaklah setengah berbahayanya dibandingkan Kristus etis dan sosial. Seiring ilmu pengetahuan menggantikan iman yang buta, teologi pun semakin kehilangan pengaruhnya. Namun, mitos Kristus yang bersifat etis dan puitis telah begitu meresap ke dalam kehidupan kita sehingga bahkan sebagian pemikir paling maju pun masih merasa sulit membebaskan diri dari belenggunya. Mereka memang telah melepaskan hurufnya, tetapi tetap mempertahankan rohnya. Padahal justru roh itulah yang berada di balik segala kejahatan dan kengerian yang dilakukan oleh Kekristenan ortodoks. Para Bapa Gereja tentu saja dapat terus mengkhotbahkan Injil Kristus tanpa rasa khawatir. Di dalamnya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan rezim kekuasaan dan kekayaan. Ajaran itu menjunjung penyangkalan diri, penghapusan diri, pertobatan, dan penyesalan, serta sepenuhnya pasif di hadapan setiap penghinaan, setiap penindasan, dan setiap kebiadaban yang dipaksakan kepada umat manusia.

Di sini saya harus kembali pada persoalan para pemalsu gagasan dan makna kata-kata. Terlalu banyak orang yang sebenarnya sungguh-sungguh membenci perbudakan dan ketidakadilan, tetapi dengan cara yang sangat disayangkan mencampuradukkan ajaran Kristus dengan perjuangan besar untuk emansipasi sosial dan ekonomi. Keduanya bertentangan secara mutlak dan tidak mungkin diperdamaikan. Yang satu menuntut keberanian, kenekatan, pembangkangan, dan kekuatan. Yang lain mengkhotbahkan Injil tentang tidak melawan, tentang kepatuhan budak terhadap kehendak orang lain. Ajaran itu mengabaikan pembentukan karakter dan kemandirian, sehingga pada akhirnya menghancurkan kebebasan dan kesejahteraan.

Siapa pun yang dengan sungguh-sungguh menghendaki perubahan masyarakat secara radikal, siapa pun yang berjuang membebaskan umat manusia dari belenggu ketergantungan dan kesengsaraan, harus berpaling dari Kekristenan, baik dalam bentuk lamanya maupun dalam bentuknya yang sekarang.

Sejak awal kemunculannya, di mana pun dan kapan pun, Kekristenan telah menjadikan bumi sebagai lembah air mata. Ia selalu membuat kehidupan menjadi lemah dan penuh penyakit. Ia selalu menanamkan rasa takut ke dalam diri manusia, mengubahnya menjadi makhluk yang terpecah, yang menghabiskan seluruh tenaga hidupnya dalam pergulatan antara tubuh dan jiwa. Dengan mengutuk tubuh sebagai sesuatu yang jahat, dan daging sebagai penggoda menuju segala dosa, manusia telah mencacati dirinya sendiri dalam upaya sia-sia untuk menjaga kemurnian jiwanya, sementara tubuhnya membusuk akibat luka dan siksaan yang dipaksakan kepadanya.

Agama dan moralitas Kristen mengagungkan kemuliaan kehidupan setelah kematian, sehingga bersikap acuh tak acuh terhadap segala kengerian yang terjadi di bumi. Bahkan, gagasan tentang penyangkalan diri dan segala sesuatu yang membawa penderitaan dan kesengsaraan dijadikan ukuran nilai manusia sekaligus paspor untuk memasuki surga.

Kaum miskin dijanjikan akan memiliki surga, sedangkan kaum kaya akan masuk neraka. Mungkin inilah yang menjelaskan mengapa kaum kaya begitu mati-matian memanfaatkan masa hidup mereka untuk memperoleh sebanyak mungkin dari dunia ini. Mereka bergelimang dalam kekayaan dan kemewahan, mempererat cengkeraman besi mereka atas para budak yang diberkati, merampas hak-hak mereka sejak lahir, serta merendahkan dan menindas mereka setiap saat. Siapa yang dapat menyalahkan kaum kaya jika mereka melampiaskan semuanya kepada kaum miskin? Sebab sekaranglah masa mereka. Dan hanya Tuhan Kristen yang maha pengasih yang tahu betapa cakap dan sempurnanya kaum kaya menjalankan tugas itu.

Lalu bagaimana dengan kaum miskin? Mereka tetap berpegang pada janji surga Kristen sebagai tempat beristirahat di hari tua, sebagai rumah pemulihan bagi tubuh yang cacat dan pikiran yang lemah. Mereka bertahan dan tunduk, menderita dan menunggu, hingga setiap sisa harga diri mereka terkikis habis, hingga tubuh mereka menjadi kurus dan layu, dan semangat mereka hancur oleh penantian yang melelahkan, penantian yang tak berkesudahan akan surga Kristen.

Kristus tampil sebagai pemimpin rakyat, sebagai penyelamat bangsa Yahudi dari kekuasaan Romawi. Namun, begitu memulai misinya, ia justru menunjukkan bahwa ia tidak memiliki kepedulian terhadap bumi maupun terhadap kebutuhan-kebutuhan mendesak kaum miskin dan mereka yang tercerabut dari hak-haknya pada zamannya. Yang ia khotbahkan adalah mistisisme sentimental, gagasan-gagasan yang kabur dan membingungkan, tanpa orisinalitas maupun daya hidup.

Menurut kisah dalam Injil, ketika bangsa Yahudi meninggalkan Yesus dan menyerahkannya untuk disalibkan, mungkin mereka merasa sangat kecewa kepada sosok yang telah menjanjikan begitu banyak, tetapi memberikan begitu sedikit. Ia menjanjikan sukacita dan kebahagiaan di dunia lain, sementara di hadapan matanya sendiri rakyat kelaparan, menderita, dan terus menanggung kesengsaraan.

Bisa juga simpati bangsa Romawi, terutama dari Pilatus, diberikan kepada Kristus karena mereka menganggapnya sama sekali tidak berbahaya bagi kekuasaan dan pemerintahan mereka. Pilatus, sebagai seorang filsuf, mungkin memandang "kebenaran-kebenaran abadi" yang diajarkan Kristus sebagai sesuatu yang lemah dan tak bernyawa jika dibandingkan dengan kekuatan besar yang katanya hendak dilawannya. Bangsa Romawi, yang terkenal kuat dan teguh, pasti diam-diam menertawakan seseorang yang mengajarkan pertobatan dan kesabaran, alih-alih menyerukan rakyat untuk mengangkat senjata melawan para penjarah dan penindas bangsanya.

Pelayanan publik Kristus dimulai dengan seruan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat."

Mengapa harus bertobat? Mengapa harus menyesal ketika sesuatu yang dijanjikan justru dikatakan akan membawa pembebasan? Bukankah rakyat telah cukup lama menderita dan menanggung beban? Bukankah melalui penderitaan itu mereka telah memperoleh hak atas pembebasan? Ambillah contoh “Khotbah di Bukit”. Apa isinya selain pujian terhadap kepasrahan pada nasib dan penerimaan terhadap segala sesuatu yang dianggap tak terelakkan?

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga."

Surga pasti merupakan tempat yang sangat membosankan jika yang menghuninya adalah mereka yang miskin jiwa. Bagaimana mungkin sesuatu yang kreatif, penuh kehidupan, berguna, dan indah dapat lahir dari kemiskinan jiwa? Gagasan yang terkandung dalam “Khotbah di Bukit” merupakan dakwaan paling keras terhadap ajaran Kristus, karena menganggap kemiskinan jiwa dan tubuh sebagai suatu kebajikan, lalu berusaha mempertahankan "kebajikan" itu melalui janji pahala dan ancaman hukuman. Setiap orang yang berpikir jernih menyadari bahwa kemiskinan jiwa adalah kutukan terbesar umat manusia. Dari sanalah lahir segala kejahatan dan kesengsaraan, seluruh ketidakadilan dan kejahatan di dunia. Semua orang tahu bahwa tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada, sesuatu yang baik yang lahir dari kemiskinan jiwa, apalagi kebebasan, keadilan, ataupun kesetaraan.

"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan mewarisi bumi."

Betapa ganjilnya gagasan itu! Betapa besar dorongannya untuk melahirkan perbudakan, kepasifan, dan kehidupan yang bergantung pada orang lain! Lagi pula, tidak benar bahwa orang-orang yang lemah lembut akan mewarisi apa pun. Justru karena umat manusia bersikap terlalu lemah lembut, bumi telah dirampas dari tangan mereka.

Sikap lemah lembut telah menjadi cambuk yang digunakan kapitalisme dan negara untuk memaksa manusia hidup dalam ketergantungan dan mempertahankannya dalam posisi sebagai budak. Para pelayan negara, kekayaan, dan hak-hak istimewa yang paling setia pun tidak mungkin dapat mengkhotbahkan Injil yang lebih menguntungkan bagi mereka daripada yang diajarkan Kristus, sang "penebus" umat manusia.

"Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan."

Namun, bukankah Kristus sendiri meniadakan kemungkinan terwujudnya keadilan ketika berkata, "Orang miskin selalu ada padamu"? Memang, Kristus gemar mengucapkan semboyan-semboyan, sekalipun satu sama lain saling bertentangan. Hal itu tidak tampak lebih jelas daripada dalam perintahnya: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan."

Para penafsir berpendapat bahwa Kristus harus membuat konsesi kepada kekuasaan pada zamannya. Jika memang demikian, maka satu kompromi itu saja sudah cukup menjadi senjata yang sangat ampuh di tangan para penindas hingga hari ini. Ia telah menjadi cambuk yang kejam dan alat pemungut pajak yang tanpa belas kasihan, yang mengakibatkan pemiskinan, perbudakan, dan perendahan terhadap rakyat yang konon telah ditebus oleh Kristus dengan kematiannya. Dan ketika kita diyakinkan bahwa, "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Pernahkah dijelaskan bagaimana hal itu akan terjadi? Bagaimana caranya? Kristus tidak pernah merasa perlu menjelaskannya. Keadilan tidak turun dari bintang-bintang, dan tidak terwujud hanya karena Kristus menghendakinya. Keadilan tumbuh dari kebebasan, dari adanya kesempatan sosial dan ekonomi, serta dari kesetaraan. Namun, bagaimana mungkin mereka yang lemah lembut dan miskin jiwa dapat membangun keadaan seperti itu?

"Berbahagialah kamu apabila orang mencela kamu, menganiaya kamu, dan dengan dusta mengatakan segala yang jahat terhadap kamu karena Aku. Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab upahmu besar di surga."

Ganjaran di surga adalah umpan yang terus-menerus dilemparkan kepada manusia. Umpan itu telah menjerat manusia dalam jaring besi, membelenggunya dengan baju pengekang yang tidak memberinya ruang untuk berkembang dan tumbuh. Semua perintis kebenaran, dahulu maupun sekarang, selalu dicela dan dianiaya. Namun, apakah mereka pernah meminta umat manusia membayar harga atas kebenaran yang mereka bawa? Apakah mereka berusaha menyuap manusia agar menerima gagasan-gagasan mereka? Mereka tahu benar bahwa siapa pun yang menerima kebenaran karena imbalan akan dengan mudah menukarnya kembali kepada penawar yang lebih tinggi.

Baik dan jahat, hukuman dan ganjaran, dosa dan penebusan, surga dan neraka, sebagai inti dari Injil Kristus, telah menjadi batu sandungan bagi kemajuan dunia. Ajaran itu dipenuhi perintah dan larangan, tetapi sama sekali tidak memiliki hal-hal yang paling dibutuhkan manusia.

Seorang pekerja yang memahami penyebab penderitaannya, yang mengerti bagaimana sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil ini bekerja, mampu berbuat jauh lebih banyak bagi dirinya sendiri dan bagi sesamanya daripada yang pernah dilakukan Kristus maupun para pengikutnya bagi umat manusia. Tentu jauh lebih banyak daripada kesabaran yang pasif, ketidaktahuan, dan kepatuhan yang diajarkan selama ini.

Betapa jauh lebih memuliakan, betapa jauh lebih bermanfaat individualisme radikal Max Stirner dan Friedrich Nietzsche dibandingkan suasana ruang orang sakit yang diciptakan oleh iman Kristen. Jika mereka menolak altruisme sebagai sesuatu yang buruk, itu karena contoh yang diberikan Kekristenan sendiri, yang mengagungkan parasitisme dan kepasifan, serta melahirkan berbagai bentuk penyakit sosial yang kemudian berusaha disembuhkan melalui khotbah tentang kasih dan simpati.

Mereka yang berjiwa merdeka, bangga, dan mandiri lebih memilih kebencian daripada kasih yang dibuat-buat dan memuakkan seperti itu. Seorang manusia yang bebas tidak membela kebenaran agung demi memperoleh ganjaran, dan ia juga tidak pernah dihalangi oleh rasa takut terhadap hukuman.

"Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."

Tepat sekali. Kristus adalah seorang reformis, yang selalu siap menambal, menyempurnakan, dan mempertahankan tatanan lama, tetapi tidak pernah berusaha menghancurkannya lalu membangun sesuatu yang benar-benar baru. Mungkin itulah sebabnya para reformis di setiap zaman merasa begitu dekat dengannya.

Sesungguhnya, seluruh sejarah negara, kapitalisme, dan gereja membuktikan bahwa ketiganya mampu mempertahankan keberadaannya justru karena gagasan, "Aku datang bukan untuk meniadakan hukum." Di situlah letak kunci dari otoritas dan penindasan. Hal itu sangat masuk akal, sebab bukankah Kristus memuji kemiskinan sebagai suatu kebajikan? Bukankah ia juga mengajarkan agar tidak melawan kejahatan? Jika demikian, mengapa kemiskinan dan kejahatan tidak terus menguasai dunia?

Betapapun saya menentang setiap agama, dan betapapun saya menganggap agama sebagai penipuan terhadap akal budi sekaligus kejahatan terhadap kemajuan, saya tetap berpendapat bahwa tidak ada agama lain yang telah menimbulkan kerusakan sebesar agama Kristus, atau begitu besar perannya dalam memperbudak manusia.

Lihatlah Kristus ketika berdiri di hadapan para penuduhnya. Betapa kurangnya martabat, betapa kurangnya keyakinan terhadap dirinya sendiri maupun terhadap ajaran yang ia bawa. Begitu lemah dan tak berdayanya "Juru selamat Umat Manusia" ini sehingga seluruh umat manusia harus terus-menerus menanggung bebannya sampai selama-lamanya, hanya karena ia "telah mati bagi mereka.” Penebusan melalui Salib bahkan lebih buruk daripada kutukan, karena membebankan tanggung jawab yang begitu berat kepada umat manusia. Penebusan itu membelenggu dan melumpuhkan jiwa manusia dengan beban yang dipaksakan melalui kematian Kristus.

Ribuan martir telah gugur sepanjang sejarah. Namun, hanya sedikit, jika memang ada, yang menunjukkan ketidakberdayaan seperti yang diperlihatkan oleh Tuhan Kristen. Ribuan orang menghadapi kematian dengan keteguhan yang lebih besar, keberanian yang lebih tinggi, dan keyakinan yang jauh lebih mendalam terhadap cita-cita mereka daripada orang Nazaret itu. Dan mereka pun tidak pernah menuntut rasa terima kasih abadi dari sesama manusia atas penderitaan yang mereka tanggung demi mereka.

Dibandingkan dengan Socrates dan Giordano Bruno, dengan para martir besar Rusia, para Anarkis Haymarket , Francisco Ferrer, serta tak terhitung banyaknya tokoh lainnya, Kristus tampak begitu kecil. Dibandingkan dengan Maria Spiridonova yang bertubuh rapuh dan lemah lembut, tetapi sanggup menanggung penyiksaan paling mengerikan dan penghinaan paling keji tanpa kehilangan keyakinan kepada dirinya sendiri maupun perjuangannya, Yesus benar-benar tampak tidak berarti. Mereka tetap teguh berdiri menghadapi para algojo dengan ketabahan yang tak tergoyahkan. Dan meskipun mereka juga mati demi rakyat, mereka tidak pernah meminta balasan apa pun atas pengorbanan besar yang telah mereka berikan.

Sesungguhnya, yang kita butuhkan adalah pembebasan dari perbudakan, dari kelemahan yang melumpuhkan, dan dari ketergantungan yang menghinakan yang ditanamkan oleh moralitas Kristen.

Ajaran Kristus dan para pengikutnya telah gagal karena tidak memiliki daya hidup yang mampu mengangkat beban dari pundak umat manusia. Ajaran itu gagal karena hakikatnya sendiri bertentangan dengan semangat kehidupan, dengan kenyataan alam, serta dengan kekuatan dan keindahan hasrat manusia.

Kekristenan, dalam bentuk apa pun ia tampil, tidak akan pernah mampu membebaskan kita dari tekanan kondisi hidup yang begitu berat, dari himpitan kemiskinan, maupun dari kengerian sistem yang penuh ketidakadilan ini. Entah ia menyebut dirinya Liberalisme Baru, Spiritualisme, Christian Science, New Thought, ataupun salah satu dari ribuan bentuk histeria dan neurasthenia lainnya, hakikatnya tetap sama. Kekristenan adalah persekongkolan kebodohan melawan akal budi, kegelapan melawan cahaya, kepatuhan dan perbudakan melawan kemandirian dan kebebasan, penyangkalan terhadap kekuatan dan keindahan hidup melawan penegasan atas sukacita dan kemuliaan kehidupan.


Diterjemahkan dari:

Sabtu, 27 Juni 2026

Solidaritas untuk "Suara-suara Kaum Tertindas" di Gaza!

Pada hari Jumat, 26 Juni 2026, kami turun ke jalan untuk menunjukkan solidaritas kami kepada suara-suara mereka yang tertindas di Gaza.

Dengan mengusung slogan: “Suara-suara Kaum Tertindas”, aksi protes massal di Gaza diserukan untuk berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2026.

Berikut ini kami mendokumentasikan pidato yang kami sampaikan yang merujuk pada laporan dari media berbahasa Jerman.


Pidato pada Pembukaan Aksi

Sejak serangan Hamas dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, suasana sosial, baik di Israel maupun di wilayah Palestina, telah berubah secara signifikan. Korban pembantaian di Festival Nova serta pembunuhan dan penculikan di beberapa kibbutz sebagian besar berasal dari kalangan progresif dan kiri. Peristiwa ini, ditambah kenyataan bahwa masyarakat tidak dapat dilindungi dari serangan tersebut, menyebabkan oposisi yang sebelumnya lantang sebagian besar terdiam, sementara politik progresif terdorong jauh ke belakang.

Reaksi pemerintah Israel kemungkinan diremehkan oleh banyak pihak, tetapi menurut pernyataan Hamas sendiri, reaksi tersebut memang telah mereka perkirakan. Tujuan untuk menghancurkan Hamas secara militer tidak tercapai. Sebaliknya, Gaza kini nyaris rata dengan tanah. Puluhan ribu orang tewas, rumah-rumah dan infrastruktur hancur, sementara perang terus berlanjut. 

Sebaliknya, perkembangan ini justru menguntungkan Hamas secara politik. Ideologi politik mereka bertumpu pada kebencian dan perpecahan. Karena itu, mereka memuliakan banyak korban tewas sebagai martir. Sejak awal, mereka tidak pernah benar-benar memedulikan rakyat Palestina. Yang mereka kejar adalah kekuasaan. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak mengambil alih kekuasaan lebih dari dua puluh tahun yang lalu, Jalur Gaza telah mengalami kehancuran ekonomi. Korupsi serta penggelapan dana dan bantuan kemanusiaan telah menjadi praktik yang berlangsung terus-menerus.

Dengan mengusung slogan: "Kami Ingin Hidup", sejak tahun 2019 aksi-aksi protes terhadap para penguasa politik terus bermunculan. Berulang kali, orang-orang yang tidak menuntut apa pun selain jaminan atas kehidupan yang layak justru menjadi sasaran pemukulan, penyiksaan, bahkan eksekusi di depan umum. Hal yang sama kembali terjadi pada musim semi 2025. Selama beberapa pekan, ribuan orang turun ke jalan menuntut diakhirinya perang dan dipulihkannya kondisi kehidupan yang bermartabat. Hamas menanggapi aksi-aksi tersebut dengan melakukan eksekusi terbuka sebagai upaya membungkam protes.

Hari ini, kembali diserukan mobilisasi untuk menggelar aksi massa di Gaza. Situasi di lapangan masih belum jelas. Namun, akibat perang yang terus berlangsung dan kehancuran yang ditimbulkannya, kemarahan terhadap kepemimpinan politik tampaknya lebih besar daripada sebelumnya. Muncul kesan bahwa Hamas telah kehilangan senjata terkuatnya, yaitu ancaman kematian. Banyak orang tampaknya telah menyadari bahwa obsesi Hamas terhadap penghancuran telah merenggut nyawa tak terhitung banyaknya warga Palestina. Mereka menjarah puluhan ton bantuan kemanusiaan demi meraup keuntungan, sementara perempuan diperkosa agar dapat memperoleh akses terhadap bantuan tersebut. Pada saat yang sama, hampir tidak ada perlindungan apa pun bagi penduduk sipil di tengah perang yang begitu menghancurkan ini.

Seruan-seruan aksi ini berangkat dari kenyataan tersebut. Tujuannya adalah mengakhiri lingkaran kekerasan, baik perang dengan masyarakat di negara Israel, maupun represi terhadap rakyatnya sendiri. Yang diperjuangkan adalah terciptanya harapan akan masa depan, masa depan yang berpijak pada kebutuhan dan kepentingan nyata masyarakat, yang menjamin kehidupan yang aman dan layak, serta membuka jalan bagi terwujudnya kehidupan bersama yang damai.

Solidaritas untuk "Suara-suara Kaum Tertindas" di Gaza! 


Wawancara dengan Mohammed Altooll

Hari ini kami berdiri di sini untuk menunjukkan solidaritas kami kepada "Suara-suara Kaum Tertindas" di Gaza, yang hari ini menyerukan aksi demonstrasi massal. Menjelang aksi ini, kami telah berbincang dengan Mohammed Altooll mengenai situasi terkini di Gaza serta latar belakang munculnya gelombang protes tersebut. Selanjutnya, kami akan menyampaikan pandangan dan pengalaman pribadinya sebagai seorang warga Palestina asal Jalur Gaza, pendiri gerakan Bedna Naish, sekaligus seseorang yang selama bertahun-tahun memperjuangkan perdamaian, koeksistensi, dan perubahan politik.

Perlu kami tegaskan bahwa Mohammed tidak mengklaim berbicara atas nama seluruh rakyat Palestina. Apa yang akan disampaikan merupakan perspektif yang lahir dari pengalaman pribadinya, serta dari apa yang ia amati selama bertahun-tahun di tengah kehidupan banyak warga biasa di Jalur Gaza.

Menurut Mohammed, ketika orang-orang di luar Jalur Gaza membicarakan persoalan Palestina, perhatian mereka sering kali hanya tertuju pada faksi-faksi politik. Baginya, yang seharusnya menjadi pusat perhatian adalah manusia itu sendiri, yakni hak setiap warga biasa untuk hidup dengan bermartabat, aman, bebas, dan penuh harapan. Selama hampir dua dekade, Jalur Gaza diperintah oleh Hamas, sementara sebagian wilayah Tepi Barat dikelola oleh Otoritas Palestina di bawah kepemimpinan Fatah. Meskipun kedua gerakan ini menganut ideologi yang berbeda, banyak warga Palestina biasa melihat hasil yang serupa dari pemerintahan mereka, yaitu perpecahan politik, kemerosotan ekonomi, korupsi, minimnya akuntabilitas, serta semakin hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan politik yang selama ini berkuasa.

Hamas, Fatah, Jihad Islam (PIJ), dan berbagai faksi lainnya sama-sama menjanjikan masa depan yang lebih baik. Namun, setelah bertahun-tahun, yang dirasakan oleh rakyat biasa hanyalah pengangguran, kemiskinan, perpecahan, ketakutan, serta ketiadaan harapan yang nyata untuk masa depan. Menurut Mohammed Altooll, krisis di Jalur Gaza bukanlah kegagalan satu partai semata, melainkan kegagalan seluruh kelas politik yang berulang kali mengutamakan kepentingan faksi mereka sendiri di atas kebutuhan rakyat.

Bahkan sebelum 7 Oktober 2023, Jalur Gaza telah dilanda krisis politik, ekonomi, dan sosial yang mendalam. Banyak aktivis, jurnalis, dan para pengkritik pemerintah menghadapi intimidasi, penangkapan, maupun penganiayaan akibat pandangan yang mereka sampaikan. Semakin banyak anak muda merasa bahwa mereka tidak memiliki suara dan tidak mempunyai kesempatan nyata untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Ketika serangan pada 7 Oktober terjadi, sebagian besar warga sipil biasa di Gaza sama sekali tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Mereka terbangun dalam situasi yang mengejutkan, yang kemudian mengubah kehidupan rakyat Palestina maupun Israel secara dramatis.

Apa yang terjadi setelahnya membawa penderitaan yang tak terhingga bagi warga sipil di kedua belah pihak. Tragedi itu menimpa keluarga-keluarga Israel maupun Palestina, dan banyak warga Gaza segera menyadari bahwa akibatnya akan menjadi bencana bagi semua pihak yang terlibat. Keluarga Mohammed Altooll membayar harga yang sangat mahal dalam konflik ini. Ia kehilangan hampir separuh anggota keluarganya, dan semuanya adalah warga sipil. Karena itulah, ia tidak berbicara tentang penderitaan sebagai seorang pengamat. Ia tahu bagaimana rasanya berduka. Ia tahu apa artinya kehilangan orang-orang yang dicintai.

Namun, pada saat yang sama, Mohammed juga memahami betapa berharganya harapan. Karena itulah, ia merasakan belas kasih yang tulus terhadap warga sipil Israel yang dibunuh, diculik, atau terluka pada 7 Oktober. Hamas telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi warga sipil yang tinggal di sekitar Jalur Gaza, sebagaimana perang yang menyusul setelahnya juga telah membawa penderitaan yang luar biasa bagi warga sipil Palestina di Jalur Gaza.

Menurut Mohammed, mengakui penderitaan orang lain tidak mengurangi penderitaan yang kita alami sendiri. Belas kasih bukanlah bentuk pengkhianatan. Ia meyakini bahwa mengakui kemanusiaan pihak lain merupakan salah satu langkah pertama menuju masa depan yang lebih baik. Bagi Mohammed, keyakinan ini memiliki makna yang sangat pribadi. Mohammed Altooll lahir pada 25 Desember, hari ketika umat Kristen memperingati kelahiran Yesus Kristus, sekaligus tanggal kelahiran Presiden Mesir Anwar Sadat, yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh perdamaian paling berpengaruh dalam sejarah Timur Tengah.

Pada tahun 2014, Mohammed menjalani operasi jantung di Tel Aviv. Selama perawatannya, ia menerima transfusi darah yang menyelamatkan nyawanya. Bagi Mohammed, pengalaman itu bukan tentang kebangsaan, agama, ataupun latar belakang etnis. Yang terpenting baginya adalah kenyataan bahwa seorang manusia telah membantu menyelamatkan nyawa manusia lainnya. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa kemanusiaan yang kita miliki bersama jauh lebih kuat daripada sekat-sekat yang memisahkan kita. Pengalaman-pengalaman itu semakin meneguhkan keyakinannya bahwa masa depan tidak dapat dibangun di atas kebencian. Itulah salah satu alasan mengapa Mohammed mendirikan gerakan Bedna Naish.

Gerakan ini tidak pernah dimaksudkan untuk melayani kepentingan faksi politik tertentu. Gerakan ini juga tidak dibentuk untuk mengejar kekuasaan. Menurut Mohammed, tujuan mereka adalah memberikan suara kepada rakyat biasa yang merasa ditinggalkan oleh seluruh partai politik. Pesan yang mereka bawa sangat sederhana: rakyat berhak memperoleh pekerjaan, pendidikan, kebebasan berpendapat, pemerintahan yang akuntabel, kehidupan yang bermartabat, serta kesempatan untuk membangun kehidupan yang normal. Mereka berdiri bersama warga yang merasa tidak lagi didengarkan oleh faksi-faksi politik. Mereka tidak ingin menggantikan satu faksi dengan faksi lainnya. Mereka ingin mempertanyakan sebuah sistem yang telah menjadikan organisasi-organisasi politik lebih penting daripada rakyat itu sendiri.

Menurut Mohammed, saat ini banyak anak muda di Gaza tidak lagi percaya pada slogan-slogan lama. Mereka menginginkan sekolah, universitas, lapangan pekerjaan, stabilitas, harapan, dan masa depan. Itulah semangat yang melandasi aksi-aksi protes dengan slogan: "Kami Ingin Hidup". Demonstrasi-demonstrasi tersebut bukan bertujuan menggantikan satu kelompok penguasa dengan kelompok lainnya. Aksi-aksi itu mencerminkan semakin kuatnya keinginan masyarakat akan kepemimpinan baru yang mengutamakan kepentingan warga, bukan kepentingan faksi-faksi tertentu.

Mengenai aktivisme pro-Palestina di Eropa, Mohammed berpendapat bahwa banyak aktivis memiliki niat yang tulus untuk membantu rakyat Palestina. Namun, terlalu sering suara rakyat biasa di Gaza justru diabaikan. Banyak warga merasa bahwa para aktivis internasional berbicara tentang Gaza tanpa benar-benar mendengarkan orang-orang yang hidup di sana. Menurutnya, solidaritas yang sejati berarti membela hak, martabat, dan kebebasan warga sipil biasa, bukan membela organisasi-organisasi politik.

Dalam memandang masa depan, Mohammed Altooll memiliki sebuah visi yang mungkin dianggap tidak lazim oleh sebagian orang. Ia meyakini bahwa Jalur Gaza berhak memiliki perwakilan yang benar-benar demokratis serta sebuah tatanan politik yang memberi penduduknya hak untuk secara langsung menentukan arah masa depan mereka sendiri. Ketika melihat warga Arab di Israel, Mohammed melihat adanya wakil-wakil rakyat yang dipilih secara demokratis untuk duduk di Knesset dan memperjuangkan kepentingan komunitas mereka. Tokoh-tokoh seperti Ahmad Tibi dan Ayman Odeh, menurutnya, mencerminkan prinsip keterwakilan politik, di mana warga memilih para wakilnya dan dapat meminta pertanggungjawaban mereka.

Selama bertahun-tahun, Mohammed telah mendorong agar Jalur Gaza mulai mengeksplorasi model-model baru keterwakilan politik yang mampu memberdayakan penduduknya serta memastikan bahwa suara mereka benar-benar didengar. Tujuannya bukanlah konflik yang tak berkesudahan. Tujuannya adalah partisipasi politik, martabat, kesempatan hidup yang lebih baik, dan hidup berdampingan secara damai. Mohammed meyakini bahwa anak-anak Gaza berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada perang, persaingan antarfaksi, dan pertarungan ideologi. Mereka berhak memperoleh pendidikan, kesempatan ekonomi, rasa aman, dan harapan.

Terlepas dari semua yang telah terjadi, ia tetap percaya bahwa perdamaian masih mungkin diwujudkan. Perdamaian tidak akan lahir dari kebencian. Perdamaian tidak akan lahir dari balas dendam. Perdamaian juga tidak akan lahir dari para politisi yang membangun pengaruhnya di atas rasa takut dan perpecahan. Perdamaian hanya dapat terwujud melalui keberanian, dialog, tanggung jawab, serta kesediaan untuk mengakui kemanusiaan orang-orang di pihak lain.

Mungkin visi ini masih tampak sangat jauh untuk diwujudkan saat ini. Namun, seperti yang dikatakan Mohammed Altooll, “setiap perubahan besar selalu berawal dari sebuah gagasan.” Gagasannya, yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun, sangatlah sederhana: rakyat Gaza berhak atas masa depan di mana kehidupan mereka lebih berharga daripada kepentingan faksi-faksi politik, masa depan di mana anak-anak mereka lebih penting daripada slogan-slogan, dan masa depan di mana perdamaian lebih bernilai daripada konflik yang tiada akhir.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Mohammed Altooll atas kesediaannya berbagi pandangan dan pengalamannya.


Penutupan Aksi

Kini kita telah sampai di penghujung aksi kita. Dalam beberapa penyampaian sebelumnya, kita telah memaparkan sejumlah informasi mengenai aksi protes di Gaza yang mengusung slogan: "Suara-suara Kaum Tertindas". Bahkan sebelum aksi tersebut berlangsung, telah muncul berbagai ancaman dan mobilisasi tandingan dari pihak Hamas maupun kelompok-kelompok lainnya.

Melalui aksi solidaritas ini, kami ingin memberikan perhatian kepada mereka yang berani menyuarakan penolakan terhadap politik perpecahan dan kekerasan di wilayah Palestina, serta kepada mereka yang melawan penindasan terhadap rakyatnya sendiri. Pada saat yang sama, kami juga berharap agar gagasan-gagasan progresif kembali memperoleh ruang dan pengaruh yang lebih besar di tengah masyarakat Israel.

Kepemimpinan politik, baik di Israel maupun di wilayah Palestina, tidak menunjukkan kepentingan untuk meredakan eskalasi ataupun membangun masa depan yang menjauh dari perang dan kehancuran. Karena itu, dibutuhkan kekuatan masyarakat sipil yang mampu memutus mata rantai kekerasan dan memperjuangkan kehidupan berdampingan secara damai.

Atas dasar itulah, hari ini kami menyatakan solidaritas kepada para pengunjuk rasa di Gaza dan berharap suara mereka didengar, serta bahwa aksi-aksi tersebut dapat menjadi awal bagi perubahan sosial dan politik.

Tidak untuk Politik Otoriter di Palestina! 
Tidak untuk Pemerintahan Sayap Kanan di Israel!
Akhiri Perang, Wujudkan Kehidupan yang Layak Bagi Semua!


Tautan ke Laporan

https://www.jungle.world/blog/von-tunis-nach-teheran/2026/06/warum-der-aufruf-zu-protesten-gaza-fuer-den-26-juni-sich-von




Diterjemahkan dari: