Jumat, 17 Juli 2026

Anarkominimalisme

Minimalisme bagi Kaum Ekstremis


Pendahuluan

Sesuai dengan namanya, Anarkominimalisme merupakan perpaduan antara praktik dan gagasan anarkis dengan minimalisme. Tujuan utamanya adalah menerapkan prinsip-prinsip minimalisme ke dalam kehidupan kaum anarkis agar kita dapat hidup terbebas dari kepemilikan yang berlebihan, kerja yang berlebihan, pengawasan, stres, serta berbagai hal lain yang mengurangi otonomi kita. Selain itu, pengenalan pemikiran anarkis kepada mereka yang telah mengidentifikasi diri sebagai kaum minimalis juga dapat menjadi hasil sampingan yang bermanfaat dari proyek ini. Dengan demikian, berbagai anggapan yang telah mengakar pada mereka yang mendambakan anti-konsumerisme, bekerja lebih sedikit, dan hidup secara alami, tetapi belum melihat bagaimana semua itu saling berkaitan dalam kerangka sistemik, dapat ditantang.

Sering kali, orang-orang yang mendambakan pembebasan menempatkan kebebasan di masa depan utopis yang selalu terasa jauh, sehingga enggan ataupun tidak mampu menyadari bahwa ada berbagai tindakan yang dapat dilakukan setiap hari untuk meningkatkan otonomi mereka. Tindakan-tindakan tersebut mencakup, tetapi tidak terbatas pada, mengkaji secara kritis segala sesuatu yang mengikat mereka, baik secara fisik, emosional, digital, maupun temporal. Pada saat yang sama, kaum minimalis cenderung terobsesi menyederhanakan kepemilikan dan gaya hidup mereka demi mengurangi musuh sistemik yang bersifat fisik, emosional, finansial, dan ekologis, yang mereka anggap sebagai akibat dari kegagalan pilihan gaya hidup pribadi, alih-alih sebagai akibat dari kegagalan masyarakat secara keseluruhan.

Anarkominimalisme menawarkan suatu cara hidup alternatif dengan memadukan pemahaman sistemik dan keteguhan ideologis seorang anarkis dengan praksis sehari-hari seorang minimalis, sehingga menghadirkan kehidupan yang lebih sederhana dan lebih merdeka bagi keduanya.


Bagi Kaum Anarkis

Walaupun estetika budaya punk yang sering dikaitkan dengan anarkisme Barat kontemporer tampak bertentangan dengan apa yang lazim dipahami sebagai minimalisme, komunitas kita sesungguhnya telah dipenuhi berbagai contoh kaum anarkis yang menjalani kehidupan secara minimalis, seperti:

  • para oogle dan train kid yang membawa seluruh harta milik mereka di dalam ransel;
  • orang-orang yang sedang menjalani tur (para musisi, peserta tur lokakarya, tur buku, atau tur ceramah di pusat-pusat informasi (info shop), maupun mereka yang berpindah-pindah mengikuti berbagai pertemuan (convergence));
  • para tahanan politik yang hanya memiliki segelintir barang di dalam sel mereka;
  • orang-orang yang bergerak di bawah tanah dan bepergian seringan mungkin agar tidak menarik perhatian;
  • para penghuni puncak pohon (tree-sitter) yang hidup hanya dengan sebuah ransel dan toilet kompos;
  • kaum primmie yang hidup sederhana di hutan;
  • para penghuni bangunan kosong (squatter) yang berusaha menjaga diri agar tidak menarik perhatian;
  • kaum insurrekto yang membakar perlengkapan mereka setelah semalam bersenang-senang; dan
  • para penyusun siasat yang mengadakan Percakapan Tanpa Telepon (No Phone Conversations™).

Beberapa aspek utama minimalisme yang telah lama dipraktikkan oleh banyak kaum anarkis antara lain:

  • berusaha bekerja sesedikit mungkin;
  • menggunakan kembali barang, mengambil barang dari tempat pembuangan, atau memperoleh berbagai kebutuhan di luar struktur kapitalisme;
  • saling berbagi buku, peralatan, dan sumber daya;
  • bersikap teknofobik dan/atau menghindari serta memandang teknologi dan media sosial dengan sikap skeptis;
  • menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan (seperti menjalani pola makan vegan, dll).

Ada banyak contoh praktik minimalisme yang dijalankan tanpa disadari dalam komunitas kita. Oleh karena itu, menjembatani kesenjangan menuju bentuk anarkisme yang lebih minimalis tidak memerlukan lompatan yang besar.


Bagi Kaum Minimalis

Sebagian dari kalian sebenarnya telah menempuh lebih dari separuh jalan! Ada kaum minimalis yang ingin lebih sering bepergian, yang ingin hidup dengan biaya lebih murah, dan yang ingin hidup lebih selaras dengan alam. Ada yang sekadar ingin menyederhanakan hidup agar dapat berhenti bekerja di pekerjaan yang mereka benci; ada yang berusaha merapikan kehidupan digitalnya dengan mencari dumb phone yang paling sesuai; ada yang mengatur keuangan agar dapat mencapai FIRE (Financial Independence, Retire Early/Kemerdekaan Finansial, Pensiun Dini); dan ada pula yang hanya ingin menjalani Van Life™ yang nomaden. Namun, ada pula orang-orang yang mengaku sebagai kaum minimalis tetapi menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu dolar demi mengejar estetika para influencer Instagram, mengubah rumah mungil (tiny house) dan van mereka menjadi layaknya Airbnb, atau membeli MacBook terbaru, sembari terus mengeluarkan lebih banyak uang untuk merek-merek yang disebut "ramah lingkungan" agar sesuai dengan estetika bohemian yang sedang digemari. Yang paling buruk adalah mereka yang menginginkan minimalisme semata-mata agar dapat meningkatkan produktivitas kerja.

Kita tidak dapat menyalahkan konsumerisme, lalu pada saat yang sama menempatkan Steve Jobs di atas tumpuan pemujaan hanya karena ia mengenakan pakaian yang sama setiap hari. Alasan kita bergumul dengan pekerjaan atau merasa bersalah karena begitu banyak membeli barang atau terlalu memikirkan apa yang kita kenakan bukan semata-mata karena konsumerisme, melainkan karena kapitalisme dan peradaban teknologis. Peradaban itu sedang mematikan semangat kita, hasrat kita untuk hidup sederhana, dan tentu saja juga menghancurkan bumi beserta seluruh penghuninya.

Meskipun kita dapat memilih untuk hidup dengan lebih sadar, lebih sederhana, dan lebih selaras dengan apa yang kita anggap sebagai "alam", kita harus ingat bahwa kita adalah korban dari suatu struktur yang berada di luar kendali masing-masing individu. Tidak ada sebanyak apa pun pakaian linen yang diproduksi secara "etis" yang dapat kita beli untuk mengubah kenyataan tersebut.

Ada beberapa perubahan cara pandang yang hendak ditawarkan Anarkominimalisme kepada kaum minimalis:

  • dari anti-konsumerisme menuju anti-kapitalisme;
  • dari mencari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan menuju penolakan untuk menjual tenaga kerja;
  • dari sekadar hidup ramah lingkungan menuju perjuangan mengakhiri dunia industrial;
  • dari membeli lebih sedikit menuju menemukan cara memperoleh apa yang kita butuhkan secara cuma-cuma; dan
  • dari estetika menuju tindakan.

Kaum minimalis di Barat sesungguhnya memiliki semua sumber daya untuk melihatnya, tetapi sering kali tidak menyadari jawaban yang sudah berada tepat di hadapan mereka. Minimalisme sebagai suatu ideologi menuntut anti-kapitalisme yang berorientasi pada ekologi sekaligus bersikap teknofobik, dan perspektif anarkis mampu menawarkannya.


Lalu, apa itu Anarkominimalisme?

Anarkominimalisme berupaya menghadirkan manfaat dari cara hidup anarkis dan minimalis ke dalam serangkaian proses. Anarkominimalisme bukanlah sebuah manifesto, ikrar, ataupun seperangkat aturan. Suatu tindakan dapat lebih dekat ataupun lebih jauh dari proses Anarkominimalisme, tetapi tujuannya adalah menyediakan cara bagi kaum anarkis maupun kaum minimalis untuk mengurangi sebagian tekanan dan beban hidup di dunia yang dipenuhi barang-barang konsumsi, kerja yang melelahkan dan mematikan daya pikir, pengawasan elektronik, serta kepunahan massal.

Apabila seseorang ingin menjalani hidup secara lebih anarkominimalis, beberapa proses berikut dapat diterapkan:

  1. Memiliki hanya barang-barang yang benar-benar berguna bagi diri sendiri. 
  2. Meminimalkan jumlah tenaga kerja yang dikeluarkan. 
  3. Mengakali sistem ekonomi (berbagi, memperbaiki, menipu, dan mencuri). 
  4. Mengurangi dampak ekologis dan eksploitasi sumber daya. 
  5. Menghapus jejak fisik maupun digital. 
  6. Membatasi jejak digital dan waktu yang dihabiskan di depan layar. 
  7. Mengembangkan keterampilan demi kesenangan, keberlanjutan, bantuan timbal balik, pembelaan diri, dan perawatan diri.
  8. Mempersiapkan diri menghadapi bencana ekologis maupun sosial.


1. Memiliki Hanya Barang-Barang yang Benar-Benar Berguna

Proses pertama adalah apa yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai decluttering, yaitu menyingkirkan segala barang berlebih dari kehidupan kita. Seberapa banyak barang yang benar-benar "berguna" bagi diri kita bersifat subjektif, dan memang demikianlah maksudnya. Tidak semua orang perlu mengelilingi dirinya dengan dinding-dinding putih dan tanaman hias. Ada orang yang menyukai "gua punk" mereka yang berantakan dan dipenuhi zine, dan itu tidak menjadi masalah. Yang kami minta adalah agar kalian mempertanyakan setiap benda yang kalian izinkan masuk ke dalam kehidupan kalian. Kaum anarkis telah terbiasa mempertanyakan segala sesuatu: ideologi, simbol, narasi media, grafiti, barang bukti, bahkan satu sama lain. Jadi, mengapa kita membiarkan sembarang barang memenuhi ruang di dalam ransel, kamar, tenda, bangunan kosong, atau rumah punk kita? Hanya karena suatu barang mudah dicuri, atau karena teman kalian memberikannya secara cuma-cuma, bukan berarti kalian harus memilikinya. Ada banyak cara sederhana untuk melakukan decluttering (beberapa di antaranya dicantumkan pada bagian akhir tulisan ini) yang dapat membantu kalian melepaskan barang-barang yang tidak lagi berguna dalam hidup kalian. Yang terpenting adalah mempertimbangkan diri kalian sendiri, kehidupan kalian, dan model ancaman yang kalian hadapi.

Apakah kalian tinggal sendiri atau bersama orang lain? Barang apa saja yang dapat, atau seharusnya, dimiliki secara bersama? Adakah barang di rumah punk kalian yang ditinggalkan seseorang empat tahun lalu dan kini semua orang mengira barang itu milik orang lain? Apakah kalian memiliki tempat tinggal tetap atau menjalani kehidupan dengan mengandalkan isi ransel? Seberapa banyak beban yang ingin kalian bawa saat bepergian? Apakah kalian penyandang disabilitas atau bukan? Barang apa saja yang dapat kalian bawa dengan aman? Apakah kalian bersedia membawa senjata atau zine yang berisiko memberatkan kalian selama bepergian? Adakah barang di sekitar tempat tinggal kalian yang dapat dijadikan barang bukti dan sebaiknya segera disingkirkan?

Jumlah barang yang kalian miliki boleh saja berbeda-beda, tetapi semuanya harus benar-benar berguna bagi kalian. Setiap hoodie hitam dan setiap pisau lipat patut dipertanyakan dan dipastikan kembali apakah benar-benar diperlukan dan dicintai. Kelilingilah diri kalian, terutama jika memiliki ruang pribadi, hanya dengan barang-barang yang benar-benar berguna. Setiap barang yang kalian miliki seharusnya menghadirkan kegembiraan dan/atau memiliki tujuan yang jelas mengapa barang itu perlu ada dalam hidup kalian.

Setelah selesai melakukan decluttering, kami mendorong kalian untuk menawarkan barang-barang yang telah disingkirkan itu kepada teman maupun orang yang tidak kalian kenal. Selalu ada “pasar benar-benar gratis” (really really free market) atau kelompok bantuan timbal balik yang dapat menerimanya. Namun, jangan membanjiri orang lain dengan sampah kalian. Jika barang itu memang benar-benar sampah dan tidak mungkin lagi digunakan kembali atau diberikan kepada orang lain, buanglah saja. Jangan meninggalkannya menghantui rumah punk atau info shop di lingkungan kalian.


2. Meminimalkan Jumlah Kerja yang Kalian Lakukan

Prinsip ini sederhana, tetapi jauh lebih mudah diucapkan daripada dijalankan. Jangan menjual sedetik pun waktu kalian lebih banyak daripada yang benar-benar diperlukan. Setiap sen yang kalian peroleh dengan menjual tenaga kerja adalah sepotong kehidupan yang telah hilang dan tidak akan pernah kembali. Buatlah anggaran. Ya, sungguh. Periksa berapa banyak pengeluaran kalian setiap bulan, lalu cobalah menguranginya. Apa saja yang selama ini kalian bayar padahal seharusnya tidak perlu? Bagaimana cara menghindarinya? Carilah solusi-solusi yang kreatif (lihat Proses 3). Pada akhirnya, semakin sedikit berarti semakin sedikit. Semakin sedikit barang yang kalian beli, semakin sedikit pula kalian harus bekerja untuk membayarnya, dan semakin sedikit pula tenaga yang harus kalian keluarkan untuk membersihkan serta merawatnya. Sebagian dari kita memiliki pekerjaan yang layak dengan perlindungan serikat buruh, sebagian lagi bekerja di industri seks, dan ada pula yang menjalani keduanya. Namun, hidup kalian tidak diciptakan untuk menjual tenaga kerja. Hidup bukanlah "apa yang kalian lakukan di luar jam kerja". Rebutlah kembali hidup kalian. Pikirkan sungguh-sungguh untuk apa uang kalian dibelanjakan. Temukan kompromi yang paling membuat kalian merasa bahagia. Jika kalian lebih memilih menjual lebih banyak tenaga kerja agar dapat tinggal sendiri daripada tinggal di rumah punk yang murah, itu sepenuhnya dapat dimengerti. Jika kalian harus bekerja demi mempertahankan asuransi kesehatan, bekerjalah hanya selama jumlah jam minimum yang diperlukan untuk mempertahankannya. Jika kalian memiliki kesempatan memperoleh banyak uang sekarang, lalu setelah itu dapat mengambil waktu untuk beristirahat (artinya, untuk sementara hidup tanpa harus menjual tenaga kerja), lakukanlah. Yang terpenting, temukan berapa banyak yang benar-benar kalian perlukan untuk menjalani kehidupan yang kalian inginkan. Setelah itu, bekerjalah hanya sebanyak yang diperlukan untuk mencapainya, dan kalau perlu sisihkan sedikit lagi untuk tabungan. Ingatlah, tujuan kita bukan sekadar bertahan hidup, melainkan meraih kebebasan.

Namun, apakah kerja upahan satu-satunya bentuk kerja yang perlu diminimalkan? Tentu saja tidak. Pikirkan juga bagian-bagian lain dalam hidup kalian yang dapat dibebaskan dari beban-beban yang tidak diinginkan.

Apakah ada acara, pameran buku, pertunjukan, atau pertemuan yang sebenarnya tidak ingin kalian hadiri? Abaikan saja.

Apakah kalian tergabung dalam percakapan di Signal yang terus-menerus membuat kalian tertekan? Keluarlah.

Apakah ada orang-orang dalam hidup kalian yang tidak dapat dipercaya? Putuskan hubungan dengan mereka.

Minimalisme bukan hanya tentang mengurangi benda-benda yang membebani kehidupan kalian secara fisik. Minimalisme juga berarti menyingkirkan segala pencuri perhatian (dalam arti yang merendahkan) yang, secara sadar ataupun tidak, merampas otonomi kalian. Sederhanakanlah setiap aspek kehidupan yang dapat disederhanakan. Kurangilah usaha-usaha yang tidak benar-benar penting, dan carilah cara untuk mengotomatiskan pekerjaan-pekerjaan yang tidak kalian sukai. Jangan mengorbankan waktu dan perhatian yang begitu berharga kepada orang-orang yang lebih banyak menguras daripada memberi manfaat dalam hidup kalian. Kalian tidak harus bergabung dengan setiap kelompok bantuan timbal balik di daerah kalian. Tidak ada salahnya memilih untuk memiliki keahlian yang lebih khusus. Jika kalian dikenal sebagai "ahli senjata api" di komunitas kalian, jadilah orang itu, dan lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Hanya karena kalian seorang tenaga medis jalanan bukan berarti kalian harus hadir di setiap aksi unjuk rasa.

Kalian tidak harus menjadi martir demi sebuah revolusi mitologis.

Tolaklah anggapan bahwa diri kalian adalah seorang mesias yang begitu penting.

Lakukanlah hanya hal-hal yang benar-benar kalian cintai, dan bekerjalah sesedikit mungkin agar kalian memiliki lebih banyak waktu untuk menjalaninya.


3. Mengakali Ekonomi (Berbagi, Memperbaiki, Menipu, dan Mencuri)

"Aku sedang berusaha mengurangi jam kerjaku, tetapi masih banyak barang yang harus kubeli!" Benarkah demikian? Adakah cara lain untuk memperoleh barang-barang itu? Apakah kalian benar-benar harus memilikinya sendiri, atau dapatkah barang itu digunakan bersama? Dapatkah kita mempertanyakan hasrat borjuis kecil untuk memiliki segala sesuatu secara pribadi, alih-alih berbagi secara komunal? Apakah ada orang yang kalian kenal yang memiliki barang yang kalian perlukan dan bersedia meminjamkannya? Atau mungkinkah kalian memperbaiki atau membuat sendiri sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut?

Baiklah, anggap saja kalian memang membutuhkan sesuatu yang harus dimiliki secara pribadi. Lalu apa? Ada berbagai cara untuk memperoleh apa yang kalian butuhkan tanpa mengeluarkan uang. Praksis anarkis dan ilegalis menawarkan banyak cara untuk memenuhi kebutuhan dengan tingkat penggunaan modal dan risiko yang berbeda-beda. Tulisan anonim yang terbit baru-baru ini, Time and Being, menguraikan berbagai cara memperoleh makanan, tempat tinggal, sarana transportasi, dan uang tunai, dengan tingkat legalitas yang beragam. Untuk barang-barang yang benar-benar harus dimiliki secara pribadi, sebelum memutuskan untuk membelinya, pastikan kalian telah mencoba setiap alternatif lainnya.

Urutan Memperoleh Barang:

Berbagi → Menyewa → Menipu → Mencuri → Membeli Barang Bekas → Membeli Barang Baru

Kita menginginkan berakhirnya ekonomi. Tuntutlah keruntuhan sistem ekonomi. Maaf atas ungkapan yang kasar, tetapi kemelaratan ekonomi seharusnya menjadi tujuan kita. Hanya karena sesuatu benar-benar dapat membawa kebahagiaan dalam hidup kita, bukan berarti kita harus menjual waktu kita yang begitu berharga dan terbatas untuk mendapatkannya. Ekonomi bertumpu pada pencurian (dalam arti yang merendahkan) atas tanah, sumber dayanya, dan waktu kerja kita. Rebutlah semuanya kembali.


4. Mengurangi Dampak Ekologis dan Ekstraksi Sumber Daya

Setiap benda yang diproduksi Leviathan sarat dengan energi dan upaya yang tercurah dalam proses penciptaannya. Setiap hasil pertanian mengandung seluruh rangkaian tenaga yang membuatnya ada, mulai dari sinar matahari dan air yang membantunya tumbuh hingga bensin dalam truk yang mengangkutnya ke toko bahan makanan. Setiap telepon pintar mengandung darah anak-anak yang menambang litium untuk baterainya. Setiap benda memuat jejak energi yang diperlukan untuk memproduksinya. Karena itu, hormatilah energi tersebut dalam setiap keputusan yang kalian ambil. Konsumerisme sadar (conscious consumerism) dan greenwashing adalah jebakan, tetapi bukan berarti semua pelajaran yang ditawarkannya keliru. Kita hidup dalam suatu sistem yang mengejar pertumbuhan tanpa batas, padahal planet yang kita huni memiliki sumber daya yang terbatas.

Keadaan seperti ini tidak mungkin berlangsung selamanya.

Ketika memutuskan untuk menambah suatu barang sebagai seorang anarkominimalis, sebaiknya pilihlah sesuatu yang berkualitas tinggi dan tahan lama. Meskipun mengakali ekonomi (Proses 3) dapat terasa menyenangkan, hal itu juga sering menuntut banyak tenaga, waktu, dan usaha. Lebih baik memperoleh satu barang yang lebih mahal tetapi dapat digunakan selama bertahun-tahun daripada terus-menerus memperoleh barang yang lebih murah karena selalu rusak dan harus diganti. Idealnya, kita mengeluarkan sesedikit mungkin usaha dalam proses memperolehnya sekaligus mengurangi kemungkinan tertangkap. Sebagai anarkominimalis, kita lebih menyukai kesederhanaan. 

Semakin sedikit barang yang kita miliki atau konsumsi, semakin sedikit pula yang harus diproduksi. Dengan demikian, energi, tenaga, dan sumber daya yang dibutuhkan juga akan berkurang.

Tentu saja, ada banyak cara lain untuk mengurangi dampak pribadi terhadap lingkungan, seperti menjadi vegan atau bersepeda. Semua itu merupakan cara-cara nyata yang sangat baik untuk mengurangi konsumsi sumber daya. Namun, sebagai anarkis, kita sering kali memaknai istilah "aktivis lingkungan" secara lebih luas daripada pengertian yang lazim.

Tulisan ini bukanlah pembahasan mengenai bentuk-bentuk perluasan makna tersebut. Ini hanyalah pengingat sederhana bahwa hanya tindakan yang bersifat material yang dapat menghasilkan konsekuensi yang bersifat material.


5. Menghilangkan Jejak Fisik dan Digital

Salah satu proses terpenting yang ditawarkan Anarkominimalisme adalah mengurangi bukti-bukti yang dapat digunakan untuk memberatkan kalian ataupun orang-orang yang kalian sayangi. Saat menjalankan Proses 1, pertimbangkan dengan sungguh-sungguh keseimbangan antara manfaat dan risiko dari setiap barang yang kalian putuskan untuk tetap disimpan. Menyimpan cendera mata dari aksi-aksi ilegal adalah tindakan yang berbahaya. Zine dan selebaran yang sensitif memang merupakan sumber informasi yang berharga, tetapi sebaiknya dipandang sebagai sumber informasi yang bersifat sementara, bukan sebagai barang yang terus disimpan di kamar atau di dalam cakram keras (hard drive) kalian. Pelajari isinya, bagikan pengetahuannya, lalu segera singkirkan.

Pertimbangkan pula dengan saksama berbagai cara kalian "menandai diri" di ruang publik melalui slogan atau stiker pada botol minum, bemper mobil, kursi roda, kaus, dan sebagainya.

Apakah "kedipan penuh pengertian" dari sesama kawan di sebuah kafe sepadan dengan "tatapan penuh kecurigaan" dari para penyelidik?

Kita semua pernah melihat stiker atau poster yang bagi kita tampak biasa saja, tetapi justru digunakan sebagai barang bukti dalam perkara-perkara yang menjerat teman-teman kita dengan tuduhan terorisme domestik. Bukan berarti kita harus menjalani hidup dalam ketakutan akan kemungkinan sewaktu-waktu barang-barang kita diperiksa. Namun, seiring meningkatnya eskalasi keadaan, semakin penting bagi kita untuk memikirkan konsekuensi dari menyimpan barang-barang semacam itu. Sangat dianjurkan agar pakaian yang dikenakan atau peralatan yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan tertentu segera disingkirkan setelah tidak lagi diperlukan.

Pengawasan digital adalah persoalan yang sama sekali berbeda dan jauh lebih rumit. Memang ada berbagai cara untuk menguranginya, seperti menggunakan enkripsi, VPN, Tor, Signal, dan berbagai teknik keamanan lainnya. Namun, terus terang, cara paling mudah untuk mengurangi pengawasan digital adalah:

KELUAR DARI INTERNET.

Hapus semua media sosial. Sekarang juga. Bukan hanya aplikasinya, tetapi juga akun-akunnya. Hapus pula foto maupun pesan apa pun yang berpotensi memberatkan kalian, sekalipun semuanya tersimpan di aplikasi yang diklaim telah terenkripsi.

Selagi membersihkan jejak kalian dari internet, kami juga menyarankan agar kalian meluangkan waktu untuk menghapus informasi pribadi dari berbagai layanan publik yang dapat dimanfaatkan musuh-musuh kalian untuk melakukan doxing. Berikut adalah daftar layanan pengumpul informasi pribadi yang memungkinkan kalian mengajukan permintaan penghapusan data: https://msha.ke/securitycultureworkshop

Disclaimer: Penulis naskah ini bukanlah pakar keamanan. Jika kalian mencari panduan yang lebih khusus mengenai cara mengurangi jejak bukti, kami menyarankan agar menggunakan Tor untuk mengakses sumber-sumber berikut:

Anarsec: https://www.anarsec.guide/

The Counter-surveillance Resource Center: https://www.notrace.how/


6. Membatasi Jejak Digital dan Waktu di Depan Layar

Sekarang, setelah kobaran api pengawasan digital mulai mereda, tibalah saatnya melakukan peninjauan yang lebih menyeluruh terhadap kehidupan digital kalian. Inilah waktunya untuk memikirkan bukan hanya berapa lama kalian menghabiskan waktu di depan layar, tetapi juga apa yang sebenarnya kalian lakukan selama berjam-jam itu. Kita semua telah mengetahui berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa semakin lama waktu di depan layar, semakin besar pula kaitannya dengan gangguan kesehatan fisik, mental, dan emosional. Karena itu, hormatilah tubuh, pikiran, dan jiwa kita dengan mengurangi sumber-sumber tekanan tersebut.

Lalu, berapa lama waktu yang tepat bagi kalian? Kita semua tampaknya sepakat mengenai pentingnya Percakapan Tanpa Ponsel (No Phone Conversations™). Namun, apa yang menghalangi kita untuk menerapkan cara pandang itu ke seluruh aspek kehidupan kita? Kawan-kawan kita yang lebih teknofobik telah berulang kali mengingatkan hal ini, sementara para pejuang papan ketik (keyboard warriors) yang terus-menerus hidup di dunia maya berusaha membenarkan mengapa mereka harus memiliki akun di setiap platform media sosial, membiarkan fitur lokasi di ponsel mereka selalu aktif, atau bahkan (semoga jangan) memakai jam tangan pintar (smartwatch).

Sebagian dari kita memang "harus" menggunakan layar dan media sosial untuk bekerja. Baiklah. Namun, jika kalian telah menyelesaikan Proses 2, berarti kalian sudah memangkas waktu tersebut hingga batas minimum. Sebagian lainnya menggunakan layar dan media sosial untuk "mengorganisir". Kami mengakui bahwa banyak penelitian mengenai musuh maupun sasaran kita memang lebih mudah dan lebih aman dilakukan melalui layar. Namun, kapan terakhir kali kalian benar-benar bersemangat menghadiri sebuah acara hanya karena menemukannya di internet? Kita semua tahu bahwa acara-acara yang bagus selalu disertai selebaran yang bertuliskan: "Jangan sebarkan di media sosial, bagikan hanya melalui Signal." Acara yang lebih baik lagi biasanya diumumkan melalui selebaran kertas kecil berukuran seperempat halaman yang diberikan langsung kepada kita. Dan acara yang terbaik adalah yang hanya disebarkan dari mulut ke mulut, dari seorang kawan kepada kawan lainnya.

Berbicara tentang kawan, salah satu alasan terbesar orang mempertahankan layar dan media sosial adalah anggapan bahwa keduanya menghubungkan orang dan membantu kita saling menemukan. Kami mengakui bahwa media tersebut memang dapat menjadi sarana untuk memulai hubungan. Namun, kita semua tahu bahwa kita tidak seharusnya memercayai seseorang hanya karena mengenalnya dari internet. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang dapat dibangun secara daring, terlebih lagi di lingkungan kita, tempat polisi dan informan berkeliaran di mana-mana. Percakapan yang nyata dan solidaritas yang nyata adalah hal-hal yang membangun kepercayaan antarkawan.

Karena itu, kami kembali mengajukan pertanyaan yang sama: Berapa lama waktu yang tepat bagi kalian?

Seperti yang kalian lakukan pada Proses 2, catat dan amati bagaimana kalian menghabiskan waktu di depan layar, baik untuk bekerja maupun untuk bersantai. Pertanyakan semuanya. Apa yang dapat disingkirkan? Pada Proses 5, kita telah menghapus penyebab terbesar pemborosan waktu di depan layar, yaitu media sosial. Lalu, apa yang masih tersisa? Jenis penggunaan layar seperti apa yang benar-benar membawa kegembiraan, dan tidak membuat kalian merasa seolah-olah baru saja menyentuh sebuah artefak terkutuk?

Mungkin waktu kalian di depan layar kini hanya digunakan untuk membaca dan menulis komunike. Mungkin hanya untuk menonton film dan bermain gim video. Mungkin untuk membuat karya seni digital, film, atau menulis. Mungkin hanya untuk berkomunikasi secara terenkripsi dengan orang-orang yang kalian cintai.

Apa pun bentuknya, terapkan kembali Proses 1 dan Proses 2 dalam membereskan kehidupan digital kalian: simpan hanya hal-hal yang benar-benar kalian perlukan, lalu kembalikan waktu dan perhatian kalian kepada kehidupan nyata yang kalian jalani secara langsung.


7. Mengembangkan Keterampilan untuk Kesenangan, Keberlanjutan, Bantuan Timbal Balik, Pertahanan Diri, dan Perawatan Diri

Setelah membereskan barang-barang, mengurangi beban kerja, menyederhanakan jadwal, dan membatasi waktu di depan layar, apa lagi yang tersisa untuk dilakukan? Inilah saatnya beralih kepada hal-hal yang tidak berwujud dan lebih bersifat abstrak. Mulailah menjadi pribadi yang benar-benar ingin kalian wujudkan. Jika kalian ingin menjadi "gadis bersenjata" (gun girl) atau petugas medis jalanan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sekaranglah waktunya mulai berlatih. Ada banyak cara untuk mempelajari keterampilan-keterampilan tersebut. Sebagiannya tersedia secara daring maupun luring: kelas-kelas di pusat komunitas dan infoshop, zine, buku-buku di perpustakaan, hingga lokakarya berbagi keterampilan (skill share). Namun, cara terbaik tetaplah yang paling langsung. Mintalah seseorang yang telah menguasainya untuk mengajarkan kepada kalian. Jika kalian tidak mengenal orang seperti itu secara langsung, tanyakan kepada kawan-kawan kalian apakah mereka mengenal seseorang yang dapat membantu. Hal ini tidak hanya berlaku untuk mempelajari keterampilan. Belajar bersama bukan saja memperkuat komunitas, tetapi juga membantu pengajar semakin menguasai pengetahuan yang mereka bagikan. Setelah kalian cukup menguasainya untuk mengajar, bagikan pula pengetahuan itu kepada orang lain. Bangun komunitas yang lebih kuat, dan kembangkan lebih banyak keterampilan.

Tentu saja, selalu baik mempelajari keterampilan yang membuat kita lebih tangguh. Namun, masih banyak keterampilan lain yang dapat membuat kita lebih merdeka. Mulailah belajar menanam pangan atau mencari bahan pangan liar (foraging) di sekitar tempat tinggal kalian, yang sekaligus membantu mengurangi dampak pribadi terhadap lingkungan (Proses 4). Banyak keterampilan lain, seperti memasang panel surya, mengolah air, atau membangun tempat berlindung, juga dapat mengurangi ketergantungan kita kepada Negara dan peradaban (Civilization/Civ). 

Tidak ada habisnya keterampilan yang layak dipelajari, mulai dari merawat senapan dengan benar hingga menambal sweter. Pelajarilah keterampilan yang membawa kegembiraan bagi kalian: kerajinan tangan, memasak, yoga, meditasi, dan sebagainya. Luangkan waktu untuk mempelajari cara-cara terbaik mengelola diri sendiri agar tetap seimbang. Pelajarilah mediasi konflik. Terus terang, minimalisme sendiri juga merupakan sebuah keterampilan; dengan membaca tulisan ini, kalian sebenarnya sudah mulai mengembangkannya.

Pada tahap proses ini, bersikaplah "serakah". Tidak ada sisi buruk dalam memperoleh keterampilan. Kalian tidak akan pernah perlu membereskannya seperti barang-barang. Kalian tidak akan pernah harus meninggalkannya di rumah ketika banjir datang. Kalian juga akan selalu dapat membawanya melintasi perbatasan. Meskipun spesialisasi yang sangat mendalam memiliki banyak manfaat, tidak ada salahnya menjadi orang yang menguasai berbagai macam keterampilan (jack of all trades). Lagi pula, sebagai anarkis, kami lebih senang menjadi "master of none", tidak menjadi ahli yang menguasai satu bidang secara mutlak, tetapi memiliki kecakapan dalam banyak hal.


8. Mempersiapkan Diri Menghadapi Bencana Ekologis atau Sosial

Mengembangkan keterampilan dan memperolehnya (baca: membangun komunitas) merupakan dua unsur terpenting dalam mempersiapkan diri menghadapi masa-masa penuh gejolak. Baik menghadapi banjir maupun bertahan dalam bentrokan di jalanan, keterampilan dan komunitas yang kalian bangun akan membantu kalian siap menghadapi apa pun yang datang. Kesiapsiagaan darurat adalah sesuatu yang harus dipandang serius oleh para anarkominimalis. Tidak peduli seberapa banyak atau seberapa sedikit barang yang masih kita miliki setelah Proses 1, kita tetap membutuhkan perlengkapan untuk bertahan hidup dan melindungi diri ketika keadaan darurat terjadi.

Memiliki tas evakuasi darurat (bug-out bag) adalah suatu keharusan. Terus terang, tas ini juga merupakan tempat yang sangat baik untuk menyimpan beberapa perlengkapan yang jarang digunakan tetapi tetap wajib dimiliki, seperti Perlengkapan Pertolongan Pertama Individu (Individual First Aid Kit/IFAK) atau senter. Tentu saja, jika kalian memang sudah menjalani hidup dengan membawa seluruh perlengkapan dalam sebuah ransel, berarti kalian telah memiliki sistem kalian sendiri. Namun, pastikan tas tersebut berisi kebutuhan pokok seperti makanan dan air, obat-obatan resep (termasuk persediaan tambahan jika kalian bergantung secara kimiawi pada zat tertentu), salinan dokumen-dokumen penting (atau bahkan dokumen aslinya), uang tunai cadangan, sumber penerangan, pakaian untuk cuaca panas maupun dingin, serta sebuah perkakas serbaguna (multitool). Ada ratusan daftar perlengkapan yang tersedia di internet, baik dari kalangan konservatif garis keras (chuds) maupun dari kawan-kawan sendiri. Pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan kalian, dan tinggalkan sisanya.

Namun, sebagai anarkominimalis, kami mendorong kalian untuk mempertimbangkan model ancaman yang kalian hadapi. Jika sewaktu-waktu kalian harus melarikan diri dari bencana alam atau menghilang ke bawah tanah secara mendadak, apa saja yang benar-benar kalian perlukan? Apa yang dapat ditinggalkan? Pertanyaan ini menjadi semakin penting jika kalian harus memanggul ransel dalam perjalanan jauh. Apakah mobilitas kalian terbatas? Tentukan terlebih dahulu berapa beban yang secara realistis sanggup kalian bawa, lalu susun perlengkapan berdasarkan batas tersebut. Kapasitas ransel biasanya diukur dalam liter. Kami menyarankan ransel berkapasitas antara 30 hingga 50 liter. Lebih kecil atau lebih besar tidak menjadi masalah, tetapi sekali lagi, mari kita mempertimbangkan model ancaman kita. Apa tujuan kita? Apakah kita sedang menyiapkan perlengkapan untuk hidup dari dalam ransel selama dua minggu? Apakah kita akan menerobos hutan belantara atau tetap berada di kawasan perkotaan? Apakah kita perlu bergerak secara diam-diam, atau justru tidak masalah bila orang lain mengetahui apa yang sedang kita lakukan? Persiapan menghadapi perang saudara tentu memerlukan perlengkapan yang berbeda dengan persiapan untuk hidup di bawah tanah dan menaiki kereta pertama yang keluar dari kota. Mungkin lebih baik meninggalkan senapan AR yang telah dilengkapi seluruh aksesori beserta rompi antipeluru di rumah. Atau mungkin justru lebih baik membawa ransel berkapasitas kurang dari 20 liter agar kalian hanya tampak seperti seorang mahasiswa yang sedang berangkat kuliah. Sesuaikan semuanya dengan keadaan kalian sendiri.

Selain tas evakuasi darurat, kami juga menyarankan agar kalian meninjau kembali perlengkapan yang biasa kalian bawa setiap hari, baik di tas tangan, tas pinggang, maupun EDC (everyday carry). Apakah kalian selalu membawa cadangan obat resep setidaknya untuk satu hari jika malam ini ternyata kalian tidak dapat pulang? Bagaimana dengan sebuah multitool kecil? Narcan? Barang-barang seperti itu layak untuk selalu dibawa. Sebaliknya, yang sama sekali tidak layak dibawa adalah apa pun yang dapat memberatkan kalian sebagai barang bukti. Jangan biarkan zine, selebaran, atau tanda terima yang sensitif menumpuk kusut di dasar tas kalian. Jika kalian memang membawa telepon genggam, pastikan telepon tersebut terkunci, terenkripsi, dan kalau memungkinkan disimpan di dalam kantong Faraday (Faraday bag). Apa pun yang kalian bawa (dan, secara lebih luas, apa pun yang kalian simpan dalam hidup kalian) seharusnya berguna bagi kalian, bukan justru memberatkan atau menjerat kalian.

Terakhir, sekarang setelah lemari kalian memiliki lebih banyak ruang setelah proses pemberesan, mulailah menyimpan persediaan yang cukup untuk bertahan setidaknya selama satu minggu. Simpan makanan yang tahan lama, persediaan air sekitar satu galon per orang per hari, sumber daya listrik cadangan untuk peralatan medis, senter, dan kebutuhan darurat lainnya. Sekali lagi, banyak sekali daftar perlengkapan semacam ini yang dapat ditemukan di internet. Lakukan riset sendiri, lalu sesuaikan daftar tersebut dengan kebutuhan kalian, teman serumah, tempat tinggal, kota tempat kalian berada, serta model ancaman yang kalian hadapi.


Penutup

Melalui tulisan ini, kami telah menguraikan sebuah sistem yang saling berkaitan, berupa serangkaian pengurangan dan penambahan dalam kehidupan, yang kami sebut Anarkominimalisme. Kami meyakini bahwa setiap Proses yang saling terhubung ini bergantung satu sama lain. Kami telah menerapkan prinsip penyederhanaan pada setiap proses tersebut dan berpendapat bahwa masing-masing merupakan bagian yang diperlukan untuk menjalani kehidupan yang lebih anarkominimalis. Jika ada di antara proses-proses ini yang berbicara kepada kalian, kami mendorong kalian untuk menerapkan sebanyak atau sesedikit yang kalian inginkan. Setiap proses dapat membantu membebaskan hidup kalian, setidaknya dari sebagian beban melelahkan akibat hidup di dalam peradaban yang kami sebut Leviathan. Namun, sebagaimana dalam setiap sistem permakultur, hasilnya akan berlipat ganda ketika seluruh sistem yang saling berkaitan itu dibiarkan bekerja sebagai satu kesatuan proses. Kami mengajak kalian untuk bersama-sama menjadi lebih merdeka. Setiap langkah yang menjauh dari rahang Leviathan adalah satu langkah lagi menuju penaklukannya.

Hidup semestinya mudah. Jadikanlah ia lebih mudah.


Tambahan: Beberapa Cara untuk Memulai Menyederhanakan Barang-Barang Kalian

Sesuai janji kami, berikut beberapa metode yang dapat kalian gunakan untuk mulai mengurangi penumpukan barang dalam kehidupan kalian.

Metode KonMari — Pisahkan SEMUA barang milik kalian ke dalam beberapa kelompok, lalu periksa satu per satu untuk memastikan apakah barang tersebut masih layak menjadi bagian dari hidup kalian dan masih menghadirkan kegembiraan. Lakukan sesuai urutan berikut:

Pakaian→Buku→Kertas→Dapur→Lain-lain→Barang sentimental.

Tantangan Minimalis — Mulailah pada tanggal 1 setiap bulan dengan menyingkirkan satu barang. Pada hari kedua, singkirkan dua barang. Pada hari ketiga, tiga barang, dan seterusnya. Hingga hari terakhir bulan tersebut, kalian akan telah menyingkirkan hampir 500 barang.

Metode Kotak — Masukkan seluruh barang milik kalian ke dalam sebuah kotak. Selama satu bulan berikutnya, keluarkan barang hanya ketika benar-benar dibutuhkan. Seiring berjalannya waktu, kalian akan melihat dengan jelas barang-barang mana yang ternyata tidak pernah digunakan. Singkirkan barang-barang tersebut.


Anarkominimalisme: Daftar Periksa bagi Kaum Ekstremis

Berikut adalah daftar 8 Proses Anarkominimalisme beserta beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan dalam setiap proses. Sebagian besar tindakan ini dapat diselesaikan hanya dalam satu akhir pekan, dan hampir semuanya dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan.

1. Memiliki Hanya Sebanyak yang Benar-Benar Berguna bagi Kalian

Rapikan barang-barang kalian dengan mengelompokkannya, lalu periksa setiap barang untuk memastikan bahwa barang tersebut masih benar-benar berguna bagi kalian.

  • Pakaian (Pakaian/Perhiasan/Aksesori). 
  • Buku (Buku/Zine/Buku Masak). 
  • Kertas (Struk/Selebaran/Stiker). 
  • Dapur (Makanan/Bumbu/Peralatan Memasak). 
  • Perangkat Elektronik (Kabel/Cakram Keras). 
  • Lain-lain (Perkakas/Kerajinan/Perlengkapan). 
  • Barang Sentimental (Kartu/Foto/Jurnal). 
  • Tawarkan barang-barang yang masih layak pakai kepada teman atau keluarga, atau sumbangkan (dalam waktu 30 hari setelah proses pemberesan).
  • Buang barang-barang yang sudah tidak berguna (segera setelah proses pemberesan selesai).

2. Meminimalkan Jumlah Kerja yang Kalian Keluarkan

  • Susun anggaran keuangan dan hilangkan pengeluaran yang tidak diperlukan.
  • Bekerjalah hanya sebanyak yang diperlukan untuk memenuhi anggaran tersebut.
  • Kurangi pekerjaan dan aktivitas yang tidak diinginkan (sederhanakan dan otomatisasi tugas jika memungkinkan).
  • Rapikan kehidupan sosial kalian (hadirilah hanya acara yang benar-benar ingin kalian datangi, dan habiskan waktu hanya dengan orang-orang yang benar-benar kalian sukai).
  • Kurangi kelelahan (burnout) dengan tidak memaksakan diri (jangan merasa wajib menghadiri setiap aksi demonstrasi).

3. Menghindari Ketergantungan pada Ekonomi (Berbagi, Memperbaiki, Menipu, dan Mengutil)

  • Temukan cara-cara kreatif untuk "memperoleh" barang-barang yang kalian butuhkan.
  • Terapkan urutan berikut setiap kali hendak memperoleh barang baru: Berbagi→Menyewa→Menipu→Mengutil→Membeli Barang Bekas→Membeli Barang Baru. 

4. Mengurangi Dampak Ekologis dan Ekstraksi Sumber Daya

  • Peroleh hanya barang-barang yang berkualitas tinggi dan tahan lama.
  • Kurangi pemborosan sumber daya serta tenaga, baik milik kalian sendiri maupun orang lain.
  • Terapkan gaya hidup yang berkelanjutan.

5. Menghilangkan Jejak Fisik dan Digital

  • Tinjau kembali barang-barang yang masih kalian simpan untuk memastikan tidak ada bukti fisik yang dapat digunakan untuk memberatkan kalian ataupun orang-orang yang kalian sayangi.
  • Kurangi tanda-tanda yang secara terbuka mengaitkan kalian dengan gaya hidup kriminal (stiker, kaus, tato yang mudah terlihat, dan sebagainya).
  • Pelajari cara menghindari dan menghilangkan barang bukti di https://www.notrace.how/.
  • Hapus semua berkas yang dapat memberatkan dari cakram keras (hard drive).
  • Hapus semua media sosial.
  • Batasi keberadaan kalian di internet.
  • Hapus informasi pribadi dari layanan pengumpul data daring di https://msha.ke/securitycultureworkshop/.
  • Perkuat keamanan digital dengan mengikuti panduan di https://www.anarsec.guide/.

6. Membatasi Jejak Digital dan Waktu di Depan Layar

  • HAPUS SEMUA MEDIA SOSIAL.
  • Enkripsi seluruh perangkat digital pribadi.
  • Luangkan lebih banyak waktu tanpa membawa perangkat yang telah terenkripsi, atau setidaknya pastikan perangkat tersebut dalam keadaan mati, jauh dari kalian, dan disimpan di dalam kantong Faraday (Faraday bag) (bukan hanya ketika melakukan percakapan yang sensitif).
  • Tinjau kembali sisa waktu yang kalian habiskan di depan layar, lalu "rapikan" penggunaan layar yang tidak lagi berguna bagi kalian.
  • Temukan cara menggunakan layar yang benar-benar bermanfaat bagi kalian, lalu bangun keseimbangan dengannya.

7. Mengembangkan Keterampilan untuk Kesenangan, Keberlanjutan, Bantuan Timbal Balik, Pertahanan Diri, dan Perawatan Diri

  • Gunakan waktu luang yang telah kalian peroleh untuk mempelajari keterampilan yang membuat kalian lebih tangguh, lebih sehat, lebih mandiri, lebih kreatif, atau apa pun yang membawa kegembiraan bagi kalian.
  • Utamakan belajar secara langsung dan bersama komunitas.
  • Bangun jaringan orang-orang yang saling belajar satu sama lain.

8. Mempersiapkan Diri Menghadapi Bencana Ekologis atau Sosial

  • Nilailah model ancaman yang mungkin kalian hadapi (kebakaran hutan, banjir, Nazi, penggerebekan oleh aparat federal, dan sebagainya).
  • Selalu bawa kebutuhan pokok dalam EDC (Every Day Carry) kalian.

Siapkan tas evakuasi darurat yang setidaknya berisi:

  • Dokumen-dokumen penting (paspor, dokumen medis, akta kelahiran).
  • Makanan dan air untuk setidaknya dua hari.
  • Obat-obatan resep.
  • Perlengkapan pertolongan pertama (termasuk masker dan sarung tangan).
  • Senter (beserta baterai cadangan).
  • Multitool.
  • Baterai daya (power bank) USB cadangan beserta pengisi dayanya.
  • Pakaian untuk cuaca panas maupun dingin.
  • Korek api atau batang korek.

Simpan pula persediaan darurat di tempat tinggal kalian:

  • Makanan dan air untuk setidaknya dua minggu (bagi seluruh penghuni rumah).
  • Perlengkapan pertolongan pertama.
  • Senter dan baterai cadangan.
  • Lilin, batang korek, dan korek api.
  • Sarana untuk memasak tanpa bergantung pada layanan utilitas.
  • Obat-obatan resep.


Metode AnarKonMari

Mulailah dengan memisahkan barang-barang milik kalian ke dalam kelompok-kelompok berikut. Kumpulkan seluruh barang dari setiap kategori di satu tempat. Misalnya, jika kalian sedang membereskan zine, kumpulkan SEMUA zine dari setiap ruangan (termasuk mobil, garasi, dan ruang bawah tanah), lalu letakkan menjadi satu tumpukan.

Saat memeriksa tumpukan tersebut, pegang setiap barang di tangan kalian dan pertanyakan satu per satu apakah barang itu masih benar-benar berguna bagi kalian (membawa kebahagiaan atau memenuhi suatu kebutuhan).

Urutan kategori disusun dari yang paling mudah hingga yang paling menantang. Menyelesaikan kategori-kategori yang mudah, seperti Pakaian, akan mempersiapkan kalian menghadapi kategori yang lebih sulit, seperti Barang-Barang Sentimental.

Singkirkan barang-barang itu secara tegas dan menyeluruh. Jangan ragu-ragu. Jika suatu barang memang tidak sepenuhnya layak tetap menjadi bagian dari hidup kalian, maka barang itu memang tidak seharusnya berada dalam hidup kalian.

Setelah selesai, simpan barang-barang yang kalian putuskan untuk dipertahankan berdasarkan kategorinya. Misalnya, simpan semua pisau lipat di satu tempat. Simpan semua bola lampu di satu tempat. Jangan menyimpannya berdasarkan seberapa sering digunakan, melainkan berdasarkan pemanfaatan ruang.

Setelah proses pemberesan selesai, yang mengelilingi kalian seharusnya hanyalah barang-barang yang benar-benar kalian cintai dan butuhkan.

Ucapkan terima kasih kepada barang-barang yang kalian putuskan untuk lepaskan atas perannya dalam hidup kalian, kemudian berikan barang-barang yang masih layak pakai kepada teman-teman kalian. Buang sisanya.

Ke depannya, pertahankan sikap penuh kesadaran ini setiap kali ada barang baru yang ingin masuk ke dalam hidup dan ruang kalian.

Tip: Singkirkan apa pun yang pernah atau dapat dikaitkan dengan suatu tindak pidana.

1. Pakaian

  • Atasan/Kaus/Hoodie
  • Celana Pendek/Celana Panjang
  • Gaun/Rok
  • Pakaian Luar/Jaket
  • Tas Dompet
  • Aksesori/Ikat Pinggang/Topi
  • Perhiasan
  • Pakaian Tidur
  • Tas Tangan/Dompet
  • Ransel/Tas Pinggang/Tas Jinjing
  • Ikat Pinggang/Syal
  • Sepatu/Boot
  • Topi/Sarung Tangan
  • Kaus Kaki/Pakaian Dalam/BH
  • Kostum/Perlengkapan Fetisisme
  • Pakaian Olahraga
  • Pakaian Renang
  • Pakaian Musim Dingin

2. Buku

  • Buku
  • Zine (terutama yang dapat memberatkan sebagai barang bukti)
  • Buku Masak
  • Buku Pelajaran/Pendidikan/Referensi
  • Majalah
  • Album Foto/Buku Meja Kopi (coffee table books)

3. Kertas

  • Dokumen Pajak
  • Tagihan/Laporan Kartu Kredit
  • Selebaran (terutama yang dapat memberatkan sebagai barang bukti)
  • Poster
  • Stiker
  • Struk (terutama yang dapat memberatkan sebagai barang bukti)
  • Surat Kabar
  • Catatan/Tugas Sekolah
  • Dokumen Pengadilan/Surat Tilang/Dokumen Hukum

4. Dapur

  • Makanan di Kulkas dan Lemari
  • Saus
  • Bumbu
  • Kopi/Teh/Alkohol
  • Suplemen/Vitamin
  • Peralatan Makan (termasuk yang berbahan plastik)
  • Pisau
  • Sarung Tangan Oven/Celemek
  • Panci/Wajan
  • Peralatan Penyajian
  • Loyang/Perlengkapan Memanggang
  • Peralatan Makan
  • Cangkir/Gelas/Mug
  • Gelas Minum dan Botol Air untuk Bepergian
  • Gelas/Piring/Tisu Sekali Pakai
  • Lap Piring/Kain Lap
  • Tas Belanja yang Dapat Digunakan Ulang/Tas Kertas/Tas Plastik
  • Peralatan Rumah Tangga Kecil
  • Wadah Penyimpanan (Tupperware)
  • Talenan

5. Perangkat Elektronik

  • Kabel/Pengisi Daya
  • Film dan Musik Fisik
  • Permainan Video
  • Cakram Keras (hard drive)/Flashdisk/Kartu SD
  • Pengeras Suara/Keyboard/Monitor/Tetikus
  • Headphone
  • Kamera/Film
  • Komputer Lama/Telepon Genggam/Tablet

6. Minimalisme Digital

  • Akun Media Sosial
  • Informasi login/Kata Sandi
  • Aplikasi/Program
  • Daftar Kontak
  • Surel (E-Mail) 
  • Media/Foto/Musik
  • Pesan Teks/Grup Percakapan
  • Berkas Lainnya
  • Bukti Digital yang Dapat Memberatkan
  • Metadata/Riwayat Peramban/Cookie
  • Informasi Pribadi di Situs Pialang Data (data broker)

7. Lain-Lain

  • Perkakas (terutama yang dapat memberatkan sebagai barang bukti)
  • Perlengkapan Kantor/Alat Tulis
  • Cat
  • Perlengkapan Hobi dan Kerajinan
  • Baterai/Bola Lampu
  • Produk Riasan/Rambut/Perawatan Kulit
  • Obat Resep/Perlengkapan Medis
  • Perabot
  • Bantal/Selimut/Seprai/Linen
  • Produk Pembersih/Bahan Kimia

8. Barang-Barang Sentimental

  • Album/Foto
  • Jurnal/Buku Harian
  • Cendera Mata
  • Surat Pribadi/Kartu Pos
  • Kartu Ucapan
  • Barang Warisan Keluarga
  • Hadiah Istimewa
  • Benda Spiritual/Keagamaan

Segala Sesuatu untuk Semua Orang, Tidak Ada Apa Pun untuk Diri Kita Sendiri. 


Diterjemahkan dari: