Kami membagikan kepada kalian sebuah wawancara dengan seorang kawan Marxis dari Iran. Ehsan Sohrabian Mehryazdi pernah aktif dalam gerakan kiri di Iran, dan kini tinggal di Trier. Kami berbincang dengannya pada pertengahan April, yakni sekitar satu setengah bulan setelah dimulainya perang agresi oleh Amerika Serikat dan Israel. Wawancara ini telah kami terjemahkan, tetapi isinya tetap merupakan perspektif Ehsan sendiri dan, sejauh mungkin, mempertahankan pilihan kata-katanya. Dalam wawancara ini, Ehsan menjelaskan perkembangan sejarah serta situasi politik terkini di Iran. Ia juga menguraikan bagaimana perjuangan gerakan kiri terus berlanjut di bawah kondisi negara yang represif, serta bagaimana masa depan yang ditentukan sendiri oleh rakyat dapat dibangun di Iran. Dan masih banyak lagi.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ehsan atas kesediaannya berbagi pandangan dan pengalaman ini.
Siapa Anda dan di organisasi mana Anda pernah atau sedang beraktivitas?
Saya adalah seorang aktivis gerakan kiri di Iran. Sejak muda saya mempelajari Marxisme, dan pada awal tahun 2000-an saya mulai terlibat dalam kerja politik serta aktivisme sosial.
Seperti apa aktivitas politik Anda di Iran?
Sebelum menjawab, izinkan saya terlebih dahulu menjelaskan situasi politik di Iran, khususnya kondisi gerakan kiri. Pada dekade 1980-an, gerakan komunis di Iran dibantai dengan cara yang paling kejam. Pada masa itu, Iran menjadi sebuah "ladang pembantaian massal" bagi kaum komunis, kelompok kiri, dan kekuatan politik yang memperjuangkan kebebasan. Puluhan ribu orang disiksa hingga tewas di penjara-penjara rezim, dieksekusi, atau dibunuh di jalanan, di rumah-rumah mereka, di tempat persembunyian, maupun di lokasi-lokasi lainnya. Ribuan jenazah dikuburkan di kuburan massal tanpa penanda apa pun. Hingga hari ini, mengunjungi makam-makam tersebut masih dilarang, dan banyak orang terus menghadapi penangkapan, kekerasan, serta hukuman penjara hanya karena berziarah atau menuntut keadilan, misalnya keluarga para korban dan para pencari keadilan (Justice Seekers, anggota gerakan keadilan). Dalam beberapa kasus, mereka yang ditahan bahkan dijatuhi hukuman mati. Golzar Khavaran merupakan salah satu kuburan massal yang paling dikenal. Dekade 1980-an merupakan salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Iran. Dekade 1990-an juga merupakan masa penindasan yang sangat brutal serta pembunuhan politik yang dilakukan secara sistematis oleh negara, bukan hanya terhadap lawan-lawan politik, tetapi juga terhadap orang-orang yang memiliki pandangan berbeda, baik di dalam maupun di luar negeri. Di Iran, rangkaian pembunuhan tersebut dikenal sebagai "Pembunuhan Berantai".
Kita juga tidak boleh melupakan bahwa selama bertahun-tahun itu, pemerintah-pemerintah Barat, termasuk negara-negara Eropa, menjalin kerja sama yang sangat erat dengan rezim Iran. Negara-negara tersebut tidak menanggapi secara serius berbagai kasus pembunuhan terhadap lawan-lawan rezim, memilih bungkam, bahkan dalam beberapa kasus memulangkan para pelaku pembunuhan itu ke Iran dengan pesawat. Sebagai contoh, pemerintah Austria menolak menangkap orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap Dr. Abdul Rahman Ghassemlou (1989, mantan ketua Partai Demokrat Kurdistan Iran) dengan alasan "kekebalan diplomatik". Alih-alih ditangkap, pelaku justru dipulangkan dari Austria ke Iran. Ia kemudian menjadi anggota tim perunding nuklir Iran, dan kini terlibat dalam perundingan diplomatik dengan Amerika Serikat di Pakistan.
Sepanjang kekuasaan Republik Islam Iran, setiap bentuk aktivitas politik yang bersifat kepartaian maupun kegiatan politik yang terorganisasi dianggap sebagai kejahatan berat dan dihukum dengan sanksi yang sangat keras, seperti hukuman penjara bertahun-tahun bahkan hukuman mati. Pada tahun-tahun setelah 2000, ketika gerakan kiri mulai bangkit kembali di Iran, berbagai kekuatan kiri mengorganisasikan aktivitas mereka melalui serikat-serikat profesi dan serikat buruh, organisasi pekerja, organisasi perempuan, organisasi hak asasi manusia, organisasi hak anak, dan sebagainya. Dari sudut pandang pemerintah, organisasi-organisasi ini juga tetap dianggap ilegal. Anggota-anggotanya terus-menerus menghadapi pengawasan, penangkapan, dan pemenjaraan. Meskipun demikian, risiko aktivitas politik semacam ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan aktivitas kepartaian. Karena itu, saya pun bekerja sama dengan organisasi-organisasi buruh, para aktivis gerakan perempuan, gerakan keadilan (Justice-Seeking), dan berbagai bidang lainnya. Secara khusus, sejak tahun 2008 saya aktif dalam Asosiasi Pembela Hak-Hak Buruh. Organisasi ini merupakan organisasi kiri yang demokratis, tempat orang-orang dari berbagai kecenderungan Marxis bekerja bersama. Perlu saya tegaskan bahwa organisasi ini bukanlah satu-satunya organisasi semacam itu, melainkan hanya salah satu dari sekian banyak organisasi yang hingga kini tetap aktif, terus berjuang, dan terus mengorganisasi diri di tengah kondisi penindasan.
Bagaimana Anda menilai situasi Iran saat ini di tengah serangan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat?
Serangan Amerika Serikat dan Israel telah memperburuk sekaligus memperumit situasi secara drastis. Perang ini bukan hanya menyebabkan terbunuhnya warga sipil, kehancuran, dan rusaknya infrastruktur negara. Perang juga memberi rezim kesempatan untuk memperluas penindasan secara besar-besaran dengan dalih "keadaan perang" serta melalui tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar dan palsu, seperti "bekerja sama dengan negara-negara musuh". Selama hari-hari perang ini, negara, di balik bayang-bayang pengeboman dan pemberitaan perang, kembali mengaktifkan mesin eksekusi dan pembunuhannya di dalam penjara. Mereka mengeksekusi orang-orang yang telah bertahun-tahun dipenjara karena alasan politik. Dalam waktu yang sangat singkat ini, lebih dari 4.000 orang ditangkap berdasarkan tuduhan yang sama sekali tidak berdasar, lalu dibawa ke ruang-ruang penyiksaan dan penjara. Setiap hari, orang-orang di jalan menjalani penggeledahan badan secara menyeluruh (termasuk pemeriksaan terhadap bagian-bagian tubuh yang paling pribadi), sementara telepon genggam mereka diperiksa di jalan, di kafe, maupun di restoran. Perang ini telah memberi penguasa dalih untuk memperluas skala penindasan dan menciptakan suasana teror serta ketakutan. Izinkan saya mengatakannya secara terus terang dan sederhana: rezim Iran bukanlah sekadar sebuah kediktatoran biasa, melainkan sebuah rezim fasisme religius yang sangat represif.
Pada saat yang sama, harus dikatakan bahwa kekuatan-kekuatan yang kini mengebom rakyat serta infrastruktur vital adalah kekuatan yang sama yang dahulu memainkan peran penting dalam membawa fasisme Islam berkuasa, dan selama bertahun-tahun bekerja sama secara erat dengannya. Korban sesungguhnya dari perang ini adalah rakyat Iran. Di satu sisi, mereka terbunuh akibat pengeboman yang bersifat kriminal, sementara rumah dan kehidupan mereka dihancurkan. Di sisi lain, mereka menghadapi penindasan yang semakin brutal dengan dalih perang. Lebih jauh lagi, mereka dirampas dari kemungkinan untuk menjalani kehidupan yang bermartabat selama beberapa dekade mendatang. Hal itu terjadi melalui penghancuran infrastruktur ekonomi dan industri, seperti fasilitas minyak, kilang, pabrik, dan sebagainya, serta infrastruktur perkotaan seperti jembatan, jalan raya, jalur kereta api, bandara, sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas umum lainnya.
Bagaimana bentuk perlawanan di Iran terhadap negara Iran dan struktur-strukturnya?
Perlawanan di Iran terhadap rezim dan struktur kekuasaannya hadir dalam berbagai bentuk. Gerakan ini pada dasarnya bersifat terdesentralisasi dan tumbuh dari bawah. Bentuk-bentuknya meliputi pemogokan buruh, aksi protes para guru dan pensiunan, gerakan perempuan, komunitas LGBTQ+, protes mahasiswa, perjuangan lingkungan hidup, gerakan keadilan yang dipimpin oleh keluarga para korban eksekusi dan pembunuhan, perlawanan sipil, serta gelombang protes sosial berskala besar. Dalam berbagai perjuangan tersebut, kaum komunis dan kelompok kiri, arus nasionalis yang berhaluan kiri maupun liberal, kaum feminis, aktivis anti-represi, aktivis lingkungan, aktivis serikat buruh dan sindikat, serta berbagai pegiat hak asasi manusia lainnya turut berperan aktif. Aktivis dari partai-partai oposisi juga terus melanjutkan perjuangan mereka meskipun harus menghadapi risiko yang sangat besar, mulai dari hukuman penjara yang panjang hingga ancaman hukuman mati. Di samping itu, rakyat terus melakukan perlawanan sipil terhadap berbagai undang-undang dan kebijakan rezim. Setiap beberapa minggu, bahkan terkadang jutaan orang turun ke jalan untuk menyampaikan protes. Namun, tanggapan pemerintah terhadap aksi-aksi tersebut tidak pernah berubah: peluru, penangkapan, penyiksaan, pengakuan paksa, dan eksekusi. Ciri paling menonjol dari gerakan perlawanan ini adalah tidak adanya kepemimpinan yang terpusat serta ketergantungannya pada jaringan-jaringan informal. Kondisi ini sekaligus menjadi kekuatan dan kelemahannya. Di satu sisi, struktur yang terdesentralisasi membuat gerakan lebih mampu bertahan menghadapi represi. Di sisi lain, kondisi tersebut menyulitkan pembentukan organisasi yang berkelanjutan dan efektif. Situasi ini merupakan akibat langsung dari represi yang berlangsung secara sistematis dan masif.
Apa peran kekuatan-kekuatan sosialis dalam perjuangan ini?
Kekuatan-kekuatan sosialis memainkan peran yang penting dalam perjuangan yang sedang berlangsung di Iran, meskipun sebagian besar aktivitas mereka bersifat tidak resmi dan tersebar. Mereka berupaya merumuskan tuntutan-tuntutan yang berorientasi pada kepentingan kelas pekerja dan keadilan sosial, serta membantu merencanakan dan mengorganisasi pemogokan yang dilakukan oleh buruh, guru, perawat, mahasiswa, pensiunan, dan kelompok-kelompok lainnya. Selain itu, mereka juga mendukung gerakan feminis, gerakan pembela hak-hak anak dan pekerja anak-anak, gerakan pencari keadilan, serta berbagai gerakan lain yang memperjuangkan kebebasan, hak asasi manusia, dan keadilan sosial. Kekuatan-kekuatan sosialis berusaha menganalisis aksi-aksi protes dan pemogokan dari perspektif kelas dan politik kiri, sekaligus membangun hubungan antara berbagai perjuangan yang masih terpisah-pisah. Bagian penting lain dari kerja mereka adalah memproduksi dan menyebarluaskan pengetahuan politik serta teori. Kegiatan ini meliputi penulisan dan penerjemahan teks-teks Marxis, analisis terhadap kondisi sosial-ekonomi, serta upaya memperkuat kesadaran kelas di kalangan kaum muda dan para aktivis yang baru bergabung dalam gerakan-gerakan sosial. Selain itu, kaum sosialis juga berperan dalam menyebarkan metode-metode pengorganisasian, memperkuat jaringan di dalam kelas pekerja, serta mengorganisasi berbagai bentuk aksi kolektif.
Dalam kondisi seperti apa kaum sosialis berjuang di Iran?
Negara Iran diperintah oleh rezim fasis yang, pada saat yang sama, menerapkan bentuk kebijakan ekonomi neoliberal yang sangat ekstrem dalam hubungannya dengan tatanan internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga-lembaga neoliberal resmi seperti Dana Moneter Internasional (IMF) berulang kali memuji reformasi ekonomi pemerintah ini, khususnya langkah-langkah seperti penurunan biaya tenaga kerja, pencabutan subsidi, dan program penyesuaian struktural. Iran adalah surga bagi para pemilik modal, tetapi neraka bagi kelas pekerja yang bergantung pada upah dan mereka yang dieksploitasi. Sementara segelintir orang hidup bak di istana dengan kemewahan, mayoritas masyarakat bahkan tidak memiliki syarat minimum untuk menjalani kehidupan yang bermartabat. Demi bertahan hidup, sebagian orang, termasuk anak-anak berusia di bawah lima tahun, terpaksa mencari makanan di tempat sampah. Setiap tahun, inflasi ekonomi meningkat rata-rata sekitar 50%, sementara upah justru terus menurun. Saat ini, upah bulanan bagi pekerja dengan bayaran terendah kurang dari 100 euro, padahal harga banyak bahan makanan dan kebutuhan pokok bahkan lebih tinggi dibandingkan di Eropa. Padahal, Iran sebenarnya adalah negara yang sangat kaya. Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar ketiga dan cadangan gas terbesar kedua di dunia. Selain itu, Iran juga memiliki kekayaan tambang yang sangat melimpah, seperti emas, tembaga, besi, fosfat, serta ribuan sumber daya mineral lainnya. Namun, sebagian besar kekayaan tersebut dijarah oleh para pemimpin pemerintahan beserta keluarga mereka. Anak-anak para pejabat pemerintah memiliki kekayaan, perusahaan, dan istana yang sangat besar di berbagai negara. Dimensi ekonomi ini sangat penting untuk memahami posisi kelas negara serta bentuk hubungannya dengan masyarakat, kelas pekerja, dan kekuatan-kekuatan sosialis.
Perpaduan antara fasisme dan neoliberalisme sebagai bentuk modern kapitalisme otoriter telah menjadikan negara Iran memiliki karakter yang sangat brutal. Dalam kondisi seperti ini, kaum sosialis menghadapi bentuk-bentuk represi sistematis yang paling ekstrem. Pengorganisasian partai secara terbuka pada praktiknya hampir mustahil dilakukan dan disertai risiko serius berupa penangkapan, hukuman penjara jangka panjang, penyiksaan, pengakuan paksa yang disiarkan di televisi, bahkan hukuman mati. Selain itu, para aktivis, keluarga mereka, dan jaringan sosial mereka juga berada di bawah pengawasan yang sangat ketat. Karena itu, sebagian besar aktivitas sosialis berlangsung secara tidak resmi, semi-resmi, atau melalui kerangka serikat buruh, organisasi profesi, dan masyarakat sipil, yaitu ruang-ruang yang memberikan sedikit lebih banyak kebebasan untuk bergerak, tetapi tetap sangat berbahaya.
Bagaimana bentuk represi terhadap gerakan pembebasan di Iran?
Represi terhadap gerakan pembebasan di Iran bersifat struktural, sistematis, dan menyeluruh. Rezim menindas setiap suara kritis serta siapa pun yang tidak mendukung kebijakan yang berkuasa dengan berbagai cara. Bahkan orang-orang yang menafsirkan Islam secara berbeda dari pemerintah pun turut menjadi sasaran represi. Perlu dicatat bahwa masyarakat Iran saat ini sangat tidak religius, bahkan cenderung antireligius. Dari sudut pandang rezim Islam, keadaan ini tidak dapat diterima. Siapa pun yang menyatakan dirinya bukan seorang Muslim dianggap sebagai murtad (orang yang meninggalkan agama), dan hukumannya adalah mati. Represi besar-besaran telah dimulai sejak hari setelah rezim berdiri pada Februari 1979. Anda dapat melihat rekaman peristiwa 8 Maret 1979 di internet. Dengarkan slogan-slogan yang diteriakkan. Perempuan merupakan kelompok pertama yang mengalami penindasan berat di Iran. Represi sistematis tersebut meliputi penangkapan massal, hukuman penjara yang berat, penyiksaan, pengakuan paksa, eksekusi, serta tekanan langsung terhadap keluarga para aktivis politik dan masyarakat sipil.
Selain itu, aparat keamanan berusaha menghancurkan setiap bentuk pengorganisasian yang berkelanjutan dari dalam dengan menyusup ke organisasi-organisasi sosial dan struktur pengorganisasiannya. Di samping represi fisik, terdapat pula bentuk represi psikologis dan sosial, yaitu penciptaan suasana ketakutan yang meluas, ancaman yang terus-menerus, pengucilan dari pekerjaan dan pendidikan, serta penyingkiran sistematis para aktivis dari kehidupan sosial. Salah satu metode lain yang digunakan rezim adalah menciptakan "oposisi buatan" yang bertujuan mencegah pengorganisasian dan radikalisasi perjuangan sosial, atau mengarahkannya ke jalan buntu. Di satu sisi, terdapat kelompok-kelompok paralel yang dikendalikan oleh aparat keamanan untuk membangun jaringan identifikasi dan jebakan guna menangkap para oposisi. Di sisi lain, sebagian pejabat dan anggota rezim menyebut diri mereka sebagai "kaum reformis". Arus reformis di Iran berbeda dengan "reformisme" di negara lain. Kelompok ini menginginkan kelangsungan sistem yang ada dengan mengusung slogan-slogan reformis yang pada kenyataannya tidak pernah diwujudkan.
Meskipun demikian, perlawanan dan perjuangan melawan seluruh aparatus negara tidak pernah berhenti. Hal ini terlihat, misalnya, dalam peristiwa yang berkaitan dengan Revolusi Januari 2026. Revolusi tersebut bermula dari protes terhadap kenaikan harga dan kondisi kehidupan yang sangat buruk. Beberapa juta orang turun ke jalan, tetapi satu-satunya jawaban pemerintah adalah peluru. Dalam beberapa hari saja, puluhan ribu orang ditembak, ratusan ribu orang terluka, ribuan orang kehilangan mata akibat tembakan peluru gotri, dan hampir enam puluh ribu orang ditangkap. Banyak dari mereka yang ditangkap dijatuhi hukuman mati hanya melalui persidangan yang berlangsung beberapa menit tanpa akses kepada pengacara. Banyak yang telah dieksekusi, sementara banyak lainnya masih menunggu pelaksanaan hukuman mati mereka.
Peran apa yang dimainkan oleh kelompok monarkis dalam aksi-aksi protes?
Arus monarkis pada umumnya cenderung bersifat ekstremis dan otoriter, bahkan sebagian memiliki ciri-ciri fasis. Beberapa tokoh mereka secara terbuka maupun tersirat menyerukan penindasan, penyingkiran, bahkan penggantungan kelompok-kelompok pesaing dan oposisi di pohon atau tiang lampu jalan. Namun, perlu dipahami bahwa masyarakat Iran merupakan masyarakat yang sangat beragam dengan sekitar 92 juta penduduk. Kelompok monarkis juga merupakan bagian dari keragaman tersebut, tetapi mereka bukan mayoritas masyarakat. Tentu saja, persentase yang kecil dalam masyarakat sebesar itu tetap dapat berjumlah beberapa juta orang, bahkan melebihi jumlah penduduk banyak negara. Meski demikian, dalam skala keseluruhan masyarakat Iran, mereka tetap merupakan kelompok minoritas.
Kehadiran mereka yang sangat kuat di media sebagian besar merupakan hasil dukungan internasional dari kekuatan-kekuatan dunia seperti Amerika Serikat. Fakta bahwa arus monarkis memiliki media yang sangat profesional serta stasiun televisi 24 jam yang megah dengan biaya mencapai miliaran menunjukkan dari mana sumber pendanaannya berasal. Pemerintah dan media Eropa, Amerika Serikat, serta Israel kerap berupaya menampilkan mereka sebagai alternatif politik bagi situasi yang ada di Iran. Karena itu, peran kaum monarkis lebih menonjol di media dan di kalangan diaspora daripada dalam realitas sosial di dalam Iran. Hubungan organik dan struktural mereka dengan basis sosial di Iran sangat terbatas. Mereka terutama dipromosikan di luar negeri sebagai alternatif politik dan berupaya menyebarkan narasi mereka mengenai masa depan politik Iran.
Sementara itu, perlawanan di dalam Iran memiliki karakter yang beragam. Sebagian besar aksi protes di negara tersebut berpusat pada tuntutan keadilan, perlawanan terhadap penindasan, dan penolakan terhadap struktur-struktur otoriter, bukan pada tuntutan untuk mengembalikan monarki. Pada saat yang sama, tidak mengherankan jika dalam masyarakat yang berjumlah 92 juta jiwa terdapat sebagian orang yang, karena keputusasaan, tertarik kepada arus-arus tersebut. Oleh karena itu, terdapat kesenjangan yang sangat dalam dan jelas antara narasi kelompok monarkis dengan realitas gerakan-gerakan sosial di Iran.
Peran apa yang dimainkan oleh suara-suara warga Iran di pengasingan atau diaspora?
Suara warga Iran yang tinggal di luar negeri dapat memainkan peran penting dalam membawa protes-protes di Iran ke perhatian dunia melalui penyebaran informasi, menarik perhatian media, memberikan tekanan politik, dan membangun solidaritas internasional. Namun, pada saat yang sama terdapat jarak antara realitas kehidupan dan pengalaman yang dijalani di dalam Iran dengan ruang politik diaspora. Jarak ini terkadang menimbulkan perbedaan analisis, persaingan politik, bahkan fragmentasi dalam representasi politik berbagai gerakan. Karena itu, peran diaspora sekaligus penting dan juga diperdebatkan. Berbagai kelompok warga Iran di pengasingan memiliki tingkat pengaruh yang berbeda-beda terhadap media di negara tempat mereka tinggal. Arus kiri, demokratis, pembela kebebasan, dan kelompok yang dekat dengan rakyat pada umumnya memiliki akses yang sangat terbatas ke media massa. Akibatnya, kemampuan mereka untuk menyuarakan aspirasi rakyat yang sebenarnya juga terbatas. Hal inilah yang sering kali menyebabkan suara kelompok kanan ekstrem dan kaum monarkis yang mendorong perang lebih banyak terdengar. Meski demikian, kekuatan-kekuatan demokratis tetap telah berupaya dan terus berupaya menjadi suara rakyat Iran, meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Namun, saya berpendapat bahwa upaya-upaya tersebut, baik di masa lalu maupun saat ini, masih belum memadai. Diperlukan usaha yang lebih besar, serta pengembangan berbagai kemungkinan dan saluran baru agar suara rakyat Iran dapat didengar dengan lebih luas.
Bagaimana Anda memandang kontribusi kiri global terhadap situasi di Iran?
Kiri global tidak memiliki satu posisi yang seragam. Sebagian menunjukkan solidaritas terhadap gerakan-gerakan sosial di Iran, khususnya gerakan perempuan dan gerakan buruh. Namun, sebagian lainnya terjebak dalam dualisme geopolitik: kelompok ini terlalu berfokus pada "perlawanan terhadap Barat/AS" atau, karena menolak intervensi eksternal, gagal mengambil sikap yang tegas terhadap penindasan di dalam negeri. Akibatnya, salah satu persoalan terbesar adalah tidak adanya pemahaman yang konsisten mengenai kemandirian gerakan-gerakan sosial di Iran, sementara analisis kelas direduksi menjadi sekadar persaingan geopolitik. Kelompok kiri ini sebagian terdiri atas sisa-sisa partai yang dahulu pro-Uni Soviet atau kecenderungan Trotskis tertentu. Alih-alih melihat kondisi nyata di Iran dan menyusun analisis kelas berdasarkan kenyataan tersebut, mereka justru mengadopsi propaganda media Iran ataupun media Barat. Krisis analisis ini juga tercermin dalam kondisi sosial partai-partai tersebut: umumnya mereka memiliki basis sosial yang sangat terbatas dan tidak mampu membangun hubungan nyata dengan kelas pekerja maupun massa rakyat. Isu utama dan paling sentral bagi mereka justru adalah persaingan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat.
Namun, untuk memahami posisi Iran dengan lebih baik, kita harus menengok jauh ke belakang. Kita harus memahami bagaimana rezim Islam lahir dan bagaimana hubungan internasionalnya berkembang selama bertahun-tahun. Revolusi 1979 adalah sebuah revolusi demokratis yang mengusung tuntutan kebebasan dan keadilan sosial, yang telah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Pemberontakan pada tahun 1979 merupakan tahap terakhir dari proses tersebut. Pelopor revolusi ini adalah partai-partai, organisasi-organisasi, dan arus-arus kiri, Front Nasional Iran, Organisasi Mujahidin Rakyat Iran (MEK), Partai Tudeh, serta banyak kekuatan demokratis lainnya. Bagi kekuatan-kekuatan imperialis dunia, pada puncak Perang Dingin, bergabungnya jutaan rakyat Iran ke dalam revolusi dan memenuhi jalan-jalan karena kesabaran mereka telah habis merupakan sebuah sinyal bahaya.
Setelah revolusi dimulai, para pemimpin negara-negara G7 dalam "Konferensi Guadeloupe" (4–7 Januari 1979) memutuskan bahwa kekuatan fundamentalis religius di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini harus dibawa ke tampuk kekuasaan di Iran untuk mencegah kaum komunis dan kekuatan-kekuatan anti-imperialis mengambil alih pemerintahan. Dengan demikian, beberapa tujuan dapat dicapai sekaligus. Pertama, memastikan bahwa kaum komunis, kekuatan kiri, kekuatan demokratis dan anti-imperialis, maupun Front Nasional Iran tidak berkuasa. Kedua, membendung pengaruh Uni Soviet. Ketiga, menjamin kelangsungan aliran minyak. Keempat, membuka kemungkinan mengepung Afghanistan, yang saat itu diperintah oleh pemerintahan kiri yang dekat dengan Uni Soviet. Selain itu, terdapat pula tujuan-tujuan geopolitik dan strategis lainnya.
Karena alasan itu, pada awal Oktober 1978, Khomeini dibawa ke Neauphle-le-Château di Prancis untuk melakukan perundingan. Di sana, Khomeini berjanji akan menjaga kelangsungan aliran minyak serta membantai dan menindas kekuatan-kekuatan komunis, kiri, anti-imperialis, dan nasionalis. Selanjutnya, mulai 4 Januari 1979 (bertepatan dengan dimulainya "Konferensi Guadeloupe"), Jenderal Huyser datang ke Teheran untuk berunding dengan para pemimpin angkatan bersenjata negara serta mengarahkan mereka mengenai pergantian rezim dan dukungan terhadap Khomeini. Poster-poster Khomeini dicetak dan didistribusikan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran. Selain itu, sebutan "Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Iran" pertama kali disiarkan oleh layanan berbahasa Persia “Radio Amerika”. Struktur kekuatan militer dan aparat penindasan pada dasarnya dialihkan kepada rezim baru tanpa perubahan yang berarti.
Selama bertahun-tahun ketika rezim Islam secara lahiriah mengusung slogan-slogan anti-Amerika dan anti-Israel, dalam praktiknya rezim tersebut menjalin hubungan rahasia dan luas dengan kedua negara tersebut. Sebagai contoh, pada akhir Mei 1986, sebuah delegasi yang terdiri atas anggota CIA, Dewan Keamanan Nasional AS, dan Mossad, yang dipimpin oleh Robert McFarlane, datang ke Teheran untuk melakukan perundingan serta membahas penjualan senjata. Israel bertindak sebagai perantara dalam transaksi tersebut. Peristiwa ini beberapa bulan kemudian dibongkar oleh sebuah majalah Lebanon dan dikenal sebagai Iran-Contra, salah satu skandal terbesar pada dekade 1980-an. Pada tahun-tahun berikutnya, hubungan tersebut terus berlanjut, antara lain melalui kerja sama luas antara Iran dan Amerika Serikat dalam Perang Afghanistan (2001) dan Perang Irak (2003). Setelah jatuhnya Saddam Hussein, kendali atas Irak pada praktiknya diserahkan kepada Iran; pembentukan pemerintahan dan arah politik Irak berada di bawah pengaruh Iran. Namun, perbedaan mulai muncul pada tahun 2002 setelah program nuklir Iran terungkap. Sejak saat itu berlangsung berbagai putaran perundingan antara Iran, Amerika Serikat, Eropa, Tiongkok, dan Rusia. Perselisihan semakin memburuk karena Iran tetap bersikeras mempertahankan kapasitas nuklirnya hingga mencapai situasi seperti sekarang.
Sayangnya, sebagian kiri global hanya memusatkan perhatian pada pertentangan antara rezim Iran dan pemerintah Amerika Serikat. Dalam praktiknya, mereka justru membela salah satu rezim religius yang paling reaksioner dan represif, tanpa memperhatikan akar-akar kompleks dari naiknya rezim Islam ke tampuk kekuasaan serta hubungan rahasia maupun terbukanya dengan imperialisme, khususnya dengan Amerika Serikat. Dalam pandangan ini, konsep imperialisme disederhanakan dan hanya dibatasi pada Amerika Serikat. Setiap negara yang memiliki perselisihan dengan Amerika Serikat otomatis dianggap sebagai "anti-imperialis". Dengan demikian, peran ekonomi-politik rezim Iran dalam hubungan global serta karakter neoliberalnya yang sangat ekstrem diabaikan. Penindasan sistematis terhadap rakyat pun tampak diperkecil atau dianggap tidak penting dalam analisis mereka. Mungkin sudah saatnya partai-partai tersebut, yang umumnya menganggap diri mereka sebagai Leninis, membaca kembali buku Lenin, “Imperialisme sebagai Tahap Tertinggi Kapitalisme”.
Apa perspektif bagi kehidupan yang bebas dan ditentukan sendiri di kawasan ini?
Perspektif bagi kehidupan yang bebas dan ditentukan sendiri di Iran maupun di kawasan ini tidak akan lahir melalui intervensi dari luar ataupun melalui alternatif-alternatif otoriter yang dipaksakan dari atas, melainkan melalui kelanjutan dan pendalaman perjuangan-perjuangan sosial dari bawah. Perspektif ini bergantung pada gerakan buruh, gerakan perempuan dan LGBTQ+, gerakan mahasiswa, gerakan keadilan, gerakan kelompok etnis tertindas, serta berbagai bentuk perlawanan sosial lainnya. Prasyarat utamanya adalah membangun hubungan yang berkelanjutan di antara gerakan-gerakan tersebut, memperkuat pengorganisasian yang independen, dan mengatasi fragmentasi yang disebabkan oleh represi. Perjuangan untuk keluar dari lingkaran despotisme, perang, dan ketergantungan menuntut solidaritas lintas negara di antara gerakan-gerakan buruh, serta perjuangan yang berlangsung secara bersamaan melawan imperialisme, kekuasaan represif di dalam negeri, dan kapitalisme neoliberal. Untuk itu, penguatan ikatan internasionalis dengan kekuatan-kekuatan kiri dan demokratis memiliki arti yang sangat mendasar.
Pengalaman seperti Confederation of Iranian Students–National Union (CISNU) menunjukkan bahwa kerja sama yang luas di antara berbagai kekuatan sangat mungkin diwujudkan. Pengalaman historis "Internasional Pertama" juga dapat menjadi inspirasi untuk melampaui sikap sektarian, perpecahan, dan keterisolasian. Kita tidak lebih "komunis" daripada Marx, Engels, Proudhon, Bakunin, maupun tokoh-tokoh lainnya. Karena itu, kita pun dapat bekerja sama satu sama lain.
Untuk mengatasi kondisi saat ini, beserta berbagai keterbatasan dan ketidakmampuan gerakan kiri di tingkat internasional, kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu dan menghidupkannya kembali dalam konteks masa kini. Pada akhirnya, hanya dengan mengatasi keterisolasian serta memperluas solidaritas di tingkat nasional, regional, dan global, masa depan yang bebas, manusiawi, dan ditentukan sendiri dapat dibangun. Masa depan yang lebih baik dan lebih manusiawi adalah sesuatu yang mungkin diwujudkan, dan kita harus secara sadar serta bersatu untuk membangunnya.