Persamaan dan Perbedaan antara Satanisme Modern dan Filsafat Politik Anarkis
Penulis: Cello Latini Pfeil; Bruno Latini Pfeil
Pengantar
Motivasi utama tulisan ini adalah membandingkan filsafat satanisme dan anarkisme. Kami memilih filsafat satanisme sebagai objek analisis karena ia mengkritik agama serta membela, dalam berbagai bentuk, kebebasan penuh dan penghormatan timbal balik. Metodologi yang digunakan mencakup telaah pustaka terhadap literatur anarkis, seperti karya-karya Bakunin, Malatesta, dan Kropotkin, serta literatur satanis, seperti karya-karya LaVey, Gilmore, dan Vivdivs. Selanjutnya, disajikan analisis komparatif terhadap kedua filsafat tersebut dengan menyoroti aspek-aspek yang berbeda maupun serupa, sekaligus membahas unsur-unsur yang melandasi kemunculan masing-masing teori.
Pendahuluan
Baik satanisme modern maupun anarkisme secara historis sama-sama menjadi sasaran berbagai tuduhan yang keliru. Di satu sisi, satanisme dipandang sebagai kumpulan kultus yang memuja iblis, mendorong kerasukan, memelihara kekuatan-kekuatan jahat, dan mengorbankan anak-anak. Di sisi lain, anarkisme dipersepsikan sebagai kekacauan dan huru-hara, penghancuran terhadap segala sesuatu, kekerasan tanpa kendali, serta vandalisme. Kesalahpahaman yang umum terhadap kedua filsafat ini adalah anggapan bahwa keduanya sama-sama mencerminkan kekacauan dan kebrutalan. Sebagaimana akan kami tunjukkan, anggapan tersebut merupakan kesalahpahaman yang menghalangi pemahaman atas persamaan maupun perbedaan di antara keduanya.
Sebagaimana ditunjukkan oleh para anggota dan pendiri satanisme modern, pandangan umum mengenai satanisme bertentangan dengan kenyataannya. Demikian pula, pandangan umum mengenai anarkisme juga bertentangan dengan apa yang dijelaskan oleh para teoretikus dan aktivis anarkis. Meskipun demikian, filsafat satanisme modern dan filsafat anarkisme memiliki perbedaan mendasar dalam landasan, prinsip, dan sejarahnya, namun juga memperlihatkan sejumlah kesamaan. Tulisan ini bertujuan mengkaji dalam aspek-aspek apa kedua filsafat tersebut saling bertemu maupun saling melengkapi. Untuk itu, kami terlebih dahulu menguraikan definisi satanisme modern dan anarkisme sebelum membandingkan keduanya. Pembahasan dimulai dengan satanisme.
Menurut Ahriman (2019), satanisme tidak muncul pada abad terakhir. Sejak lama, berbagai entitas yang dikaitkan dengan kegelapan dan kejahatan telah dihubungkan dengan kelompok-kelompok tertentu. Orang-orang yang pada masa kini mungkin akan dianggap sebagai satanis pada waktu itu dipandang sebagai kaum pagan atau bid'ah, sehingga dianiaya dan dimusnahkan oleh Gereja. Ahriman berpendapat bahwa banyak kelompok yang dicap sebagai satanis sebenarnya merupakan kelompok-kelompok yang tersisihkan secara sosial: "sepanjang sejarah Kekristenan, setiap kelompok dapat dianggap sebagai kelompok Satanis menurut otoritas yang berkuasa." (Ahriman, 2019, hlm. 6–7).
Ahriman menyatakan bahwa satanisme mulai mengambil bentuk awalnya pada abad ke-18 melalui pembentukan Hell-Fire Club, yang dipimpin oleh Sir Francis Dashwood di Irlandia dan Britania Raya. Klub tersebut masih sangat berbeda dari apa yang kini dipahami sebagai satanisme; ia mempertemukan anggota-anggota elite Inggris dan memberi mereka akses terhadap berbagai kesenangan yang secara moral dianggap tercela. Adapun filsafat satanisme modern baru muncul pada dekade 1960-an melalui pemikiran okultis Amerika Utara, Anton Szandor LaVey. Tulisan ini akan menyajikan ringkasan singkat mengenai perkembangan satanisme LaVeyan, atau satanisme modern, beserta berbagai percabangannya pada akhir abad ke-20. Oleh karena itu, setiap kali kami menggunakan istilah “satanisme”, yang dimaksud adalah satanisme modern sebagaimana dirumuskan oleh Anton LaVey.
LaVey menyusun suatu struktur bagi satanisme dengan mengorganisasikannya ke dalam ritual dan perayaan, prinsip-prinsip, serta aturan-aturan. Hal ini bukan dilakukan untuk menyamakannya dengan Kekristenan, melainkan untuk mengukuhkannya sebagai sebuah agama yang berdiri sendiri. Dengan demikian, agama satanis secara sadar diciptakan tanpa bersandar pada sosok dewa ataupun nabi, tetapi justru menempatkan dirinya sebagai "agama yang paling sekuler dan paling manusiawi, terlalu manusiawi, di antara semua agama." (Vivdivs, 2019, hlm. 10). Kaum satanis sendiri mengakui bahwa satanisme adalah suatu ciptaan.
Aktivitas satanis LaVey dimulai pada tahun 1966 di Black House, kediamannya di San Francisco, California, yang kemudian berkembang menjadi Church of Satan. Pada awalnya, Black House menjadi tempat berkumpulnya Magic Circle, sebuah kelompok kecil yang mendiskusikan okultisme, sihir, teori-teori seksual, dan berbagai topik lainnya (Vivdivs, 2019). Di Black House pula berlangsung perekaman pertama dari apa yang kemudian dikenal sebagai “Black Mass” (Misa Hitam). Sebelumnya, Ahriman (2019) hanya menemukan satu catatan terdokumentasi mengenai Black Mass, yang berlangsung pada abad ke-17. Ahriman mendefinisikan Black Mass sebagai "liturgi antiklerikal yang bagaimanapun juga dipraktikkan di Barat, sebagai suatu tindakan penghujatan, bukan penegasan." (Ahriman, 2019, hlm. 6). Dalam beberapa hal, Black Mass menyerupai demonstrasi-demonstrasi satanis yang berlangsung pada dekade 1960-an di kediaman LaVey, yang lebih bertujuan mengejek dan menyindir Kekristenan daripada benar-benar menegaskan satanisme. Sosok Setan yang dipuja dalam Black Mass digambarkan sebagai "karikatur Yesus" (Ahriman, 2019).
Selanjutnya, Magic Circle berkembang menjadi Order of the Trapezoid, organisasi pertama tempat satanisme sendiri dipraktikkan. Seiring waktu, Order of the Trapezoid kemudian berubah menjadi Church of Satan, dengan sembilan anggota yang membentuk Council of Nine. Church of Satan didirikan pada malam Walpurgisnacht, yang dirayakan pada 30 April 1966. LaVey menetapkan tahun 1966 sebagai Tahun Pertama, atau Anno Satanas. Menurut Vivdivs, pada titik inilah satanisme melahirkan dua terobosan penting: pertama, mempertemukan perspektif yang pragmatis, materialistis, dan realistis dengan dimensi yang mistis dan ritualistik; kedua, membangun secara formal sebuah agama satanis yang berlandaskan prinsip-prinsip yang menegaskan karnalitas, naluri kebinatangan, dan pemuasan hasrat.
Setelah didirikan, Church of Satan menyelenggarakan upacara pernikahan, pembaptisan, pemakaman, serta seminar mengenai praktik sihir dan agama satanis. Kegiatan-kegiatan ini menarik perhatian media secara luas: “Ritual-ritual yang penuh semangat, ritus kesuburan, ritual penghancuran, upacara pernikahan, ritual shibboleth, pemanggilan dewa-dewa yang telah dimiliki oleh sejarah, pembaptisan dan pemakaman, perayaan Halloween, Walpurgisnacht, serta psikodrama dalam bentuk Black Mass diselenggarakan setiap Jumat malam untuk partisipasi dan hiburan publik. Masa ritual ini bukan sekadar periode penuh lelucon dan penghujatan, melainkan suatu tahap penting dalam pertumbuhan dan penemuan yang membantu membangkitkan serta memusatkan energi yang diperlukan bagi eksperimen-eksperimen pada tahun-tahun berikutnya.” (Vivdivs, 2019, hlm. 30).
Pada tahun 1967, LaVey mulai dikenal dengan sebutan "Paus Hitam" (Black Pope) dan mulai memberikan berbagai wawancara yang membuat satanisme semakin populer. Dua tahun setelah pendiriannya, Church of Satan telah memiliki sekitar sepuluh ribu anggota dan terus berkembang, bertepatan dengan terbitnya The Satanic Bible. Setelah itu, LaVey menerbitkan sejumlah karya lain yang kemudian membentuk kumpulan rujukan utama mengenai filsafat satanisme. Dekade 1960-an menjadi masa kejayaan LaVey dan berkembangnya satanisme modern di Amerika Serikat.
Sementara itu, sejarah anarkisme sedikit lebih tua dibandingkan sejarah satanisme modern. Tokoh pertama yang secara terbuka menyebut dirinya sebagai seorang anarkis adalah Pierre-Joseph Proudhon pada tahun 1840, ketika ia mengemukakan gagasan tentang suatu masyarakat tanpa pemerintahan maupun otoritarianisme. Sejak tahun 1867, Mikhail Bakunin membela konsep-konsep libertarian seperti federalisme dan kekerasan revolusioner. Pada dekade 1880-an, dunia politik Eropa menyaksikan meluasnya gagasan-gagasan anarkis (Nettlau, 2008). Sebelum periode tersebut, berbagai gerakan komunal telah muncul di Prancis dan Inggris sejak abad ke-14. Selain itu, terdapat pula masyarakat-masyarakat di Afrika yang, dalam bentuk awalnya, disusun berdasarkan prinsip-prinsip komunalisme (Mbah & Igariwey, 2018). Namun, sistematisasi prinsip-prinsip tersebut menjadi sebuah teori politik baru dimulai pada abad ke-19 dalam konteks Eropa melalui pemikiran Proudhon, Bakunin, Emma Goldman, Peter Kropotkin, dan para anarkis lainnya. Di antara prinsip-prinsip utama anarkisme ialah pembelaan terhadap pemerintahan sendiri (self-government) dan penentuan nasib sendiri (self-determination) sebagai unsur mendasar dalam setiap bentuk organisasi dan proses emansipasi; bantuan timbal balik (mutual aid), yang secara khusus dijelaskan oleh Kropotkin (2009), yang berpendapat bahwa praktik saling membantu, bukan persaingan, merupakan faktor utama dalam evolusi spesies; aksi langsung dan penolakan terhadap negara serta otoritas pemerintahan (Malatesta, 2001), karena dalam pandangan ini setiap bentuk otoritas dipandang sebagai sesuatu yang negatif dan merusak organisasi sosial; serta perjuangan untuk menghapus negara beserta seluruh institusinya, termasuk Gereja (Bakunin, 2001).
Di antara berbagai aliran anarkisme, terdapat anarkisme individualis, yang oleh Ervin (2009, hlm. 50) didefinisikan sebagai "lebih merupakan para filsuf daripada aktivis revolusioner." Ada pula anarkisme mutualis, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Proudhon dan berupaya merebut kembali alat-alat produksi serta membangun perdagangan yang bersifat koperatif, dengan tetap mempertahankan penekanan pada kepemilikan individual. Sebaliknya, terdapat anarkisme kolektivis, yang terutama dipengaruhi oleh Bakunin dan menolak penekanan kaum mutualis terhadap kepemilikan individual. Kaum kolektivis membayangkan kolektivisasi alat-alat produksi serta penghancuran total negara. Selanjutnya, ada anarko-sindikalisme, yang berakar pada gagasan kolektivis, tetapi menerapkannya dalam konteks gerakan buruh di Prancis dan Spanyol. Bagi kaum anarko-sindikalis, penghancuran negara kapitalis harus diwujudkan melalui aksi mogok, sementara perebutan alat-alat produksi dilakukan melalui serikat-serikat pekerja. Jika anarko-sindikalisme berfokus pada lingkungan kerja, maka anarko-komunisme memperluas cakupannya ke seluruh bidang kehidupan sosial berdasarkan gagasan-gagasan Kropotkin. Anarko-komunisme menentang keseluruhan struktur kapitalisme dan bertujuan "mendorong tumbuhnya suatu masyarakat baru, di mana kebebasan untuk berkembang sebagai individu dipadukan semaksimal mungkin dengan tanggung jawab terhadap sesama." (Ervin, 2015, hlm. 128). Selain itu, terdapat pula gerakan-gerakan anarkis yang lebih baru, seperti autonomisme, yang muncul pada dekade 1980-an.
Meskipun terdapat berbagai perbedaan pandangan di antara sesama anarkis, mereka tetap memiliki sejumlah titik temu. Di antaranya ialah pembelaan terhadap penghapusan negara beserta institusi-institusinya, ketidakpercayaan terhadap sistem politik representatif, kritik terhadap segala bentuk otoritarianisme dan hierarki, serta penolakan terhadap segala bentuk perbudakan, penindasan, dan diskriminasi. Selain itu, banyak anarkis juga melontarkan kritik yang tajam terhadap Gereja dan bukan hanya terhadap keyakinan akan Tuhan, tetapi juga terhadap anggapan bahwa negara memiliki legitimasi. Kaum anarkis memperjuangkan masyarakat tanpa negara, pemerintahan, maupun institusi keagamaan yang berpotensi bersifat menindas.
Kemunculan satanisme modern dan anarkisme berlangsung pada masa dan wilayah geografis yang berbeda. Satanisme modern lahir pada dekade 1960-an di Amerika Serikat, sedangkan anarkisme sebagai teori politik muncul pada paruh pertama abad ke-19 di Prancis. Meskipun anggapan umum sering kali mendekatkan kedua ranah teoretis dan praktis tersebut, wacana anarkisme dan satanisme sesungguhnya memiliki banyak perbedaan. Oleh karena itu, pada bagian berikut akan disajikan tinjauan mengenai prinsip-prinsip satanisme dan anarkisme beserta landasan konseptual dan praktiknya, untuk memahami persamaan maupun perbedaan di antara keduanya.
Prinsip-prinsip Anarkisme dan Satanisme secara Lebih Mendalam
Secara etimologis, menurut LaVey, “Satan” berarti "lawan" atau "musuh", yakni sosok yang diposisikan sebagai pihak yang dilawan oleh orang-orang beragama melalui doa-doa mereka. Anggapan bahwa satanisme identik dengan kultus yang melakukan pengorbanan manusia dalam ritual pemanggilan setan, penyiksaan, hasutan untuk melakukan kekerasan, dan penciptaan kekacauan sosial merupakan kesalahpahaman. Penyembahan terhadap Satan, pengorbanan anak-anak, serta penyebaran narkotika, pornografi, dan film snuff kerap digambarkan sebagai ciri khas agenda satanis, padahal semua itu sama sekali bukan ajaran Church of Satan. Demikian pula, anggapan bahwa anarkisme berarti ketiadaan aturan, kekerasan tanpa alasan, dan kemenangan pihak yang paling kuat sepenuhnya bertentangan dengan apa yang dijelaskan oleh para pemikir anarkis dalam karya-karya mereka. Anarki berarti ketiadaan pemerintahan dan otoritas, sedangkan anarkisme mengembangkan konsep-konsep seperti bantuan timbal balik (mutual aid) dan komunalisme, yang justru secara tegas menolak dominasi pihak yang paling kuat maupun kekerasan yang tidak terkendali. Citra tentang kaum anarkis sebagai sosok yang brutal, emosional, dan tidak rasional masih terus dipertahankan oleh media. Hal ini mendorong munculnya pertanyaan: apa yang sebenarnya melatarbelakangi wacana yang begitu gencar mengenai bahaya anarkisme bagi masyarakat?
Menurut Gilmore (2007), ketika Gereja menyadari bahwa kekuasaannya mulai melemah pada penghujung abad yang lalu, satanisme dijadikan kambing hitam. Memiliki musuh untuk diperangi lebih menguntungkan daripada sekadar memiliki Tuhan untuk disembah. Akibatnya, satanisme kerap dikaitkan dengan penyembahan iblis. Sebagai sosok yang harus dibenci dan dimusnahkan, Setan justru memberikan keuntungan bagi Gereja karena dipersonifikasikan sebagai Kejahatan Besar yang mengancam kemungkinan manusia memperoleh kehidupan abadi di Surga setelah kematian. Sebagaimana ditulis LaVey (1969, hlm. 30), "Tanpa adanya iblis yang dapat ditunjuk sebagai ancaman, para penganut agama Jalan Kanan (right-hand path) tidak akan memiliki sesuatu yang dapat digunakan untuk menakut-nakuti para pengikutnya." Sebagai musuh besar umat manusia, Setan tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan dirinya sendiri, mengemukakan gagasan-gagasannya, ataupun memaparkan motif-motifnya. Dengan menjadikan Setan sebagai musuh utama kebaikan, pertentangan antara mereka yang mengikuti Setan dan mereka yang tidak mengikuti Setan digunakan untuk melegitimasi kebaikan pihak yang dianggap "berbudi luhur". Dalam logika seperti ini, memerangi seorang musuh dianggap lebih efektif daripada benar-benar melakukan perbuatan baik, karena "nilai mereka sebagai manusia diukur bukan berdasarkan apa yang dapat mereka lakukan atau siapa diri mereka, melainkan berdasarkan siapa yang mereka lawan!" (LaVey, 1992, hlm. 6).
Sifat jahat yang dilekatkan pada Satan pada dasarnya muncul karena keterkaitannya dengan aspek-aspek jasmaniah (carnality). Kemenangan satanisme bertumpu pada gagasan bahwa filsafatnya selaras dengan alam. Tatanan alam yang semula tetap dan tidak berubah telah dirusak oleh fanatisme dan kekacauan; para parasit memperkaya diri, sementara individu-individu yang berbakat dan berpotensi justru diperlakukan secara tidak adil. Namun, hukum-hukum alam pada hakikatnya bersifat adil, dan filsafat satanis mengangkat dirinya melampaui kekacauan yang telah muncul. Sebagaimana dinyatakan Gilmore (2007, hlm. 37), "Sang Binatang sedang terbangun, menanggalkan tidur selama dua ribu tahun untuk sekali lagi membersihkan sampah masyarakat dan menegakkan kembali kekuasaan taring dan cakar." Filsafat satanis selaras dengan kodrat manusia; ia tidak mengutuk kecenderungan-kecenderungan alami manusia, melainkan mendorongnya. Dengan demikian, satanisme menjadi ancaman bagi segala bentuk penindasan terhadap naluri, serta pengendalian atas dorongan dan hasrat manusia.
Salah satu nama Satan, "Belial", berarti "tanpa tuan", dan melambangkan "kemandirian sejati, kemampuan mengandalkan diri sendiri, dan pemenuhan diri." (LaVey, 1969, hlm. 60). Gagasan tentang ketiadaan seorang tuan memiliki kemiripan dengan pemikiran anarkis. Kropotkin (2007, hlm. 35–36) mendefinisikan perjuangan kaum anarkis sebagai pertentangan antara "dua prinsip besar yang senantiasa saling berlawanan dalam masyarakat: prinsip kebebasan dan prinsip pemaksaan." Menurut kaum anarkis, pada dasarnya hanya ada dua kubu: mereka yang membela negara, yakni keberadaan seorang penguasa yang berdaulat, dan mereka yang membela kebebasan, yaitu anarki. Dengan demikian, keberadaan seorang tuan atau penguasa bertentangan baik dengan satanisme maupun anarkisme, sehingga pada titik ini kedua filsafat tersebut tampak memiliki kesamaan.
Namun, kesamaan tersebut segera goyah. Menurut Gilmore (2007, hlm. 18), struktur agama dan filsafat satanis dibangun sebagai: "suatu agama yang menjunjung elitisme dan Darwinisme Sosial, yang berupaya menegakkan kembali kekuasaan mereka yang cakap atas mereka yang bodoh, keadilan yang cepat atas ketidakadilan yang lamban, serta menolak penuh egalitarianisme sebagai mitos yang telah melumpuhkan kemajuan spesies manusia selama dua ribu tahun terakhir." (Gilmore, 2007, hlm. 18).
Dari perspektif ini, satanisme berpandangan bahwa terdapat individu-individu yang secara alami memiliki kecenderungan untuk menjalankan aktivitas tertentu, seperti memimpin, sementara yang lain lebih cenderung mengikuti mereka yang memimpin. Oleh karena itu, satanisme memandang dirinya sebagai agama yang didasarkan pada jasa atau prestasi individu, yaitu meritokrasi. Kaum satanis tidak mendasarkan hierarki pada garis keturunan ataupun faktor biologis, melainkan pada pencapaian individu, terlepas dari bakat yang dimilikinya. Satanisme tampak sebagai agama yang elitis, bukan karena berfokus pada aspek-aspek sosial-ekonomi, melainkan karena menghimpun sejumlah kecil individu yang memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang tertentu, yakni mereka yang memiliki bakat yang dapat dikembangkan hingga mencapai potensi sepenuhnya. Sebagaimana ditulis Gilmore (2007, hlm. 23), "Orang-orang bodoh harus menanggung akibat dari perilaku mereka”, sedangkan mereka yang berbakat dan secara alami memiliki kebesaran jiwa harus diakui dan dihargai.
Pandangan tersebut bertentangan dengan gagasan-gagasan anarkis, karena salah satu landasan anarkisme adalah pemerintahan sendiri (self-government) dan kebebasan yang tidak dibatasi. Gilmore, yang mendampingi LaVey dalam membangun struktur Church of Satan, mengkritik egalitarianisme dan mengagungkan kekuasaan orang-orang yang dianggap lebih unggul secara intelektual. Selain itu, ia mengkritik buruknya cara kerja sistem hukum, tetapi pada saat yang sama tetap menegaskan keberadaan dan pentingnya sistem tersebut. Dalam kerangka ini, ketidakadilan yang lamban (languid injustice) merujuk pada sistem hukum modern yang birokratis, sedangkan keadilan yang cepat (prompt justice) dicontohkan melalui penerapan Lex Talionis. Berbeda dengan pandangan Gilmore mengenai kemenangan pihak yang lebih kuat atas yang lebih lemah, Kropotkin berpendapat bahwa kerja sama timbal balik (mutual aid) dan saling mendukung (mutual support) justru merupakan pola yang dominan dalam keberlangsungan hidup berbagai spesies. Menurutnya, bantuan timbal balik dan inisiatif individu menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi kelangsungan hidup dibandingkan prinsip-prinsip individualistis yang dianut oleh Darwinisme Sosial. Dengan demikian, terdapat suatu dikotomi antara individualisme dan kolektivisme dalam filsafat satanis dan filsafat anarkis.
Dalam individualismenya, satanisme mengakui bahwa konsep "baik" dan "jahat" sepenuhnya bersifat subjektif, bergantung pada setiap individu sesuai dengan riwayat hidup, pengalaman, dan keyakinannya. Penilaian mengenai apa yang dianggap baik atau buruk semata-mata ditentukan oleh pertimbangan pribadi masing-masing individu. Menurut LaVey (1992, hlm. 52), "Yang baik adalah apa yang kamu sukai. Yang jahat adalah apa yang tidak kamu sukai." Tidak ada cara bertindak yang secara mutlak benar atau salah; yang ada hanyalah tindakan yang sesuai atau bertentangan dengan kebutuhan dan keinginan setiap orang. Dengan kata lain, satanisme tidak memaksakan suatu moralitas tertentu. Moralitas dipandang sebagai "ciptaan manusia yang dibentuk oleh kepentingan-kepentingan egoistis dari sensualitas yang miskin." (LaVey, 1992, hlm. 42). Satanisme mengakui bahwa "baik" dan "jahat" tidak memiliki keberadaan sebagai konsep yang nyata; keduanya hanyalah abstraksi. Satu-satunya hal yang menjadi dasar bagi pembentukan hukum, dan dengan demikian menentukan apakah suatu tindakan dianggap sebagai tindak pidana, adalah kekuasaan yang diberikan kepada mereka yang dianggap berwenang untuk menetapkan hukum. Sistem politik dan budaya tempat kita hidup dipahami oleh kaum satanis sebagai konstruksi buatan manusia. Oleh karena itu, sistem hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat beroperasi berdasarkan konsep-konsep artifisial dan dikotomis mengenai baik/buruk serta benar/salah. Jika pada masa lampau kewenangan tersebut dianggap berasal dari Tuhan, maka menurut Gilmore, pada masa kini kewenangan itu diberikan kepada mereka yang berada dalam lingkup pemerintahan. Namun, pembentukan suatu yurisdiksi tidak serta-merta berarti bahwa keadilan benar-benar terwujud. Masyarakat tempat kita hidup, menurut Gilmore (2007, hlm. 55), "diperintah oleh para pengacara, bukan oleh keadilan", sehingga "orang-orang kaya dapat lolos dari jauh lebih banyak pelanggaran karena kekayaan mereka memberi mereka kekuasaan, dan dengan demikian juga lebih banyak hak [...]." Oleh sebab itu, kritik satanisme diarahkan kepada sistem politik representatif, khususnya terhadap klaim demokrasi liberal sebagai satu-satunya model pemerintahan yang demokratis dan tempat keadilan ditegakkan secara tertinggi.
Demikian pula, Goldman (2007) menolak alternatif politik berupa demokrasi atau parlementarisme maupun kediktatoran. Menurutnya, kelemahan sistem perwakilan tidak dapat diatasi dengan memperluas demokrasi, ataupun melalui penindasan kebebasan yang lazim terjadi dalam rezim diktator. Sebaliknya, sebagaimana dikemukakan Goldman dan sebagian besar kaum anarkis, perkembangan masyarakat secara bertahap akan mencapai kondisi terbaiknya apabila kebebasan internal semakin diperluas dan otoritas eksternal semakin dikurangi. Melalui pelaksanaan kebebasan tersebut, baik secara kolektif maupun individual (tetapi bukan individualistis), penindasan dapat dihapuskan. Sebab, tidak ada kebebasan untuk menindas dan mengeksploitasi, karena hal itu justru merupakan penyangkalan terhadap kebebasan itu sendiri. Yang ada adalah kebebasan untuk hidup dan untuk melawan setiap pelanggaran terhadap kebebasan. Menarik untuk dicatat bahwa individualisme yang disebut dan dikritik Goldman adalah individualisme yang sama yang digunakan untuk membenarkan hipotesis kontrak sosial, yang pada gilirannya melegitimasi pemusatan kekuasaan di tangan negara.
Dalam hal ini, terdapat beberapa perbedaan penting antara satanisme dan anarkisme. Kaum satanis memahami hubungan antara kebebasan individu dan kepatuhan terhadap hukum melalui konsep tanggung jawab. Sebagaimana dinyatakan Gilmore (2007, hlm. 115–116), "Kebebasan selalu menuntut tanggung jawab, dan tanggung jawab itu mencakup penilaian yang jujur dan akurat terhadap fakta-fakta yang dihadapi, serta keputusan-keputusan yang bijaksana berdasarkan pengetahuan tersebut." Dengan demikian, dan mengingat bahwa menurut filsafat satanis konsep-konsep kolektif mengenai "baik" dan "jahat" merupakan konstruksi yang bersifat abstrak, sehingga hanya individu yang berhak menentukan pengertiannya sendiri tentang baik dan jahat, satanisme tidak membela otoritas hukum secara mutlak. Sebaliknya, satanisme berpandangan bahwa apabila seseorang melakukan tindak pidana, ia dapat dijatuhi hukuman, dan hal itu merupakan bagian dari tanggung jawab individu atas tindakannya sendiri. Satanisme mendorong individu "untuk memahami hukum yang berlaku dan memperjuangkan perbaikannya apabila diperlukan, tetapi sementara itu tetap siap menerima konsekuensinya apabila ketidakpatuhan terhadap hukum berujung pada penuntutan dan pemenjaraan." (Gilmore, 2007, hlm. 115).
Namun, individualisme yang dimaksud Kropotkin dalam karya-karyanya lebih dekat dengan gagasan tentang individualitas, yang ia definisikan sebagai "perkembangan sepenuhnya dari seluruh kemampuan manusia, pertumbuhan yang semakin tinggi dari segala sesuatu yang orisinal dalam dirinya, serta semakin suburnya kecerdasan, perasaan, dan kehendak." (Kropotkin, 2001, hlm. 72). Menurut Goldman (2007, hlm. 31), individualitas adalah "kesadaran seseorang akan dirinya sebagai pribadi yang unik, serta kemampuannya untuk menjalani keunikan tersebut", sedangkan individualisme merupakan "upaya terselubung untuk memaksa dan menundukkan individu dalam keunikannya." (Goldman, 2007, hlm. 32). Individualitas akan tetap bertahan, sementara lembaga-lembaga akan lenyap. Dalam pengertian libertarian, individualitas berbeda dari individualisme karena individualitas berupaya mengembangkan kemampuan-kemampuan khas setiap individu, sedangkan individualisme justru berusaha menghapus ciri-ciri khas tersebut demi mengejar akumulasi, komoditas, dan prestise tanpa henti, sebagaimana dikemukakan Gilmore. Hanya dengan membatasi dan mengarahkan individualitas secara ketat, memaksakan kepatuhan terhadap hukum dan otoritas, serta menanamkan keyakinan akan netralitas sistem hukum, lembaga-lembaga politik dan ekonomi mampu mempertahankan kekuasaannya. Dalam membahas individualisme dalam anarkisme dan satanisme, perlu pula diperhatikan bagaimana satanisme memandang kolektivisme.
Gilmore juga mengemukakan pandangannya mengenai anggapan umum yang mengaitkan satanisme dengan fasisme. Menurutnya, fasisme adalah sebuah doktrin kolektivis yang menuntut individu tertentu untuk tunduk pada kehendak individu-individu lainnya. Karena itu, fasisme menolak individualisme dengan memaksa seseorang "mengorbankan dirinya demi suatu prinsip abstrak yang diperlakukan sebagai entitas suci, yaitu NEGARA." (Gilmore, 2007, hlm. 53). Gilmore menekankan sifat negara yang disakralkan dan memandangnya sebagai institusi yang pada hakikatnya bersifat otoriter serta dapat dibentuk dan dimanfaatkan sesuai kepentingan politik.
Fasisme dipandang sebagai suatu mekanisme untuk mengendalikan "kawanan", yaitu massa orang-orang biasa dalam masyarakat yang terjebak dalam nilai-nilai yang disebarkan oleh budaya dominan dan tidak mampu memahami kenyataan di sekeliling mereka secara sungguh-sungguh. Dengan demikian, karena menekankan individualisme, satanisme tidak dapat disamakan dengan fasisme. Namun, satanisme juga tidak sejalan dengan konsep individualisme dalam anarkisme, yang lebih dekat dengan gagasan tentang individualitas, yakni menghargai kolektivitas dan kerja sama, daripada dengan pengertian individualisme dalam tradisi liberal. Kedua filsafat tersebut kembali bertemu ketika membahas persoalan agama. Pragmatisme, sekularisme, serta pengakuan bahwa manusia tetap membutuhkan ritual dan dogma merupakan aspek-aspek yang jarang dikaitkan dengan satanisme. Satanisme menampilkan dirinya sebagai suatu cara hidup yang sekuler, sehingga membedakan dirinya dari agama-agama lain yang berpusat pada penghimpunan para pengikut. Meskipun satanisme memperoleh popularitas melalui media, misalnya lewat genre musik heavy metal, filsafatnya sendiri jarang dipahami atau dikaji secara serius. Praktik-praktik devosional secara tegas ditolak oleh kaum satanis modern. Karena itu, tidak ada pemujaan terhadap Setan, sebab "praktik-praktik semacam itu tidak lebih dari bid'ah-bid'ah Kristen." (Gilmore, 2007, hlm. 21). Demikian pula, mereka menolak dikotomi antara kegelapan dan cahaya ataupun antara kejahatan dan kebaikan. Bagi satanisme, tidaklah penting apakah setan benar-benar ada atau tidak, ataupun apakah memang sedang berlangsung perang antara kekuatan kegelapan dan kekuatan Tuhan. Satanisme tidak mengajarkan adanya Tuhan Setan maupun suatu alam metafisik yang dihuni oleh kawanan iblis. Sebaliknya, satanisme berpendapat bahwa manusialah yang menciptakan seluruh dewa yang mereka sembah karena ketidakmampuan mereka menerima diri sebagai makhluk yang bersifat jasmani dan naluriah.
Bagi Gilmore, kaum satanis adalah "anti-Kristen" karena secara sadar menolak segala keyakinan yang menuntut pengabdian kepada sesuatu selain manusia itu sendiri. Kaum satanis tidak berusaha mengajak sembarang orang untuk memeluk satanisme. Sebaliknya, mereka membiarkan orang-orang Kristen tetap berada dalam "sistem kepercayaan mereka yang memuakkan", sebagaimana ditulis Gilmore (2007, hlm. 48), "selama mereka menjaganya tetap berada di kalangan mereka sendiri." Menanggapi tuduhan bahwa satanisme mengajarkan penghancuran segala sesuatu, pengorbanan, kekacauan, dan kekerasan, Gilmore mengingatkan pembacanya pada kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh imam-imam Kristen, pembunuhan yang dilakukan selama Inkuisisi, serta penyiksaan dan pengorbanan yang dilakukan atas nama suatu ideologi. Ia kemudian menyatakan, "Merekalah yang berusaha memusnahkan kita. Merekalah yang akan menyalahkan kita atas tindakan-tindakan mengerikan yang mereka sendiri lakukan. Merekalah yang mencintai kematian dan penyiksaan, yang percaya dan mempraktikkan pengorbanan, serta yang meremehkan nilai kehidupan itu sendiri." (Gilmore, 2007, hlm. 48). Berangkat dari kritik serupa terhadap Gereja, Bakunin (2017, hlm. 15) menggambarkan kelas yang berkuasa sebagai "...di dalam Negara, sebagaimana para imam dan pendiri agama berada di dalam Gereja."
Terdapat kesamaan antara sikap anti-Kristen dalam satanisme dan penolakan kaum anarkis terhadap Gereja. Menurut Bakunin, Kekristenan merupakan "agama par excellence" karena mewujudkan "pemiskinan, perbudakan, dan pemusnahan kemanusiaan demi kepentingan keilahian." (Bakunin, 2001, hlm. 18). Bagi Bakunin, keberadaan Tuhan mengandaikan perbudakan manusia, sebab agama dibangun di atas gagasan tentang pengorbanan. Dengan membongkar citra ilahi yang tampak penuh kebajikan, Bakunin menegaskan bahwa "seorang tuan, apa pun yang dilakukannya dan betapapun liberal ia ingin tampak, tidak pernah berhenti menjadi seorang tuan." (Bakunin, 2001, hlm. 21). Dalam pengertian ini, anarkisme menolak hierarki antara tuan dan hamba, dan didefinisikan oleh Malatesta (2001) sebagai ketiadaan pemerintahan, ketiadaan otoritas, serta ketiadaan setiap lembaga yang menempatkan dirinya lebih tinggi daripada yang lain.
Bagi anarkisme, masyarakat tidak memerlukan suatu rezim yang bersifat otoriter, ataupun sekelompok penguasa yang memiliki "kekuasaan, dalam tingkat yang lebih besar atau lebih kecil, untuk menggunakan kekuatan sosial, baik kekuatan fisik, intelektual, maupun ekonomi milik semua orang, guna memaksa setiap orang melakukan apa yang dikehendaki oleh para penguasa itu sendiri." (Malatesta, 2001, hlm. 18–19). Melalui hak istimewa tersebut, para penguasa menegaskan otoritas mereka dan menjalankan penindasan. Oleh karena itu, segala bentuk otoritas dan setiap prinsip pemerintahan harus dihapuskan, kecuali pemerintahan yang dijalankan seseorang atas dirinya sendiri. Menurut Malatesta, penghapusan otoritas berarti menghancurkan mekanisme-mekanisme pengendalian sosial yang menghalangi lahirnya masa depan alternatif yang bebas dari pemerintahan dan negara.
Vivdivs (2019) membahas gagasan tentang masa depan ketika merefleksikan anggapan mengenai kemajuan umat manusia. Menurutnya, kemajuan di berbagai bidang selalu lahir dari keberanian manusia untuk memberontak terhadap figur figur otoritas atau lembaga lembaga kekuasaan. Dalam pengertian ini, satanisme dipandang sebagai agama pemberontakan, dan pemberontakan serta penghancuran dogma selalu menjadi sikap yang diperjuangkan oleh Setan. "Iblis selalu berpendapat bahwa manusia seharusnya mengalami sendiri, bukan sekadar percaya." (Vivdivs, 2019, hlm. 16). Iblis adalah sosok yang menyingkap keyakinan-keyakinan tanpa dasar yang menghalangi manusia mengembangkan potensi mereka. Bagi anarkisme, penghalang tersebut terutama terletak pada keberadaan negara.
Persamaan dan Perbedaan antara Anarkisme dan Satanisme
Mendefinisikan negara bukanlah perkara yang mudah. Dalam banyak hal, yang paling mencirikan suatu struktur pemerintahan adalah gagasan yang melandasinya atau, menurut Graeber (2011), suatu "totalitas imajiner" mengenai masyarakat. Negara memuat gagasan dan imajinasi yang mencakup seluruh tatanan sosial serta berupaya mengaturnya secara koersif. Singkatnya, di balik ideologi negara terdapat gagasan tentang pengendalian. Negara bertumpu pada "cara membayangkan tatanan sosial sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan, yaitu model-model pengendalian." (Graeber, 2011, hlm. 75). Dengan demikian, negara merupakan gabungan berbagai lembaga yang menjalankan suatu bentuk kekerasan untuk menjamin ketertiban sosial, baik melalui kekerasan kepolisian maupun bentuk bentuk pemaksaan lainnya. Siapa pun yang memerintah pada hakikatnya menjalankan tirani, betapapun pemerintahannya diklaim demi suatu kebaikan sosial. Sebelum ada penguasaan atas pengetahuan, terlebih dahulu ada penguasaan melalui kekerasan. Sebagaimana dikatakan Graeber, "Mereka yang memiliki kekuasaan untuk memukul kepala orang kapan pun mereka mau tidak mempunyai alasan untuk mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang-orang tersebut." (Graeber, 2011, hlm. 83). Kekerasan selalu menjadi sarana bagi mereka yang tidak memiliki argumen untuk mempertahankan gagasan mereka, sehingga menjadi landasan utama keberadaan negara.
Berdasarkan pemahaman tersebut, anarkisme memandang bahwa tujuan pemerintahan pada dasarnya selalu bersifat menindas, baik melalui pemaksaan oleh aparat kepolisian, pemungutan pajak, maupun penguasaan wilayah (Malatesta, 2001). Pemerintahan membatasi potensi masyarakat serta menekan ego individu maupun kekuatan kolektif. Menurut LaVey, agama mempertahankan dominasinya dengan menekan ego para pengikutnya dan menundukkan mereka kepada suatu entitas yang lebih tinggi. Berlawanan dengan logika tersebut, satanisme justru mendorong penguatan ego para penganutnya, karena hanya melalui pemuasan ego masing masing seseorang dapat mengalami kehidupan secara utuh. Kaum satanis mengakui hakikat kebinatangan manusia. Bagi LaVey, menjadi seorang satanis merupakan perwujudan yang paling utuh dan paling harfiah dari kehidupan manusia, naluri kebinatangan, dan kebebasan.
Kebebasan yang diperjuangkan anarkisme menolak keberadaan Tuhan karena, "Jika Tuhan ada, manusia adalah budak; sedangkan manusia dapat dan harus bebas; oleh karena itu, Tuhan tidak [boleh] ada." (Bakunin, 2001, hlm. 19). Demikian pula, kritik satanisme terhadap agama ditujukan pada pengekangan berbagai aspek jasmani, naluri kebinatangan, dan emosi manusia yang tidak diterima oleh Kekristenan atau dipaksa melalui proses pemurnian. Lebih jauh lagi, salah satu langkah yang diajukan satanisme dalam membangun masyarakat ideal adalah mengenakan pajak kepada seluruh gereja, karena lembaga-lembaga tersebut dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Dengan demikian, kesakralan yang menjadi dasar pembebasan pajak itu dicabut dari gereja, yakni kesakralan yang, melalui aliansinya dengan elite penguasa, pernah menjadi pembenaran bagi pembentukan negara-negara bangsa di Eropa.
Satanisme bukanlah agama yang berlandaskan kebencian, penghancuran, atau kekacauan, melainkan sebuah filsafat yang berfokus pada kedalaman emosi manusia, kehidupan dalam segala aspek jasmaniahnya, serta berbagai sisi naluriah manusia yang oleh sebagian agama ditekan dan dianggap sebagai dosa. Menurut Gilmore (2007, hlm. 139), kaum satanis "merangkul seluruh spektrum emosi manusia, mulai dari kebencian yang paling gelap hingga cinta yang paling mendalam, yang keduanya sama-sama jarang dialami secara utuh dalam kehidupan kita." Sejauh satanisme menekankan aspek jasmaniah manusia, ia mengakui adanya potensi untuk membenci sekaligus potensi untuk mencintai. Namun, karena mengakui dan mendorong kemampuan manusia untuk mengalami kebencian, kaum satanis kerap dipandang sebagai pemuja kehancuran. Padahal, justru melalui penerimaan dan pendalaman terhadap apa yang dianggap "destruktif", seseorang dapat mengalami secara utuh emosi-emosi yang secara sosial diagungkan, seperti cinta. Baik kaum satanis maupun kaum anarkis sama-sama menghargai realitas konkret. Dalam satanisme, kode etik, dapat dikatakan, berakar pada sifat naluriah manusia sebagai makhluk hidup. Kode etik tersebut seharusnya terwujud secara alami dan jasmaniah dalam diri individu. Namun, sepanjang sejarah berbagai bentuk pemaksaan sosial, terutama yang di Barat dibentuk oleh cara berpikir Kristen, naluri tersebut justru dikutuk dan ditekan. Bagi anarkisme, berbagai bentuk pemaksaan sosial berakar pada prinsip-prinsip semacam itu. Betapapun suatu masyarakat mengklaim dirinya sekuler, pelaksanaan otoritas dalam masyarakat Barat modern tetap berlangsung melalui moralitas yang disakralkan oleh Gereja. Oleh karena itu, sebagaimana ditegaskan oleh Bakunin dan Kropotkin, terdapat hubungan yang sangat erat antara Gereja dan Negara:
“Ketika Gereja di satu sisi dan kaum bangsawan di sisi lain berhasil menundukkan rakyat ke dalam perbudakan, hak untuk membuat hukum pun lepas dari tangan masyarakat dan beralih ke tangan kaum yang memiliki hak istimewa. Gereja terus memperluas kekuasaannya. Didukung oleh kekayaan yang terus menumpuk di dalam kasnya, Gereja semakin mencampuri kehidupan pribadi masyarakat dan, dengan dalih menyelamatkan jiwa, mengeksploitasi tanah milik para tani hamba. Gereja memungut berbagai pungutan dari semua lapisan masyarakat dan memperluas yurisdiksinya. Gereja juga memperbanyak jenis kejahatan dan hukuman, sekaligus memperkaya diri seiring bertambahnya pelanggaran, karena hasil denda tersebut mengalir ke dalam perbendaharaannya.” (Kropotkin, 2009, hlm. 104).
Dalam analisisnya terhadap Alkitab, Bakunin (1970, hlm. 10) menyebut kitab tersebut sebagai "sebuah buku yang sangat menarik dan, pada beberapa bagian, sangat mendalam." Ia menafsirkan tokoh Setan sebagai pembebas Adam dan Hawa dari kepatuhan mereka kepada Yehova. Menurut Bakunin, Yehova menghendaki agar manusia, yang tidak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri, tetap menjadi makhluk yang selamanya hidup seperti binatang, terus merangkak di hadapan Tuhan yang kekal sebagai pencipta sekaligus penguasanya. Ketika Satan mempermalukan Adam dan Hawa karena kepatuhan dan ketundukan mereka yang keliru, mereka dibebaskan melalui buah pengetahuan menuju kebebasan mereka sendiri. Bagi Bakunin, mitos tersebut melambangkan bahwa perkembangan manusia selalu lahir melalui pemberontakan. Perubahan terjadi melalui tindakan melawan, melalui ketidaktaatan terhadap klaim-klaim universal dan terhadap otoritas. Dengan cara yang serupa, satanisme mendorong kemampuan manusia untuk mengalami kebencian serta menerima emosi-emosi yang bersifat destruktif dan memberontak, yakni emosi-emosi yang selama ini ditekan, tetapi justru secara historis dan institusional dipraktikkan oleh Gereja.
Dari sini, Satan berfungsi sebagai simbol manusia yang hidup sesuai kodratnya yang penuh kebanggaan dan bersifat duniawi (Gilmore, 2007, hlm. 21), atau bahkan sebagai cadangan kekuatan yang ada dalam diri setiap manusia dan dapat dimanfaatkan kapan saja. Dalam pandangan satanisme, konsep "Tuhan" merujuk pada keseimbangan alam, yakni tatanan alami semesta, bukan pada suatu entitas mahakuasa yang dapat menciptakan atau menghancurkan apa pun sesuka hati. Sebagaimana ditegaskan LaVey (1969, hlm. 22), "Manusia selalu menciptakan tuhan-tuhannya; bukan tuhan yang menciptakan manusia." Logika yang melandasi filsafat satanisme dalam menjadikan Satan sebagai simbol dijelaskan oleh LaVey (1969, hlm. 24):
“Tuhan dapat melakukan segala hal yang dilarang dilakukan manusia, seperti membunuh, melakukan mukjizat demi memuaskan kehendaknya sendiri, serta mengendalikan tanpa harus memikul tanggung jawab yang nyata. Jika manusia membutuhkan tuhan semacam itu dan mengakuinya, maka sesungguhnya ia sedang menyembah suatu entitas yang diciptakan oleh manusia. Dengan demikian, ia pada hakikatnya menyembah (melalui perantara) manusia yang menciptakan tuhan tersebut. Bukankah lebih masuk akal jika seseorang menyembah tuhan yang ia ciptakan sendiri, sesuai dengan kebutuhan emosionalnya, yaitu sosok yang paling mencerminkan keberadaan dirinya sebagai makhluk jasmani dan duniawi yang memiliki kemampuan berpikir hingga mampu menciptakan konsep tentang tuhan?”
Pandangan ini tidak berarti menolak penggunaan Setan sebagai simbol, pembangunan altar bagi Baphomet, ataupun penggunaan atribut yang menampilkan citra-citra gelap. Bagi LaVey, psikiatri modern telah mengaburkan sisi imajinatif dan magis dalam pengalaman manusia. Satanisme justru mengakui bahwa manusia membutuhkan dogma, fantasi, dan ritual, bukan untuk mengabdi kepada entitas gaib, melainkan sebagai sarana untuk menopang realitas itu sendiri dengan memadukan dasar-dasar psikologi dengan penyaluran emosi yang jujur melalui dogma (LaVey, 1969, hlm. 29). Filsafat satanisme menyediakan dogma yang mungkin dibutuhkan manusia, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan dogma, selama dogma tersebut tidak didasarkan pada gagasan dan tindakan yang bertentangan dengan kodrat manusia, serta selama individu menyadari bahwa ia menggunakan ilusi yang dikendalikan itu sebagai alat untuk menghadapi kehidupan (Gilmore, 2007, hlm. 125). Keberadaan realitas dan fantasi secara berdampingan bukanlah sesuatu yang negatif. Persoalan muncul ketika fantasi yang kita gunakan berubah menjadi paksaan dan diklaim sebagai kebenaran mutlak, sehingga menyingkirkan fantasi orang lain. Pada dasarnya, filsafat satanisme memandang bahwa setiap orang seharusnya tetap berada dalam ranah simboliknya masing-masing. Oleh karena itu, ritual satanis bukan dimaksudkan untuk memanggil Satan atau makhluk-makhluk gaib lainnya, melainkan sebagai bentuk katarsis, baik secara pribadi maupun kolektif, yaitu pelepasan energi emosional yang ingin disalurkan.
Satanisme memiliki ritual dan simbolismenya sendiri, yang ditawarkan kepada para penganutnya sebagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh, tanpa membatasi mereka hanya pada bentuk-bentuk tersebut. Sejalan dengan penekanannya pada individualitas, ritual dalam satanisme tidak berpusat pada orang lain, melainkan pada individu yang melaksanakannya. Ritual satanis dikenal sebagai "Black Mass" (Misa Hitam), yaitu kebalikan dari misa Katolik. Namun, Black Mass, jika dilakukan oleh para satanis, hanyalah sebuah parodi terhadap ritual Kristen sekaligus pertunjukan psikodramatis yang bertujuan memberikan manfaat subjektif bagi orang yang melaksanakannya (LaVey, 1969). Kritik terhadap ritual Kristen melalui bentuk parodi semacam ini juga dapat ditemukan dalam pemikiran anarkis. Menurut Bakunin (2001), meskipun ideologi Kristen mengajarkan bahwa semua manusia sama-sama tunduk kepada Tuhan, pada saat yang sama ia membangun hierarki berdasarkan tingkat inspirasi ilahi. Mereka yang dianggap paling menerima ilham ditempatkan pada posisi terhormat dan berwenang berbicara, sedangkan mereka yang dianggap kurang menerima ilham diwajibkan mendengar dan menaati. Hubungan inilah yang menjadi dasar otoritas Gereja dan Negara, yang oleh Bakunin dipandang sebagai institusi utama yang menopang perbudakan. Apabila Tuhan dipandang sebagai penguasa dan manusia sebagai hamba-Nya, maka siapa pun yang mengklaim dirinya memiliki hubungan istimewa dengan Tuhan hanya dapat melakukannya melalui wahyu ilahi, baik yang dialaminya sendiri maupun yang diakui oleh orang lain. Namun, wahyu selalu membutuhkan penafsiran dan pembelaan atas kebenarannya. Dengan demikian, kedaulatan ilahi pada akhirnya dijalankan oleh manusia-manusia tertentu yang, berkat kedudukan sosial mereka, memperoleh kewenangan untuk menentukan apa yang dianggap adil dan benar serta siapa yang layak memperoleh keselamatan. Dengan kata lain, mereka memegang kekuasaan yang nyaris mutlak. Jika Tuhan adalah tuan dan manusia adalah hamba-Nya, maka orang yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan, memperoleh kekuasaan untuk mengatur para hambanya sekaligus melegitimasi eksploitasi terhadap mereka.
Menurut pandangan ini, iman Kristen membenarkan perendahan diri para pemeluknya karena menciptakan gambaran bahwa penindas hanyalah perantara dari subjek ilahi. Oleh sebab itu, otoritas imam maupun pendeta tidak diakui oleh para satanis, karena sosok Setan dipahami sebagai simbol yang menggugat segala bentuk otoritas. Black Mass membalikkan hierarki yang terdapat dalam Kekristenan, terutama dengan menolak anggapan bahwa seseorang memiliki kemampuan supranatural untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Satanisme sama sekali tidak menaruh perhatian pada kehidupan setelah kematian, karena yang menjadi pusat perhatiannya adalah kehidupan di dunia, di sini dan saat ini.
Satanisme bukanlah sekadar kebalikan dari Kekristenan, dan neraka bukanlah surga bagi para satanis. Meskipun filsafat satanis mencakup beragam keyakinan di antara para penganutnya, ia tidak menetapkan seperangkat aturan yang harus dipatuhi demi memasuki kerajaan Lucifer setelah kematian. Satanisme merupakan filsafat yang berpusat pada diri sendiri dan tidak menganggap entitas metafisis memiliki pengaruh nyata terhadap dunia. Justru karena itulah Setan dipahami sebagai sebuah simbol: "Ia digambarkan sebagai sosok yang penuh kebanggaan dan menolak bersujud kepada Yehova. Dialah yang mempertanyakan otoritas dan mencari kebebasan di luar alam Surga yang menyesakkan." (Gilmore, 2007, hlm. 126).
Meskipun penentuan nasib sendiri juga merupakan salah satu prinsip filsafat anarkis, terdapat sejumlah kritik terhadap cara satanisme memaknai kebebasan. Dalam anarkisme, kebebasan bersifat sekaligus individual dan kolektif. Ia bersifat individual karena individualitas setiap orang harus dihormati, dan bersifat kolektif karena hanya melalui perluasan kebebasan seluruh anggota masyarakat, suatu masyarakat dapat disebut benar-benar bebas. Seperti yang ditulis Mikhail Bakunin (1975), semakin luas kebebasan orang lain, semakin luas pula kebebasan diri sendiri. Hidup sepenuhnya, dengan sesedikit mungkin pembatasan, mengembangkan diri melalui apa yang tersedia dan dapat dicapai, serta berpegang pada kenyataan konkret kehidupan, merupakan cita-cita yang dijunjung oleh satanisme. Kaum satanis memandang diri mereka sebagai sosok yang paling penting dalam hidup mereka sendiri, sehingga mereka menjadi "tuhan" bagi diri mereka sendiri. Namun, dalam pandangan ini tidak terdapat pembelaan yang kuat terhadap pentingnya kebebasan kolektif.
Dengan demikian, kebebasan dalam satanisme bersifat sangat individualistis, sedangkan kebebasan yang diperjuangkan oleh anarkisme tidak terbatas pada individu anarkis yang menghayatinya, melainkan mencakup seluruh orang di sekitarnya. Sebab, "semakin banyak orang bebas di sekeliling saya, dan semakin dalam serta semakin besar kebebasan mereka, maka semakin luas, semakin dalam, dan semakin besar pula kebebasan saya." Dari gagasan inilah lahir ungkapan terkenal Mikhail Bakunin: "Kebebasan pribadi saya, yang diteguhkan oleh kebebasan semua orang, meluas tanpa batas." (Bakunin, 1975, hlm. 22–23). Dengan kata lain, hidup sepenuhnya dengan sesedikit mungkin pembatasan, apabila dipahami semata-mata dari sudut pandang individualistis, tidak sejalan dengan pembelaan anarkisme terhadap kebebasan dan kesetaraan. Bagi anarkisme, kebebasan adalah sesuatu yang bersifat kolektif. Kebebasan seseorang bergantung pada kebebasan semua orang lainnya.
Errico Malatesta (2001) melanjutkan gagasan Bakunin dengan menjelaskan dua unsur utama dalam upaya manusia mempertahankan hidupnya, yaitu perjuangan individu dan kerja sama. Menurutnya, manusia menyadari bahwa melalui kerja sama mereka dapat menjamin keberlangsungan hidup, keamanan, dan perkembangan diri mereka. Melalui solidaritas, kesejahteraan individu berkembang menjadi kesejahteraan bersama; kebebasan seseorang melengkapi kebebasan orang lain, bukan membatasinya. Egoisme tidak dipertentangkan dengan altruisme, karena justru dapat mengarah pada kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Jika saya menghargai keselamatan, keberlangsungan hidup, dan kebebasan saya sendiri, maka saya juga harus memperjuangkan keselamatan, keberlangsungan hidup, dan kebebasan orang-orang di sekitar saya. Dalam pengertian ini, egoisme menjadi bersifat altruistis karena menempatkan nilai pada individu tanpa memisahkannya dari kepentingan bersama. Solidaritas, dengan demikian, berarti "sumbangan setiap orang bagi kebaikan semua, dan sumbangan semua bagi kebaikan setiap orang." (Malatesta, 2001, hlm. 39).
Berbeda dengan altruisme, satanisme mengenal prinsip misantropi, yaitu sikap merendahkan atau memandang rendah kemanusiaan, dengan anggapan bahwa umat manusia tidak memiliki nilai yang melekat pada dirinya sendiri. Gilmore menggambarkan kaum satanis sebagai "misanthropologists" (para pengkaji misantropi). Prinsip ini berkaitan dengan kecenderungan manusia terhadap dogma dan pola pikir massa. Sebagai tandingan terhadap konformitas, satanisme berupaya membebaskan manusia dari cara berpikir yang dogmatis dan mengikuti arus mayoritas. Kaum satanis memandang diri mereka terasing dari lingkungan sekitarnya, mempertanyakan makna nilai-nilai yang dianut orang lain, rutinitas yang dianggap wajar, ritme kehidupan, kewajiban, serta tuntutan budaya yang meresap ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga sering kali diterima begitu saja tanpa disadari.
Keterasingan yang dimaksud dalam satanisme bukanlah keterasingan yang diciptakan oleh Gereja atau media, melainkan upaya mengambil jarak dari keadaan yang dianggap "normal". Dalam pengertian ini, mengasingkan diri dari realitas berarti memandang realitas tersebut secara kritis dan mempertanyakannya. Bagi LaVey, dahulu Gereja merupakan lembaga yang memiliki kekuasaan terbesar atas manusia. Namun, posisi tersebut kini telah digantikan oleh televisi, atau lebih tepatnya oleh apa yang diwakili televisi, yaitu konsumerisme, media massa, dan pembentukan apa yang disebut LaVey sebagai "the herd" (kawanan). Dengan demikian, bid'ah modern bukan lagi ditentukan oleh percaya atau tidak percaya kepada entitas kosmis, melainkan oleh penolakan terhadap gaya hidup yang dibentuk oleh televisi dan budaya konsumtif. Namun demikian, melemahnya pengaruh Gereja bukan berarti masyarakat terbebas dari agama. Mustahil hidup tanpa pengaruh agama dalam masyarakat yang nilai-nilai moralnya, betapapun sekuler tampaknya, dibangun di atas fondasi religius. Karena itu, kaum satanis secara terbuka menyebut diri mereka sebagai kaum bid'ah, baik terhadap dogma keagamaan yang dipaksakan sebagai kebenaran mutlak maupun terhadap gaya hidup yang tunduk pada norma-norma sosial.
Gilmore (2007, hlm. 153) mendefinisikan kaum satanis sebagai orang-orang yang "menikmati kehidupan di sini dan sekarang, serta tidak mencari kehidupan setelah mati yang bersifat fiktif." Pada titik inilah muncul potensi perbedaan dengan pendekatan anarkis, terutama karena kaum satanis tetap tunduk pada yurisdiksi negara tempat mereka hidup. Gagasan tentang yurisdiksi sering muncul dalam pemikiran Gilmore karena ia memandang satanisme sebagai filsafat yang realistis. Atas nama realisme tersebut, satanisme menerima keberadaan norma-norma negara. Hal ini mengisyaratkan bahwa sikap tidak patuh sebagaimana dipraktikkan dalam anarkisme dapat dipandang sebagai sesuatu yang idealistis atau utopis. Meskipun demikian, keberlangsungan kebebasan dalam anarkisme bergantung pada dua hal. Pertama, penerimaan terhadap realitas komunal, yaitu bahwa setiap orang harus saling menghormati, berbeda dari moral lama yang bersifat patriarkal, religius (Kristen), dan hierarkis. Kedua, pemahaman terhadap kenyataan sosial yang sedang dihadapi, sebab gerakan untuk melawan negara beserta institusi-institusinya hanya dapat dibangun apabila orang memahami terlebih dahulu dinamika politik yang membentuk kondisi tersebut.
Gilmore menganggap idealisme sebagai praktik yang cukup berbahaya karena dapat berujung pada penempatan apa yang "seharusnya ada" di atas apa yang benar-benar "ada" (Gilmore, 2007). Satanisme memandang dirinya sebagai filsafat yang realistis dan mengaitkan idealisme dengan agama-agama yang berusaha memaksakan proyeksi-proyeksi esoterisnya ke atas kenyataan. Dalam pengertian ini, kaum satanis menolak segala bentuk pengorbanan yang dilakukan demi suatu simbol yang membawa muatan ideologis.
Dalam beberapa hal, penolakan satanisme terhadap idealisme dan kedekatannya dengan realisme memiliki kemiripan dengan kedekatan anarkisme terhadap materialisme. Menurut Graeber (2011), bangsa dan sistem politik hanyalah abstraksi belaka. Tidak ada totalitas yang tidak lahir dari imajinasi manusia. Satu-satunya hal yang membuat suatu kenyataan tampak nyata adalah keyakinan terhadap kenyataan tersebut. Menurut Graeber (2011, hlm. 57), "setiap orang, setiap komunitas, setiap individu hidup dalam semestanya sendiri yang unik." Gagasan ini selaras dengan citra kaum satanis sebagai individu yang berpakaian dan berperilaku sesuai kehendaknya sendiri, mengonsumsi apa yang mereka inginkan, serta menegaskan cara hidup mereka sendiri.
Meskipun demikian, terdapat perbedaan pandangan antara satanisme dan anarkisme dalam memaknai idealisme dan realisme. Mungkinkah altruisme dalam anarkisme hidup berdampingan dengan egoisme dalam satanisme, sehingga keduanya merangkul sekaligus dimensi individualistis dan kolektif yang ada dalam diri setiap individu? Dengan pertanyaan ini kami mengakhiri pembahasan dalam kajian ini. Setelah menguraikan persamaan dan perbedaan antara anarkisme dan satanisme, kami berupaya mendorong perdebatan mengenai kemungkinan dan batas-batas kedua filsafat tersebut.
Kesimpulan
Kajian ini menunjukkan adanya sejumlah persamaan sekaligus perbedaan mendasar antara anarkisme dan satanisme. Individualisme dalam satanisme bertolak belakang dengan orientasi kolektivis dalam anarkisme, meskipun kedua filsafat sama-sama menempatkan penegasan diri dan otonomi sebagai prinsip yang fundamental. Penolakan anarkisme terhadap Gereja memiliki kemiripan dengan kritik satanisme terhadap institusi yang sama. Namun, penekanan satanisme pada yurisdiksi dan negara sebagai institusi sosial utama berbeda dengan anarkisme, yang justru berupaya membongkar otoritas negara. Dengan demikian, meskipun memiliki beberapa titik temu, satanisme dan anarkisme juga memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Perbedaan ini menggugurkan anggapan umum yang menyamakan keduanya dalam stigma dan stereotip yang sama. Meski demikian, terdapat pula sejumlah gagasan yang memperlihatkan kedekatan antara kedua filsafat tersebut.
Church of Satan tidak mengharuskan para anggotanya menjalani gaya hidup yang kaku dan baku. Sebaliknya, mereka didorong untuk menerapkan dasar-dasar filsafat Anton Szandor LaVey sesuai dengan cara yang paling sesuai bagi kehidupan masing-masing. Menurut Gilmore (2007), tidak ada yang dapat disebut sebagai "komunitas satanis" dalam arti yang seragam, justru karena adanya keragaman dan perbedaan yang sangat besar di antara anggota Church of Satan. Sebagaimana dinyatakan Gilmore (2007, hlm. 105), "Kaum satanis merupakan individu-individu yang sangat beragam dan mungkin hanya memiliki sedikit kesamaan, selain kenyataan bahwa pendekatan mereka terhadap kehidupan membuat mereka sama-sama memilih menyebut diri sebagai 'Satanis'." Walaupun terdapat beberapa pandangan yang sejalan, seperti kecintaan dan penghormatan terhadap hewan, keinginan akan keadilan yang cepat, serta selera estetis yang menolak segala sesuatu yang biasa-biasa saja atau medioker (Gilmore, 2007, hlm. 105), gaya hidup, hierarki pribadi, struktur keluarga, selera, hobi, pendidikan, profesi, dan berbagai aspek lain dalam kehidupan seseorang yang menyebut dirinya satanis dapat, dan pada umumnya memang, sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan kehidupan anggota Church of Satan lainnya.
Pandangan ini memiliki kemiripan dengan apa yang dikemukakan oleh Ervin (2015) mengenai beragam corak anarkisme. Di dalam gerakan anarkis terdapat banyak perbedaan pandangan yang tidak serta-merta saling meniadakan. Sebagian anarkis memandang kekerasan sebagai sarana untuk melawan negara, sementara yang lain menganggap kekerasan hanya dapat dibenarkan dalam situasi tertentu, misalnya sebagai bentuk pembelaan diri. Ada pula yang membayangkan sistem ekonomi tanpa uang yang bertumpu pada pertukaran jasa, sedangkan yang lain menolak seluruh gagasan mengenai pertukaran komersial. Anarkisme tidak memiliki satu tokoh besar yang menjadi sumber tunggal gagasan atau pusat lahirnya berbagai aliran. Berbagai kelompok anarkis lebih banyak dibedakan oleh bentuk praktik dan prinsip organisasi yang mereka anut (Graeber, 2011), daripada oleh pengultusan terhadap seorang pemikir tertentu. Dengan demikian, anarkisme bukan terutama merupakan kerangka teori, melainkan suatu cara bertindak yang berangkat dari keyakinan bahwa masyarakat dapat mengorganisasikan dirinya tanpa campur tangan institusi-institusi yang bersifat otoriter.
Anarkisme juga tidak dibangun di atas satu teori besar yang bersifat menyeluruh. Sebaliknya, prinsip-prinsipnya mengakui "perlunya keragaman yang luas dari berbagai perspektif teoretis, yang dipersatukan oleh sejumlah premis dan komitmen bersama." (Graeber, 2011, hlm. 14). Jarak antara satu perspektif dengan perspektif lainnya tidak harus berujung pada saling meniadakan ataupun konflik. Sebaliknya, berbagai teori dapat saling memperkaya selama masing-masing mengakui kebutuhan dan kekhasan kelompok-kelompok yang mengembangkannya.
Dalam satanisme, apabila muncul kepentingan yang saling bertentangan, perbedaan di antara anggota Church of Satan dapat diselesaikan dengan cara berikut: “Karena kami tidak pernah dibangun atas dasar kebersamaan atau persaudaraan, kami juga tidak menuntut agar seluruh anggota kami bekerja sama satu sama lain. Aturan dasarnya sederhana: ketika para anggota memiliki nilai-nilai yang saling bertentangan, mereka dipersilakan menempuh jalan masing-masing, tanpa membuang waktu dan tenaga untuk saling menyerang mereka yang memilih cara berbeda dalam menerapkan satanisme demi mencapai kepuasan pribadi mereka.” (Gilmore, 2007, hlm. 115).
Satanisme tidak berupaya menghabiskan tenaga untuk "mengonversi" masyarakat agar menerima prinsip-prinsipnya, dan tidak mencampuri kehidupan orang lain. Namun, hal itu tidak berarti ia menahan diri untuk mengkritik maupun menganalisis praktik-praktik yang dianggapnya bermasalah. Berdasarkan logika tersebut, anak-anak yang lahir dalam keluarga satanis tidak dipaksa untuk menganut filsafat orang tua mereka. Sebaliknya, mereka didorong untuk "mengembangkan sikap terbuka dan kritis terhadap segala hal, terutama agama dan berbagai filsafat." (Gilmore, 2007, hlm. 59). Pemaksaan agama kepada anak-anak sebelum mereka mampu menentukan pilihannya sendiri ditolak oleh satanisme, yang mengakui bahwa praktik tersebut, meskipun disayangkan, merupakan sesuatu yang lazim dalam berbagai agama, terutama Kekristenan. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa satanisme menjunjung tinggi kebebasan berpikir sekaligus memiliki kesamaan dengan kritik anarkisme terhadap Gereja.
Sebagai penutup, di antara pokok-pokok ajaran satanisme dan anarkisme, dapat disimpulkan bahwa meskipun satanisme membela otonomi individu atas tubuhnya sendiri, termasuk dalam hal seksualitas dan modifikasi tubuh, ia juga beranggapan bahwa sebagian orang memang perlu diperintah, sehingga tetap mempertahankan bentuk hierarki intelektual tertentu. Sebaliknya, anarkisme, melalui prinsip-prinsip dasarnya, tidak hanya membela otonomi individu dan kebebasan berekspresi, tetapi juga memperjuangkan penghapusan seluruh bentuk hierarki serta kesetaraan di antara semua individu dalam masyarakat maupun organisasi.
Meskipun bertolak belakang dalam berbagai aspek, terdapat satu hal yang mempertemukan kedua filsafat tersebut, yaitu pengakuan bahwa tidak ada satu cara tunggal untuk menjadi seorang satanis ataupun seorang anarkis. Hal ini tercermin dalam keberagaman aliran anarkisme (yang tidak saling meniadakan) maupun keberagaman corak satanisme (yang juga tidak saling membatalkan satu sama lain). Dalam pengertian ini, terlepas dari berbagai persamaan dan perbedaan yang telah dibahas sepanjang tulisan ini, dapat dikatakan bahwa satanisme dan anarkisme bertemu dalam penghargaan terhadap pluralitas, pembelaan atas penentuan nasib sendiri dan otonomi individu, serta kritik dan penolakan terhadap otoritas keagamaan Gereja.
Daftar Pustaka
AHRIMAN, Lord. Uma Breve História do Satanismo. Dalam: VIVDIVS, Morbitvs. A História do Satanismo. São Paulo: Via Sestra, 2019.
BAKUNIN, Mikhail. Conceito de Liberdade. Porto: Edições RÉS Limitada, 1975.
BAKUNIN, Mikhail. God and the State. New York: Dover Publications, 1970.
BAKUNIN, Mikhail. Textos Reunidos. Rio de Janeiro: Zangu Cultural, 2017.
ERVIN, Lorenzo Kom'boa. Anarchism and the Black Revolution. The Anarchist Library, 2009. Tersedia di: https://theanarchistlibrary.org/library/lorenzo-kom-boa-ervin-anarchism-and-the-black-revolution.pdf
GILMORE, Peter H. The Satanic Scriptures. Baltimore: Scapegoat Publishing, 2007.
GOLDMAN, Emma. O IndivÃduo, a Sociedade e o Estado, e Outros Ensaios. Diterjemahkan oleh PlÃnio Augusto Coêlho. São Paulo: Hedra, 2007.
GRAEBER, David. Fragmentos de AntropologÃa Anarquista. Barcelona: VIRUS Editorial, 2011.
KROPOTKIN, Petr. Words of a Rebel. The Anarchist Library, 2009. Tersedia di: https://theanarchistlibrary.org/library/petr-kropotkin-words-of-a-rebel-1.pdf
KROPOTKIN, Piotr. Ajuda Mútua: Um Fator de Evolução. Diterjemahkan oleh Waldyr Azevedo Junior. São Sebastião: A Senhora Editora; Coleção ImperdÃveis, 2009.
LAVEY, Anton Szandor. The Satanic Bible. New York: Avon, 1969.
LAVEY, Anton Szandor. The Devil's Notebook. Portland, OR: Feral House, 1992.
MALATESTA, Errico. A Anarquia. Diterjemahkan oleh PlÃnio Augusto Coêlho. São Paulo: Nu-Sul/Editora Imaginário; Rio de Janeiro: SOMA, 2001.
MBAH, Sam; IGARIWEY, I. E. Anarquismo Africano: A História de um Movimento. Rio de Janeiro: Rizoma, 2018.
NETTLAU, Max. História da Anarquia: Das Origens ao Anarco-comunismo. São Paulo: Hedra, 2008.
VIVDIVS, Morbitvs. A História do Satanismo. São Paulo: Via Sestra, 2019.