Jumat, 05 Juni 2026

Kumpulan Essay “BAD Press” (Part 1)

Penulis: Boston Anarchist Drinking Brigade

Sebuah Pembelaan Anarkis terhadap Pornografi

Pornografi tetap menjadi isu yang kontroversial, termasuk di kalangan anarkis, yang seharusnya dapat diharapkan menjadi salah satu pendukung paling kuat bagi kebebasan ekspresi seksual. Namun, banyak anarkis justru mengkritik pornografi, dan sebagian bahkan mendukung atau terlibat dalam gerakan anti-pornografi, yang para anggotanya tidak jarang berusaha mencegah orang lain mengakses atau menikmati materi pornografi. Beberapa anarkis di Kanada bahkan pernah melempar bom api ke sebuah toko video porno, tindakan yang oleh banyak anarkis lainnya justru diabaikan atau tidak dikritik sama sekali. Sementara itu, mereka yang membela pornografi dan kebebasan berekspresi, baik seksual maupun bentuk ekspresi lainnya, malah sering dicap sebagai seksis atau reaksioner. Mengapa orang-orang yang mengaku mencintai kebebasan dan pembebasan seksual justru tampak melupakan prinsip-prinsipnya ketika berhadapan dengan literatur atau gambar yang secara eksplisit menampilkan seksualitas?

Gerakan anti-pornografi, termasuk anggota dan pendukungnya dari kalangan anarkis, bukanlah kelompok yang seragam. Sebagian memang tidak menyukai buku atau film porno, tetapi tetap mendukung kebebasan setiap orang untuk memproduksi maupun mengonsumsinya. Mereka mengandalkan argumen dan protes untuk mencoba mengubah pandangan orang-orang yang menikmati pornografi, mendorong mereka agar tidak mengonsumsinya, tanpa mendukung sensor. Sebagian lainnya, termasuk beberapa anarkis, menganggap bahwa serangan fisik terhadap toko porno atau sensor yang diberlakukan negara merupakan taktik yang sah dalam memerangi pornografi. Meskipun hanya posisi terakhir yang secara jelas bersifat menyensor, dan karena itu bertentangan dengan prinsip anarkisme, posisi pertama pun tetap problematis dalam sebuah gerakan yang mengaku mendukung kebebasan seksual, sebab posisi tersebut tetap memandang rendah representasi seksual itu sendiri.

Pornografi pada dasarnya hanyalah representasi aktivitas seksual, baik melalui tulisan maupun gambar. Kebanyakan orang memandang seks sebagai sesuatu yang menyenangkan dan memberi kenikmatan, dan bagi banyak orang melihat pornografi juga dapat membangkitkan gairah seksual. Kelompok anti-pornografi sering mengatakan bahwa citra perempuan dalam pornografi bersifat merendahkan dan menghina. Namun, meskipun memang ada perempuan yang merasa tersinggung oleh gambar-gambar pornografi yang mereka anggap merendahkan, ada pula perempuan yang justru menikmati pornografi. (Lihat misalnya buku Caught Looking karya Kate Ellis dkk., atau Writing Sado-masochistic Pornography: A Woman’s Defense karya Deborah Ryder.) Gerakan anti-pornografi cenderung memandang perempuan sebagai satu kelas yang dianggap memiliki tujuan dan keinginan yang seragam. Padahal perempuan bukanlah sekumpulan automaton yang semuanya berpikir dan merasakan hal yang sama. Sebagaimana halnya laki-laki, sebagian perempuan ada yang mendukung pornografi, sebagian lainnya ada yang menentangnya. Selain itu, representasi perempuan dalam pornografi tidak lebih seksis atau merendahkan dibanding representasi perempuan dalam sebagian besar karya sastra dan media visual lainnya, mulai dari novel, film, televisi, hingga iklan majalah. Dalam masyarakat yang seksis, hampir seluruh representasi perempuan akan memuat setidaknya sebagian sikap seksis yang umum hidup di kalangan laki-laki maupun perempuan. Di samping itu, sebagian pornografi juga menampilkan karakter perempuan yang mandiri, memiliki kehendak sendiri, dan berfokus pada kenikmatan mereka sendiri, terutama dalam pornografi S/M, di mana perempuan tidak jarang berada pada posisi dominan. Yang sebenarnya mengganggu sebagian orang bukanlah citra perempuan dalam pornografi, sebab representasi serupa juga hadir di berbagai ruang lain dalam masyarakat, melainkan keterusterangan seksualnya. Mereka merasa tidak nyaman terhadap seks itu sendiri.

Aktivis anti-pornografi juga mengklaim bahwa pornografi, melalui representasi terhadap perempuan yang mereka anggap merendahkan, turut membentuk sikap dan perilaku laki-laki terhadap perempuan, sehingga dipandang berbeda dari bentuk ekspresi lainnya. Namun, sebagaimana bentuk tulisan dan gambar lainnya, pornografi umumnya hanya menampilkan apa yang memang ingin dilihat dan diterima oleh orang-orang; ia tidak begitu saja menanamkan gagasan asing ke dalam pikiran seseorang. Bahkan dalam kasus ketika pornografi memperkenalkan gagasan baru, gagasan itu tetaplah sekadar gagasan. Laki-laki tidak memperkosa atau memukuli perempuan semata-mata karena melihatnya dalam film. Seksisme, pemerkosaan, dan kekerasan terhadap perempuan sudah ada jauh sebelum pornografi modern tersebar luas. Bahkan masyarakat yang memiliki sedikit atau nyaris tidak memiliki pornografi pun tidak otomatis menjadi lebih sedikit seksis atau lebih sedikit penuh kekerasan dibanding masyarakat yang pornografinya mudah ditemukan.

Klaim bahwa pornografi membuat laki-laki menjadi brutal, selain tidak akurat juga bertumpu pada mitos bahwa sebagian besar pornografi bersifat penuh kekerasan. Padahal mayoritas pornografi justru berisi representasi hubungan seksual yang non-kekerasan, saling disetujui, dan memberi kenikmatan bagi semua pihak yang terlibat. Sebagian pornografi memang memuat praktik S/M, yang meskipun menggunakan unsur-unsur yang tampak seperti kekerasan dan melibatkan rasa sakit, tetap dilakukan atas dasar persetujuan dan kenikmatan bersama. Memang ada pornografi yang menampilkan pemerkosaan atau hubungan seksual yang koersif dan penuh kekerasan, tetapi itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan pornografi yang diproduksi maupun dikonsumsi. Lagi pula, sebagaimana film dan buku non-seksual yang penuh kekerasan, semua itu hanyalah representasi fantasi yang diciptakan penulis atau diperankan oleh aktor yang memberi persetujuan. Pornografi yang menampilkan kekerasan bukanlah kekerasan nyata, sama seperti adegan pembunuhan dalam film horror Halloween bukanlah pembunuhan nyata.

Jika kelompok anti-pornografi benar-benar peduli pada unsur kekerasannya, bukan pada seks dalam pornografi, mengapa yang mereka protes hanya toko porno atau majalah dan video porno, sementara film seperti Friday the 13th serta majalah dan buku horror nyaris tidak pernah menjadi sasaran mereka?

Salah satu aspek dari fenomena pornografi yang sering diabaikan dalam perdebatan adalah pornografi homoseksual. Banyak pornografi yang diproduksi saat ini menampilkan hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki, sementara semakin banyak pula yang menampilkan hubungan seksual antara perempuan dengan perempuan. Kelompok anti-pornografi cenderung mengabaikan pornografi homoseksual karena keberadaannya justru membantah banyak argumen mereka sendiri. Jika representasi hubungan seksual yang timpang antara laki-laki dan perempuan dianggap merendahkan perempuan, lalu mengapa hubungan timpang serupa antara laki-laki dengan laki-laki, yang sangat umum dalam pornografi sesama laki-laki (dengan pembagian peran “top” dan “bottom”), tidak dianggap merendahkan laki-laki? Dan jika memang dianggap merendahkan laki-laki, mengapa pornografi semacam itu tidak dipandang menghina laki-laki, terutama laki-laki yang berada pada posisi “bottom”? Begitu pula jika citra S/M dan kekerasan pura-pura dalam pornografi dianggap dapat memicu kekerasan nyata, mengapa hal itu tidak menyebabkan meluasnya kekerasan terhadap laki-laki, bahkan pemerkosaan terhadap laki-laki?

Pembahasan mengenai persoalan-persoalan semacam ini hampir tidak pernah benar-benar terjadi, karena banyak penentang pornografi heteroseksual enggan membicarakan apalagi mengkritik pornografi queer. Mereka khawatir dianggap homofobik atau dinilai tidak “benar secara politis”. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa pornografi sering dipandang (dan memang tidak sepenuhnya keliru) sebagai sesuatu yang membebaskan bagi laki-laki homoseksual (belakangan juga bagi sebagian perempuan homoseksual). Dalam kehidupan arus utama kaum queer, pornografi bahkan menjadi bagian yang jauh lebih terbuka dibanding posisi pornografi heteroseksual dalam masyarakat heteroseksual. Karena pornografi queer telah dipolitisasi sedemikian rupa, setiap kritik terhadap pornografi homoseksual dari kelompok anti-pornografi yang sebagian besar bukan laki-laki homoseksual, akan sangat mudah dituduh sebagai “anti-gay”, sehingga pembahasannya secara efektif dibungkam. Padahal diskusi semacam itu justru dapat memperlihatkan kelemahan dan kontradiksi dalam banyak argumen anti-pornografi.

Meskipun terasa ganjil bahwa para pendukung pembebasan seksual dan anarkis menganggap pornografi sebagai sesuatu yang ofensif, tetap harus diakui bahwa setiap orang memiliki selera dan batas kenyamanannya masing-masing. Hanya karena seseorang menyukai pornografi bukan berarti orang lain juga harus menyukainya. Namun, jika seseorang merasa terganggu oleh sesuatu, seharusnya ia cukup menghindarinya. Akan tetapi, kelompok anti-pornografi tidak pernah merasa cukup dengan cara itu ketika berbicara tentang pornografi. Mereka beranggapan bahwa jika pornografi menyinggung mereka, maka hal itu pasti juga menyinggung orang lain (terutama perempuan), lalu mengambil posisi sebagai pihak yang harus “melindungi” orang lain darinya. Selain itu, karena mereka percaya pornografi dapat menyeret laki-laki yang semula tidak penuh kekerasan dan mencintai perempuan menuju seksisme serta kekerasan, mereka merasa perlu mencegah laki-laki mengakses pornografi sama sekali.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, kelompok anti-pornografi memiliki perbedaan dalam strategi yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka yang mengandalkan argumen dan protes untuk memengaruhi orang lain agar menjauhi pornografi tentu lebih dapat diterima dibanding para pendukung sensor. Namun, cara pandang mereka terhadap manusia tetap problematis bagi siapa pun yang memiliki perspektif anarkis. Manusia adalah individu bebas yang membuat pilihan dan keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat, dengar, dan alami, serta bertanggung jawab atas konsekuensi dari pilihan tersebut. Cara libertarian dalam menghadapi individu lain yang memilih membaca atau menonton materi yang tidak kita sukai adalah dengan membiarkan mereka mengaksesnya, lalu mendiskusikannya dan mencoba meyakinkan mereka terhadap sudut pandang kita.

Yang lebih sulit diterima bagi anarkis adalah para aktivis anti-pornografi yang secara terang-terangan mendukung penyensoran. Selain memiliki pandangan yang sama dengan kelompok anti-pornografi lain yang ingin “melindungi” orang dari pornografi, mereka melangkah lebih jauh dengan menggunakan paksaan untuk mencapai tujuan mereka. Hal itu sepenuhnya bertentangan dengan bentuk masyarakat sukarela yang diidealkan oleh kebanyakan anarkis, dan karena itu seharusnya ditolak oleh siapa pun yang mencintai kebebasan.

Pornografi, sebagaimana bentuk hiburan lainnya, dapat bernilai baik ataupun buruk tergantung pada kualitas dan isi dari masing-masing karya. Namun sebagai genre sastra atau film, pornografi tidak secara inheren lebih baik ataupun lebih buruk, lebih bermoral ataupun lebih jahat dibanding genre lainnya. Jika pornografi dianggap buruk atau seksis, maka langkah yang lebih masuk akal adalah mengkritiknya, mendiskusikannya dengan orang lain, dan/atau menciptakan pornografi yang lebih baik serta tidak seksis, bukan menindas atau melarangnya. Seks dan representasinya merupakan sumber kenikmatan bagi banyak orang, dan kebebasan untuk menikmati keduanya seharusnya dipertahankan atau setidaknya ditoleransi oleh para anarkis. Para penyensor, termasuk mereka yang mengaku sebagai anarkis, adalah musuh kebebasan. Dan anarkis yang mendukung penyensoran patut dipertanyakan komitmennya terhadap masyarakat yang benar-benar bebas.


Diterjemahkan dari:


Sebuah Argumen Anarkis Menentang Kontrol Senjata

Kaum anarkis membayangkan sebuah masyarakat tanpa pemerintahan, sebuah dunia di mana individu, terkadang secara sendiri-sendiri dan terkadang melalui kerja sama dengan orang lain, mengurus diri mereka sendiri, kebutuhan mereka, serta hasrat mereka. Dalam masyarakat libertarian semacam itu, di mana tidak ada pembatasan terhadap kebebasan individu untuk melakukan aktivitas produktif maupun komersial selama tidak bersifat koersif, serta tidak adanya institusi politik dan hukum yang menindas, dapat diperkirakan bahwa pencurian dan kekerasan fisik akan jauh lebih sedikit dibanding yang terjadi saat ini. Meskipun perubahan dunia melalui penghapusan kemiskinan dan kekerasan institusional mungkin merupakan solusi paling mendasar terhadap persoalan kekerasan dan perampokan, sampai kondisi itu benar-benar terwujud, orang-orang yang tidak koersif tetap membutuhkan sarana untuk mempertahankan diri dari mereka yang tidak se-damai diri mereka.

Saat ini kebanyakan orang menggantungkan perlindungan mereka pada aparat bersenjata milik negara, baik polisi maupun militer. Namun, bukan saja polisi dan militer sering gagal memberikan perlindungan yang memadai kepada individu, mereka juga kerap menjadi pelaku kekerasan koersif itu sendiri. Karena itu, orang-orang perlu mulai bergantung pada diri mereka sendiri dan komunitas pilihan mereka untuk membangun pertahanan diri. Strategi pertahanan semacam itu harus mencakup kebebasan untuk memiliki dan menggunakan pistol tanpa harus menghadapi risiko penangkapan ataupun kekerasan dari aparat negara.

Banyak negara bagian dan kota di Amerika Serikat memiliki undang-undang yang sangat ketat terhadap kepemilikan dan penggunaan pistol, dengan dalih bahwa aturan semacam itu dapat mencegah senjata jatuh ke tangan pelaku kekerasan. Namun dalam praktiknya, aturan-aturan tersebut sering kali tidak benar-benar mencapai tujuan itu. Dampak utamanya justru melucuti individu-individu yang damai dan membiarkan mereka berada dalam posisi rentan, baik di hadapan penjahat jalanan maupun aparat kepolisian. Para pelaku kekerasan yang sejak awal sudah melanggar hukum melalui pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan berbagai tindak agresif lainnya, tidak otomatis akan berhenti menggunakan senjata hanya karena penggunaannya juga dikriminalisasi. Jika mereka benar-benar takut pada hukum, sejak awal mereka tidak akan menyerang orang lain. Undang-undang kontrol senjata justru mempermudah para predator sosial, karena aturan tersebut merampas sarana pertahanan yang efektif dari calon korban mereka.

Pihak lain yang diuntungkan oleh kontrol senjata adalah aparat kepolisian. Ketika masyarakat tidak memiliki akses terhadap senjata, polisi dapat dengan leluasa menghentikan, menggeledah, dan mengintimidasi orang-orang yang sebenarnya tidak melakukan kekerasan; menggerebek rumah mereka, memerintahkan mereka keluar dari kendaraan untuk diperiksa, serta menyita barang-barang mereka tanpa takut akan adanya perlawanan. Untuk menghadapi bentuk terorisme yang disponsori negara semacam itu, penghapusan ataupun pengabaian terhadap hukum kontrol senjata, disertai kepemilikan senjata secara luas, merupakan sesuatu yang penting. Kepemilikan senjata oleh individu dapat mengurangi praktik penghentian kendaraan secara sewenang-wenang maupun intimidasi rutin terhadap warga damai oleh polisi. Namun, setiap upaya pertahanan bersenjata terhadap polisi atau aparat negara dalam skala yang lebih besar tidak dapat hanya mengandalkan segelintir individu. Jika kelompok kecil mencoba mempertahankan diri dari serangan polisi, mereka berisiko menghadapi serangan bergaya militer terhadap rumah atau tempat tinggal mereka, sebagaimana pernah terjadi dalam pengeboman terhadap MOVE di Philadelphia maupun serangan terhadap kelompok Branch Davidians di Waco. Hanya respons yang terorganisir secara luas di tingkat lokal atau komunitas yang memiliki kemungkinan untuk mencegah ataupun melawan serangan semacam itu.

Undang-undang yang mengatur kepemilikan dan penggunaan pistol juga telah membantu mencegah masyarakat melawan penindasan sosial dan politik yang mereka alami. Larangan terhadap penjualan pistol murah, yang dikenal dengan istilah “Saturday Night Special”, secara historis diberlakukan untuk mencegah orang-orang miskin yang damai memiliki akses terhadap senjata, karena mereka sering kali tidak mampu membeli pistol atau senapan yang lebih mahal. Kebijakan semacam itu pada masanya membuat warga kulit hitam di wilayah selatan Amerika berada dalam posisi rentan terhadap kekerasan Ku Klux Klan (KKK), serta membuat para pekerja dari berbagai ras tidak memiliki sarana pertahanan terhadap preman bayaran yang digunakan pemilik bisnis untuk menghancurkan pemogokan dan aksi buruh. Undang-undang milisi yang berkaitan dengan hal tersebut juga berperan dalam menghancurkan organisasi bersenjata Lehr-und-Wehr-Verein di Chicago pada abad ke-19, sebuah kelompok yang dibentuk untuk mempertahankan para pekerja pemberontak dari serangan polisi dan yang juga memiliki anggota-anggota anarkis di dalamnya. Meskipun saat ini masyarakat miskin di Amerika Serikat relatif lebih mampu membeli pistol yang lebih mahal dibanding masa lalu, upaya modern untuk melarang senjata murah meskipun dibungkus dengan alasan demi “keselamatan publik”, tetap akan mempersulit kelompok yang paling membutuhkan sarana pertahanan untuk memperoleh senjata. Kebijakan semacam itu justru membuat mereka jauh lebih tidak aman dibanding jika mereka bebas mempertahankan diri mereka sendiri.

Meskipun berbagai kelompok masyarakat yang damai menjadi lebih rentan ketika mereka tidak memiliki kebebasan untuk memiliki dan menggunakan senjata api, salah satu kelompok yang paling terdampak oleh pembatasan hukum terhadap pistol adalah perempuan yang mengalami kekerasan dari pasangan atau suami mereka. Hubungan semacam itu sering kali rumit. Korban tidak selalu ingin (atau belum siap) memaksa perubahan perilaku dari orang yang menyakiti mereka ataupun mengakhiri hubungan tersebut. Dalam situasi seperti itu, sering kali tidak banyak yang dapat dilakukan untuk melindungi orang yang berada dalam risiko. Namun ketika seorang perempuan yang mengalami kekerasan fisik memutuskan bahwa sudah saatnya melawan dan meminta bantuan kepada polisi, ia biasanya hanya disarankan untuk mengurus surat perintah penahanan, yang nyaris tidak memiliki nilai perlindungan nyata. Polisi sendiri pada praktiknya sering kali tidak mampu melindungi perempuan-perempuan tersebut, bahkan jika mereka memang ingin melakukannya. Satu-satunya cara agar mereka memiliki peluang untuk mempertahankan diri adalah dengan memiliki akses terhadap senjata api, baik untuk diri mereka sendiri maupun melalui teman dan orang-orang yang siap membela mereka.

Kelompok lain yang juga menjadi lebih rentan akibat hukum kontrol senjata adalah para sopir taksi. Sementara banyak pemilik usaha dapat memperoleh izin membawa pistol untuk melindungi bisnis dan uang mereka, para sopir taksi umumnya dilarang membawa senjata, meskipun mereka bekerja dalam kondisi yang jauh lebih terisolasi dan rentan dibanding pemilik toko. Di Boston, kepolisian setempat memiliki kewenangan menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh membawa pistol. Mereka mensyaratkan bahwa pemohon izin membawa senjata untuk pertahanan diri harus dapat membuktikan bahwa mereka “bertanggung jawab atas sejumlah besar uang untuk penggajian, setoran bank, atau pengangkutan barang dagangan bernilai tinggi dalam bisnis mereka”. Kebijakan ini biasanya tidak berlaku bagi sopir taksi atau hampir siapa pun yang mengajukan izin senjata untuk mempertahankan diri, tidak peduli seberapa berbahaya situasi kerja atau lingkungan hidup mereka. Kepolisian Boston tampaknya menganggap pendapatan pemilik toko lebih berharga dan lebih layak dilindungi dibanding nyawa seorang sopir taksi (atau siapa pun yang tidak memenuhi standar ekonomi mereka dalam hal ini). Secara hukum, sopir taksi di Boston diwajibkan mengantar setiap calon penumpang ke mana pun tujuan yang diminta. Karena itu, mereka setidaknya sama rentannya terhadap situasi berbahaya seperti pemilik usaha atau pegawai bank mana pun. Mereka dapat dengan mudah terjebak di jalan sepi bersama penjahat bersenjata dan menjadi korban kekerasan, sementara pada saat yang sama polisi tetap melarang mereka memiliki sarana untuk mempertahankan diri.

Polisi dan hukum yang menopang keberadaan mereka mengatakan bahwa mereka harus bergantung pada aparat kepolisian untuk memperoleh perlindungan. Namun pada kenyataannya, aparat tersebut sering kali gagal memberikan perlindungan, atau bahkan justru menjadi pihak yang melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang seharusnya mereka lindungi. Bahkan jika polisi mampu menjalankan tugasnya dengan lebih baik sekalipun, hal itu tetap tidak memberi mereka hak untuk mencegah orang melindungi dirinya sendiri. Tak seorang pun pernah dimintai persetujuan untuk menyerahkan keselamatannya kepada pihak lain, tetapi polisi tetap mengklaim “melayani dan melindungi” masyarakat tanpa persetujuan mereka. Manusia yang bebas seharusnya juga bebas untuk mempersenjatai dan mempertahankan diri dengan senjata pilihan mereka sendiri. Mengurangi kekerasan dalam masyarakat melalui perubahan kondisi sosial yang melahirkan berbagai bentuk predasi, serta menghapus paksaan politik, mungkin merupakan cara paling mendasar untuk menghentikan tindakan agresif. Namun sampai kondisi semacam itu benar-benar terwujud, masyarakat seharusnya tetap memiliki akses terhadap sarana untuk mempertahankan diri, termasuk senjata api.


Diterjemahkan dari:


Sebuah Perspektif Anarkis: Deregulasi Penggunaan Narkoba

Perdebatan mengenai penggunaan narkoba di negara ini biasanya hanya diposisikan antara dua pilihan: mempertahankan kriminalisasi atau melegalkannya. Kedua posisi tersebut pada dasarnya berarti pilihan antara kelanjutan intimidasi negara, seperti penangkapan, pemenjaraan, penyitaan harta benda, dan bahkan kemungkinan hukuman mati bagi pengguna maupun pengedar narkoba, atau legalisasi yang tetap disertai pengawasan negara seperti yang berlaku pada alkohol dan rokok, termasuk pajak tinggi serta pembatasan mengenai di mana, kapan, dan kepada siapa narkoba boleh dijual. Kedua posisi itu sebenarnya bertumpu pada asumsi yang sama: bahwa pemerintah memiliki hak untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan individu terhadap dirinya sendiri. Meskipun legalisasi tentu dipandang lebih baik dibanding kriminalisasi yang terus berlangsung, terdapat alternatif ketiga: dekriminalisasi dan deregulasi, yang berarti tidak adanya hukum yang melarang narkoba, tidak adanya pengawasan negara terhadap penjualan maupun penggunaan narkoba, tidak ada penangkapan, tidak ada penjara, dan tidak ada pajak. Alih-alih sekadar menggantinya dengan bentuk regulasi baru, penghapusan hukum narkoba sepenuhnya akan menciptakan pasar bebas narkoba di mana setiap orang bebas menjual, mengkonsumsi, atau menyuntikkan apa pun yang mereka inginkan tanpa campur tangan pemerintah.

Penggunaan narkoba merupakan aktivitas sukarela yang tidak melibatkan kekerasan, sehingga seharusnya menjadi keputusan pribadi dan bukan urusan siapa pun selain penggunanya sendiri. Namun pemerintah mengambil alih kewenangan untuk mengatur penggunaan narkoba demi memperbesar kontrol terhadap masyarakat, sebagaimana mereka juga mengatur alkohol, membatasi aborsi, serta mendata dan menerapkan wajib militer. Kriminalisasi narkoba telah menghasilkan tingkat kejahatan kekerasan yang sangat besar, sebagaimana pernah terjadi pada masa pelarangan alkohol. Sebagian besar kejahatan tersebut didorong oleh kebutuhan untuk memperoleh uang demi membeli narkoba yang harganya melambung tinggi akibat status ilegalnya. Kejahatan yang berkaitan dengan narkoba kemudian dijadikan alasan bagi polisi untuk mengintimidasi laki-laki kulit hitam secara sewenang-wenang, menghentikan, menggeledah, dan sering kali menangkap mereka di jalanan tanpa alasan selain karena mereka tinggal di wilayah yang dicap sebagai daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi. Penghapusan hukum narkoba akan menurunkan harga narkoba secara drastis, sekaligus mengurangi sebagian besar kejahatan jalanan dan menghilangkan alasan yang selama ini digunakan aparat untuk meneror masyarakat kulit hitam.

Dekriminalisasi dan deregulasi, beserta lahirnya pasar narkoba yang kompetitif, akan menghasilkan narkoba yang lebih murni dan lebih aman, sehingga dapat mengurangi banyak kematian dan penyakit yang berkaitan dengan penggunaan narkoba. Sebagian besar dampak berbahaya dari penggunaan narkoba bukan disebabkan oleh zat itu sendiri, melainkan oleh kontaminasi narkoba atau jarum suntik, serta ketidakpastian kadar dan kekuatan zat yang digunakan. Heroin misalnya, tidak lebih berbahaya dibanding aspirin jika diproduksi secara bersih tanpa campuran berbahaya dan digunakan dengan jarum steril. Bahkan overdosis aspirin juga dapat menyebabkan kematian sebagaimana overdosis heroin, hanya saja prosesnya lebih lambat dan terasa lebih menyiksa. Dekriminalisasi penggunaan jarum suntik juga dapat sepenuhnya menghilangkan penularan AIDS di kalangan pengguna narkoba suntik (IV drug users), sebagaimana disebut terjadi di 39 negara bagian Amerika Serikat yang tidak membatasi penjualan jarum steril. Namun, program pertukaran jarum suntik saja tidak cukup. Ketersediaan jarum steril harus diperluas agar praktik berbagi jarum suntik dapat benar-benar dihentikan.

Selain menghapus hukum terhadap narkoba rekreasional, penghapusan regulasi pemerintah terhadap obat-obatan “terapeutik” juga akan membawa manfaat bagi masyarakat. FDA (Food and Drug Administration) kerap menghambat banyak obat untuk masuk ke pasar, termasuk pengobatan bagi AIDS, kanker, dan berbagai penyakit serius lainnya. Bahkan obat-obatan yang akhirnya disetujui pun sering tertunda bertahun-tahun akibat aturan FDA, sementara ribuan orang meninggal dalam masa penantian tersebut. Sebagai contoh, setelah penelitian membuktikan efektivitas aerosolized pentamidine dalam mencegah pneumocystis carinii pneumonia (salah satu penyebab kematian yang umum pada penderita AIDS), aturan FDA tetap menunda persetujuan penggunaannya selama berbulan-bulan. Sebagaimana hukum narkoba menyebabkan kematian yang berkaitan dengan narkoba ilegal dan menghambat akses terhadap jarum steril untuk mencegah penularan AIDS, regulasi obat-obatan juga turut menyebabkan kematian penderita AIDS dengan menghalangi akses mereka terhadap pengobatan yang efektif. Hukum obat-obatan di Amerika Serikat juga menghambat pemasaran obat-obatan penggugur kandungan (abortifacients) yang baru dikembangkan, yaitu obat yang dapat memicu aborsi pada tahap awal kehamilan dan memungkinkan perempuan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada institusi medis untuk memperoleh layanan aborsi. Obat-obatan tersebut akan mengembalikan keputusan mengenai aborsi kepada pihak yang dianggap paling berhak menentukannya, yaitu individu itu sendiri.

Penghapusan hukum narkoba secara keseluruhan akan memperluas pilihan masyarakat, baik dalam urusan rekreasi maupun kesehatan. Selain itu, kebijakan tersebut juga dapat mengurangi kejahatan, menekan angka kematian dan penyakit yang berkaitan dengan penggunaan narkoba ilegal, serta mengurangi kematian akibat AIDS dan penyakit serius lainnya. Individu seharusnya bebas menentukan sendiri keputusan mengenai penggunaan narkoba maupun aspek lain dalam hidup mereka, tanpa campur tangan pemerintah ataupun “komunitas”.


Diterjemahkan dari:


Kematian dan Anarki

Aktivitas organisasi seperti Hemlock Society serta individu seperti Jack Kevorkian dan orang-orang yang ia bantu untuk mengakhiri hidup mereka telah memicu banyak perdebatan di media mengenai apa yang disebut sebagai “hak” untuk mati. Berbagai posisi pun muncul dalam perdebatan tersebut, mulai dari penolakan terhadap segala bentuk bunuh diri hingga dukungan terhadap prosedur yang rumit, di mana dokter diperbolehkan membantu seseorang meninggal hanya dalam keadaan tertentu yang sangat dibatasi. Terdapat berbagai perbedaan dalam usulan-usulan yang diajukan oleh mereka yang mendukung perubahan hukum terkait bunuh diri. Namun secara umum tampak adanya kesepakatan bahwa setiap regulasi baru yang dimaksudkan untuk memberi orang lebih banyak kebebasan dalam menentukan kapan mereka akan mati hanya berlaku bagi mereka yang menderita penyakit terminal atau penyakit serius dan dianggap masih berada dalam kondisi mental yang “waras”. Seluruh model semacam itu tetap mencampuri kehidupan pribadi seseorang dengan cara yang tidak dapat diterima dalam masyarakat yang benar-benar bebas.

Semua manusia, sebagai individu yang berdaulat atas dirinya sendiri, seharusnya bebas menentukan apa yang ingin mereka lakukan terhadap tubuh mereka. Kebebasan itu mencakup hak untuk melanjutkan atau mengakhiri kehamilan, menggunakan obat-obatan rekreasional maupun terapeutik sesuai pilihan mereka, melakukan aktivitas seksual konsensual apa pun yang mereka inginkan, ataupun mengakhiri hidup mereka sendiri dengan cara apa pun yang mereka pilih, selama tindakan tersebut tidak menyebabkan cedera fisik terhadap orang lain yang tidak menghendakinya. Bunuh diri merupakan tindakan non-koersif yang pada akhirnya hanya menjadi urusan orang yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Satu-satunya cara untuk mencoba mencegah seseorang melakukan bunuh diri yang masih selaras dengan penghormatan terhadap kebebasan individu adalah melalui percakapan, perdebatan, dan upaya untuk mengubah pikirannya secara sukarela. Segala bentuk intervensi hukum maupun paksaan oleh negara ataupun komunitas merupakan bentuk pembatasan terhadap kebebasan individu untuk hidup dan mati dengan cara yang mereka pilih sendiri.

Ketika seseorang memutuskan untuk meninggalkan dunia ini secara sukarela, keputusan mengenai kapan, di mana, dan bagaimana hal itu dilakukan seharusnya sepenuhnya berada di tangan orang tersebut. Seseorang tidak harus menderita penyakit terminal ataupun rasa sakit kronis agar keputusannya dianggap sah atau dapat dibenarkan. Tak seorang pun dapat menentukan bagi orang lain kapan hidup masih layak dijalani dan kapan tidak lagi. Begitu pula para psikiater maupun terapis, seharusnya tidak memiliki hak untuk mencampuri keinginan seseorang untuk mati dengan melabeli keinginan tersebut sebagai gejala dari “penyakit mental”. Fakta bahwa seseorang memandang atau merespons dunia secara berbeda dari kebanyakan orang, atau bahwa penderitaan batinnya begitu besar hingga kematian terasa sebagai satu-satunya jalan keluar, tidak otomatis membatalkan kemampuan mereka dalam mengambil keputusan. Setiap orang menjalani kehidupan dan menghadapi kematiannya sendirian bersama pikiran, perasaan, emosi, dan persepsinya masing-masing. Karena itu, tidak seorang pun berhak mendikte bagaimana orang lain harus berpikir atau merasakan sesuatu, ataupun secara paksa mencegah bunuh diri seseorang.

Sebagian orang yang gagal dalam upaya bunuh diri kemudian mengungkapkan penyesalan atas tindakan mereka dan mengatakan bahwa mereka bersyukur kepada orang-orang yang mencegah mereka mengakhiri hidupnya. Hal ini sering dijadikan bukti bahwa pada saat mencoba bunuh diri mereka dianggap kurang mampu membuat keputusan yang “rasional” dibanding setelahnya, sehingga intervensi koersif untuk mencegah bunuh diri dipandang dapat dibenarkan. Namun, setidaknya dalam sebagian kasus, perubahan sikap tersebut mungkin tidak sepenuhnya tulus, karena untuk menghindari pengurungan di fasilitas “kesehatan mental”, orang-orang yang mencoba bunuh diri sering kali harus menarik kembali keinginan maupun tindakan mereka sebelumnya. Bahkan dalam situasi di mana seseorang benar-benar menyesali tindakannya dan menemukan kembali alasan untuk menghargai hidup, hal tersebut tetap tidak cukup untuk membenarkan perampasan kebebasan mereka atas hidupnya sendiri. Manusia mengubah pikirannya sepanjang waktu, dan kita tidak secara otomatis menganggap bahwa apa yang pernah dipikirkan seseorang di masa lalu kurang sah atau kurang rasional dibanding apa yang diyakininya sekarang. Setiap orang seharusnya memiliki kendali atas kemampuan berpikir dan mengambil keputusan dalam segala situasi, kecuali terdapat bukti yang jelas sebaliknya, misalnya adanya kerusakan organik pada otak. Pikiran maupun tindakan bunuh diri, dengan sendirinya, seharusnya tidak dianggap sebagai bukti semacam itu.

Karena bunuh diri merupakan tindakan yang tidak melibatkan pemaksaan terhadap orang lain, maka mereka yang ingin mengakhiri hidupnya seharusnya bebas meminta bantuan orang lain untuk melakukannya. Jika seseorang terlalu lemah atau terlalu takut untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tetapi dapat menemukan orang lain yang bersedia melakukannya atas permintaannya, maka tidak ada alasan yang dapat membenarkan pelarangan terhadap tindakan tersebut. Orang-orang yang memberikan bantuan semacam itu juga tidak seharusnya dibatasi hanya pada kalangan profesional medis, karena keputusan seseorang untuk mengakhiri hidup bukan persoalan medis, melainkan persoalan moral atau etis. Dengan cara yang sama, pembatasan hukum terhadap pembelian dan penggunaan obat-obatan dalam bentuk apa pun juga seharusnya dihapuskan, sehingga setiap orang bebas memperoleh sarana farmasi untuk kematian yang tidak menyakitkan tanpa harus memerlukan resep dokter ataupun menghadapi risiko penangkapan.

Kemampuan untuk menentukan sendiri waktu, tempat, dan keadaan dari kematian yang tidak terjadi secara mendadak dipandang sama pentingnya dengan kebebasan untuk bekerja, bermain, berhubungan seksual, memiliki anak atau tidak, maupun melakukan tindakan non-koersif lainnya kapan pun, di mana pun, dan dengan cara apa pun yang dipilih seseorang. Meskipun seseorang terkadang dapat membuat keputusan yang keliru dalam hal tersebut, sebagaimana juga dalam berbagai aspek lain kehidupannya, mereka tetap seharusnya bebas membuat kesalahan semacam itu. Campur tangan koersif terhadap keputusan tersebut, baik oleh dokter, pengadilan, anggota keluarga, maupun polisi, tidak seharusnya diterima dalam masyarakat yang benar-benar bebas. Penghapusan pembatasan hukum terhadap bunuh diri, bunuh diri berbantu (assisted suicide), serta akses terhadap sarana untuk melakukannya, adalah satu langkah tambahan menuju dunia tanpa paksaan dan tanpa campur tangan negara dalam kehidupan individu.


Diterjemahkan dari:


Hapuskan Semua Penjara!

Pemerintah federal, pemerintah negara bagian, dan pemerintah lokal di Amerika Serikat menjalankan sistem yang memenjarakan sangat banyak orang. Secara per kapita, jumlah tahanan di negara tersebut disebut lebih tinggi dibanding negara mana pun di dunia. Pada tahun 1992, terdapat hampir 1.400.000 orang yang dipenjara di Amerika Serikat, dengan sekitar 925.000 orang berada di penjara federal dan negara bagian, serta 444.000 lainnya ditahan di penjara lokal. Jumlah tersebut meningkat sekitar 6% dibanding data tahun 1991, dan melonjak jauh dibanding angka pada tahun 1972 yang masing-masing berada di kisaran 200.000 dan 150.000 orang. Populasi penjara tumbuh berkali-kali lebih cepat dibanding pertumbuhan populasi umum, sementara pemerintah di berbagai wilayah terus membangun lebih banyak penjara dan berencana memenjarakan lebih banyak orang. Meski demikian, kejahatan kekerasan tetap memengaruhi kehidupan banyak orang, sebagaimana intimidasi dan kekerasan yang dilakukan polisi juga terus berlangsung. Selain itu, sejumlah besar narapidana (bahkan disebut mencapai 63% di California dan lebih dari 70% di Ohio) kembali dipenjara setelah menjalani hukuman mereka karena kembali melakukan aktivitas yang sama seperti sebelumnya. Memenjarakan orang tidak mencegah ataupun menghalangi terjadinya kejahatan, dan juga tidak menghentikan mereka yang dipenjara untuk mengulangi tindakan yang sama.

Tujuan utama penjara jelas bukan rehabilitasi, melainkan penghukuman. Di dalam penjara, selain kehilangan kebebasan untuk bergerak dan menjalani hidup sesuka mereka, para tahanan juga kerap mengalami pelecehan dan intimidasi, baik dari sipir maupun sesama narapidana. Mereka diperlakukan seperti anak-anak, sebagaimana anak-anak sering diperlakukan dalam masyarakat di luar penjara, tetapi setelah masa hukuman berakhir mereka tetap diharapkan mampu bersikap sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab. Para tahanan dipaksa bekerja dengan upah yang sangat kecil atau bahkan tanpa bayaran sama sekali, dan sering kali dipaksa melakukan pekerjaan yang berbahaya (bahkan mematikan), seperti memadamkan kebakaran atau membersihkan tumpahan minyak. Memukuli, memperkosa, mengintimidasi, memperbudak, dan memperlakukan manusia seperti anak kecil tidak akan menghasilkan pribadi yang peduli dan tidak penuh kekerasan, melainkan menghasilkan orang-orang yang marah, penuh kebencian, dan lebih rentan terhadap kekerasan. Selain tidak efektif dalam mencegah kejahatan, penyiksaan terhadap orang-orang yang melakukan pelanggaran juga tidak adil. Ketika narapidana yang melarikan diri ditemukan bertahun-tahun kemudian hidup damai tanpa melakukan kejahatan di bawah identitas baru, meskipun hal itu menunjukkan bahwa mereka telah berubah, mereka biasanya tetap dikembalikan ke penjara untuk menyelesaikan hukuman mereka, bahkan sering kali mendapat tambahan hukuman karena melarikan diri. Tindakan tersebut tidak lebih dari bentuk balas dendam aparat kepolisian dan pengadilan, bukan upaya untuk melindungi masyarakat dari pelaku kejahatan. Apa pun pelanggaran yang pernah dilakukan seseorang, memperlakukan mereka secara kejam dan abusif sebagai balasan adalah tindakan yang tidak manusiawi. Terdapat cara lain yang lebih adil dan tidak sekejam penjara untuk menangani orang-orang yang saat ini dipenjara.

Sebagian besar orang yang berada di penjara, mereka dipenjara karena pelanggaran yang tidak melibatkan kekerasan. Banyak di antara mereka bahkan dipenjara karena melakukan aktivitas yang tidak merugikan siapa pun, atau paling jauh hanya berdampak pada diri mereka sendiri, sehingga seharusnya tidak menjadi urusan pemerintah maupun pihak lain. Banyak orang dipenjara karena menjual, menggunakan, atau mengangkut narkoba ilegal, terlibat dalam atau menawarkan hubungan seksual dengan imbalan uang, ataupun melakukan hubungan seksual konsensual dengan orang yang lebih muda, sesama jenis, atau dengan cara yang tidak disetujui negara. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan tindakan non-koersif dan non-kekerasan, sehingga seharusnya hanya menjadi urusan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kekerasan memang terkadang muncul dalam kaitannya dengan sebagian aktivitas tersebut, tetapi hal itu terjadi karena negara mengkriminalkan aktivitas-aktivitas tersebut dan mendorongnya bergerak secara bawah tanah. Dekriminalisasi terhadap aktivitas-aktivitas sukarela semacam itu akan menyelesaikan persoalan tersebut. Sementara itu, untuk pelanggaran yang memang menimbulkan kerugian terhadap orang lain tetapi tidak melibatkan kekerasan, seperti perampokan atau pencurian, bentuk ganti rugi atau restitusi lebih masuk akal dibanding pemenjaraan.

Bahkan bagi mereka yang melakukan kekerasan terhadap orang lain, penjara jelas bukanlah solusi. Penjara tidak mampu mencegah pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Penjara bahkan dapat mendorong terulangnya tindakan-tindakan tersebut. Satu-satunya cara untuk mencegah kejahatan kekerasan adalah dengan memungkinkan masyarakat membela diri mereka sendiri. Salah satu caranya adalah dengan menghapus undang-undang pembatasan senjata, sehingga setiap orang dapat melindungi dirinya dari kemungkinan serangan orang lain. Mengandalkan polisi tidak akan efektif dalam mencegah kekerasan terhadap masyarakat. Keberadaan aparat kepolisian sering dijadikan alasan untuk melucuti kemampuan individu dalam membela diri, terutama masyarakat miskin dan masyarakat kulit hitam. Padahal, polisi sendiri turut bertanggung jawab atas banyak kekerasan yang terjadi terhadap masyarakat. Kepemilikan pistol genggam, terutama oleh perempuan, lebih efektif sebagai sarana pencegahan terhadap kejahatan kekerasan. Sebagai contoh, ketika Orlando menjalankan program yang melatih 6.000 perempuan menggunakan dan membawa pistol genggam, serta program tersebut dipublikasikan secara luas, angka pemerkosaan di kota itu disebut menurun hingga 90% pada saat angka pemerkosaan justru meningkat tajam di wilayah lain.

Sebagaimana banyak institusi negara lainnya, keberadaan penjara bukan hanya tidak efektif, tetapi juga tidak adil. Karena itu, solusi yang paling manusiawi terhadap persoalan penjara adalah dengan menghapuskannya sepenuhnya, lalu membiarkan masyarakat, baik secara individu maupun kolektif sesuai pilihan mereka sendiri, mengorganisir pertahanan diri terhadap kekerasan dan pencurian.


Diterjemahkan dari:


Pembelaan atas Kebebasan untuk Dibiarkan Sendiri

Kita hidup dalam masyarakat yang invasif. Kebebasan untuk menjalani hidup secara damai sesuai kehendak sendiri dibatasi secara ketat oleh hukum, aturan, dan regulasi yang diberlakukan oleh berbagai bentuk pemerintahan beserta para pendukungnya di tengah masyarakat. Kita tunduk pada begitu banyak aturan, di antaranya hukum yang melarang bentuk-bentuk tertentu dari hubungan seksual konsensual; melarang ketelanjangan di ruang publik; membatasi penjualan atau produksi buku dan film yang mengandung muatan seksual eksplisit; mengkriminalkan penjualan layanan seksual; melarang kepemilikan pistol genggam; mewajibkan resep dokter untuk membeli obat-obatan tertentu; mencegah seseorang memperoleh bantuan orang lain untuk mengakhiri hidupnya sendiri; mendenda orang karena tidak mengenakan sabuk pengaman; serta berusaha melarang penggunaan narkotika rekreasional pilihan seseorang. Mengapa orang-orang menerima tingkat campur tangan pemerintah sebesar ini dalam kehidupan pribadi mereka? Karena mereka telah diyakinkan bahwa individu dan masyarakat perlu dilindungi dari konsekuensi pilihan-pilihan “buruk” yang mungkin diambil manusia apabila mereka dibiarkan hidup tanpa campur tangan pihak lain.

Pemerintah selalu menganggap bahwa mereka lebih tahu apa yang baik bagi orang lain dibanding orang-orang itu sendiri. Para penguasa ini tampaknya percaya bahwa ketika seseorang membuat pilihan yang mereka anggap tidak bijak, tidak sehat, atau tidak bermoral, maka orang tersebut pasti bertindak demikian karena kurang informasi, bodoh, atau mengalami “penyakit” fisik, psikologis, maupun moral. Atas dasar itu, negara merasa berhak campur tangan untuk mencegah orang-orang yang dianggap “tidak tercerahkan” agar tidak membahayakan diri mereka sendiri. Para pencampur urusan orang lain ini gagal memahami bahwa seseorang dapat secara bebas memilih melakukan hal-hal yang mungkin tidak disetujui oleh orang lain.

Manusia memiliki selera dan cara hidup yang berbeda-beda. Ada yang menyukai hubungan heteroseksual, ada yang homoseksual, ada yang menyukai keduanya, dan ada pula yang tidak tertarik pada keduanya. Sebagian orang menyukai kopi dan rokok, sementara yang lain lebih memilih vodka dan kokain. Ada yang lebih suka mengikuti nasihat dokter tentang cara menjaga kesehatan dan obat apa yang harus dikonsumsi, sementara yang lain lebih memilih penyembuh non-medis atau ingin menentukan sendiri obat apa yang ingin mereka gunakan. Ada orang yang memilih melakukan hubungan seksual tanpa imbalan, sementara yang lain bersedia membayar atau menjual layanan seksual. Semua aktivitas tersebut merupakan hasil dari pilihan yang dibuat secara sukarela, dan tidak memengaruhi siapa pun selain orang-orang yang secara sukarela terlibat di dalamnya. Karena itu, aktivitas-aktivitas tersebut seharusnya hanya menjadi urusan para pelakunya sendiri dan tidak sepatutnya dicampuri oleh pihak lain.

Orang terkadang melakukan aktivitas yang berpotensi membahayakan diri mereka sendiri karena kenikmatan atau manfaat yang mereka peroleh atau harapkan dari aktivitas tersebut, dianggap lebih penting daripada bahaya nyata maupun potensi bahaya yang mungkin ditimbulkannya. Orang tetap merokok meskipun mengetahui adanya peningkatan risiko kanker paru-paru dan emfisema yang berkaitan dengan kebiasaan tersebut, karena mereka menikmati aktivitas merokok itu sendiri. Sebagian orang juga melakukan aktivitas seksual tertentu, seperti seks oral tanpa kondom, yang memiliki risiko penularan HIV, karena kenikmatan seksual yang mereka peroleh dianggap sebanding dengan risiko kecil terinfeksi dan kemungkinan berkembang menjadi AIDS. Pilihan-pilihan semacam itu seharusnya sepenuhnya diserahkan kepada individu yang bersangkutan, karena tidak ada pihak lain yang dirugikan. Kita seharusnya bebas menjalani hidup sesuai kehendak kita sendiri, bahkan jika beberapa keputusan yang kita ambil kemudian ternyata tidak bijaksana.

Beberapa aktivitas sukarela dilarang atau diatur karena dianggap berpotensi melibatkan orang lain secara tidak sukarela. Karena senjata api dapat digunakan untuk membunuh orang lain, muncullah argumen bahwa kepemilikan senjata harus diatur demi mencegah kemungkinan terjadinya bahaya terhadap orang lain. Sebagian orang yang terluka akibat senjata memang dianggap pantas menerima kekerasan tersebut, misalnya ketika pemilik senjata sedang membela diri atau melindungi propertinya sendiri. Namun, terkadang orang-orang yang tidak bersalah juga menjadi korban. Meski demikian, fakta bahwa orang-orang yang tidak melakukan kekerasan kadang terluka atau terbunuh ketika senjata tersedia secara bebas tidak serta-merta membenarkan pembatasan terhadap kepemilikan senjata. Orang-orang yang tidak bersifat koersif juga terkadang terluka atau meninggal dalam kecelakaan mobil, tetapi hampir tidak ada yang menuntut pelarangan mobil karena alasan tersebut. Hanya karena senjata atau mobil dapat disalahgunakan untuk melukai orang lain, bukan berarti benda-benda itu harus dilarang.

Para pendukung pemerintahan intervensionis akan berargumen bahwa masyarakat tidak boleh menerima risiko sama sekali, atau setidaknya hanya menerima risiko dalam kadar yang sangat kecil. Namun, persoalan dari cara pandang semacam itu adalah bahwa mengurangi risiko berarti membatasi kebebasan. Masyarakat yang menghargai kebebasan pada akhirnya harus menjadi masyarakat yang membiarkan orang-orang bebas melakukan tindakan yang mengandung risiko. Karena itu, kita harus memilih: antara dunia yang bebas namun mengandung sejumlah risiko, atau dunia yang aman dan terkendali tetapi menyesakkan serta tidak bebas.

Politisi dari berbagai kecenderungan politik, baik kanan maupun kiri, sama-sama mendukung campur tangan pemerintah dalam kehidupan orang lain. Kaum konservatif dan liberal arus utama mungkin lebih terang-terangan dalam menunjukkan sikap intervensionis mereka, tetapi mereka bukan satu-satunya pihak yang bersikap demikian. Kaum kiri sosialis juga sama-sama bersedia mencampuri urusan orang lain, dan negara-negara sosialis bahkan memiliki catatan yang lebih buruk dibanding Amerika Serikat dalam hal pembatasan kebebasan individu. Sebagai contoh, hanya sedikit kaum kiri yang mengkritik sistem resep obat ataupun hukum yang melarang penggunaan narkotika rekreasional, sementara negara-negara sosialis dikenal luas karena menganiaya orang-orang yang melakukan hubungan homoseksual.

Tidak ada bentuk pemerintahan apa pun, sebesar atau sekecil apa pun, ataupun dengan orientasi politik apa pun, yang benar-benar akan membiarkan manusia hidup tanpa campur tangan dirinya. Hakikat dan tujuan pemerintahan adalah mencampuri kehidupan individu dan menentukan bagaimana mereka seharusnya menjalani hidup. Kita hanya akan benar-benar bebas ketika manusia akhirnya menyadari bahwa mereka dapat hidup lebih baik dan lebih bebas tanpa pemerintahan apa pun, lalu mulai membangun masyarakat tanpa negara.


Diterjemahkan dari:


Bisnis yang Penuh Risiko

Aktivitas sehari-hari kita terus-menerus dicampuri atau dibatasi oleh begitu banyak hukum, aturan, dan regulasi. Pilihan kita mengenai tempat tinggal, jenis pekerjaan yang ingin dijalani, cara membesarkan anak, hingga bentuk hiburan yang ingin dinikmati semuanya dibatasi oleh pemerintah dan para pendukungnya. Kaum anarkis menawarkan gambaran dunia yang berbeda: sebuah masyarakat tanpa pemerintahan di mana manusia bebas menjalani hidup sesuai kehendak mereka selama tetap menghormati kebebasan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Namun, kemungkinan terwujudnya masyarakat semacam itu tampak sangat suram jika melihat begitu besarnya dukungan masyarakat terhadap pemerintahan dan semakin luasnya kontrol negara atas kehidupan kita.

Begitu banyak orang tampak rela menyerahkan otonomi mereka kepada pengawasan pihak lain, karena mereka menganggap campur tangan tersebut sebagai harga yang harus dibayar demi memperoleh sedikit rasa aman di dunia yang dianggap penuh bahaya. Namun, mereka tampaknya tidak menyadari apa yang sebenarnya mereka korbankan dalam upaya membuat hidup mereka sebebas mungkin dari risiko.

Mengurangi risiko tentu merupakan tujuan yang masuk akal, tetapi menghilangkan risiko sepenuhnya adalah hal yang mustahil. Hampir tidak ada orang yang ingin sakit, terluka, atau mati. Namun, banyak aktivitas dalam kehidupan, mulai dari yang paling biasa hingga yang paling mendebarkan, selalu mengandung risiko. Karena itu, setiap orang harus menyeimbangkan keinginan untuk menjalani hidup yang memuaskan dengan keinginan untuk menghindari bahaya. Sayangnya, upaya untuk menyeimbangkan keinginan-keinginan yang kadang saling bertentangan tersebut dapat menimbulkan persoalan, baik bagi individu yang bersangkutan maupun bagi orang lain.

Jika kita benar-benar ingin menghindari semua bahaya yang mungkin dihadapi, dunia akan menjadi tempat yang sangat berbeda. Tak seorang pun akan mengendarai mobil, menggunakan sepatu roda inline skate, bekerja di pekerjaan berbahaya, meminum koktail, ataupun merokok tembakau maupun ganja, karena semua aktivitas tersebut mengandung risiko membahayakan diri sendiri. Namun, kebanyakan orang memilih untuk tidak sepenuhnya menghindari aktivitas-aktivitas tersebut, karena manfaat atau kesenangan yang mereka peroleh dianggap lebih besar daripada risiko yang menyertainya. Risiko itu sendiri dapat dikurangi, misalnya dengan mengemudi perlahan, menggunakan perlengkapan pelindung, atau minum dan merokok secara moderat. Setiap hari manusia membuat keputusan-keputusan semacam itu sambil menjalani hidup di dunia yang penuh ketidakpastian ini.

Terkadang pilihan seseorang mengenai aktivitas yang ingin dijalani dapat terlihat bodoh atau terlalu berhati-hati di mata orang lain. Sebagai contoh, ada orang-orang yang sebenarnya memiliki risiko sangat kecil tertular HIV melalui hubungan seksual, tetapi memilih menghindari seluruh bentuk hubungan seksual, alih-alih sekadar lebih berhati-hati dalam memilih pasangan atau jenis aktivitas seksual. Namun, meskipun orang-orang semacam itu mungkin membatasi diri secara berlebihan dan menyangkal kesenangan bagi diri mereka sendiri, pilihan tersebut tidak memengaruhi orang lain yang tidak terlibat, sehingga seharusnya bukan urusan siapa pun selain diri mereka sendiri.

Masalah mulai muncul ketika orang-orang yang berniat baik tetapi terlalu berhati-hati memutuskan meminta bantuan pemerintah untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain dari risiko, baik yang nyata maupun yang dibayangkan. Campur tangan pemerintah kemudian memaksa semua orang membatasi aktivitas mereka sesuai keinginan orang-orang yang paling takut mengambil risiko dan paling tidak berani di antara kita. Undang-undang yang mengatur pembangunan perumahan, mewajibkan lisensi profesi dan institusi, serta membatasi penjualan obat-obatan terapeutik maupun rekreasional, semuanya diklaim dibuat untuk melindungi masyarakat dari bahaya. Namun pada kenyataannya, aturan-aturan tersebut bukan hanya menyebabkan kelangkaan perumahan, tunawisma, mahalnya biaya layanan kesehatan, meningkatnya kriminalitas dan pengangguran, tetapi juga menimbulkan kemiskinan budaya dan sosial secara umum. Ketika kita tidak dapat memilih sendiri jenis rumah yang ingin kita tinggali, tenaga kesehatan seperti apa yang ingin kita datangi, siapa yang boleh merawat anak-anak kita, siapa yang boleh memotong rambut kita, atau obat apa yang ingin kita gunakan untuk menyembuhkan maupun menghibur diri, maka hidup kita menjadi semakin terbatas, kurang menarik, kurang memuaskan, dan semakin tidak bebas.

Banyak orang sudah begitu terbiasa dengan pengawasan dan perlindungan dari pemerintah sehingga mereka menganggapnya sebagai satu-satunya solusi setiap kali sesuatu yang buruk terjadi. Karena orang kadang terluka akibat penggunaan kembang api, banyak negara bagian melarang sepenuhnya penjualan maupun penggunaan kembang api oleh individu. Dan karena kelalaian sebagian orang tua pernah menyebabkan anak-anak terluka, pernah muncul upaya di Massachusetts untuk menjadikan tindakan meninggalkan anak di bawah usia 14 tahun tanpa pengawasan sebagai tindakan ilegal dalam keadaan apa pun. Sekilas, tindakan-tindakan semacam itu mungkin tampak masuk akal. Namun, logika yang sama juga dapat digunakan untuk melarang kendaraan bermotor ataupun berjemur di bawah matahari. Apakah dunia yang aman tetapi membosankan dan tanpa gairah seperti itu benar-benar dunia yang kita inginkan?

Hidup penuh ketidakpastian dan terkadang tidak aman. Itulah kondisi manusia. Namun, hidup juga dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan. Sebagian orang bersedia mengorbankan banyak hal demi janji keamanan. Itu tidak masalah, selama mereka tidak berusaha mencegah orang lain mengambil risiko. Sebagian dari kita tidak bersedia menukar kebebasan dengan rasa aman, dan lebih memilih menghadapi sejumlah risiko sambil menjalani hidup sesuai kehendak sendiri. Dan untuk sekali ini saja, orang-orang yang tidak menyetujuinya seharusnya mengurus urusan mereka sendiri.


Diterjemahkan dari:


Perdagangan Bebas adalah Perdagangan yang Adil; Pandangan Anarkis tentang Perdagangan Dunia

Banyak orang yang menentang World Trade Organization (WTO) mengusung apa yang mereka sebut sebagai “perdagangan yang adil”, sebagai lawan dari “perdagangan bebas” yang diklaim dipromosikan oleh WTO. Namun pada kenyataannya, bentuk perdagangan yang dipromosikan WTO sama sekali bukan perdagangan bebas, sementara alternatif yang diajukan oleh para penentangnya juga tidak bisa disebut adil. Baik WTO maupun sebagian besar pengkritiknya, yang mencakup kaum nasionalis sayap kanan tradisional, aktivis buruh, aktivis lingkungan, hingga berbagai kelompok kiri, sama-sama mendukung keberlanjutan campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi, baik di tingkat domestik maupun internasional. Padahal, perdagangan yang diatur oleh negara dalam bentuk apa pun tidak akan pernah benar-benar bebas ataupun adil.

Pemerintah di seluruh dunia secara rutin mencampuri perekonomian negara yang mereka kuasai dan secara aktif mengintervensi perdagangan lintas batas. Mereka memberikan subsidi kepada sektor-sektor tertentu, seperti pertanian di Amerika Serikat dan Eropa, membiayai promosi internasional bagi korporasi-korporasi besar, serta memberlakukan tarif dan aturan kepabeanan yang menghambat atau mempersulit arus bebas barang antara orang-orang yang berada di dua sisi berbeda dari batas-batas politik negara. Aturan dan regulasi semacam itu menguntungkan perusahaan-perusahaan besar di dalam negeri, sementara para produsen di negara lain harus menanggung kerugiannya. Dengan demikian, perdagangan internasional yang berlangsung saat ini bukanlah hasil pertukaran bebas antar individu, melainkan sistem yang dibentuk dan diarahkan oleh kepentingan negara serta kelompok-kelompok ekonomi yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan.

Apa yang disebut sebagai perjanjian “perdagangan bebas” dan organisasi seperti North American Free Trade Agreement (NAFTA) maupun World Trade Organization (WTO) mungkin mengubah beberapa rincian dari intervensi tersebut, tetapi tidak pernah mempertanyakan prinsip dasarnya, yaitu bahwa pemerintah berhak menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dibeli oleh warga negara serta dengan siapa mereka boleh berdagang. Di bawah NAFTA, misalnya, membeli obat-obatan terapeutik yang lebih murah di Kanada untuk kemudian dijual kembali di Amerika Serikat merupakan tindakan yang ilegal. WTO juga tidak berupaya membebaskan perdagangan antar individu. Organisasi tersebut hanya menetapkan aturan-aturan yang menurut para birokrat yang mengelolanya paling sesuai dengan kepentingan korporasi-korporasi yang didukung oleh pemerintah-pemerintah anggotanya. WTO bahkan tidak mempertimbangkan kemungkinan adanya kesepakatan sukarela antara individu maupun kelompok yang dilakukan secara mandiri tanpa pengawasan badan regulasi, petugas bea cukai, penjaga perbatasan, aparat kesehatan publik, aparat penjaga pantai, dan berbagai birokrasi lainnya. Yang dipromosikannya hanyalah kelanjutan pengawasan pemerintah terhadap orang-orang yang ingin melakukan kegiatan perdagangan satu sama lain.

Sebagian besar pengkritik WTO juga mendukung pengawasan pemerintah terhadap urusan ekonomi. Serikat-serikat buruh mendesak pemerintah untuk melarang impor barang yang dijual lebih murah daripada produk yang dihasilkan oleh para anggotanya. Aktivis lingkungan menginginkan pemerintah menerapkan regulasi yang melindungi satwa liar dan membatasi pencemaran lingkungan. Aktivis hak asasi manusia menuntut pemerintah memaksa perusahaan-perusahaan agar mengizinkan para pekerjanya membentuk serikat guna memperjuangkan kondisi kerja yang lebih baik. Tujuan-tujuan tersebut tentu patut dihargai: melindungi pekerjaan dengan upah layak, menjaga tumbuhan dan hewan dari eksploitasi serta kepunahan, dan memungkinkan pekerja berupah rendah meningkatkan kondisi ekonomi mereka. Namun, cara yang diajukan untuk mencapai tujuan tersebut pada dasarnya sama dengan yang dipromosikan oleh WTO, yaitu penggunaan kekuasaan negara. Tampaknya tidak banyak orang yang mengusulkan cara lain untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi kaum pekerja di semua negara, sekaligus bagi makhluk hidup lain yang berbagi planet ini dengan kita.

Banyak orang mengungkapkan kekhawatiran bahwa WTO melemahkan kedaulatan nasional, seolah-olah pemerintah Amerika Serikat merupakan kekuatan yang baik dan patut dipertahankan. Mereka tampaknya lupa bahwa pemerintah federal merampas hasil kerja para pekerja melalui pajak, sambil menyalurkan berbagai bentuk subsidi dan bantuan kepada korporasi-korporasi besar. Para pengkritik semacam itu gagal memahami bahwa pemerintah Amerika Serikat, sebagaimana pemerintah nasional lainnya, secara rutin membatasi kedaulatan individu, satu-satunya bentuk kedaulatan yang benar-benar penting. Berbagai tingkat pemerintahan mungkin lebih atau kurang menindas, lebih atau kurang adil, tergantung pada situasi tertentu dan kepentingan individu yang terlibat. Namun, tidak satu pun dari mereka memiliki pembenaran moral atas tindakan-tindakannya. Semuanya mengambil uang dari para pekerja melalui pajak, menegakkan hukum yang mempertahankan pola kepemilikan tanah yang tidak adil, memonopoli sarana pertukaran ekonomi, serta melindungi kekayaan kaum kaya yang diperoleh secara tidak adil, sehingga semakin memiskinkan kaum pekerja. Karena itu, semuanya harus ditentang.

Para demonstran yang menentang WTO juga menunjukkan bahwa organisasi tersebut tidak demokratis, berbeda dengan sebagian pemerintah nasional yang sering dijadikan pembanding. Memang benar bahwa pemerintah Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, India, Jepang, dan negara-negara lainnya dipilih melalui proses demokratis. Namun, hal itu tidak berarti bahwa mereka sah secara moral, bersifat baik hati, atau benar-benar mewakili kepentingan individu-individu yang hidup di bawah kekuasaan mereka. Pemerintah demokratis Amerika Serikat, misalnya, melancarkan perang terhadap rakyat Kosovo dan Irak, mendukung negara polisi Tiongkok, memberikan subsidi kepada petani tembakau dan berbagai komoditas pertanian yang diprioritaskan negara, serta melarang penggunaan sejumlah obat terapeutik yang tersedia secara legal di negara lain. Namun, inilah pemerintah yang oleh sebagian pengkritik WTO dianggap mampu membela kepentingan para pekerja dunia dan lingkungan hidup. Yang dibutuhkan bukanlah memilih antara WTO dan berbagai pemerintah nasional, melainkan membebaskan masyarakat dari campur tangan keduanya. Baik WTO maupun negara sama-sama mengatur, mengendalikan, dan sering kali menindas orang-orang yang berada di bawah kekuasaan mereka. Jika demokrasi, seperti halnya pemungutan suara, benar-benar mampu mengubah segalanya, maka praktik itu sudah lama akan dilarang.

Menghapus WTO maupun NAFTA tidak akan membawa manfaat bagi kaum pekerja, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang akan membawa manfaat adalah penghapusan negara itu sendiri. Menghambat perdagangan lintas batas tidak akan menaikkan upah pekerja di Meksiko, memperbaiki kondisi kerja di pabrik-pabrik Malaysia, ataupun meringankan beban para petani dan buruh di Tiongkok. Bukan perdagangan internasional yang merugikan mereka, melainkan pemerintah-pemerintah yang membatasi kebebasan mereka sedemikian rupa sehingga mereka hampir tidak memiliki pilihan selain bekerja dengan upah yang tidak adil demi memperkaya orang lain. Di seluruh dunia, pemerintah merampas kebebasan ekonomi rakyat pekerja dan mengutamakan kepentingan para pemilik tanah serta pemilik industri yang kaya raya. Akibatnya, mayoritas masyarakat menjadi semakin miskin, sementara segelintir orang semakin kaya, dan pada gilirannya memperkaya para politisi.

Perdagangan bebas yang sesungguhnya tidak akan menyerupai sistem yang ada sekarang, maupun sistem yang akan ada jika WTO memegang kendali. Tanpa pemerintah yang menghalangi orang untuk menjalani hidup sesuai kehendak mereka sendiri, masyarakat yang bebas dapat membentuk sistem mata uang dan lembaga perbankan mereka sendiri guna memperluas akses kredit bagi orang-orang biasa. Hasil kerja mereka tidak akan dirampas oleh pemerintah yang eksploitatif. Mereka juga tidak akan dilucuti haknya untuk membela diri oleh para wakil rakyat yang mereka pilih sendiri, sehingga tetap mampu mempertahankan tanah dan harta benda mereka dari korporasi-korporasi multinasional rakus yang memperoleh perlindungan dari para politisi. Mereka tidak akan dipaksa oleh negara untuk membayar sewa kepada para pemilik tanah yang hanya dapat mengklaim kepemilikan atas lahan dan properti karena pemerintah mendukung hak milik atas tanah yang tidak digunakan maupun tidak ditempati oleh pemiliknya. Para pekerja juga akan bebas mengambil alih pabrik-pabrik dan sarana produksi lain yang selama ini mereka gunakan, karena tidak akan ada pemerintah yang memaksakan tuntutan para “pemilik” saat ini atas sebagian hasil kerja orang lain. Tanpa harus menyerahkan sebagian dari kekayaan yang mereka hasilkan melalui kerja mereka sendiri, para pekerja yang bebas akan menjadi pekerja yang makmur. Mereka akan bebas bertukar barang dan jasa dengan siapa pun, tanpa memandang letak geografis maupun latar belakang etnis, selama hubungan tersebut berlangsung secara sukarela. Jika perdagangan benar-benar bebas, maka satu-satunya pertukaran yang akan disetujui orang adalah pertukaran yang adil. Dan jika terdapat persaingan yang sungguh-sungguh bebas antara para pekerja yang juga menjadi pemilik usaha mereka sendiri di seluruh dunia, tidak seorang pun akan mampu menumpuk kekayaan dalam jumlah besar dengan mengorbankan orang lain.

Perdagangan bebas yang sesungguhnya memang akan mengandung risiko-risiko yang tidak ditemukan dalam sistem ekonomi yang diawasi negara. Tidak akan ada sistem kesejahteraan yang dikelola pemerintah, tidak akan ada undang-undang perburuhan, dan tidak akan ada peraturan negara yang melarang pencemaran lingkungan atau pembantaian satwa liar secara semena-mena. Namun, itu tidak berarti bahwa individu maupun lingkungan alam akan dibiarkan begitu saja untuk berjuang sendiri. Manusia lebih dari mampu membentuk organisasi-organisasi sukarela untuk menghadapi masa-masa sulit, saling membantu menciptakan lapangan kerja, memfasilitasi perdagangan langsung antara produsen, serta mengampanyekan perlakuan yang lebih manusiawi terhadap makhluk hidup non-manusia. Orang-orang yang bebas berdagang satu sama lain juga akan bebas meninjau kembali cara mereka hidup dan bekerja, lalu mengembangkan cara-cara yang lebih manusiawi dan lebih selaras dengan lingkungan dibandingkan yang ada saat ini. Sepanjang sejarah, manusia telah melakukan hal tersebut, dan mereka masih melakukannya hingga sekarang, berdampingan dengan berbagai institusi negara kesejahteraan dan negara perang.

Anarki dan perdagangan bebas tidak akan menyelesaikan semua persoalan ataupun melahirkan sebuah utopia. Keduanya hanya akan membebaskan manusia untuk berinteraksi dengan orang lain sesuai kehendak mereka sendiri, dengan cara yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. Dalam kondisi seperti itu, individu dan berbagai asosiasi sukarela akan bebas untuk berdagang secara adil satu sama lain, bersatu sesuai keinginan mereka untuk memperjuangkan kepentingan bersama, serta melindungi lingkungan yang mereka huni bersama. Semua itu dapat dilakukan tanpa harus tunduk pada campur tangan para politisi maupun elite ekonomi yang memperoleh kekuasaan dan perlindungan dari mereka.


Diterjemahkan dari:


Privatisasi? Itu Tidak Cukup Jauh!

Sudah menjadi hal yang lazim bagi pejabat pemerintah dari kedua partai besar untuk sekadar melontarkan retorika tentang berbagai masalah yang ditimbulkan oleh apa yang mereka sebut sebagai “pemerintahan yang terlalu besar”. Sambil terus mengesahkan lebih banyak undang-undang, memberlakukan lebih banyak regulasi, memperbesar populasi penjara, dan memungut semakin banyak uang dari kaum pekerja, mereka tetap mengklaim mendukung “perampingan” negara. Salah satu langkah yang sering diajukan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah privatisasi. Transportasi umum, rumah sakit, bahkan penjara, dijual secara langsung kepada korporasi swasta atau dikelola oleh pihak luar sementara pemerintah tetap mempertahankan kepemilikannya. Meskipun kaum anarkis pada umumnya mendukung upaya untuk semakin menjauhkan berbagai aspek kehidupan dari kendali negara, privatisasi yang disponsori negara pada kenyataannya tidak meningkatkan otonomi masyarakat, yaitu kemampuan individu untuk menentukan sendiri bagaimana dan di mana mereka memperoleh barang dan jasa, serta bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka.

Pada umumnya, pemerintah menjalankan hampir semua hal dengan buruk. Lembaga-lembaga publik cenderung tidak efisien, mahal, dan lamban, sementara berbagai “layanan” sering kali diberikan oleh orang-orang yang kasar dan arogan. Setidaknya sebagian dari masalah ini muncul karena banyak badan usaha milik negara beroperasi sebagai monopoli. Jika seseorang tidak perlu bersaing dengan pihak lain yang bergerak di bidang yang sama, maka tidak banyak dorongan untuk mengelola usaha dengan lebih baik, menyediakan layanan yang lebih berkualitas, atau memperlakukan pelanggan dengan baik. Privatisasi biasanya tidak mengubah keadaan tersebut. Perusahaan yang membeli atau mengelola lembaga yang sebelumnya dimiliki negara umumnya tetap diberikan monopoli di bidang usahanya, sama seperti yang sebelumnya dimiliki oleh negara.

Ketika pemerintah memprivatisasi sistem transportasi umum atau pengelolaannya, mereka tidak benar-benar membuka pasar sehingga siapa pun dapat bersaing dan menyediakan layanan transportasi bagi pelanggan yang menginginkannya. Mereka hanya menyerahkan sistem yang sudah ada dan bersifat monopolistik kepada entitas swasta yang berorientasi pada keuntungan untuk dikelola dengan cara yang berbeda. Yang berubah hanyalah sebagian orang yang berada di posisi puncak. Hal itu mungkin menghasilkan layanan yang lebih efisien atau lebih ramah, tetapi tidak benar-benar memberi masyarakat lebih banyak pilihan dibandingkan sebelumnya. Pemerintah tidak mengizinkan perusahaan-perusahaan swasta lain bersaing dengan pemilik atau pengelola baru dengan membuka rute-rute baru atau menantang operator resmi di rute yang sudah ada, sehingga pelanggan dapat menentukan sendiri dengan siapa mereka ingin berurusan. Mereka juga tentu tidak mengizinkan individu menggunakan truk, mobil, atau kendaraan pribadi lainnya sebagai sarana angkutan untuk bersaing dengan pemilik atau pengelola baru tersebut.

Ketika sebuah rumah sakit diprivatisasi, perubahan serupa juga terjadi. Sebagian perubahan itu mungkin membawa perbaikan, tetapi tidak ada perubahan mendasar dalam cara individu berhubungan dengan sistem layanan kesehatan. Rumah sakit tersebut tetap akan dijalankan oleh dokter, ahli bedah, perawat, dan administrator yang memperoleh sertifikasi dari pemerintah. Masyarakat tetap hanya dapat berkonsultasi dengan jenis penyedia layanan kesehatan tertentu, menggunakan jenis asuransi tertentu, dan tetap tidak dapat membeli sebagian besar obat-obatan tanpa resep dokter atau perawat yang berwenang. Privatisasi rumah sakit milik negara tidak berarti masyarakat kini bebas memilih jenis penyembuh atau metode pengobatan apa pun yang mereka anggap sesuai. Mereka juga tidak menjadi bebas mengonsumsi obat atau zat apa pun yang mereka inginkan, ataupun mendirikan pusat layanan kesehatan atau rumah sakit mereka sendiri tanpa persetujuan dan pengawasan pemerintah.

Penjara yang diprivatisasi mungkin merupakan contoh paling jelas tentang betapa kecil perbedaan antara lembaga yang dikelola negara dan lembaga yang diserahkan kepada korporasi yang berorientasi pada keuntungan. Di penjara-penjara swasta ini, para tahanan tetap mengalami kekerasan, pemukulan, dan pemerkosaan. Para sipir tetap mengendalikan detail-detail terkecil dalam kehidupan mereka, dan orang-orang tetap dikurung tanpa persetujuan mereka. Penjara swasta justru merupakan kebalikan dari pengambilan keputusan pribadi dan kesepakatan sukarela antar individu, karena “pelanggan” dalam kasus ini, yaitu para tahanan, tidak memiliki kebebasan untuk menentukan hidup mereka sendiri, hanya dapat membuat sangat sedikit keputusan pribadi, dan tidak bebas untuk mengakhiri hubungan dengan perusahaan yang mengelola penjara lalu pergi begitu saja. Selain itu, penjara yang berorientasi pada keuntungan sepenuhnya bergantung pada negara untuk menyediakan “pelanggan” baru melalui penangkapan dan penghukuman terhadap orang-orang yang dianggap melanggar hukum yang dibuat oleh berbagai tingkat pemerintahan. Tanpa tindakan negara, tidak akan ada tahanan, dan tanpa tahanan tidak akan ada penjara, baik yang dikelola negara maupun yang dimiliki swasta.

Kaum anarkis menghargai pengambilan keputusan secara pribadi dan kesepakatan sukarela antar individu. Mereka menentang negara karena negara mengganggu aktivitas orang-orang yang tidak menggunakan kekerasan maupun paksaan dalam menjalani hidup mereka. Privatisasi terdengar menarik bagi sebagian anarkis karena menawarkan harapan untuk mengurangi campur tangan dan pengawasan negara dalam kehidupan masyarakat. Namun, meskipun privatisasi mengubah cara negara berinteraksi dengan individu, pada umumnya hal itu tidak menghasilkan peningkatan nyata dalam kebebasan masyarakat untuk menentukan bagaimana mereka ingin hidup. Privatisasi tidak memberi kita lebih banyak pilihan. Sering kali juga tidak menghasilkan pelayanan yang lebih baik. Selain itu, privatisasi tidak menghentikan negara mengambil uang dari kantong kita untuk mensubsidi berbagai perusahaan baru tersebut. Dan tentu saja, privatisasi tidak mengurangi beban pajak kita, karena pemerintah selalu menemukan cara baru untuk menghabiskan uang rakyat, sekalipun privatisasi menghasilkan penghematan dalam beberapa bidang. 

Masyarakat seharusnya bebas memproduksi dan mengonsumsi apa pun yang mereka inginkan, selama mereka tidak mengganggu kebebasan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jika seseorang ingin mengangkut penumpang menggunakan mobil van miliknya dengan imbalan uang, atau jika sekelompok orang ingin mengelola layanan bus mereka sendiri, maka hal itu seharusnya hanya menjadi urusan pihak-pihak yang terlibat dalam pertukaran tersebut. Jika seseorang ingin mengonsumsi penisilin atau valium tanpa harus memperoleh resep dokter, atau ingin berkonsultasi dengan lulusan sekolah kedokteran sebelum mengambil keputusan terkait kesehatannya, maka kedua pilihan itu seharusnya tersedia. Kebebasan yang sejati, kehidupan pribadi yang sejati, berarti kebebasan untuk menjalani hidup sesuai kehendak kita sendiri, serta membuat kesepakatan dengan orang lain kapan pun dan jika memang diinginkan oleh semua pihak yang terlibat. Hanya penghapusan negara secara menyeluruh yang benar-benar akan “memprivatisasi” kehidupan kita. Privatisasi yang disponsori negara? Itu tidak cukup jauh.


Diterjemahkan dari:


Anarkis yang Memilih dalam Pemilu: Sebuah Kontradiksi atau Bukan?

Secara historis, kaum anarkis dengan tegas menghindari keterlibatan dalam politik elektoral. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, setidaknya di Amerika Serikat, sebagian anarkis mulai menganjurkan partisipasi dalam pemungutan suara. Argumen yang diajukan oleh para anarkis pemilih ini pada umumnya tidak berbeda dari argumen yang diajukan oleh kelompok kiri lainnya yang tidak mampu atau tidak bersedia memutuskan hubungan mereka sepenuhnya dengan proses politik. Mereka berpendapat bahwa memilih kandidat tertentu, yang biasanya digambarkan sebagai “kejahatan yang lebih kecil” dan biasanya (jika tidak selalu) berasal dari Partai Demokrat, diperlukan untuk mencegah agresi Amerika Serikat terhadap negara revolusioner yang mereka dukung (seperti Nikaragua di bawah pemerintahan Sandinista), merupakan bentuk pembelaan diri terhadap kandidat yang lebih konservatif, atau sekadar lebih baik daripada “apatisme”, sebagaimana sebagian orang menyebut sikap golput. Seseorang tentu dapat menolak pemungutan suara dengan alasan bahwa tindakan tersebut jarang (jika pernah) mencapai tujuan-tujuan yang diklaim oleh para pendukungnya. Namun, ada alasan yang lebih mendasar mengapa kaum anarkis menolak pemilu: memberikan suara dalam pemilihan umum yang diselenggarakan negara merupakan tindakan yang secara inheren bersifat otoriter, dan sarana yang otoriter tidak pernah menghasilkan tujuan yang libertarian.

Alasan utama mengapa kaum anti-negara tidak seharusnya memilih, bahkan seharusnya menentang praktik pemilihan itu sendiri, adalah karena tindakan memilih pada dasarnya merupakan upaya untuk mendelegasikan kepada orang lain suatu kekuasaan yang sebenarnya tidak dapat mereka miliki secara sah. Negara berdiri di atas paksaan. Memang, berbagai bentuk pemerintahan menyediakan sejumlah layanan dan manfaat bagi orang-orang yang berada di wilayah kekuasaannya. Namun, pada saat yang sama, negara menggunakan polisi, pengadilan, militer, lembaga perpajakan, dan berbagai perangkat lainnya untuk secara koersif mencampuri kehidupan orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Kaum anarkis berpendapat bahwa tidak seorang pun, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, seharusnya memiliki kekuasaan semacam itu. Jika prinsip ini benar, maka kaum anarkis yang menentang kekuasaan politik dan segala bentuk paksaan tidak dapat secara konsisten menganjurkan partisipasi dalam pemilu. Individu tidak seharusnya memiliki wewenang untuk memaksa orang lain. Karena itu, mereka juga tidak seharusnya menempatkan diri mereka dalam posisi untuk mendelegasikan wewenang tersebut kepada pihak ketiga, yang merupakan inti dari praktik pemungutan suara. Sebagian orang berpendapat bahwa mereka memilih semata-mata sebagai bentuk pembelaan diri. Namun, konsekuensi dari pilihan mereka adalah bahwa kandidat yang mereka dukung akan menggunakan kekuasaan negara terhadap orang-orang lain, termasuk mereka yang memilih untuk tidak berpartisipasi dalam proses tersebut. Oleh karena itu, bentuk pembelaan diri semacam ini tidak dapat diterima oleh kaum anarkis.

Selain bersifat tidak etis bagi seorang anti-otoritarian, partisipasi dalam politik elektoral juga berfungsi melegitimasi keseluruhan proses politik dan keberadaan negara itu sendiri. Jika masyarakat tidak ikut memilih, teori demokratis tentang pemerintahan akan kehilangan dasar legitimasinya, dan para politisi harus mencari pembenaran lain untuk mempertahankan kekuasaan mereka selain klaim bahwa mereka memerintah atas dasar persetujuan rakyat yang diperintah. Hal ini akan membuat hakikat negara yang sebenarnya menjadi lebih jelas bagi masyarakat. Kesadaran semacam itu juga berpotensi mendorong orang-orang untuk menantang, menghindari, atau mengabaikan campur tangan dan paksaan yang dilakukan oleh negara.

Bahkan jika kaum anarkis dapat berpartisipasi dalam pemilu secara etis, masih ada satu alasan utama untuk memboikot proses tersebut: kandidat mana pun yang mereka bantu terpilih pada akhirnya akan menjalankan kebijakan-kebijakan intervensionis dan mengambil tindakan-tindakan koersif yang hasilnya tidak akan sejalan dengan tujuan-tujuan anarkis. Memilih kandidat dari Partai Demokrat mungkin dapat dianggap mengurangi kemungkinan intervensi Amerika Serikat terhadap Kuba atau Nikaragua. Namun, pada saat yang sama, hal itu bisa memperburuk situasi di Israel/Palestina atau Afrika Selatan (baik ANC maupun PLO tidak akan mengambil posisi resmi terkait pemilihan presiden Amerika Serikat, pada dasarnya karena mereka lebih mendukung Bush, tetapi merasa tidak nyaman untuk mengatakannya secara terbuka). Para pemilih sering berpendapat bahwa pemerintahan dari Partai Republik akan memperburuk kondisi ekonomi kaum pekerja dan masyarakat miskin di Amerika Serikat. Namun, kenaikan pajak yang hampir pasti diberlakukan oleh presiden dari Partai Demokrat juga akan semakin memiskinkan kaum pekerja yang menjadi sumber utama penerimaan pajak tersebut. Selain itu, banyak orang khawatir terhadap Mahkamah Agung yang didominasi hakim-hakim yang ditunjuk oleh Partai Republik. Akan tetapi, hakim-hakim individual sering kali sulit diprediksi (seperti Sandra Day O'Connor), dan hakim yang diangkat oleh Partai Demokrat pun sama bersedianya untuk mencampuri kehidupan masyarakat melalui kekuasaan negara sebagaimana hakim-hakim dari Partai Republik.

Selain tidak menghasilkan tujuan yang diinginkan, praktik memilih dalam pemilu juga mengandung kelemahan lain bagi kaum anarkis. Bahkan jika seluruh anarkis di Amerika Serikat ikut memberikan suara dalam pemilihan presiden, hal itu tetap tidak akan memengaruhi hasil pemilu secara berarti. Jumlah anarkis terlalu sedikit sehingga suara mereka secara individual nyaris tidak memiliki dampak, sementara hasil pemilu ditentukan oleh jutaan suara. Jika para anarkis yang mendukung pemungutan suara benar-benar percaya bahwa memilih dapat dilakukan secara etis, bahkan oleh seorang anarkis, maka mereka seharusnya mempertimbangkan untuk terlibat sepenuhnya dalam proses politik dan berkampanye bagi kandidat presiden tertentu. Jika memilih dianggap dapat diterima, maka secara logis seharusnya dapat diterima pula bagi kandidat mereka untuk memegang kekuasaan dalam pemerintahan yang bersifat koersif, dan dapat diterima pula bagi mereka untuk mendorong orang lain agar ikut memilih. Saya belum pernah melihat kaum anarkis secara terbuka menyerukan keterlibatan aktif dalam Partai Demokrat. Namun, itulah konsekuensi logis dari argumen anarkis yang membela partisipasi dalam pemilu. Jika mereka merasa tidak nyaman mengajak orang lain memilih kandidat yang mereka dukung, maka mereka seharusnya meninjau kembali alasan-alasan yang mereka gunakan untuk membenarkan tindakan tersebut.

Sikap golput di kalangan anarkis bukanlah tanda apatisme. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk penolakan terhadap cara-cara politik, yaitu cara-cara yang bertumpu pada paksaan, dalam menyelesaikan masalah dan mengatur kehidupan bersama. Jika kita, sebagai kaum anarkis, sungguh-sungguh ingin menemukan cara-cara baru untuk hidup dan berinteraksi satu sama lain, maka sudah sepatutnya kita menjauh dari rawa politik elektoral dan mempertahankan sikap tradisional anarkisme yang menolak keterlibatan dalam politik pemilu dalam bentuk apa pun.


Diterjemahkan dari:

Sane Anarchy

Penulis: Larry Gambone

Faktanya: Tidak Ada yang Menyukai Negara

Jajak pendapat dan berbagai survei menunjukkan hal itu. Mayoritas masyarakat tidak lagi menaruh kepercayaan pada pemerintah. Mereka membenci birokrasi dan peraturan-peraturan yang menyesakkan. Mereka menginginkan desentralisasi kekuasaan politik dan suara yang lebih besar di tempat kerja. Mereka juga prihatin terhadap masalah lingkungan, kesetaraan gender, dan meningkatnya kemiskinan. Mungkin belum pernah dalam sejarah begitu banyak orang memiliki pandangan yang sedemikian radikal. Coba ingat tahun 1960-an. Minoritas kecil dari Kiri Baru yang mengemukakan gagasan-gagasan serupa saat itu dicap sebagai orang-orang yang ingin “menghentikan dunia karena ingin turun darinya”, atau sebagai kaki tangan Komunis. Ironisnya, kaum kiri justru tidak pernah berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada sekarang. Akibatnya, pihak yang paling diuntungkan oleh keresahan sosial ini adalah kaum populis dan liberal pasar bebas (yang dalam istilah politik Amerika disebut kaum konservatif). Kekuatan-kekuatan ini memadukan dorongan menuju desentralisasi dan demokrasi langsung dengan isu-isu sosial konservatif atau ekonomi pasar bebas.


Dimana Kaum Anarkis?

Yang bahkan lebih sulit dipahami daripada kegagalan kaum kiri adalah ketiadaan anarkisme, atau apa yang dahulu dikenal sebagai “libertarianisme tradisional”. [1] Tampaknya telah terjadi kemunduran yang cukup mencolok dalam aktivitas kaum anarkis sejak masa puncaknya pada pertengahan hingga akhir dekade 1980-an. Bagaimana paradoks ini dapat dijelaskan? Menyalahkan media bukanlah jawabannya. Kelompok-kelompok lain juga pernah menjadi sasaran pemberitaan yang tidak adil, atau bahkan sama sekali diabaikan oleh media, namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk menjadi kekuatan yang berarti dalam masyarakat. Lihat saja Gerakan Pembebasan Perempuan dan berbagai serangan yang mereka terima; meskipun demikian, feminisme kini menjadi salah satu kekuatan sosial yang paling berpengaruh. Kesalahan itu hanya dapat terletak pada kaum anarkis sendiri.


Anarkisme dan Kiri Baru

Siapakah kaum anarkis, dan dari mana mereka berasal? Setidaknya di Amerika Utara, perlu ditegaskan bahwa hampir tidak ada hubungan yang berarti antara gerakan anarkis lama sebelum Perang Dunia II, atau yang disebut sebagai anarkisme klasik, dengan kelompok orang yang kembali menghidupkan anarkisme pada akhir tahun 1960-an. Pada dekade 1950-an, gerakan libertarian praktis sudah tidak ada lagi; yang tersisa hanyalah sejumlah individu yang terisolasi. [2] Mereka yang membentuk anarkisme baru berasal dari Kiri Baru, yaitu orang-orang yang kecewa terhadap pengambilalihan gerakan oleh kaum Stalinis dan memandang anarkisme sebagai kelanjutan logis dari keyakinan mereka. Apa yang sesungguhnya lahir adalah sebuah neo-anarkisme, yang memadukan anarkisme tradisional dengan gagasan-gagasan yang diambil dari Kiri Baru. Baik Kiri Baru maupun neo-anarkisme (yang juga disebut anti-otoritarianisme) memberikan pengaruh besar terhadap berbagai “Gerakan Baru” (feminisme, ekologi, gerakan anti-nuklir) pada dekade 1970-an dan 1980-an. Sebaliknya, anarkisme juga turut dipengaruhi oleh gerakan-gerakan tersebut.


Elitisme Kiri Baru

Sikap-sikap tertentu yang berasal dari Kiri Baru dan apa yang disebut sebagai kontra-budaya meresap ke dalam neo-anarkisme dan memberikan pengaruh yang merusak. Yang paling menonjol di antaranya adalah elitisme. Di kalangan Kiri Baru, berkembang keyakinan umum bahwa mayoritas masyarakat telah “dikooptasi”, “terjual”, “rasis”, dan “seksis”. Bagi kalangan hippie-kiri, kebanyakan orang dipandang tidak lebih dari para redneck berambut pendek yang gemar menenggak bir. Sebagian besar permusuhan kaum muda ini sebenarnya diarahkan kepada orang tua mereka sendiri, sehingga lebih merupakan ungkapan pemberontakan remaja daripada hasil pemahaman politik yang mendalam. Kecuali mereka yang memilih jalur anarko-sindikalisme, sebagian besar neo-anarkis membawa sikap merendahkan ini ke dalam gerakan mereka. Mayoritas masyarakat dianggap telah rusak tanpa harapan, dan sikap semacam itu masih terus bertahan hingga sekarang. Penghinaan seperti ini sangat bertentangan dengan anarkisme klasik, yang bahkan dalam bentuknya yang paling avangardis sekalipun tetap memandang dirinya hanya sebagai katalisator atau juru bicara massa.

Sambil menolak mayoritas, mereka justru terobsesi pada kelompok-kelompok minoritas. Kiri Baru, yang meremehkan kaum pekerja, beralih kepada kelompok minoritas rasial dan kaum miskin sebagai agen potensial perubahan sosial. Masyarakat adat, para narapidana, kaum yang tersisih dari masyarakat, homoseksual, dan berbagai kelompok lainnya diberi perhatian yang sangat besar, hampir dengan mengabaikan seluruh lapisan masyarakat yang lain. [3]


Kultus Dunia Ketiga

Aspek lain yang diwarisi dari Kiri Baru adalah obsesi terhadap Dunia Ketiga dan imperialisme Barat. Banyak neo-anarkis, meskipun secara lisan mengakui kritik anarkis terhadap Leninisme, pada praktiknya justru mendukung apa yang disebut sebagai gerakan pembebasan nasional. Sebagian memuji Front Pembebasan Nasional Vietnam (NLF), sementara yang lain berusaha membersihkan citra rezim Castro. Banyak pula yang menelan mentah-mentah propaganda Leninisme bahwa Barat, khususnya Amerika Serikat, sepenuhnya bertanggung jawab atas Perang Dingin. Demikian pula dengan gagasan bahwa “kita hidup dari eksploitasi Dunia Ketiga”, padahal pada masa itu negara-negara maju justru lebih banyak berinvestasi satu sama lain. Posisi-posisi semacam ini tidak lebih dari upaya menutupi kekejaman Stalinisme. Namun gagasan-gagasan tersebut terus didaur ulang melalui neo-anarkisme serta gerakan perdamaian dan gerakan hijau, bahkan hingga hari ini.

Bersamaan dengan pemujaan terhadap “gerakan-gerakan pembebasan”, muncul pula glorifikasi terhadap kekerasan. Ketika orang-orang yang mengaku sebagai “wakil kaum tertindas” menanam bom di pesawat penumpang, memberondong wisatawan dengan senapan mesin, dan melempar granat ke pub serta teater, sebagian anggota Kiri Baru yang neurotis atau kecewa memutuskan bahwa sudah waktunya berhenti sekadar memberi pembenaran dan mulai bertindak. Beberapa kelompok yang menyebut diri anarkis bahkan memberikan dukungan kepada organisasi teroris seperti Action Directe di Prancis dan Red Army Faction yang telah disusupi oleh Stasi. [4] Sejumlah orang naif di pinggiran gerakan anarkis, seperti Angry Brigade dan kelompok Direct Action di Kanada, benar-benar mengangkat senjata dan akhirnya menghabiskan sebagian besar masa muda mereka di balik jeruji penjara.


Miserabilisme

Namun, Kiri Baru bukanlah satu-satunya pengaruh. Sepanjang dekade 1960-an terjadi persilangan gagasan dengan berbagai ide yang berasal dari ultra-kiri atau komunisme dewan (council communism). Sebagian pengaruh ini bersifat positif, terutama yang datang dari para pengikut Paul Mattick atau kelompok Socialisme ou Barbarie pimpinan Cornelius Castoriadis. Namun setelah perpecahan kaum Situasionis dan rangkaian perpecahan tanpa akhir di dalam gerakan komunisme dewan, berbagai “teori” yang sangat ganjil mulai bermunculan. Masyarakat modern Barat dianggap sepenuhnya totaliter, sementara Kapital dipandang telah memperoleh otonomi mutlak atas umat manusia. Yang lain menyatakan bahwa seluruh peradaban adalah kejahatan, lalu menyerukan agar manusia meninggalkan teknologi (bahkan pertanian), dan kembali hidup sebagai pemburu-pengumpul. 

Teori-teori semacam itu, yang mencerminkan kemunduran marxisme pada fase akhirnya, mendapat tempat di kalangan sebagian neo-anarkis Amerika Utara ketika gerakan anti-nuklir dan gerakan lingkungan sedang berkembang. (Produk akhirnya yang paling ekstrem adalah sosok yang dikenal sebagai “Unabomber”.) Bagi kebanyakan orang, gagasan-gagasan seperti ini tidak lebih dari kegilaan belaka. Orang biasa yang membaca jurnal yang mengusung pandangan semacam itu atas nama anarkisme kemungkinan besar akan menganggap anarkisme sebagai ideologi orang-orang sinting (dan mereka tidak sepenuhnya salah). Marxisme dalam kemundurannya telah membawa obsesinya terhadap berbagai kejahatan, baik yang nyata maupun yang dibayangkan, hingga ke titik yang paling ekstrem; sampai-sampai ia dapat dianggap sebagai ideologi "miserabilisme".

Kehidupan rata-rata manusia bukanlah penderitaan tanpa akhir, tetapi juga bukan kebahagiaan tanpa batas. Hanya sebagian kecil orang yang benar-benar hidup dalam kesengsaraan. Mayoritas merasa tidak puas, tetapi tidak hidup dalam kemelaratan. Kita mungkin tidak menyukai pemerintah atau atasan kita, tetapi hal-hal itu bukanlah keseluruhan hidup kita. Kita memiliki keluarga, sahabat, dan minat pribadi. Di sanalah kehidupan kita yang sesungguhnya bermula dan berakhir. Berkat media massa, meskipun gambaran yang disajikan sering kali sangat terdistorsi, orang-orang cukup menyadari adanya penderitaan di dunia ini. Yang dibutuhkan bukanlah lebih banyak keluhan dan ratapan, melainkan visi yang lebih positif tentang masa depan.


Otoritarianisme Neo-Anarkis

Berakar pada gagasan Leninisme tentang “garis yang benar” (the correct line), dan kemudian diperkuat oleh bentuk-bentuk ekstrem feminisme serta nasionalisme kulit hitam, Political Correctness telah menghantui neo-anarkisme seperti kutu yang menempel pada seekor anjing. [5] Sulit membayangkan bagaimana seseorang dapat mendamaikan sensor dengan anarkisme. Namun itulah yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku “anti-otoritarian”, sampai-sampai ada yang membakar toko video karena menjual pornografi.

Obsesi terhadap “kebenaran politik”, sikap keras yang lahir dari pemujaan terhadap kekerasan, serta ketertarikan pada ideologi-ideologi yang kabur dan ekstrem, secara alami melahirkan sektarianisme. Tidak cukup bahwa semua libertarian menginginkan penghapusan negaraisme, korporatisme, dan otoritarianisme, serta bahwa mereka memiliki jauh lebih banyak kesamaan satu sama lain dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki pandangan tersebut. Tidak. Perbedaan-perbedaan sekecil apa pun harus dipersoalkan. Dan ironisnya, mereka yang posisinya paling dekat dengan kita sering kali justru diperlakukan sebagai musuh yang paling berbahaya.

Penghinaan terhadap massa, miserabilisme, sektarianisme, Dunia Ketigaisme (Third Worldism), Political Correctness, dan pemujaan terhadap kekerasan merupakan berbagai bentuk otoritarianisme yang bersembunyi di balik topeng libertarian. Mereka yang menyebut diri sebagai anarkis itu pada kenyataannya hanyalah anggota dari satu sekte kiri otoritarian lainnya. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka berpura-pura menjadi anti-otoritarian. Jika boleh dikatakan, mereka hanyalah semacam Leninisme versi lunak.


Singkirkan Tipu Daya Kiri

Kaum kiri adalah pelopor korupsi birokratis negara atas kehidupan masyarakat. [6] Bukan tanpa alasan jika kata “sosialisme” telah menjadi sesuatu yang dibenci oleh sebagian besar orang. Ketidakadilan, eksploitasi, kemiskinan, diskriminasi, kelaparan, dan kebodohan memang merupakan masalah nyata yang dihadapi dunia, dan hampir semua orang sepakat akan hal itu. Namun kaum kiri berusaha mengatasi persoalan-persoalan tersebut melalui negara, dan dengan cara itu mereka hanya menciptakan kembali kejahatan-kejahatan yang sama dalam bentuk yang baru. Alih-alih membiarkan berbagai kelompok yang berbeda menyelesaikan persoalan mereka secara bebas, negara dijadikan penengah tertinggi atas segala sesuatu. Alih-alih memungkinkan orang keluar dari kemiskinan melalui perpaduan usaha pribadi, solidaritas, dan mutual aid, negara dijadikan sumber utama jaminan sosial.

Saat ini kita hidup dalam semacam negara korporatis liberal. [7] Kalangan bisnis dan petani menerima subsidi dari pemerintah. Demikian pula dunia kebudayaan, kaum miskin, kelompok minoritas, dan pada kenyataannya hampir setiap sektor masyarakat. Masing-masing berlomba mendapatkan tempat di sekitar palungan negara, dan seluruh aspek kehidupan pun menjadi sangat dipolitisasi. Semua pemborosan ini harus dibayar oleh masyarakat pekerja. Setiap tahun utang terus menumpuk semakin tinggi, dan semua orang bertanya-tanya mengapa hal itu terjadi.

Kaum kiri juga berfungsi sebagai anjing penjaga korporatisme. Setiap upaya untuk menyerang sistem ini segera dicap sebagai “sayap kanan”. Kaum populis, anarkis, libertarian pasar bebas, dan konservatif (dengan huruf “k” kecil), semuanya difitnah sebagai fasis, reaksioner, dan rasis. Taktik semacam ini bukanlah hal baru. Ia hanyalah variasi dari praktik Stalinis pada tahun 1920-an yang melabeli kaum sosialis sebagai “fasis sosial” dan kaum anarkis sebagai “anarko-fasis”.

Ketika kiri berarti etatisme dan kanan berarti anti-etatisme, maka pertentangan antara “kiri” dan “kanan” hanyalah peninggalan usang yang tidak lagi kita perlukan. Perpecahan yang sesungguhnya dalam masyarakat bukanlah antara kiri dan kanan, melainkan antara kaum otoritarian dan anti-otoritarian, antara sentralis dan desentralis, serta antara mereka yang berpikir secara politis dan mereka yang menolak politik sebagai jalan utama. Kiriisme dan libertarianisme tidak dapat dipadukan. Yang pertama berdiri di atas etatisme dan sentralisasi, sedangkan yang kedua berpijak pada desentralisasi dan penentangan terhadap kekuasaan negara. [8] Kaum anarkis seharusnya memutuskan hubungan mereka dengan kiriisme dan menempuh jalan mereka sendiri, bebas dari tali pusar otoritarian yang selama ini mengikat mereka. Ini bukan berarti mendorong sektarianisme. Sudah jelas bahwa kita dapat bekerja sama dengan kaum kiri (atau kelompok mana pun) ketika terdapat kebutuhan atau tujuan bersama. Namun kita tidak boleh terikat secara ideologis pada apa yang disebut sebagai gagasan-gagasan “kiri”.


Ekor Hitam Kecil Kaum Kiri

Apa pun posisi yang diambil kaum kiri terhadap suatu isu, selalu ada anarkis yang ikut mengadopsinya. Pada akhirnya mereka menjadi pembela kultus birokrasi dan etatisme yang dianut kaum kiri. Contohnya sangat banyak. Ambil saja persoalan kesejahteraan sosial. Siapa pun yang mengkritik "negara kesejahteraan" (welfare state) apa pun alasannya, segera dicap sebagai “musuh kaum miskin”. Dan kita dapat menemukan kaum anarkis yang ikut menerima tuduhan semacam itu, meskipun sebenarnya terdapat kritik anarkis yang sangat kuat terhadap sistem kesejahteraan negara. [9]


Pemberontakan Kaum Muda: Sebuah Perjuangan yang Telah Kehilangan Arah

Ini adalah kenyataan demografis. Di negara-negara maju, jumlah remaja dan dewasa muda semakin berkurang. Karena itu, semakin tidak masuk akal untuk mendasarkan strategi politik pada pemberontakan kaum muda atau budaya tandingan (counter-culture). Yang dibutuhkan justru adalah anarkisme yang berakar pada kalangan paruh baya dan generasi lanjut usia. Sebab di sanalah sebagian besar populasi berada. Suasana anti-negara yang berkembang saat ini juga lebih berkaitan dengan persoalan-persoalan yang menjadi perhatian kelompok usia tersebut. Perpajakan adalah contoh yang sangat jelas.


Keusangan Anarkisme Tradisional

Jika neo-anarkisme dipenuhi berbagai kontradiksi, sebagian anarkis tradisional juga menghadapi persoalan mereka sendiri. Mereka memang mengidentifikasikan diri dengan kaum pekerja, dan itu setidaknya merupakan suatu kelegaan, tetapi mereka terjebak dalam cara pandang yang usang. Seolah-olah tidak ada yang berubah sejak tahun 1910. Dalam pandangan mereka, para pekerja masih merupakan kaum miskin yang tertindas dan hidup sengsara, sementara masyarakat masih dikuasai oleh sekelompok kapitalis berperut buncit dan bertopi tinggi yang memanipulasi pemilu serta mengendalikan seluruh media. Bahwa perekonomian modern sebagian besar dijalankan oleh lembaga-lembaga besar, bahwa masyarakat telah menjadi sangat birokratis, dan bahwa mayoritas pekerja, meskipun menghadapi otomatisasi dan pengurangan tenaga kerja, tetap hidup relatif makmur menurut hampir semua ukuran yang ada, tampaknya sama sekali luput dari perhatian mereka. Sebagian anarko-sindikalis juga tampaknya tidak menyadari bahwa kerja tidak lagi menempati posisi yang sama seperti dahulu. Mengorganisir perjuangan semata-mata di sekitar tempat kerja berarti mengabaikan tiga perempat kehidupan manusia. Serikat pekerja pun tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik bagi banyak orang. Sebagian besar justru memandang serikat sebagai satu lagi birokrasi yang dipaksakan kepada mereka (meskipun mereka tetap menyukai upah yang lebih tinggi). Upaya kaum sindikalis untuk menjangkau masyarakat umum memang dilandasi niat baik, tetapi sering kali gagal. Terbelenggu oleh pandangan dunia yang sudah ketinggalan zaman, mereka tidak lagi mengenal ataupun memahami kehidupan orang biasa.

Kecenderungan elitis juga dapat ditemukan di kalangan anarkis tradisional. Anarkisme lahir dari pemberontakan terhadap otoritarianisme yang begitu dominan dalam masyarakat dan terhadap penerimaan masyarakat terhadap otoritas tersebut. Kaum anarkis telah terlalu lama terbiasa menjadi minoritas kecil yang “berseru di tengah padang gurun”, sehingga kesulitan menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat kini menerima banyak gagasan anarkis. Akibatnya, mereka terus berpikir dan bertindak seolah-olah mayoritas masyarakat masih memuja para penguasa mereka. Padahal kenyataannya tidak demikian. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah meyakinkan orang tentang kebusukan sistem yang ada, melainkan menemukan cara untuk membangun sebuah masyarakat yang berskala manusiawi, yang sesuai dengan kebutuhan dan kehidupan nyata manusia.


Bahaya Utopianisme

Dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih bebas dan lebih manusiawi, kita tidak boleh terjebak dalam perangkap utopianisme. Sedikit sekali gagasan yang telah menimbulkan penderitaan sebesar khayalan ini. Kaum utopis merancang skema-skema tentang “masyarakat yang sempurna”, lalu berusaha memaksa semua orang untuk menyesuaikan diri dengan cetakan tersebut. Ketika orang-orang menolak mengikuti fantasi itu, mereka dicap sebagai “terbelakang”, sehingga penggunaan paksaan dianggap perlu. Tujuan akhir dari utopianisme adalah gulag dan kamar gas.

Utopia liberal maupun sosialis hanya dapat berfungsi jika manusia adalah malaikat. Namun kenyataannya, manusia bukanlah malaikat. Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, dan setiap sistem sosial yang kita bangun harus memperhitungkan kenyataan tersebut. Thomas Jefferson memahami hal ini, sehingga ia berupaya membatasi kekuasaan negara sejauh mungkin. Pierre-Joseph Proudhon, yang sering disebut sebagai "Bapak Anarkisme", memiliki kesadaran yang serupa, tetapi melangkah lebih jauh dengan menuntut bukan sekadar pembatasan, melainkan penghapusan negara. Sebab jika kita semua adalah makhluk yang tidak sempurna, yang mampu bersikap serakah, iri hati, bodoh, atau neurotis, mengapa kita harus menempatkan segelintir makhluk yang sama tidak sempurnanya untuk memerintah semua orang lainnya? Siapakah yang pada akhirnya benar-benar lebih baik daripada orang lain?

Kaum anarkis seharusnya tidak mengejar utopia, melainkan berusaha meminimalkan otoritas seseorang atas orang lain, dan karena itu menolak segala bentuk utopianisme. Masyarakat semacam itu tidak akan pernah sempurna. Namun setidaknya ia memberi ruang bagi kita, manusia-manusia yang tidak sempurna, untuk menyelesaikan persoalan dan perselisihan secara langsung, berhadapan satu sama lain, serta menemukan solusi-solusi praktis bagi berbagai masalah sosial dan ekonomi.


Nihilisme adalah Masalah Zaman Kita

Seseorang tidak perlu membaca Friedrich Nietzsche untuk menyadari bahwa persoalan utama di dunia maju saat ini bukan lagi otoritarianisme tradisional, melainkan nihilisme. Gejala nihilisme yang paling mencolok, yang setiap hari diteriakkan kepada kita melalui surat kabar dan siaran berita televisi, adalah runtuhnya keluarga, kecanduan narkoba, kejahatan, dan kenakalan sosial. Namun nihilisme juga memiliki dimensi ideologis. Salah satunya adalah tren akademik yang dikenal sebagai “dekonstruksionisme” (deconstructionism), yang menganggap sejarah tidak memiliki makna atau nilai yang dapat dipercaya. Contoh lainnya adalah multikulturalisme yang didorong secara berlebihan hingga memecah masyarakat dan menghancurkan rasa kebersamaan. Demikian pula Political Correctness, dengan relativisme budaya dan moralnya yang ekstrem. Nihilisme pada dasarnya adalah pandangan bahwa “apa pun boleh dilakukan”, sampai pada saat mereka yang berhasil meraih kekuasaan mulai memaksakan aturan-aturan sewenang-wenang mereka sendiri untuk menggantikan moralitas lama. (Kebenaran adalah apa pun yang dikatakan Partai sebagai kebenaran.) Karena itu, nihilisme merupakan bentuk baru dari otoritarianisme, bahkan jauh lebih berbahaya daripada bentuk lamanya, sebab ia menyamar sebagai sesuatu yang anti-otoritarian dan membebaskan.

Kaum anarkis keliru jika terus menyerang otoritarianisme seolah-olah tidak ada yang berubah dalam seratus tahun. Ancaman yang sebenarnya justru terletak pada bentuk barunya yang nihilistis. Cara terbaik untuk melawan nihilisme adalah melalui etika anarkis. Kaum anarkis yang sejati tidak pernah percaya pada prinsip “apa pun boleh”. Di sinilah terdapat jalan untuk menjangkau masyarakat umum. Kebanyakan orang sangat prihatin terhadap berkembangnya nihilisme pada masa kini, dan sebagai respons mereka mulai kembali, setidaknya sebagian, kepada apa yang disebut sebagai “moralitas tradisional”. Hal ini tidak seharusnya mengejutkan ataupun menggelisahkan kaum anarkis. Sebab konservatisme dan anarkisme memiliki satu kesamaan penting: keduanya menghadapi amoralitas dengan sikap etis yang tegas. Selain itu, tidak selalu terdapat perbedaan yang sangat besar mengenai nilai-nilai etis apa yang dianggap baik dan layak dipertahankan. Kaum konservatif menekankan pentingnya keluarga dan komunitas, serta nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan kemandirian. Kaum sindikalis Prancis pada pergantian abad ke-20 membenci kapitalisme karena mereka menganggapnya merusak keluarga dan komunitas. [10] Nilai-nilai yang mereka tekankan adalah hidup sederhana, penghematan, pendidikan yang luas, dan mutual aid.

Kaum nihilis mungkin akan mencap para anarkis semacam itu sebagai reaksioner. [11] Namun nilai-nilai tersebut justru merupakan sebagian dari fondasi yang memungkinkan suatu masyarakat dapat bertahan dan berfungsi. Tanpa nilai-nilai itu, yang tersisa hanyalah keadaan di mana setiap orang memangsa satu sama lain, sebuah dunia yang dapat diringkas dengan ungkapan: anjing memakan anjing.


Kembali kepada Rakyat

Ketika anarkisme menjadi gerakan massa sekitar 75 hingga 100 tahun yang lalu, ia berbicara dengan bahasa para perajin, petani, dan buruh industri, serta membenamkan dirinya dalam perjuangan dan persoalan yang mereka hadapi. Meskipun anarkisme berbicara atas nama mayoritas masyarakat, ia juga mendorong mereka untuk melampaui chauvinisme, korporatisme, dan berbagai praktik pemecah belah lainnya, sekaligus membela kelompok-kelompok minoritas. Namun isu-isu tersebut bukanlah satu-satunya isi propaganda mereka. Pada dasarnya, para militan anarkis lebih banyak memusatkan perhatian pada kebutuhan dan keinginan rakyat kebanyakan.

Kini keadaannya sangat berbeda. Kaum kiri berusaha memaksakan suatu ideologi kepada rakyat dan memberitahu mereka apa yang harus dipercaya, alih-alih mendengarkan apa yang mereka pikirkan. Alih-alih menjadi sarana bagi rakyat untuk menyuarakan kepentingannya, kaum kiri justru bertindak sebagai juru bicara bagi beragam birokrat kecil yang mengklaim mewakili kaum minoritas, kaum miskin, dan para pekerja. Setiap kali salah satu birokrasi tersebut dikritik, apa pun alasannya, kaum kiri segera melancarkan tuduhan histeris berupa “rasisme”, “menyalahkan korban”, “anti-pekerja”, “seksisme”, dan sebagainya. Sayangnya, sebagian anarkis ikut terbawa arus ini.

Sudah saatnya kembali kepada tradisi lama anarkisme. Sudah saatnya meninggalkan pandangan elitis yang menganggap rakyat sebagai musuh, lalu duduk bersama mereka dan mendengarkan apa yang mereka katakan.

Sebenarnya tidak sulit mendengar apa yang mereka teriakkan. Apakah saya benar-benar perlu menjelaskan apa yang menjadi kegelisahan mereka?


Hal-Hal yang Membuat Orang Muak

  • Pajak—Seorang pekerja rata-rata menyerahkan sekitar 40% pendapatannya dalam bentuk pajak. Bahkan seseorang yang hanya menerima upah minimum tetap memberikan sekitar satu hari kerja setiap minggu kepada pemerintah.
  • Ketidakefisienan Pemerintah— Pajak terus meningkat dan negara terus membesar, tetapi program-program pemerintah tidak menyelesaikan masalah. Jumlah orang miskin bertambah, antrean di rumah sakit semakin panjang, dan banyak layanan publik tidak berjalan sebagaimana mestinya.
  • Regulasi Berlebihan dan Birokrasi—Hampir segala sesuatu memerlukan izin atau lisensi. Segala hal diatur melampaui batas kewajaran. Cobalah membangun rumah sendiri, maka Anda akan melihat betapa banyak peraturan dan ketentuan yang menambah biaya harus dipatuhi.
  • Rekayasa Sosial—Kelompok kecil yang memerintah memaksakan reformasi moral kepada masyarakat yang sebenarnya tidak memintanya. Contohnya adalah sistem kuota dalam bidang ketenagakerjaan.
  • Sentralisasi—Tingkat pemerintahan yang lebih tinggi mendominasi tingkat yang lebih rendah dan membuat keputusan yang sering kali merugikan warga biasa.
  • Pekerjaan—Kurangnya pekerjaan dengan upah yang layak, minimnya kesempatan kerja bagi kaum miskin, tidak adanya kepastian kerja, serta cara pengelolaan tempat kerja yang tidak demokratis.
  • Kemunduran Sosial—Sekolah yang gagal mendidik, runtuhnya keluarga, meningkatnya kejahatan, serta melemahnya rasa tanggung jawab dan penghormatan terhadap individu.
  • Politikus dan Figur Otoritas Lainnya—Mereka dipandang sebagai sosok yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak jujur, dan penuh kemunafikan.


Apa Arti Anarkisme dalam Praktik?

Ada sejumlah prinsip yang menjadi bagian tak terpisahkan dari anarkisme dan saling melengkapi satu sama lain. Tujuh prinsip berikut juga membentuk dasar etika anarkis.

  1. Individualisme—Individu adalah unit sosial yang paling mendasar. Tidak ada ciptaan manusia yang boleh ditempatkan di atas individu, kecuali sejauh individu itu sendiri secara sukarela memberinya kewenangan. Karena itu, tingkat paksaan dalam masyarakat harus ditekan seminimal mungkin.
  2. Mutual Aid—Individu atau komunitas tempat mereka berada bekerja sama untuk saling membantu dalam melakukan hal-hal yang tidak dapat mereka capai sendirian.
  3. Pertukaran—Melalui rasa keadilan yang alami, atau melalui kontrak dan kesepakatan yang dibuat secara sukarela, individu maupun kelompok saling bertukar barang dan jasa secara bebas, baik secara formal maupun informal.
  4. Desentralisme—Kekuasaan politik dan ekonomi dipecah menjadi unit-unit yang sesuai dengan skala kehidupan manusia, seperti bengkel kerja, keluarga, desa, lingkungan, kabupaten, atau wilayah.
  5. Otonomi—Individu dan kelompok harus dibuat semandiri mungkin. Hal ini juga menuntut tingkat tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial yang sangat tinggi.
  6. Pengelolaan Mandiri—Setiap unit sosial dikelola secara demokratis oleh para anggotanya sendiri.
  7. Federalisme—Unit-unit yang terdesentralisasi bersatu berdasarkan kebutuhan bersama. Dalam sebuah federasi yang sejati, kekuasaan selalu mengalir dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah.


Menuju Anarkisme tanpa Tanda Hubung

Bahkan jika Anda hanya membaca buku paling sederhana tentang anarkisme, Anda akan segera menemukan bahwa ada banyak bentuk anarkisme: anarko-komunisme, anarkisme individualis, anarko-sindikalisme, anarkisme pasar bebas, anarko-feminisme, dan anarkisme hijau. Pembagian ini muncul karena orang-orang cenderung mengambil sistem ekonomi favorit mereka, atau mengembangkan anarkisme berdasarkan apa yang mereka anggap sebagai perjuangan sosial yang paling penting, lalu menghubungkannya dengan anarkisme. Di satu sisi, memang bagus mereka membuat hubungan-hubungan seperti itu. Namun di sisi lain, semua itu tampak tidak perlu dan dapat menimbulkan masalah yang serius. Anarkisme sebagai teori kebebasan sejak awal telah menentang dominasi terhadap perempuan. Melalui konsep pertukaran dan tanggung jawab, anarkisme juga memiliki dimensi ekologis. Anarkisme tidak menentang pertukaran bebas ataupun komunisme sukarela, dan sejak lama mendukung pengorganisasian diri para pekerja. Karena itu, sebenarnya tidak perlu menambahkan embel-embel apa pun pada kata anarkisme. Anarkisme sudah mencakup semuanya.

Namun penambahan label-label tersebut mengandung bahaya. Suka atau tidak, setiap orang, tanpa pengecualian, pada suatu saat akan berkompromi, mengubah, atau melunakkan keyakinannya. Yang penting adalah pada titik mana kompromi itu dilakukan. Apakah yang dikorbankan adalah anarkismenya, atau justru unsur lain yang menyertainya? Anda dapat yakin bahwa sebagian besar anarkis yang memakai label tambahan akan lebih mudah melepaskan sisi libertarian dari label tersebut. Sejarah menyediakan banyak contoh mengenai hal ini. Segera setelah Revolusi Bolshevik, ribuan anarko-komunis dan anarko-sindikalis bergabung ke dalam Partai Komunis. Banyak anarko-feminis kemudian mendukung praktik sensor. Sebagian anarkis lingkungan bahkan merasa nyaman mendukung intervensi negara yang kuat. Sementara itu, sejumlah libertarian pasar bebas menjadikan Margaret Thatcher atau Ronald Reagan sebagai sosok yang dipuja. Satu-satunya cara untuk menghindari kompromi-kompromi semacam ini adalah dengan menghapus tanda hubung itu dan menekankan anarkisme itu sendiri.


Apa yang Harus Dilakukan? 

Hal pertama yang harus dilakukan adalah bahwa kaum anarkis harus benar-benar menjadi libertarian. Sisa-sisa kecenderungan kiri yang otoritarian harus ditinggalkan. Kita juga harus menyadari bahwa menjadi seorang anarkis bukan sekadar mengadopsi retorika dan ideologi anti-otoritarian. Menjadi anarkis berarti melakukan transformasi kepribadian: menolak sifat-sifat otoritarian dalam diri sendiri dan menggantinya dengan sifat-sifat libertarian. Selama seseorang masih bersikap elitis, ia hanyalah anarkis di permukaan.

Hal yang sama berlaku bagi anarkis yang tidak toleran terhadap orang lain dan pandangan mereka. Dan seorang anarkis yang gemar berbohong atau memfitnah kelompok maupun individu lain hanyalah seorang fasis yang menyamar dengan buruk. Terlalu banyak orang tertarik kepada anarkisme karena kesalahpahaman bahwa anarki berarti dapat melakukan apa saja sesuka hati. Mereka melupakan bahwa kebebasan selalu memiliki harga. Dan harga itu terlalu berat bagi mereka yang belum dewasa atau masih memiliki watak otoritarian. Harga tersebut adalah tanggung jawab. Seorang anarkis sejati dengan senang hati memikul tanggung jawab itu, karena di sanalah letak hubungan kita dengan sesama manusia. Bahkan, tanggung jawab itulah yang membantu menjadikan kita manusia. Hubungan kita dengan orang lain seharusnya tidak didasarkan pada dominasi ataupun parasitisme. Dasar dari kebebasan adalah pertukaran. Dan pertukaran merupakan fondasi dari seluruh gagasan tentang keadilan, solidaritas, dan otonomi. Tanpanya, masyarakat tidak mungkin dapat bertahan. 

Anarkisme personal inilah yang harus menjadi landasan utama tempat gerakan dibangun. Saat ini, ukuran seseorang disebut anarkis sering kali hanyalah kemampuannya mengucapkan hal-hal yang dianggap benar mengenai isu tertentu. “Garis partai” semacam itu dapat dipelajari hanya dalam beberapa hari. Tanda lain dari seorang “super-anarkis militan” adalah kemampuan memanaskan retorika atau terus-menerus berbicara tentang kekerasan. Siapa pun dapat melakukan itu, bahkan orang yang sangat bodoh sekalipun (terutama orang yang bodoh). Ada pula mereka yang dianggap anarkis karena mampu mengutip “kitab suci” anarkisme pada setiap kesempatan. Memang dibutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari kutipan-kutipan itu daripada sekadar menghafal “garis partai” anarkis. Tetapi setiap pedant yang gemar pamer pengetahuan juga mampu melakukannya.

Perubahan pribadi jauh lebih sulit daripada semua formalitas dangkal tersebut. Karena itu, ketika seseorang berkata, “Saya seorang anarkis”, atau “Saya ingin bergabung dengan kelompok kalian”, hal pertama yang harus dicari adalah anarkisme personalnya. Itulah hal yang paling penting. Menegaskan perlunya anarkisme personal bukan berarti perubahan semacam itu mudah dicapai, ataupun bahwa kita harus menunggu sampai semua orang sehat secara emosional sebelum bertindak. Sebaliknya, kita perlu menyadari pentingnya perubahan tersebut dan secara sadar berusaha mewujudkannya. Untuk menegaskan kembali gagasan ini, berikut adalah beberapa sifat yang perlu kita kembangkan:

  1. Toleransi. 
  2. Kepercayaan kepada orang biasa. 
  3. Sikap skeptis, bukan hanya terhadap pandangan kaum elite, tetapi juga terhadap semua ideologi, termasuk ideologi yang kita anut sendiri.
  4. Kejujuran, bahkan ketika kejujuran itu terasa menyakitkan.
  5. Tanggung jawab.


Aktivitas Individu dan Kelompok Kecil

Inilah bidang di mana kaum anarkis sejauh ini meraih keberhasilan terbesar. Cukup melihat berbagai proyek penelitian individu, toko buku, jurnal, stasiun radio (baik legal maupun bajakan), serta komite-komite aksi. Namun demikian, masih banyak ruang untuk pengembangan dan lahirnya gagasan-gagasan baru.

Komunikasi

Akan selalu ada kebutuhan akan jurnal-jurnal anarkis yang secara khusus ditujukan kepada mereka yang telah berkomitmen pada gagasan tersebut. Namun, itu saja tidak cukup. Ketika anarkisme berada pada puncak popularitasnya, gerakan ini memiliki pers yang berbicara dengan bahasa para pekerja dan perajin serta membahas persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Saat ini, banyak jurnal yang mengaku anarkis justru menggunakan jargon kiri yang sulit dipahami dan lebih banyak membahas kepentingan para penulis maupun editornya sendiri. Pada akhir dekade 1970-an, kaum anarkis mulai menerbitkan lembar berita mingguan atau dua mingguan yang dibagikan secara gratis. Pada dasarnya, ini adalah gagasan yang baik dan layak dipertimbangkan kembali. Namun, lembar-lembar berita tersebut terlalu tenggelam dalam budaya tandingan kiri dan nyaris mengabaikan masyarakat luas.

Salah satu cara menjangkau publik adalah melalui surat kabar mingguan dan media komunitas yang sudah ada. Media semacam itu selalu membutuhkan materi baru. Jika ditulis dengan baik, artikel maupun ulasan buku yang memuat gagasan-gagasan libertarian dapat memperoleh perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan majalah anarkis mana pun. Di beberapa wilayah bahkan tidak terdapat surat kabar komunitas. Kondisi ini membuka peluang bagi kaum anarkis yang memiliki inisiatif untuk mendirikan media komunitas mereka sendiri. Dari luar, media tersebut dapat tampak seperti surat kabar mingguan biasa, tetapi secara halus menyampaikan pesan-pesan libertarian.

Setiap kota besar biasanya memiliki media mingguan yang berfokus pada hiburan dan kebudayaan, yang sering kali dikelola oleh kalangan kiri. Jika seseorang mulai menulis artikel yang benar-benar menyentuh kebutuhan mayoritas masyarakat, publik akan memperhatikannya dan mulai mengikuti kolom atau tulisan orang tersebut. Karena itu, media semacam ini dapat menjadi saluran yang efektif. Bahkan terbuka kemungkinan untuk membangun media hiburan mingguan yang dikelola oleh kaum anarkis sendiri.

Radio kampus, radio komunitas, televisi lokal, maupun radio bajakan telah beberapa kali dimanfaatkan oleh kaum anarkis, tetapi sering kali dilakukan dengan cara yang kurang mudah diakses oleh masyarakat umum. Menyelenggarakan “Jam Anarkis” setiap minggu bukanlah solusi, demikian pula mendirikan stasiun radio yang secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai radio anarkis. Pendekatan semacam itu umumnya hanya menjangkau mereka yang sudah setuju sejak awal. Kebanyakan orang tidak terlalu tertarik pada ideologi; mereka lebih membutuhkan informasi yang relevan dengan kehidupan mereka. Karena itu, pendekatan yang lebih efektif adalah menghadirkan program yang tidak mudah dilabeli secara ideologis, tetapi tetap membawa perspektif anarkis dalam isi dan pendekatannya.

Perkembangan teknologi komunikasi juga tidak boleh diabaikan. Forum daring, papan buletin komputer, dan internet dengan cepat berkembang menjadi sarana komunikasi yang penting. Dalam ruang ini, perlu dibangun dua jenis wadah yang berbeda. Yang pertama adalah forum khusus anarkis untuk diskusi internal yang lebih mendalam. Yang kedua adalah forum yang lebih umum, terbuka bagi khalayak luas, tetapi tetap memiliki orientasi anarkis dalam arah pembahasannya.

Kaum anarkis juga membutuhkan lembaga kajian atau pusat pemikiran yang dapat disamakan dengan versi anarkis dari Fabian Society. Sangat mudah untuk melontarkan slogan tentang penghapusan negara atau mengajukan berbagai program politik. Namun, diperlukan pendekatan yang jauh lebih serius dan mendalam. Saat ini, hanya sedikit orang yang benar-benar berusaha menjawab persoalan-persoalan rumit yang akan muncul dalam proses mengurangi birokrasi masyarakat. Apa yang harus dilakukan terhadap ribuan mantan pegawai pemerintah? Bagaimana mengubah negara kesejahteraan menjadi sistem mutual aid? Bagaimana cara terbaik memperkenalkan pengelolaan mandiri? Selain itu, terdapat kebutuhan mendesak akan penelitian ekonomi dan sosial yang independen, alih-alih terus bergantung pada sumber-sumber kiri yang sering dianggap tidak objektif. Kelompok semacam ini dapat dibangun secara internasional, berkorespondensi melalui internet, serta menerbitkan jurnal, pamflet, dan berbagai kajian mengenai isu-isu kontemporer. Dengan cara demikian, anarkisme tidak hanya menjadi seperangkat slogan politik, tetapi juga berkembang menjadi tradisi intelektual yang mampu menawarkan solusi konkret terhadap persoalan sosial yang kompleks.


Menghadapi Negara

Kaum anarkis harus mengorganisasi diri di tingkat lokal, baik di lingkungan tempat tinggal, desa, munisipalitas, maupun wilayah administratif setempat, dengan berfokus pada persoalan-persoalan yang secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat. Berbagai bentuk ketidakpuasan publik yang telah dibahas sebelumnya seharusnya menjadi bagian dari “program” libertarian. Di tingkat kota, konsep “munisipalisme libertarian” yang dikembangkan oleh Murray Bookchin layak untuk dipertimbangkan. Sebuah organisasi tingkat kota dapat memperjuangkan desentralisasi pemerintahan hingga ke tingkat paling bawah (lingkungan tempat tinggal) dan mendorong otonomi yang lebih besar bagi munisipalitas.

Namun, seberapa keras upaya yang dilakukan, ada satu hal yang tidak dapat diabaikan: Leviathan, yaitu negara pusat. Pada akhirnya, negara harus dihadapi secara langsung, dan hal itu hanya dapat dilakukan melalui gerakan massa berskala nasional. Ini bukan berarti terdapat pertentangan antara organisasi-organisasi lokal dan gerakan yang lebih luas. Sebaliknya, gerakan yang lebih besar harus bertumpu pada fondasi yang dibangun oleh organisasi-organisasi lokal tersebut. Gerakan ini harus berfokus pada satu isu utama, yaitu menyatukan semua orang yang memiliki keluhan terhadap negara ke dalam sebuah gerakan untuk mendesentralisasikan kekuasaan. Gerakan tersebut tidak boleh terseret ke dalam isu-isu sekunder yang berpotensi memecah belah. Persoalan-persoalan semacam itu dapat ditangani oleh kelompok-kelompok lain.

Metode yang dapat digunakan mencakup demonstrasi massal di ibu kota negara, pemogokan besar-besaran, serta pendudukan kantor-kantor pemerintahan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Masyarakat di negara-negara bekas rezim Stalinis telah menunjukkan kemungkinan jalan semacam ini. Tirani di Polandia, Cekoslowakia, Hungaria, dan Jerman Timur runtuh hampir tanpa kekerasan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketika lebih dari 90% penduduk secara aktif menentang negara, hanya sedikit yang dapat dilakukan para birokrat untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Kita sebenarnya tidak terlalu jauh dari angka 90% tersebut. Tugas utamanya adalah membangun oposisi yang aktif sekaligus non-kekerasan. Pentingnya prinsip non-kekerasan tidak dapat dilebih-lebihkan. Kekerasan hanya menguntungkan Leviathan. Dari aksi-aksi teror kaum anarkis pada abad ke-19 hingga pengeboman Oklahoma, pengalaman menunjukkan bahwa tindakan semacam itu hanya berfungsi untuk mendiskreditkan dan memecah belah gerakan revolusioner.


Revolusi tanpa Kekerasan

Sebuah revolusi tanpa kekerasan dapat berkembang dengan cara berikut: Masyarakat mulai mengambil kendali di tingkat lokal, mengembangkan atau menghidupkan kembali berbagai bentuk pemerintahan mandiri, dan secara bertahap mengabaikan negara. Sejumlah politisi di tingkat nasional mulai menyadari berkembangnya sentimen anti-negara dan, baik karena keyakinan yang tulus maupun kepentingan oportunistis, mereka membantu mencegah rezim menyerang gerakan-gerakan desentralis. Mereka juga dapat mengesahkan berbagai undang-undang yang “menjinakkan” negara dan secara bertahap mengurangi kekuasaannya. Pada saat yang sama, demonstrasi yang disertai pemogokan massal berlangsung hampir setiap hari di ibu kota sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan-gerakan lokal sekaligus sebagai sarana untuk terus menekan para politisi. Hubungan dengan kaum anarkis dan para pendukung desentralisasi di negara-negara lain juga perlu dikembangkan guna memastikan munculnya gelombang protes internasional apabila negara memilih untuk menindas kebangkitan gerakan libertarian tersebut. Hasil akhirnya adalah berkembangnya institusi-institusi federal yang benar-benar nyata, yang berakar pada otonomi lokal dan kerja sama sukarela, bukan sekadar menjadi perpanjangan tangan negara pusat.


Beberapa Usulan Programatik

1. Sistem Pendidikan

Salah satu gagasan paling keliru yang pernah lahir dari cara berpikir otoritarian adalah mengonsolidasikan dan mensentralisasikan sistem pendidikan. Tidak mengherankan jika angka putus sekolah tinggi, keterasingan sosial meluas, dan kenakalan remaja berkembang di sekolah-sekolah raksasa yang beroperasi layaknya pabrik. Sekolah perlu dikembalikan ke skala yang lebih manusiawi. Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah sistem voucher, yang memungkinkan orang tua menggunakan bagian mereka dari pajak pendidikan sebagai biaya untuk menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga yang mereka pilih sendiri. Sistem ini juga memungkinkan para orang tua dan guru mendirikan sekolah yang dikelola serta didanai secara mandiri. Departemen pendidikan di tingkat provinsi, negara bagian, maupun federal harus dihapuskan karena dianggap hanya menghabiskan anggaran dan menjadi sumber berbagai kebijakan yang keliru, seperti konsolidasi sekolah.

Alternatif lainnya adalah mempertahankan sistem sekolah negeri, tetapi mengembalikannya ke tangan komunitas lokal. Pendidikan dasar dan menengah sepenuhnya menjadi tanggung jawab desa-desa dan komunitas setempat. Tidak ada sekolah yang seharusnya memiliki lebih dari 250 hingga 300 murid, dan para siswa seharusnya dapat berjalan kaki menuju sekolah mereka.

2. Perumahan

Pada tahun 1950-an, seseorang yang miskin masih dapat membeli sebidang tanah murah di luar kota dan mendirikan gubuk sederhana dari kayu lapis. Uang yang dihemat dari biaya sewa atau cicilan rumah kemudian digunakan untuk membeli bahan bangunan hingga pada akhirnya rumah yang layak dapat dibangun secara bertahap. Ketika melakukan perjalanan di Prancis beberapa tahun lalu, saya melihat rumah-rumah di kawasan pinggiran yang diiklankan dengan luas hanya sekitar 400 kaki persegi. Karena ukurannya yang kecil, harganya cukup terjangkau bagi hampir semua orang kecuali mereka yang benar-benar hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kedua alternatif tersebut pada dasarnya tidak mungkin diwujudkan di Amerika Utara karena bertentangan dengan peraturan daerah setempat. Peraturan-peraturan semacam itu merupakan hambatan terbesar yang menghalangi kaum miskin untuk memiliki rumah mereka sendiri. Sebagai gantinya, negara menawarkan perumahan bersubsidi atau perumahan milik negara, yang biayanya sangat mahal dan jumlahnya tidak pernah mencukupi kebutuhan. Solusi yang diajukan adalah mencabut kewenangan pemerintah untuk mengatur pembangunan rumah, kecuali dalam hal keselamatan bangunan, pencegahan kebakaran, kesehatan, dan perlindungan lingkungan. (Dalam hal ini, peraturannya harus tetap masuk akal.) Masyarakat juga dapat membentuk koperasi pembangunan perumahan untuk membeli lahan, memperoleh bahan bangunan secara kolektif, dan saling membantu dalam proses pembangunan. 

3. Reformasi Agraria

Pemerintah (di tingkat negara bagian, provinsi, maupun federal) merupakan pemilik tanah terbesar. Sebagian besar tanah tersebut dibatasi untuk permukiman atau penjualan, yang secara artifisial menaikkan harga properti dan membuat kaum miskin semakin sulit memiliki rumah sendiri. (Hal ini terutama berlaku di wilayah Barat.) Sebaliknya, para birokrat negara sering memberikan atau menyewakan tanah dengan harga yang sangat murah kepada para kroni mereka untuk pembangunan jalur kereta api, pertambangan, bendungan, atau operasi penebangan kayu. Kepemilikan atas lahan yang begitu luas secara alami memberikan negara keunggulan besar atas komunitas-komunitas lokal. Seluruh tanah milik negara seharusnya segera diserahkan kepada munisipalitas, desa, atau wilayah administratif setempat. Penyerahan tersebut harus disertai dengan ketentuan-ketentuan perlindungan lingkungan. Untuk mencegah kemungkinan korupsi di tingkat lokal, setiap penjualan atau penyewaan tanah milik komunitas harus diawasi oleh dewan yang dipilih secara demokratis, sementara setiap pengalihan lahan dalam skala besar harus disetujui melalui referendum dengan dukungan minimal 2/3 suara. Ini juga dapat menjadi cara untuk menyelesaikan tuntutan hak atas tanah masyarakat adat, yaitu dengan menyerahkan tanah-tanah milik pemerintah yang berada di sekitar komunitas adat kepada mereka.

4. Layanan Kesehatan

Kita sering mendengar tentang krisis layanan kesehatan. Katanya, dana yang tersedia tidak pernah cukup. Tidak mengherankan jika hal itu terjadi pada lembaga yang dikelola negara. Enam puluh tahun lalu, sebagian besar penduduk Britania Raya tercakup dalam sistem asuransi rumah sakit yang dibentuk oleh serikat-serikat buruh dan berbagai organisasi nirlaba lainnya. Di Prancis modern, layanan kesehatan sebagian besar berada di tangan lembaga mutual aid yang bersifat nirlaba dan dikelola secara demokratis. Salah satu faktor yang membantu menekan biaya dalam lembaga-lembaga tersebut (selain karena mereka lebih efisien daripada pemerintah) adalah bahwa para dokter bekerja sebagai pegawai tetap, bukan dibayar berdasarkan jumlah kunjungan pasien. Layanan kesehatan seharusnya diserahkan kepada lembaga-lembaga mutual aid, sementara bagi mereka yang terlalu miskin untuk membayar iuran, negara cukup membayarkan biaya keanggotaan kepada lembaga pilihan mereka. Rumah sakit seharusnya dimiliki, dikelola, dan didanai secara langsung oleh lembaga mutual aid atau oleh komunitas setempat. Situasi di mana negara dapat memerintahkan sebuah rumah sakit komunitas untuk ditutup tidak boleh lagi terjadi.

5. Asuransi Pengangguran

Dahulu serikat-serikat buruh memiliki sistem asuransi pengangguran mereka sendiri. Bahkan, inilah salah satu alasan utama mengapa serikat buruh dibentuk. Memang, pengambilalihan oleh pemerintah memperluas cakupan perlindungan hingga mencakup mereka yang bukan anggota serikat. Namun, seperti yang sering terjadi, sistem tersebut pada akhirnya mengalami krisis. Asuransi pengangguran harus diambil dari tangan negara dan diserahkan kepada mereka yang benar-benar menggunakan dana tersebut. Tidak ada alasan mengapa koperasi asuransi yang dijalankan dengan prinsip-prinsip "serikat kredit" (credit union) tidak dapat dibentuk. Para pekerja seharusnya membayar seluruh iuran mereka sendiri agar tidak perlu melibatkan pemberi kerja dalam pengelolaan dana tersebut (dan dengan demikian menghindari munculnya konflik kepentingan). Sekilas hal ini mungkin tampak memberatkan, tetapi itu tidak akan menjadi masalah apabila seluruh iuran tersebut dapat dikurangkan dari pajak secara penuh (100% tax deductible).

6. Dana Pensiun

Orang-orang yang mencetuskan konsolidasi sekolah tampaknya juga merupakan pihak yang merancang skema pensiun pemerintah. Alih-alih mengambil potongan gaji untuk dana pensiun dan menginvestasikannya (sebagaimana akan dilakukan oleh siapa pun yang memiliki sedikit akal sehat), pemerintah federal justru menghabiskan uang tersebut. Akibatnya, dana pensiun harus dibayar dari pendapatan umum negara. Ketika generasi baby boomers memasuki masa pensiun, negara tidak akan mampu memenuhi kewajibannya. Solusinya adalah menghapus sistem pensiun yang ada saat ini, dengan tetap mempertahankan hak mereka yang sudah menerima pensiun atau yang telah mendekati usia pensiun. Setiap orang lainnya harus menerima bagian dari dana yang telah mereka bayarkan sebelumnya untuk kemudian ditempatkan dalam dana pensiun pilihan mereka sendiri. Seluruh pekerja diwajibkan menyisihkan minimal 10% dan maksimal 20% dari pendapatan mereka ke dalam dana pensiun, dengan seluruh kontribusi tersebut dapat dikurangkan dari pajak. Para pekerja yang terlalu miskin untuk memenuhi kontribusi minimum dapat menerima bantuan untuk melakukan pembayaran tersebut. Idealnya, dana-dana pensiun dikelola secara demokratis seperti serikat kredit, sehingga para peserta memiliki suara dalam menentukan bagaimana dana mereka digunakan. Seluruh dana pensiun juga harus diasuransikan (seperti rekening bank) agar tidak ada seorang pun yang jatuh miskin apabila sebuah dana pensiun mengalami kebangkrutan. Dana pensiun memiliki keuntungan tambahan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dana-dana tersebut akan menjadi pemilik perusahaan-perusahaan besar, sehingga pemisahan antara pekerja dan pemilik pada akhirnya akan menghilang.

7. Megaproyek

Negara tidak boleh lagi memiliki hak untuk mendanai atau mensubsidi proyek-proyek raksasa yang mahal, boros, dan tidak berguna. Kanada dipenuhi oleh rel kereta yang tidak menuju ke mana-mana, bendungan yang mengekspor listrik di bawah biaya produksi, jembatan yang tidak diperlukan, jaringan jalan bebas hambatan yang menghancurkan kota, bandara-bandara yang berlebihan, proyek pasir minyak (Tar Sands Projects) yang tidak pernah menghasilkan setetes minyak pun, serta stadion bernilai miliaran dolar dengan atap yang dapat dibuka-tutup tetapi bahkan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Korupsi dalam skala yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh para kaisar Romawi ini dapat dihentikan. Setiap pengeluaran berskala besar harus disetujui melalui referendum dengan dukungan minimal 2/3 suara. Prinsip NIMBY (Not In My Back Yard) juga dapat diterapkan, yaitu bahwa setiap proyek pembangunan yang berpotensi memengaruhi suatu wilayah harus memperoleh persetujuan dari masyarakat yang akan terdampak (dengan dukungan minimal 2/3 suara). Selain itu, hak negara untuk melakukan pengambilalihan paksa atas tanah harus dihapuskan.

8. Pengurangan Jam Kerja

Pembagian pekerjaan perlu didorong, dan para pekerja harus diberi kebebasan untuk menyepakati minggu kerja empat hari. Lapangan kerja perlu didistribusikan lebih merata sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk bekerja. Jika setiap akhir pekan menjadi akhir pekan panjang, akan terjadi peningkatan besar dalam kegiatan sukarela dan berbagai aktivitas waktu luang. Pada gilirannya, hal ini akan memberikan dorongan tambahan bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Jika dilihat secara terpisah, tidak satu pun dari langkah-langkah ini yang tampak sangat radikal. Semuanya pernah diusulkan oleh orang lain, dan semuanya sejalan dengan apa yang tampaknya diinginkan banyak orang. Namun, apabila kedelapan usulan ini diterapkan secara bersamaan, dampaknya akan mengubah dan merevolusi masyarakat secara menyeluruh. Sebagian besar penduduk akan memperoleh kendali yang lebih besar atas kehidupan mereka sendiri karena memiliki kemampuan untuk membatasi kekuasaan negara, birokrasi, dan perusahaan-perusahaan besar.


Catatan Kaki:

[1] “Libertarianisme tradisional”, yakni tradisi anarkis Eropa dari Pierre-Joseph Proudhon hingga Colin Ward, individualisme Amerika yang dicontohkan oleh Josiah Warren dan Benjamin Tucker, serta sindikalisme, memandang penghapusan negara sebagai tujuan akhir. Sebagian besar libertarianisme modern yang disebut sebagai “sayap kanan” sebenarnya merupakan bentuk liberalisme negara terbatas.

[2] Pentingnya tokoh-tokoh seperti Sam Dolgoff, Murray Bookchin, Dorothy Day, Paul Goodman, George Woodcock, dan Art Bartell tidak boleh diremehkan. Mereka memberikan pengaruh positif terhadap kemunculan Kiri Baru dan neo-anarkisme pada masa awal perkembangannya.

[3] Tidak diragukan lagi bahwa akan ada yang menuduh saya ingin mengabaikan kelompok-kelompok minoritas. Dalam bahasa yang lugas, hal itu bukan yang saya maksud. Persoalannya bukan terletak pada keterlibatan dalam berbagai perjuangan mereka, melainkan pada kecenderungan untuk sepenuhnya mengabaikan mayoritas populasi. Selain itu, ada masalah lain, yaitu kecenderungan memandang kelompok minoritas secara reduksionis. Apakah seorang akademisi kulit hitam bergelar doktor memiliki lebih banyak kesamaan dengan masyarakat miskin di ghetto, atau dengan orang-orang berpendidikan tinggi lainnya, terlepas dari ras mereka? Faktor-faktor seperti kelas sosial, pendidikan, pendapatan, budaya, dan ideologi sering kali jauh lebih menentukan daripada ikatan keturunan semata.

[4] Seperti Black Flag dan Open Road.

[5] Untuk kritik yang lebih mendalam terhadap political correctness (PC), lihat Laughter Is Bourgeois.

[6] Jika negara adalah musuh dan sumber ketimpangan kapitalis (sebagaimana pandangan tradisional anarkis), lalu apa sebenarnya “kiri” selain bagian dari musuh tersebut? Namun demikian, tidak perlu diragukan bahwa sebagian besar kaum kiri adalah orang-orang yang tulus dan sungguh-sungguh ingin membantu kaum miskin dan tertindas. Persoalannya adalah mereka tidak dapat membayangkan cara lain untuk melakukannya selain melalui pemerintah.

[7] Saya tidak menyukai penggunaan istilah “korporatisme” untuk menyebut negara demokratis karena istilah tersebut sebenarnya lebih tepat digunakan untuk menggambarkan fasisme. Namun, jika dilepaskan dari konotasi “kemeja hitam”-nya, istilah itu tetap mengandung unsur kebenaran. Pada tahun 1970-an, kelompok kiri radikal sering menggunakan istilah tersebut untuk menyebut demokrasi sosial sebagai cara untuk menyiratkan bahwa sistem itu bersifat fasis (sementara Stalinisme tentu saja dianggap tidak demikian). Ironisnya, orang-orang yang sama sekarang berada di garis depan dalam membela “korporatisme”, dengan tingkat histeria yang sama seperti yang dahulu mereka gunakan untuk menyerang kaum kiri moderat. Hal itu hanya menunjukkan betapa munafik dan tidak konsistennya mereka.

[8] Keadaannya tidak selalu seperti itu. Pada abad ke-19, sebagian besar kaum sosialis (termasuk Karl Marx) menginginkan perekonomian yang didasarkan pada koperasi-koperasi pekerja. Sekitar seratus tahun yang lalu, orientasi tersebut mulai bergeser ke arah kepemilikan negara. Orang-orang kontemporer yang menyebut diri mereka “anarkis kiri” pada dasarnya sedang merujuk kembali pada periode yang lebih awal itu, yakni masa ketika gerakan kiri anti-negara dalam skala massa masih ada.

[9] Negara kesejahteraan (welfare state), meskipun jelas lebih baik daripada kelaparan, pada kenyataannya merupakan bentuk penindasan yang baru. Secara tradisional, kaum anarkis lebih mendukung kesempatan kerja penuh melalui pembagian kerja dan penyelenggaraan jaminan sosial melalui sistem mutual aid sebagai alternatif yang lebih manusiawi daripada sekadar menggantungkan orang pada tunjangan sosial. Selain itu, tidak ada sosialis abad ke-19 yang mendukung gagasan membayar orang-orang yang mampu bekerja agar tidak bekerja. Mereka akan merasa ngeri terhadap gagasan semacam itu. Yang mereka perjuangkan adalah pengurangan jam kerja secara bertahap dan tersedianya pekerjaan bagi semua orang yang mampu bekerja.

[10] “Keluarga” tidak harus berarti patriarki. Sebagian besar kaum kiri dan anarkis menolak institusi keluarga karena mengaitkannya dengan bentuk keluarga patriarkal yang otoriter. Namun, dalam melakukannya, mereka justru membuang hal yang berharga bersama dengan hal yang bermasalah.

[11] Saya masih ingat, dua puluh lima tahun yang lalu, bagaimana para anggota tua Industrial Workers of the World (Wobblies) dan para anarko-sindikalis Spanyol tampak begitu puritan dibandingkan dengan kaum kiri hippie. Padahal, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kami pelajari dari mereka.


Diterjemahkan dari: https://theanarchistlibrary.org/library/larry-gambone-sane-anarchy