Sabtu, 27 Juni 2026

Solidaritas untuk "Suara-suara Kaum Tertindas" di Gaza!

Pada hari Jumat, 26 Juni 2026, kami turun ke jalan untuk menunjukkan solidaritas kami kepada suara-suara mereka yang tertindas di Gaza.

Dengan mengusung slogan: “Suara-suara Kaum Tertindas”, aksi protes massal di Gaza diserukan untuk berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2026.

Berikut ini kami mendokumentasikan pidato yang kami sampaikan yang merujuk pada laporan dari media berbahasa Jerman.


Pidato pada Pembukaan Aksi

Sejak serangan Hamas dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, suasana sosial, baik di Israel maupun di wilayah Palestina, telah berubah secara signifikan. Korban pembantaian di Festival Nova serta pembunuhan dan penculikan di beberapa kibbutz sebagian besar berasal dari kalangan progresif dan kiri. Peristiwa ini, ditambah kenyataan bahwa masyarakat tidak dapat dilindungi dari serangan tersebut, menyebabkan oposisi yang sebelumnya lantang sebagian besar terdiam, sementara politik progresif terdorong jauh ke belakang.

Reaksi pemerintah Israel kemungkinan diremehkan oleh banyak pihak, tetapi menurut pernyataan Hamas sendiri, reaksi tersebut memang telah mereka perkirakan. Tujuan untuk menghancurkan Hamas secara militer tidak tercapai. Sebaliknya, Gaza kini nyaris rata dengan tanah. Puluhan ribu orang tewas, rumah-rumah dan infrastruktur hancur, sementara perang terus berlanjut. 

Sebaliknya, perkembangan ini justru menguntungkan Hamas secara politik. Ideologi politik mereka bertumpu pada kebencian dan perpecahan. Karena itu, mereka memuliakan banyak korban tewas sebagai martir. Sejak awal, mereka tidak pernah benar-benar memedulikan rakyat Palestina. Yang mereka kejar adalah kekuasaan. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak mengambil alih kekuasaan lebih dari dua puluh tahun yang lalu, Jalur Gaza telah mengalami kehancuran ekonomi. Korupsi serta penggelapan dana dan bantuan kemanusiaan telah menjadi praktik yang berlangsung terus-menerus.

Dengan mengusung slogan: "Kami Ingin Hidup", sejak tahun 2019 aksi-aksi protes terhadap para penguasa politik terus bermunculan. Berulang kali, orang-orang yang tidak menuntut apa pun selain jaminan atas kehidupan yang layak justru menjadi sasaran pemukulan, penyiksaan, bahkan eksekusi di depan umum. Hal yang sama kembali terjadi pada musim semi 2025. Selama beberapa pekan, ribuan orang turun ke jalan menuntut diakhirinya perang dan dipulihkannya kondisi kehidupan yang bermartabat. Hamas menanggapi aksi-aksi tersebut dengan melakukan eksekusi terbuka sebagai upaya membungkam protes.

Hari ini, kembali diserukan mobilisasi untuk menggelar aksi massa di Gaza. Situasi di lapangan masih belum jelas. Namun, akibat perang yang terus berlangsung dan kehancuran yang ditimbulkannya, kemarahan terhadap kepemimpinan politik tampaknya lebih besar daripada sebelumnya. Muncul kesan bahwa Hamas telah kehilangan senjata terkuatnya, yaitu ancaman kematian. Banyak orang tampaknya telah menyadari bahwa obsesi Hamas terhadap penghancuran telah merenggut nyawa tak terhitung banyaknya warga Palestina. Mereka menjarah puluhan ton bantuan kemanusiaan demi meraup keuntungan, sementara perempuan diperkosa agar dapat memperoleh akses terhadap bantuan tersebut. Pada saat yang sama, hampir tidak ada perlindungan apa pun bagi penduduk sipil di tengah perang yang begitu menghancurkan ini.

Seruan-seruan aksi ini berangkat dari kenyataan tersebut. Tujuannya adalah mengakhiri lingkaran kekerasan, baik perang dengan masyarakat di negara Israel, maupun represi terhadap rakyatnya sendiri. Yang diperjuangkan adalah terciptanya harapan akan masa depan, masa depan yang berpijak pada kebutuhan dan kepentingan nyata masyarakat, yang menjamin kehidupan yang aman dan layak, serta membuka jalan bagi terwujudnya kehidupan bersama yang damai.

Solidaritas untuk "Suara-suara Kaum Tertindas" di Gaza! 


Wawancara dengan Mohammed Altooll

Hari ini kami berdiri di sini untuk menunjukkan solidaritas kami kepada "Suara-suara Kaum Tertindas" di Gaza, yang hari ini menyerukan aksi demonstrasi massal. Menjelang aksi ini, kami telah berbincang dengan Mohammed Altooll mengenai situasi terkini di Gaza serta latar belakang munculnya gelombang protes tersebut. Selanjutnya, kami akan menyampaikan pandangan dan pengalaman pribadinya sebagai seorang warga Palestina asal Jalur Gaza, pendiri gerakan Bedna Naish, sekaligus seseorang yang selama bertahun-tahun memperjuangkan perdamaian, koeksistensi, dan perubahan politik.

Perlu kami tegaskan bahwa Mohammed tidak mengklaim berbicara atas nama seluruh rakyat Palestina. Apa yang akan disampaikan merupakan perspektif yang lahir dari pengalaman pribadinya, serta dari apa yang ia amati selama bertahun-tahun di tengah kehidupan banyak warga biasa di Jalur Gaza.

Menurut Mohammed, ketika orang-orang di luar Jalur Gaza membicarakan persoalan Palestina, perhatian mereka sering kali hanya tertuju pada faksi-faksi politik. Baginya, yang seharusnya menjadi pusat perhatian adalah manusia itu sendiri, yakni hak setiap warga biasa untuk hidup dengan bermartabat, aman, bebas, dan penuh harapan. Selama hampir dua dekade, Jalur Gaza diperintah oleh Hamas, sementara sebagian wilayah Tepi Barat dikelola oleh Otoritas Palestina di bawah kepemimpinan Fatah. Meskipun kedua gerakan ini menganut ideologi yang berbeda, banyak warga Palestina biasa melihat hasil yang serupa dari pemerintahan mereka, yaitu perpecahan politik, kemerosotan ekonomi, korupsi, minimnya akuntabilitas, serta semakin hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan politik yang selama ini berkuasa.

Hamas, Fatah, Jihad Islam (PIJ), dan berbagai faksi lainnya sama-sama menjanjikan masa depan yang lebih baik. Namun, setelah bertahun-tahun, yang dirasakan oleh rakyat biasa hanyalah pengangguran, kemiskinan, perpecahan, ketakutan, serta ketiadaan harapan yang nyata untuk masa depan. Menurut Mohammed Altooll, krisis di Jalur Gaza bukanlah kegagalan satu partai semata, melainkan kegagalan seluruh kelas politik yang berulang kali mengutamakan kepentingan faksi mereka sendiri di atas kebutuhan rakyat.

Bahkan sebelum 7 Oktober 2023, Jalur Gaza telah dilanda krisis politik, ekonomi, dan sosial yang mendalam. Banyak aktivis, jurnalis, dan para pengkritik pemerintah menghadapi intimidasi, penangkapan, maupun penganiayaan akibat pandangan yang mereka sampaikan. Semakin banyak anak muda merasa bahwa mereka tidak memiliki suara dan tidak mempunyai kesempatan nyata untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Ketika serangan pada 7 Oktober terjadi, sebagian besar warga sipil biasa di Gaza sama sekali tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Mereka terbangun dalam situasi yang mengejutkan, yang kemudian mengubah kehidupan rakyat Palestina maupun Israel secara dramatis.

Apa yang terjadi setelahnya membawa penderitaan yang tak terhingga bagi warga sipil di kedua belah pihak. Tragedi itu menimpa keluarga-keluarga Israel maupun Palestina, dan banyak warga Gaza segera menyadari bahwa akibatnya akan menjadi bencana bagi semua pihak yang terlibat. Keluarga Mohammed Altooll membayar harga yang sangat mahal dalam konflik ini. Ia kehilangan hampir separuh anggota keluarganya, dan semuanya adalah warga sipil. Karena itulah, ia tidak berbicara tentang penderitaan sebagai seorang pengamat. Ia tahu bagaimana rasanya berduka. Ia tahu apa artinya kehilangan orang-orang yang dicintai.

Namun, pada saat yang sama, Mohammed juga memahami betapa berharganya harapan. Karena itulah, ia merasakan belas kasih yang tulus terhadap warga sipil Israel yang dibunuh, diculik, atau terluka pada 7 Oktober. Hamas telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi warga sipil yang tinggal di sekitar Jalur Gaza, sebagaimana perang yang menyusul setelahnya juga telah membawa penderitaan yang luar biasa bagi warga sipil Palestina di Jalur Gaza.

Menurut Mohammed, mengakui penderitaan orang lain tidak mengurangi penderitaan yang kita alami sendiri. Belas kasih bukanlah bentuk pengkhianatan. Ia meyakini bahwa mengakui kemanusiaan pihak lain merupakan salah satu langkah pertama menuju masa depan yang lebih baik. Bagi Mohammed, keyakinan ini memiliki makna yang sangat pribadi. Mohammed Altooll lahir pada 25 Desember, hari ketika umat Kristen memperingati kelahiran Yesus Kristus, sekaligus tanggal kelahiran Presiden Mesir Anwar Sadat, yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh perdamaian paling berpengaruh dalam sejarah Timur Tengah.

Pada tahun 2014, Mohammed menjalani operasi jantung di Tel Aviv. Selama perawatannya, ia menerima transfusi darah yang menyelamatkan nyawanya. Bagi Mohammed, pengalaman itu bukan tentang kebangsaan, agama, ataupun latar belakang etnis. Yang terpenting baginya adalah kenyataan bahwa seorang manusia telah membantu menyelamatkan nyawa manusia lainnya. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa kemanusiaan yang kita miliki bersama jauh lebih kuat daripada sekat-sekat yang memisahkan kita. Pengalaman-pengalaman itu semakin meneguhkan keyakinannya bahwa masa depan tidak dapat dibangun di atas kebencian. Itulah salah satu alasan mengapa Mohammed mendirikan gerakan Bedna Naish.

Gerakan ini tidak pernah dimaksudkan untuk melayani kepentingan faksi politik tertentu. Gerakan ini juga tidak dibentuk untuk mengejar kekuasaan. Menurut Mohammed, tujuan mereka adalah memberikan suara kepada rakyat biasa yang merasa ditinggalkan oleh seluruh partai politik. Pesan yang mereka bawa sangat sederhana: rakyat berhak memperoleh pekerjaan, pendidikan, kebebasan berpendapat, pemerintahan yang akuntabel, kehidupan yang bermartabat, serta kesempatan untuk membangun kehidupan yang normal. Mereka berdiri bersama warga yang merasa tidak lagi didengarkan oleh faksi-faksi politik. Mereka tidak ingin menggantikan satu faksi dengan faksi lainnya. Mereka ingin mempertanyakan sebuah sistem yang telah menjadikan organisasi-organisasi politik lebih penting daripada rakyat itu sendiri.

Menurut Mohammed, saat ini banyak anak muda di Gaza tidak lagi percaya pada slogan-slogan lama. Mereka menginginkan sekolah, universitas, lapangan pekerjaan, stabilitas, harapan, dan masa depan. Itulah semangat yang melandasi aksi-aksi protes dengan slogan: "Kami Ingin Hidup". Demonstrasi-demonstrasi tersebut bukan bertujuan menggantikan satu kelompok penguasa dengan kelompok lainnya. Aksi-aksi itu mencerminkan semakin kuatnya keinginan masyarakat akan kepemimpinan baru yang mengutamakan kepentingan warga, bukan kepentingan faksi-faksi tertentu.

Mengenai aktivisme pro-Palestina di Eropa, Mohammed berpendapat bahwa banyak aktivis memiliki niat yang tulus untuk membantu rakyat Palestina. Namun, terlalu sering suara rakyat biasa di Gaza justru diabaikan. Banyak warga merasa bahwa para aktivis internasional berbicara tentang Gaza tanpa benar-benar mendengarkan orang-orang yang hidup di sana. Menurutnya, solidaritas yang sejati berarti membela hak, martabat, dan kebebasan warga sipil biasa, bukan membela organisasi-organisasi politik.

Dalam memandang masa depan, Mohammed Altooll memiliki sebuah visi yang mungkin dianggap tidak lazim oleh sebagian orang. Ia meyakini bahwa Jalur Gaza berhak memiliki perwakilan yang benar-benar demokratis serta sebuah tatanan politik yang memberi penduduknya hak untuk secara langsung menentukan arah masa depan mereka sendiri. Ketika melihat warga Arab di Israel, Mohammed melihat adanya wakil-wakil rakyat yang dipilih secara demokratis untuk duduk di Knesset dan memperjuangkan kepentingan komunitas mereka. Tokoh-tokoh seperti Ahmad Tibi dan Ayman Odeh, menurutnya, mencerminkan prinsip keterwakilan politik, di mana warga memilih para wakilnya dan dapat meminta pertanggungjawaban mereka.

Selama bertahun-tahun, Mohammed telah mendorong agar Jalur Gaza mulai mengeksplorasi model-model baru keterwakilan politik yang mampu memberdayakan penduduknya serta memastikan bahwa suara mereka benar-benar didengar. Tujuannya bukanlah konflik yang tak berkesudahan. Tujuannya adalah partisipasi politik, martabat, kesempatan hidup yang lebih baik, dan hidup berdampingan secara damai. Mohammed meyakini bahwa anak-anak Gaza berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada perang, persaingan antarfaksi, dan pertarungan ideologi. Mereka berhak memperoleh pendidikan, kesempatan ekonomi, rasa aman, dan harapan.

Terlepas dari semua yang telah terjadi, ia tetap percaya bahwa perdamaian masih mungkin diwujudkan. Perdamaian tidak akan lahir dari kebencian. Perdamaian tidak akan lahir dari balas dendam. Perdamaian juga tidak akan lahir dari para politisi yang membangun pengaruhnya di atas rasa takut dan perpecahan. Perdamaian hanya dapat terwujud melalui keberanian, dialog, tanggung jawab, serta kesediaan untuk mengakui kemanusiaan orang-orang di pihak lain.

Mungkin visi ini masih tampak sangat jauh untuk diwujudkan saat ini. Namun, seperti yang dikatakan Mohammed Altooll, “setiap perubahan besar selalu berawal dari sebuah gagasan.” Gagasannya, yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun, sangatlah sederhana: rakyat Gaza berhak atas masa depan di mana kehidupan mereka lebih berharga daripada kepentingan faksi-faksi politik, masa depan di mana anak-anak mereka lebih penting daripada slogan-slogan, dan masa depan di mana perdamaian lebih bernilai daripada konflik yang tiada akhir.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Mohammed Altooll atas kesediaannya berbagi pandangan dan pengalamannya.


Penutupan Aksi

Kini kita telah sampai di penghujung aksi kita. Dalam beberapa penyampaian sebelumnya, kita telah memaparkan sejumlah informasi mengenai aksi protes di Gaza yang mengusung slogan: "Suara-suara Kaum Tertindas". Bahkan sebelum aksi tersebut berlangsung, telah muncul berbagai ancaman dan mobilisasi tandingan dari pihak Hamas maupun kelompok-kelompok lainnya.

Melalui aksi solidaritas ini, kami ingin memberikan perhatian kepada mereka yang berani menyuarakan penolakan terhadap politik perpecahan dan kekerasan di wilayah Palestina, serta kepada mereka yang melawan penindasan terhadap rakyatnya sendiri. Pada saat yang sama, kami juga berharap agar gagasan-gagasan progresif kembali memperoleh ruang dan pengaruh yang lebih besar di tengah masyarakat Israel.

Kepemimpinan politik, baik di Israel maupun di wilayah Palestina, tidak menunjukkan kepentingan untuk meredakan eskalasi ataupun membangun masa depan yang menjauh dari perang dan kehancuran. Karena itu, dibutuhkan kekuatan masyarakat sipil yang mampu memutus mata rantai kekerasan dan memperjuangkan kehidupan berdampingan secara damai.

Atas dasar itulah, hari ini kami menyatakan solidaritas kepada para pengunjuk rasa di Gaza dan berharap suara mereka didengar, serta bahwa aksi-aksi tersebut dapat menjadi awal bagi perubahan sosial dan politik.

Tidak untuk Politik Otoriter di Palestina! 
Tidak untuk Pemerintahan Sayap Kanan di Israel!
Akhiri Perang, Wujudkan Kehidupan yang Layak Bagi Semua!


Tautan ke Laporan

https://www.jungle.world/blog/von-tunis-nach-teheran/2026/06/warum-der-aufruf-zu-protesten-gaza-fuer-den-26-juni-sich-von




Diterjemahkan dari: