Rabu, 01 Juli 2026

Melampaui Mentalitas Kawanan

Anti-Statisme Otoriter Keith Preston


Penulis: Matthew N. Lyons

"Mungkin yang saya perjuangkan bukanlah 'anarkis', melainkan 'anark' (anarch), yakni individu unggul yang, semata-mata karena kekuatan kehendaknya, mampu bangkit melampaui kawanan, dengan sikap membangkang dan menghina baik para domba maupun para gembalanya."

— Keith Preston, The Thoughts That Guide Me: A Personal Reflection (2005) [1]


Pendahuluan

Kebebasan dari tirani pemerintah selalu menjadi tema sentral politik sayap kanan di Amerika Serikat. Mulai dari Ku Klux Klan yang pertama, yang mengecam "despotisme militer Utara", hingga para pendukung Tea Party yang mencap Barack Obama sebagai perpaduan antara Hitler dan Stalin, kaum kanan di Amerika Serikat terus menggunakan narasi tentang "kejahatan negara yang terlalu besar" (big government) untuk menarik dukungan publik sekaligus membenarkan kebijakan-kebijakan mereka sendiri yang bersifat represif. Salah satu contohnya adalah kemunculan apa yang disebut “Anarkisme-Nasional”, sebuah cabang dari neo-nazisme Inggris yang belakangan memperoleh pijakan kecil namun berkembang pesat di Amerika Serikat. Kaum Anarkis-Nasional mengusulkan sistem yang terdesentralisasi berupa enklave-enklave "kesukuan" yang didasarkan pada "hak semua ras, etnis, dan kelompok budaya untuk mengorganisasi diri serta hidup secara terpisah." Mereka mengkritik statisme, baik yang berasal dari kiri maupun kanan, termasuk fasisme klasik. Namun, pada saat yang sama mereka berpartisipasi dalam jaringan neo-nazi seperti Stormfront.org dan menyebarkan teori-teori konspirasi anti-semit yang tidak kalah ekstrem dibandingkan The Protocols of the Elders of Zion. Anti-statisme merupakan salah satu daya tarik utama Anarkisme-Nasional sekaligus menjadi cara bagi mereka untuk menghindari tuduhan sebagai gerakan fasis. [2]

Keith Preston, yang menyebut dirinya sebagai seorang "sesama simpatisan" Anarkisme-Nasional, dalam beberapa hal bahkan lebih berbahaya. Preston adalah mantan anarkis sayap kiri yang kini mendorong terbentuknya aliansi revolusioner antara libertarian kiri dan kanan untuk melawan imperialisme Amerika Serikat serta negara. Berbeda dengan banyak tokoh kanan radikal yang mengklaim berada "di luar kiri dan kanan", Preston justru memasukkan banyak gagasan kiri ke dalam filsafat politiknya, dan tampaknya masih menjalin hubungan dengan sebagian aktivis kiri. Sebagai penulis yang cerdas dan sangat produktif, selama satu dekade terakhir Preston berhasil memantapkan dirinya sebagai salah satu suara yang dihormati di kalangan libertarian, paleokonservatif, dan Alternatif Kanan (Alt-Right). Konsep “Anarko-Pluralisme” yang ia kembangkan merupakan perumusan ulang politik sayap kanan yang lebih canggih: fleksibel, inklusif, dan menarik karena mengusung nilai-nilai yang diterima secara luas seperti prinsip "hidup dan membiarkan orang lain hidup." Berbeda dengan kebanyakan ideologi sayap kanan, konsep ini juga berpotensi menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai arus kanan, seperti nasionalis kulit putih, kelompok Patriot, kaum kanan Kristen, dan Anarkis-Nasional. Bahkan, ia juga berpotensi menarik sebagian anarkis sayap kiri, kaum bioregionalis/enviromentalis liberal, serta kelompok-kelompok nasionalis dari komunitas masyarakat kulit berwarna.

Dalam artikel ini saya akan menguraikan ciri-ciri utama program politik, strategi, dan filsafat yang mendasari pemikiran Keith Preston. Meskipun Preston mengklaim bahwa penerapan Anarko-Pluralisme akan menghasilkan perluasan kebebasan, pada kenyataannya konsep tersebut justru akan mendorong penindasan dan otoritarianisme dalam unit-unit sosial yang lebih kecil. Walaupun Preston adalah seorang individualis yang tidak secara langsung menganjurkan determinisme rasial maupun separatisme rasial sebagaimana teman-temannya di kalangan Anarkis-Nasional, ia menjadikan (meminjam kata-katanya sendiri) "berkolaborasi dengan kaum rasialis dan teokrat" sebagai salah satu prioritasnya. Bahkan, ia berpendapat bahwa kaum kiri yang menolak kerja sama semacam itu justru merupakan pihak yang benar-benar bersikap fanatik. Jika ditelaah lebih jauh, penolakan Preston terhadap negara berakar pada sebuah filsafat yang sangat anti-humanis, yang menekankan elitisme, perjuangan tanpa belas kasihan, dan penghinaan terhadap sebagian besar umat manusia.

Preston juga membuka jendela untuk memahami persoalan yang lebih luas mengenai desentralisme sayap kanan. Artikel ini akan menelusuri akar sejarah fenomena tersebut beserta berbagai cabangnya dalam beberapa dekade terakhir, termasuk gerakan libertarian, kanan Kristen, neo-nazi, dan gerakan Patriot di Amerika Serikat. Preston memadukan berbagai pengaruh yang berakar di Amerika Serikat ini dengan gagasan-gagasan dari Nouvelle Droite (Kanan Baru) Eropa, sebuah cabang desentralis dari fasisme klasik, serta pemikiran tokoh-tokoh Revolusi Konservatif Jerman pada dekade 1920-an dan 1930-an, yang memberikan pengaruh terhadap gerakan Nazi, tetapi sebagian besar tetap berada di luar gerakan tersebut. Hubungan Preston sendiri dengan fasisme sebenarnya jauh lebih dekat daripada yang ia akui. Meskipun ia tidak memiliki dorongan khas fasisme untuk memaksakan satu visi ideologis tunggal ke seluruh bidang kehidupan masyarakat, ia menawarkan bentuk populisme revolusioner sayap kanan yang sangat berkerabat dengannya. Di atas segalanya, Preston dan sekutu-sekutunya di sayap kanan mewujudkan bahaya utama yang melekat pada fasisme, yakni mendahului dan menyingkirkan kiri radikal sebagai kekuatan oposisi revolusioner yang utama.


Anarko-Pluralisme: Biarkan Seratus Otoritarianisme Berkembang

Keith Preston merupakan tokoh utama di balik situs/blog Attack the System (ATS) beserta organisasi afiliasinya, American Revolutionary Vanguard (ARV). Ia juga menjadi editor kontributor di AlternativeRight.com dan menulis untuk sejumlah situs paleokonservatif serta libertarian, termasuk Taki's Magazine, LewRockwell.com, dan Anti-State.com. Namun, pada masa awal aktivitas politiknya, Preston justru berasal dari kalangan kiri. Dalam esainya yang berjudul Learning the Hard Way: My Life as an Anarcho-Leftoid, Preston menulis bahwa ia menjadi seorang anarkis pada usia 21 tahun dan selama beberapa tahun aktif di lingkungan "kiri garis keras", termasuk di Industrial Workers of the World (IWW) dan menghadiri konferensi pendirian jaringan Love and Rage pada tahun 1989. Akan tetapi, ia kemudian menjauh karena menganggap gerakan tersebut dipenuhi dogmatisme dan sektarianisme. Setelah itu, ia bergabung dengan Libertarian Party dan mulai membaca para pemikir libertarian maupun konservatif seperti Ludwig von Mises, Friedrich Hayek, Murray Rothbard, Thomas Sowell, dan Charles Murray. Lambat laun, ia mengembangkan sebuah filsafat politik yang sangat eklektik:

“Saya suka membayangkan pandangan politik saya seperti sebuah karya arsitektur. Anarkisme klasik ala Proudhon-Bakunin merupakan fondasinya. Liberalisme klasik dari para pemikir Pencerahan dan para pendiri Amerika menjadi tanah tempat fondasi itu diletakkan, sementara ekonomi pasar bebas modern menyediakan kerangka struktural utama bangunannya. Populisme tradisional Amerika membentuk rancangan umum bagian luarnya. Gagasan-gagasan mengenai strategi dan infrastruktur yang saya peroleh dari gerakan Patriot menjadi paku dan sekrupnya. Penekanan konservatisme tradisional terhadap lembaga-lembaga perantara sebagai benteng melawan negara, kritik-kritik ‘Posisi Ketiga’ (Third Position) dan Anarkis-Nasional terhadap pengaruh merusak Zionisme internasional serta perlunya aliansi lintas ideologi melawan globalisme, ditambah unsur-unsur Marxisme dan Maoisme yang saya anggap berguna, menjadi bagian lain dari dekorasi interior dan ornamen eksterior bangunan tersebut. Bingung, bukan?” [3]

Hasil dari sintesis eklektik Preston ini adalah konsep “Anarko-Pluralisme”, sebuah visi perubahan revolusioner yang berpusat pada penggantian negara-bangsa yang tersentralisasi dengan beragam entitas politik berskala kecil. Menurut Preston, Anarko-Pluralisme bersifat "anti-universalis" karena menolak pandangan bahwa hanya ada satu sistem politik, ekonomi, atau budaya yang "benar" dan berlaku, apalagi wajib diterapkan, bagi semua orang di setiap waktu dan di setiap tempat. Sebaliknya, setiap kelompok masyarakat bebas mengorganisasi dan mengatur dirinya sendiri sesuai kehendaknya, selama mereka juga membiarkan kelompok lain melakukan hal yang sama. Unit-unit yang mengatur diri sendiri tersebut dapat dibentuk berdasarkan etnisitas, agama, gender, orientasi seksual, filsafat politik, maupun budaya. Menurut Preston, inilah "cara terbaik untuk menghindari tirani dan penyalahgunaan kekuasaan negara Leviathan, sekaligus mengakomodasi berbagai perbedaan yang tidak dapat didamaikan mengenai beragam persoalan yang niscaya terdapat dalam setiap masyarakat." [4]

Untuk mewujudkan visi revolusionernya, Preston menganjurkan pembentukan aliansi luas yang mencakup seluruh kekuatan politik yang ingin membongkar pemerintah pusat Amerika Serikat. Secara lebih spesifik, ia menyerukan strategi "pan-seksesionis", yang didasarkan pada koalisi berbagai kelompok dari seluruh spektrum politik yang ingin membentuk enklave-enklave politik yang terpisah dan mengatur dirinya sendiri, bebas dari kendali pemerintah maupun imperialisme Amerika Serikat:

“Di dalam wilayah Amerika Serikat sendiri, jajaran gerakan separatis mencakup Christian Identity, Nation of Islam, Aztlan Nation, Christian Exodus, Free State Project, Neturei Karta, American Indian Movement, Republic of Texas, Confederate State Project, Black Panther Party, Green Panthers, Earth Liberation Front, dan banyak lagi… Sebuah konfederasi militer, politik, dan ekonomi yang menghimpun berbagai kekuatan perlawanan tersebut akan menjadi kekuatan yang sangat tangguh, terutama jika perjuangan itu diperluas ke tingkat internasional dengan melibatkan Zapatista Army of National Liberation (EZLN) di Chiapas, Revolutionary Armed Forces of Colombia di Colombia, Shining Path di Peru, People's War Group di Nepal, Arab Socialist Ba'ath Party di Iraq, Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan sebagainya.” [5]

Daftar calon sekutu tersebut memang sangat beragam, mencakup kaum Marxis-Leninis, separatis kulit putih, libertarian, neo-Konfederasi, aktivis hak-hak masyarakat adat, kelompok Kristen kanan, kelompok Islam kanan, aktivis enviromentalis radikal, hingga Yahudi Ortodoks anti-Zionis. Preston bahkan membayangkan koalisi pan-seksesionisnya akan memperoleh dukungan dari blok yang disebutnya sebagai "negara-negara pembangkang" (rogue states).

“Idealnya, Rusia revolusioner di masa depan, mungkin dipimpin oleh National Bolshevik Party, yang memimpin suatu konfederasi rezim-rezim anti-New World Order (NWO) dari Korea Utara hingga Venezuela, akan sampai batas tertentu memainkan peran yang sama seperti yang dahulu dimainkan oleh Pakta Warsawa yang disponsori Uni Soviet, yakni sebagai benteng melawan imperialisme Barat..” [6]

Gagasan Preston mengenai aliansi pan-seksesionis dapat dilihat dalam bentuk embrionya melalui rangkaian konvensi gerakan seksesionis Amerika Utara yang belakangan ini disponsori oleh Middlebury Institute, yang dipimpin oleh penulis sekaligus tokoh bioregionalis Kirkpatrick Sale. Pertemuan-pertemuan tersebut mempertemukan wakil-wakil dari berbagai arus politik, mulai dari Second Vermont Republic yang cenderung berhaluan kiri, gerakan-gerakan kedaulatan berbasis etnis di Hawaii dan Quebec, hingga kelompok-kelompok sayap kanan seperti Alaska Independence Party dan League of the South. Preston turut mempromosikan konferensi-konferensi tersebut dan setidaknya pernah menghadiri salah satunya. [7]

Mempersatukan kelompok kiri dan kanan untuk melawan negara serta imperium Amerika Serikat merupakan benang merah yang membentang di seluruh pemikiran Preston. Hal ini tercermin dalam "Program Dua Puluh Lima Poin" milik American Revolutionary Vanguard. Beberapa poin dalam program tersebut mengadopsi gagasan dari gerakan libertarian sayap kanan atau gerakan Patriot, seperti dukungan terhadap pembentukan milisi sipil untuk melawan "tirani domestik dan global yang terus merayap", pembentukan "pengadilan hukum umum yang diawasi oleh juri sukarela dan hakim swasta", serta penggunaan mata uang lokal yang didukung oleh emas atau perak. Poin-poin lainnya mengambil inspirasi dari tradisi kiri, seperti mendorong militansi buruh, layanan kesehatan yang terjangkau, informasi konsumen yang dapat dipercaya, pengorganisasian penyewa, serta penghapusan rumah tahanan dan penjara. Ada pula poin-poin yang tampaknya dirancang untuk menarik dukungan baik dari kalangan kiri maupun kanan, seperti promosi media alternatif, perlawanan terhadap pajak, hak untuk memiliki dan membawa senjata demi membela diri, serta penolakan terhadap agresi militer Amerika Serikat terhadap negara-negara lain. [8]

Preston kerap memadukan tema-tema kiri dan kanan sebagai upaya pragmatis untuk membangun koalisi. Dalam persoalan hubungan antar ras, misalnya, ia mendukung "kedaulatan, reparasi (atas perbudakan), dan amnesti (bagi sebagian besar narapidana) demi memajukan kepentingan warga kulit hitam, serta penghapusan favoritisme berdasarkan ras, kebijakan afirmatif, undang-undang anti-diskriminasi, dan sebagainya demi memajukan kepentingan warga kulit putih." Dengan cara yang sama, ia juga berpendapat bahwa "kita harus bersikap keras terhadap kejahatan, tetapi sama kerasnya terhadap polisi, pengadilan, dan hukum." Maksudnya, ia mengambil posisi yang "liberal" dalam hal hak-hak terdakwa dan kondisi penjara, tetapi posisi yang "konservatif" dalam hal hak untuk memiliki senjata dan membentuk organisasi-organisasi swasta guna melindungi diri dari kejahatan. [9]

Pengaruh pemikiran kiri terhadap politik Preston tidak berhenti pada soal taktik atau daftar program. Kritiknya terhadap "kemitraan antara kekuatan negara dan modal" sebagian besar bertumpu pada karya-karya sejarah Gabriel Kolko. Meskipun pada umumnya bersikap kritis terhadap Marxisme, Preston kadang-kadang membahasnya secara positif. Misalnya, ia berpendapat bahwa analisis Marxis mengenai kejahatan sebagai bentuk konflik kelas "memiliki banyak validitas", meskipun menurutnya analisis tersebut perlu "direvisi secara mendasar" ketika diterapkan pada masyarakat industri maju. Dalam diskusinya dengan kalangan konservatif, ia juga sesekali mengutip pemikir seperti C. Wright Mills, Max Horkheimer, Sam Dolgoff, dan tokoh-tokoh lain yang kemungkinan berada di luar zona nyaman para pembacanya. Esainya yang berjudul "What Maoism Has To Offer Anarchism" bahkan dapat dengan mudah disangka ditulis oleh seorang tokoh kiri. Dalam esai tersebut, Preston menilai banyak aspek Maoisme memiliki nilai positif, seperti penekanannya pada kritik dan otokritik, pandangan bahwa revolusi merupakan proses yang terus berlangsung, bukan peristiwa yang terjadi sekali saja, serta pentingnya para aktivis revolusioner menjaga hubungan yang erat dengan "massa". [10]

Terlepas dari semua itu, politik Preston pada dasarnya tetap merupakan politik sayap kanan yang dibungkus dengan lapisan retorika kiri. Preston telah menjadikan lingkungan politik sayap kanan sebagai basis utamanya dengan mendukung proyek pembangunan Alternatif Kanan radikal, yang sebagian besar berakar pada paleokonservatisme dan nasionalisme kulit putih. Sambil membela pilihannya untuk "bekerja sama dengan kaum rasialis dan teokrat”, ia bahkan pernah menyerukan "pembersihan, kalau bukan pogrom secara terang-terangan" untuk menyingkirkan orang-orang kulit putih anti-rasis, kaum feminis, dan aktivis queer dari gerakan anarkis demi "menarik lebih banyak pemberontak muda ke dalam barisan kita." (Belakangan ia mengklaim bahwa para pengkritiknya telah menafsirkan pernyataan tersebut "terlalu serius".) Dengan menggambarkan kaum separatis kulit putih dan kelompok kanan religius sebagai sekutu yang berharga dalam perjuangan melawan imperialisme Amerika Serikat dan negara, Preston mempresentasikan mereka secara keliru sebagai kontributor positif bagi perubahan sosial dan politik, sekaligus mengaburkan atau meremehkan kerusakan yang mereka timbulkan saat ini maupun kerusakan yang jauh lebih besar yang akan mereka lakukan apabila diberi kendali atas wilayah-wilayah otonom yang memerintah dirinya sendiri. [11]

Preston menganut "konservatisme filosofis mengenai hakikat manusia dan hakikat masyarakat", yang prinsip-prinsipnya meliputi "ketidaksetaraan alamiah antarmanusia, baik pada tingkat individu maupun kolektif, (serta) keniscayaan dan legitimasi keberadaan pihak yang berbeda (otherness)…" [12] Ia melontarkan kritik keras terhadap egalitarianisme dan universalisme yang dianut kalangan kiri. Sebagai gantinya, ia menawarkan sebuah filsafat elitis dan anti-humanis yang menggemakan pemikiran Friedrich Nietzsche, Ernst Jünger, dan Ayn Rand:

“Mereka yang berhasil meraih posisi unggul dalam perjuangan kekuasaan yang terus berlangsung hampir selalu merupakan para pesaing yang paling kejam, paling licik, dan paling tanpa belas kasihan. Serigala akan selalu mengalahkan domba. Di dalam kerangka suram berupa perang abadi antara setiap orang melawan semua orang, dari waktu ke waktu akan muncul individu yang sangat langka, yang oleh Nietzsche disebut sebagai ‘Übermensch’. Dialah individu yang memiliki kehendak, kekuatan, kecerdasan, semangat, disiplin, intelegensi, intuisi, daya tangkap, kecerdikan, kebijaksanaan, kreativitas, daya cipta, kemurahan hati, dan berbagai sifat lain yang menempatkan spesies manusia setengah langkah di atas hewan-hewan lainnya. Individu inilah yang menjadi sang ‘anark’ (anarch), sang egois, sosok yang mampu bangkit melampaui kabut abadi tempat baik orang-orang yang jinak seperti domba maupun para penguasa mereka yang bengis hidup… Orang-orang semacam inilah yang membawa benih-benih pertumbuhan kebudayaan dan peradaban. Agar suatu bentuk keberadaan manusia dapat berkembang melampaui sekadar kehidupan yang bersifat naluriah seperti binatang, tipe individu seperti inilah yang harus berkembang…” [13]

Preston selanjutnya berpendapat bahwa "tujuan utama dari setiap politik atau etika yang melampaui sekadar kepentingan material atau pertahanan diri" adalah melindungi dan mengembangkan individu-individu unggul yang langka tersebut, yakni para “anark” (anarch). "Jelas bahwa kerangka politik yang paling kondusif bagi perkembangan sang ‘anark’ (anarch) adalah suatu bentuk anarkisme." Dengan kata lain, alasan utama Preston mendukung anarkisme bukanlah untuk membebaskan seluruh umat manusia, melainkan untuk membantu segelintir individu unggul bangkit melampaui massa manusia yang, menurutnya, bersifat kebinatangan. [14]

Akan tetapi, akan keliru jika melihat elitisme Preston semata-mata sebagai kedok bagi prasangka terhadap kelompok tertentu. Meski demikian, prasangka-prasangka khas sayap kanan sesekali tetap muncul dalam tulisannya. Ia berpendapat bahwa "multikulturalisme pada akhirnya tidak akan berhasil karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang hidup dalam kelompok-kelompok kesukuan. Feminisme akan runtuh karena laki-laki dan perempuan memiliki takdir biologis yang berbeda dan, oleh karena itu, juga memiliki takdir sosial yang berbeda." Ia juga mendukung klaim bahwa imigran non-kulit putih mengancam kehancuran peradaban Barat dan berpendapat bahwa kaum nasionalis kulit putih memiliki banyak "keluhan yang sah", seperti kebijakan afirmatif berdasarkan ras, undang-undang mengenai kejahatan kebencian (hate crime), serta program-program kesejahteraan yang dianggap menguntungkan masyarakat kulit berwarna dengan mengorbankan warga kulit putih. Ia menggambarkan homoseksualitas sebagai sesuatu yang aneh dan agak menjijikkan, tetapi "bukan masalah" selama tetap dijalankan secara pribadi; sementara itu, setiap upaya untuk menantang heteroseksisme secara kolektif dan terbuka, menurutnya, paling banter hanyalah pengalihan perhatian yang tidak penting dari tugas utama, yaitu menggulingkan imperium Amerika Serikat. [15]

Meskipun Preston merupakan seorang elitis yang menunjukkan penghinaan terhadap sebagian besar manusia, ia juga seorang populis. Lebih tepatnya, Anarko-Pluralisme yang ia usung merupakan suatu bentuk populisme sayap kanan, yakni sebuah proyek politik yang berupaya memobilisasi "rakyat" melawan elite yang mapan berdasarkan analisis kekuasaan yang menyimpang, yang sekaligus menutupi dan memperkuat hubungan-hubungan sosial yang opresif. Populisme sayap kanan menawarkan sasaran yang tampak masuk akal bagi kemarahan terhadap elite, tetapi justru mengalihkan kemarahan tersebut dari kritik yang menyeluruh terhadap tatanan yang menindas. Sebagian populis sayap kanan menjadikan kelompok etnis tertentu (seperti orang Yahudi) atau bahkan sub-kelompok tertentu di dalam elite (seperti para bankir atau perusahaan-perusahaan multinasional) sebagai sasaran utama. Sementara itu, Preston menjadikan negara sebagai sasaran utamanya. Lebih tepatnya, ia secara keliru menyamakan penindasan secara umum dengan negara yang besar dan tersentralisasi, sehingga cara pandang tersebut sekaligus mengaburkan dan mendorong bentuk-bentuk lain dari penindasan sosial serta otoritarianisme politik. 

Sejalan dengan pemikiran libertarian sayap kanan, Preston menggambarkan negara sebagai satu-satunya sumber penindasan yang benar-benar signifikan, serta memandang "plutokrasi korporat" semata-mata sebagai akibat dari campur tangan negara dalam ekonomi pasar. Memang benar, seperti yang ia kemukakan, bahwa negara secara aktif telah mendorong pemusatan kekayaan dan kekuasaan ekonomi. Namun, anggapannya bahwa pasar yang "alami" dapat dipisahkan dari campur tangan negara yang "tidak alami" hanyalah sebuah mitos libertarian. Baik negara maupun pasar merupakan institusi yang diciptakan oleh manusia, dan keduanya saling terkait erat. Hubungan-hubungan pasar berkembang secara luar biasa di bawah kapitalisme bukan terlepas dari campur tangan negara, melainkan justru sebagian besar melalui campur tangan negara (misalnya, dengan memaksa para petani subsisten di berbagai belahan dunia menjadi buruh upahan). "Membebaskan" pasar dari negara yang tersentralisasi tentu akan mengubah bentuk kekuasaan kapitalis, tetapi tidak akan menghapuskannya. Sebaliknya, hal itu hanya akan menguntungkan bentuk-bentuk modal tertentu dan faksi-faksi bisnis tertentu dibandingkan yang lain.

Demikian pula, Preston hanya mengakui adanya penindasan berdasarkan ras, gender, seksualitas, atau faktor-faktor lainnya sejauh penindasan tersebut secara langsung dipromosikan oleh negara, terutama melalui diskriminasi formal yang dilegalkan terhadap kelompok-kelompok tertentu. Dengan berpendapat bahwa "negara merupakan kekuatan yang secara khas bersifat destruktif", Preston mengabaikan atau meremehkan jaringan padat institusi dan hubungan-hubungan yang menindas yang berada di luar negara, dan dalam beberapa kasus bahkan bertentangan dengannya. [16] Justru sistem-sistem penindasan yang berakar dalam masyarakat inilah, bukan campur tangan negara, yang melanggengkan kesenjangan kekayaan yang sangat besar antara warga kulit putih dan masyarakat kulit berwarna, kekerasan dalam rumah tangga yang secara tidak proporsional menimpa perempuan, serta tingkat bunuh diri yang jauh lebih tinggi di kalangan remaja LGBT dibandingkan remaja heteroseksual, di samping banyak contoh lainnya.

Membongkar negara yang tersentralisasi tidak akan menghapus sistem-sistem penindasan lainnya. Hal itu hanya akan menciptakan kekosongan kekuasaan sehingga sistem-sistem tersebut dapat berfungsi dengan cara yang lebih terfragmentasi dan tanpa regulasi. Ini merupakan resep bagi munculnya “warlordisme”, yakni suatu tatanan sosial yang kacau, di mana siapa pun yang memiliki kekuatan fisik yang memadai dapat menetapkan aturan. Sebagaimana dikemukakan oleh Kersplebedeb, "Terdapat kecenderungan organik menuju warlordisme dalam komunitas-komunitas yang telah mengalami kapitalisme, patriarki, dan kolonialisme. Bahkan komunitas-komunitas yang tertindas." [17] Hal ini merupakan persoalan serius apabila tujuan seseorang adalah membongkar sistem-sistem hierarki dan penindasan, tetapi bukan merupakan masalah apabila tujuannya adalah membantu segelintir individu unggul bangkit melalui perjuangan yang tanpa belas kasihan.

Otoritarianisme tidak memerlukan negara besar yang tersentralisasi, tetapi dapat beroperasi dalam skala apa pun, seperti wilayah, komunitas, bahkan keluarga. Karena tidak memiliki program pembebasan selain mengakhiri pemerintahan yang besar, pan-seksesionisme justru akan mendorong lahirnya banyak masyarakat otoriter dalam skala yang lebih kecil. Sebagai contoh, salah satu arus politik yang ingin dimasukkan Preston ke dalam konfederasi pan-seksesionis adalah Christian Identity. Doktrin ini, yang dianut oleh sejumlah kelompok neo-nazi seperti Aryan Nations, berpendapat bahwa bangsa Anglo-Saxon adalah umat pilihan Tuhan. Banyak penganut Christian Identity juga meyakini bahwa masyarakat kulit berwarna adalah "manusia lumpur" (mud people) yang tidak memiliki jiwa, sementara orang Yahudi adalah anak-anak Setan. Arus lain yang terdapat dalam daftar pan-seksesionis Preston, Christian Exodus, mengusulkan pembentukan sebuah negara Kristen yang merdeka berdasarkan penafsiran sayap kanan atas hukum Alkitab. Situs web Christian Exodus secara mencolok menampilkan tulisan dan pidato Matt Trewhella, pemimpin Missionaries to the Preborn, yang secara terbuka membenarkan pembunuhan terhadap penyedia layanan aborsi sebagai "pembunuhan yang dapat dibenarkan" (justifiable homicide). Arus seksesionis ketiga, League of the South, mengadvokasi sebuah masyarakat yang "disusun berdasarkan gagasan hierarki menurut Alkitab", di mana "Kristus adalah kepala Gereja-Nya; suami adalah kepala keluarganya; orang tua ditempatkan di atas anak-anak mereka; pemberi kerja berada di atas para pekerjanya; guru lebih tinggi daripada murid-muridnya; dan seterusnya." Masyarakat ideal versi organisasi ini juga "memberikan stigma terhadap penyimpangan dan segala sesuatu yang berupaya merusak perkawinan dan keluarga." [18]

Meskipun mengklaim bahwa Anarko-Pluralisme akan meningkatkan kebebasan secara keseluruhan, Preston sendiri mengakui bahwa "mungkin juga akan terjadi proliferasi berbagai komunitas yang relatif atau sangat tertutup, terutama di antara mereka yang beroperasi dalam kerangka eksklusivisme rasial, keagamaan, atau kultural tertentu, maupun ideologi politik yang secara terang-terangan bersifat otoriter." Ia tidak mempermasalahkan gagasan seperti "anarko-feodalisme" maupun "anarko-monarkisme". [19] Sejauh yang saya ketahui, ia belum pernah secara langsung membahas persoalan "anarko-perbudakan", tetapi tidak jelas mengapa hal itu dianggap lebih bermasalah.

Preston menggambarkan seksesi sebagai suatu proses sukarela, di mana berbagai kelompok masyarakat memutuskan untuk menempuh jalan mereka masing-masing dan hidup berdampingan secara damai. Namun, apa makna "sukarela" dalam suatu konteks ketika para istri diharapkan tunduk pada otoritas suami, para pekerja diwajibkan menaati majikan mereka, atau homoseksualitas dipandang sebagai penyimpangan dan tindak kejahatan? Dan sampai kapan kehidupan berdampingan secara damai itu dapat bertahan ketika berhadapan dengan ideologi-ideologi absolutis yang secara inheren bersifat ekspansionis? Para pemimpin sebuah negara kecil yang dikuasai kelompok Kanan Kristen akan meyakini bahwa homoseksualitas dan feminisme bukan hanya keliru di dalam wilayah negara mereka, melainkan keliru di mana pun. Mereka pun akan merasa memiliki kewajiban religius untuk memaksakan keyakinan tersebut seluas mungkin.


Akar-Akar Desentralisme Sayap Kanan di Amerika Serikat

Preston mengklaim dirinya mewarisi tradisi Revolusi Amerika. Ia berpendapat bahwa rezim yang "sangat terdesentralisasi dan sebagian besar bercorak libertarian" di bawah Articles of Confederation (1776–1789), seandainya tidak digantikan oleh "kediktatoran kelas kapitalis-negara" melalui Konstitusi Amerika Serikat, akan menghasilkan "sebuah federasi terdesentralisasi yang terdiri atas wilayah-wilayah dan komunitas-komunitas berdaulat, dengan perekonomian yang didominasi oleh buruh, petani, penemu, perajin, dan pedagang, yang berlandaskan produksi lokal untuk kebutuhan lokal", disertai kebijakan luar negeri yang netralis serta kelompok-kelompok etnis yang cukup terintegrasi dan hidup berdampingan secara damai. [20] Pandangan yang meromantisasi asal-usul bangsa ini justru menutupi kenyataan yang jauh lebih kelam. Sepanjang sejarah Amerika Serikat, desentralisme politik sering kali menjadi sarana untuk memperkuat penindasan, bukan menguranginya.

Contoh yang paling jelas adalah pemisahan diri Konfederasi pada tahun 1861, yang direkayasa oleh elite Selatan untuk mempertahankan dan memperluas sistem ekonomi berbasis perbudakan di kawasan mereka. Bertentangan dengan gambaran Preston yang terlalu sederhana tentang kelas penguasa Amerika Serikat yang selalu bertumpu pada pemerintah pusat, berbagai faksi kapitalis memiliki hubungan yang sangat beragam dengan otoritas federal. Sebagaimana dikemukakan oleh sejarawan Mike Davis, "berbeda dengan sentralisme geo-finansial yang terdapat di negara-negara kapitalis lainnya, dominasi Wall Street selalu dibatasi oleh persaingan dengan pusat-pusat keuangan di Cleveland, Chicago, San Francisco, dan belakangan Los Angeles serta Houston." Davis juga mencatat bahwa faksi-faksi bisnis yang berakar di tingkat regional, dengan memanfaatkan kekuasaan politik di tingkat negara bagian atau kota, berulang kali menantang faksi-faksi kapitalis lama untuk memperebutkan dominasi di tingkat nasional. [21]

Amerika Serikat juga memiliki karakter yang khas dalam hal sejauh mana dunia usaha mengambil alih fungsi-fungsi yang biasanya dianggap sebagai tugas pemerintah, termasuk monopoli atas penggunaan kekerasan. Antara dekade 1870-an hingga 1930-an, yang merupakan periode penting dalam perkembangan kapitalisme industri dan hubungan kelas industri di Amerika Serikat, kalangan bisnis lebih banyak mengandalkan tentara swasta dan aparat kepolisian swasta daripada negara untuk menindas gerakan buruh. Pada akhir abad ke-19, Pinkerton Detective Agency saja memiliki personel yang jumlahnya melebihi Angkatan Darat Amerika Serikat. Selain itu, di ribuan company town yang tersebar di wilayah Selatan, Midwest, dan Barat, satu perusahaan sering kali mendominasi, bahkan sepenuhnya memiliki, seluruh komunitas tersebut sehingga secara efektif mengendalikan seluruh perdagangan, layanan, kehidupan politik, dan kehidupan budaya. [22] Banyak dari kota-kota perusahaan ini, yang pada praktiknya hampir sepenuhnya bebas dari pengawasan pemerintah pusat, justru lebih mendekati daripada apa pun yang pernah diciptakan oleh Hitler atau Mussolini terhadap definisi klasik Komintern mengenai fasisme sebagai "kediktatoran teroris terbuka dari unsur-unsur modal finansial yang paling reaksioner, paling chauvinis, dan paling imperialis." [23]

Bukan hanya kaum kapitalis, tetapi juga laki-laki kulit putih dari kelas menengah dan kelas pekerja telah terlibat dalam aktivitas bersenjata yang "sangat terdesentralisasi dan sebagian besar bercorak libertarian" sepanjang sebagian besar sejarah Amerika Serikat. Mengenai perusahaan-perusahaan pemadam kebakaran sukarela di Philadelphia pada abad ke-19, Noel Ignatiev menulis:

“[Perusahaan-perusahaan pemadam kebakaran] terus-menerus bertempur untuk memperebutkan kendali atas wilayah di kawasan permukiman kelas pekerja di kota maupun di daerah pinggirannya. Pembakaran disengaja merupakan salah satu senjata utama mereka. Salah satu taktik favorit mereka adalah membakar sebuah bangunan di dekat wilayah perusahaan saingan, lalu menunggu untuk menyerang ketika perusahaan tersebut datang memadamkan api. Mereka juga memeras uang dari para pemilik rumah di sekitarnya, yang memang memiliki alasan kuat untuk khawatir rumah mereka akan dibakar apabila menolak membayar… [Setiap perusahaan pemadam kebakaran] kemudian diidentikkan dengan kelompok etnis tertentu dan memainkan peran penting dalam menentukan posisi kelompok tersebut di dalam kota… Hanya orang-orang kulit hitam merdeka yang tidak memiliki perusahaan pemadam kebakaran mereka sendiri." [24]

Dalam ketiadaan negara pusat yang kuat, organisasi-organisasi bersenjata non-pemerintah sering kali memainkan peran penting dalam menegakkan tatanan sosial dan hierarki. Sebagaimana dikemukakan oleh surat kabar anti-rasis Turning the Tide, milisi warga sipil pada dekade 1990-an:

“..merupakan keturunan dari para pemukim bersenjata yang bersatu untuk merampas tanah milik penduduk pribumi. Mereka adalah keturunan kelompok pemburu budak buronan (slave posses) yang menegakkan hukum perbudakan (slave codes) sebelum adanya aparat penegak hukum. Kelompok supremasi kulit putih Arizona Rangers, yang bersekongkol untuk mengebom gedung-gedung federal pada dekade 1980-an, merupakan keturunan Arizona Rangers, Texas Rangers, dan California Rangers abad ke-19, yang berkembang dari gerombolan pelaku hukuman gantung tanpa pengadilan (lynch mobs) yang meneror penduduk Meksiko di wilayah-wilayah yang ditaklukkan pada dekade 1840-an menjadi embrio aparat penegak hukum negara Euro-Amerika di wilayah-wilayah yang direbut dari Meksiko.”

Turning the Tide juga menyebut berbagai organisasi penegak hukum swakarsa (vigilante) serupa yang beroperasi di Missouri, Idaho, dan Montana pada abad ke-19, serta Ku Klux Klan pada dekade 1920-an, yang "menegakkan 'Amerikanisme' Protestan, nilai-nilai keluarga, histeria anti-imigran, dan Larangan Minuman Keras (Prohibition)." [25]

Contoh-contoh represi oleh organisasi penegak hukum swakarsa tersebut sering kali diterima, bahkan tidak jarang secara aktif didukung oleh negara. Namun, kekuatan-kekuatan represif lainnya justru beroperasi dengan menentang negara. Hal ini terutama mencerminkan sejarah penaklukan kolonial dan sistem penindasan rasial di Amerika Serikat, di mana warga kulit putih dari semua kelas berpartisipasi secara aktif, meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda. Selama lebih dari tiga abad, permusuhan masyarakat keturunan Eropa di Amerika terhadap "pemerintahan yang besar" (big government) sering kali didorong oleh keinginan untuk memperoleh keleluasaan yang lebih besar dalam menaklukkan atau mendominasi masyarakat kulit berwarna tanpa dibatasi oleh pembatasan-pembatasan yang diberlakukan pemerintah pusat atas dasar pertimbangan pragmatis. Sebagai contoh, “Pemberontakan Bacon” pada tahun 1676 diawali dengan pembantaian terhadap masyarakat adat Occaneechee oleh para pemukim di wilayah perbatasan Virginia. Revolusi Amerika juga sebagian didorong oleh penolakan terhadap Proklamasi Kerajaan 1763, yang melarang permukiman kolonial di sebelah barat Pegunungan Appalachia. Baik “Kerusuhan Draf Kota New York” maupun Ku Klux Klan pada masa Rekonstruksi memadukan teror terhadap masyarakat kulit hitam dengan perang tidak teratur melawan pemerintah pusat yang berkuasa. Pada dekade 1880-an, gerakan buruh kulit putih di Amerika Serikat bagian Barat sebagian besar dibangun di atas rasisme anti-Tionghoa, termasuk melalui sejumlah pogrom. Setelah Perang Dunia I, bahkan Ku Klux Klan yang dibentuk kembali sering menantang elite-elite lokal dan, dalam beberapa kasus, bahkan mendukung para buruh yang sedang mogok. Pada dekade 1930-an hingga awal 1940-an, jaringan organisasi fasis dan pro-fasis yang cukup besar menyerukan penggulingan pemerintah. Kemudian, pada akhir dekade 1950-an, para politisi Selatan melancarkan kampanye Massive Resistance untuk menentang kebijakan desegregasi sekolah yang diwajibkan oleh pemerintah federal. [26]

Dari akar sejarah tersebut tumbuh beberapa cabang desentralisme sayap kanan yang saling berkaitan. Libertarianisme mengkristal setelah Perang Dunia II di kalangan para pendukung kapitalisme pasar bebas, yang mengecam program-program New Deal, seperti program Perlindungan Sosial sebagai kebijakan yang bersifat sosialis. Libertarianisme berakar pada tradisi individualisme yang kuat di Amerika Serikat serta mitologi mengenai kemandirian individu yang dikaitkan dengan kehidupan di wilayah perbatasan. Namun demikian, kaum kapitalis sayap kanan memainkan peran penting dalam mendanai lembaga-lembaga libertarian, seperti Foundation for Economic Education dan Cato Institute. Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi-organisasi yang didukung korporasi, seperti American Legislative Exchange Council, berperan penting dalam mendorong privatisasi berbagai fungsi pemerintahan, termasuk pendidikan, layanan sosial, transportasi umum, dan penjara. [27]

Perkembangan libertarianisme juga berkaitan erat dengan Kristen sayap kanan. Pada dekade 1950-an, media-media Protestan konservatif seperti Faith and Freedom mempromosikan pesan individualisme kapitalis yang berlandaskan Alkitab, yang kemudian menjadi salah satu prinsip utama ideologi Kristen sayap kanan. Permusuhan terhadap pemerintahan yang besar turut membentuk salah satu faksi Kristen sayap, kanan yang paling garis keras, yang dikenal sebagai Christian Reconstructionism. Berakar pada teologi Presbiterian, "Rekonstruksionisme" (Reconstructionism) mengadvokasi penerapan hukum Alkitab secara menyeluruh dan totalistik, tetapi pelaksanaannya terutama dilakukan melalui pemerintahan lokal dan lembaga-lembaga privat, khususnya gereja dan keluarga. Karena itu, seorang sarjana menggambarkan kaum Rekonstruksionis sebagai "teokrat libertarian". [28] Tokoh-tokoh yang terkait dengan Christian Reconstructionism antara lain Gary North, penulis libertarian; Matt Trewhella dari Missionaries to the Preborn; serta Howard Phillips, yang tiga kali mencalonkan diri sebagai presiden melalui U.S. Taxpayers Party/Constitution Party. Kelompok separatis Christian Exodus juga dipengaruhi oleh Rekonstruksionisme. 

Bentuk-bentuk baru desentralisme politik juga muncul di dalam sayap kanan nasionalis kulit putih. Pada dekade 1980-an, doktrin-doktrin neo-nazi seperti Christian Identity dan “Posisi Ketiga” (Third Position) sebagian besar menggantikan segregasionisme ala Ku Klux Klan di kalangan kelompok kanan paramiliter. Meskipun kaum fasis klasik mengadvokasi negara yang sangat tersentralisasi, banyak kelompok baru ini justru menyerukan pemecahan atau pembagian kewenangan politik ke dalam unit-unit yang lebih kecil. Sebagai contoh, Aryan Nations mengusulkan pembentukan tanah air kulit putih yang terpisah di wilayah Pasifik Barat Laut, sementara Posse Comitatus menolak seluruh otoritas pemerintahan di atas tingkat county dan menganggapnya tidak sah. Pada periode yang sama, sebagian besar sayap kanan ekstrem Amerika Serikat juga dipengaruhi oleh promosi konsep "perlawanan tanpa pemimpin" yang dikembangkan oleh Louis Beam.

Contoh terbesar dari desentralisme militan sayap kanan pada masa belakangan ini adalah gerakan Patriot, yang pada puncaknya diperkirakan menarik sekitar lima juta pendukung pada pertengahan hingga akhir dekade 1990-an, dan belakangan mengalami kebangkitan kembali, meskipun hanya sebagian. Mencakup beragam kelompok dan gagasan yang dipengaruhi oleh neo-nazisme, Kristen sayap kanan, libertarianisme, serta teori-teori konspirasi ala John Birch Society, gerakan Patriot merupakan koalisi berskala besar pertama yang mempertemukan aktivis fasis dan non-fasis di Amerika Serikat sejak berakhirnya Perang Dunia II. Gerakan ini berkembang dari ketakutan bahwa elite global sedang merancang suatu bentuk tirani yang akan dipaksakan kepada Amerika Serikat, sehingga banyak anggotanya membentuk milisi bersenjata untuk mempertahankan diri dari tindakan represif yang mereka yakini akan segera terjadi. Meskipun sebagian besar kelompok Patriot menyangkal adanya prasangka etnis, gagasan-gagasan yang berakar pada supremasi kulit putih tersebar luas di dalam gerakan tersebut. Salah satunya adalah klaim konstitusional palsu bahwa warga Afrika-Amerika hanya memiliki "kewarganegaraan Amandemen Ke 14" (14th Amendment citizenship), yang dianggap lebih rendah daripada "kewarganegaraan berdaulat" (Sovereign citizenship) yang diklaim dimiliki oleh warga Amerika kulit putih Kristen. [29]

Di antara berbagai arus desentralisme sayap kanan tersebut, libertarianisme merupakan arus yang memberikan pengaruh paling besar terhadap pandangan politik Preston. Dari sinilah berasal klaimnya yang terlalu menyederhanakan bahwa perjuangan melawan penindasan dapat direduksi menjadi sekadar pembongkaran pemerintahan yang besar. Preston bukanlah seorang nasionalis kulit putih maupun penganut Kristen sayap kanan. Kedekatannya dengan gerakan Patriot didasarkan pada permusuhan militannya terhadap elite-elite globalisasi, bukan pada teori-teori konspirasi atau teori hukum yang mengada-ada. Meskipun demikian, seluruh arus tersebut telah berkontribusi pada pembentukan suatu wacana sayap kanan yang lebih luas, yang memadukan desentralisme dengan keyakinan terhadap hierarki sosial, serta populisme dengan elitisme. Karya-karya Preston menjadi penting terutama karena berbagai cara di mana pemikirannya bersinggungan dan berbaur dengan arus-arus lain dalam lingkungan Alternatif Kanan. Selain itu, pendekatan "koalisi besar" (big tent) yang ia usung terhadap perubahan radikal mendukung sekaligus mempromosikan seluruh arus tersebut, dan semuanya akan memainkan peran besar dalam membentuk masyarakat yang ingin ia ciptakan.


Kanan Baru Eropa

Unsur penting lainnya dalam politik eklektik Preston adalah ideologi Kanan Baru Eropa (European New Right atau ENR). Seperti Aryan Nations maupun Posse Comitatus, ENR merupakan cabang desentralis dari fasisme tradisional. Namun, dibandingkan dengan padanannya di Amerika Serikat, ENR melangkah jauh lebih jauh dalam menjauhkan diri dari kefanatikan etnis yang bersifat terang-terangan. Preston menulis bahwa ia menganggap filsafat ENR sebagai salah satu landasan terbaik bagi anarkisme modern, dan bahwa "lebih daripada arus intelektual kontemporer lainnya, ENR telah mengembangkan kritik terhadap landasan filosofis humanisme totaliter, sekaligus menawarkan tanggapan yang rasional terhadap persoalan ancaman yang ditimbulkan oleh transformasi demografis." [30]

Kanan Baru Eropa bermula di Prancis pada akhir dekade 1960-an dengan berdirinya Groupement de Recherche et d'Études pour la Civilisation Européenne (GRECE), kemudian menyebar ke berbagai negara Eropa lainnya, termasuk Italia, Rusia, Jerman, Belgia, dan Britania Raya. Para pendirinya, terutama Alain de Benoist, pada awalnya merupakan tokoh-tokoh kanan jauh tradisional yang secara bertahap namun sistematis berupaya merumuskan ulang ideologi fasis. Jika fasisme klasik mengandalkan paramiliterisme dan mobilisasi politik massa, ENR justru memusatkan perhatian pada transformasi wacana intelektual dan kebudayaan. Sebagai pengganti cita-cita fasis klasik mengenai negara-bangsa yang sangat tersentralisasi dan otoriter, ENR membayangkan sebuah "imperium" federatif yang terdiri atas komunitas-komunitas etnokultural berbasis kawasan. ENR mengusung anti-imperialisme, bukan ekspansionisme, serta keaslian budaya, bukan kemurnian biologis. Sambil menolak fasisme beserta simbol-simbolnya yang telah dikenal luas, banyak pemikir Kanan Baru Eropa menghidupkan kembali tokoh-tokoh kanan jauh yang kurang dikenal dari periode antarperang, terutama para penulis yang terkait dengan "Revolusi Konservatif Jerman" (istilah yang diperkenalkan oleh tokoh kanan jauh Swiss Armin Mohler, yang menyebut mereka sebagai "kaum Trotskyis dari Revolusi Jerman"). Pada saat yang sama, ENR tetap mewarisi permusuhan fasisme tradisional terhadap individualisme, egalitarianisme, serta percampuran etnis maupun ras, di samping paganisme yang juga dianut oleh sebagian fasis klasik. [31]

Salah satu ciri utama ideologi ENR adalah doktrin yang oleh Benoist disebut sebagai “diferensialisme” (differentialism). Tokoh-tokoh Kanan Baru Eropa mengklaim diri sebagai pembela "keanekaragaman biokultural" terhadap dampak-homogenisasi globalisasi dan liberalisme. Mereka berpendapat bahwa anti-rasisme yang sejati berarti menghormati dan mempertahankan perbedaan ras maupun etnis melalui pemisahan. (Karena itu, Benoist mendukung pembatasan imigrasi, meskipun ia mengakui bahwa eksodus massal para imigran yang telah berada di Prancis bukanlah sesuatu yang realistis.) Dengan cara yang serupa, Benoist dan Charles Champetier berpendapat bahwa feminisme yang sejati, yakni feminisme yang "diferensialis", berarti mempertahankan perbedaan alami antara laki-laki dan perempuan. Menetralkan perbedaan tersebut, menurut mereka, merupakan "bentuk dominasi laki-laki yang menyimpang", karena hal itu mengharuskan perempuan "melepaskan feminitas mereka." Diferensialisme juga berarti menolak prinsip hak asasi manusia yang bersifat universal sebagai "senjata strategis etnosentrisme Barat", sebab semua hak, menurut mereka, bergantung pada konteks budaya masing-masing. [32]

Banyak pengamat berpendapat bahwa perubahan politik ENR tidak memiliki kejujuran intelektual. Guillaume Faye, mantan rekan Benoist yang kemudian mengkritiknya dari posisi yang lebih kanan, menuduh bahwa penerimaan GRECE terhadap etnopluralisme pada awalnya hanyalah sebuah "siasat retoris" untuk memungkinkan orang-orang Eropa mempertahankan identitas mereka tanpa dituduh sebagai rasis. Kritik tersebut juga didukung oleh Michael O'Meara, seorang nasionalis kulit putih dan penulis salah satu dari sedikit buku berbahasa Inggris yang secara khusus membahas Kanan Baru Eropa. O'Meara berpendapat bahwa Benoist mengadopsi "prinsip-prinsip pluralisme liberalisme kontemporer" demi membela Eropa dari "musuh-musuh biokulturalnya." [33]

Sementara Faye dan O'Meara berpendapat bahwa strategi tipu daya GRECE justru berbalik merugikan mereka dan mendorong organisasi tersebut berkompromi dengan prinsip-prinsip anti-liberalnya, para pengkritik dari kalangan yang lebih kiri berpendapat bahwa retorika pluralis ENR hanya menutupi chauvinisme budaya dan otoritarianisme. Anton Shekhovtsov berpendapat bahwa ENR telah mengubah "hak semua bangsa untuk menjadi berbeda", yang diakui oleh PBB, menjadi sebuah keharusan, sekaligus menjadikannya sebagai "cara untuk melegitimasi eksklusionisme Eropa dan penolakan terhadap percampuran ras (miscegenation)." Alberto Spektorowski mencatat bahwa meskipun Benoist mengklaim memandang semua kebudayaan setara, ia menganggap perkembangan teknologi sebagai sesuatu yang "otentik" hanya bagi bangsa-bangsa Indo-Eropa. Dengan demikian, "dengan mendorong kebudayaan lain agar tetap terkungkung dalam kebudayaan dan nomos-nya sendiri, [Benoist] menghukum mereka pada keterbelakangan yang 'membanggakan'." Sementara itu, Roger Griffin berpendapat bahwa Kanan Baru Prancis tetap setia pada "misi historis mendasar" fasisme, yaitu menggantikan kemerosotan demokrasi liberal dengan sebuah "tatanan baru" di mana identitas nasional maupun etnis diperkuat alih-alih dilemahkan, dan perbedaan antarmasyarakat dipertegas, bukan dikikis. [34] Griffin juga memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mewujudkan visi politik ENR:

“...pada praktiknya akan melibatkan rekayasa sosial oleh sebuah negara (super) yang otokratis melalui kebijakan-kebijakan homogenisasi budaya dan etnis serta eksklusi sosial. Kebijakan-kebijakan tersebut ... secara sengaja akan berupaya membalikkan dampak dari puluhan tahun pluralisme liberal, multikulturalisme, multi-etnisitas, sekularisasi, dan individualisme. Upaya untuk memulihkan ‘perbedaan’, ‘identitas’, dan rasa kesakralan pagan berdasarkan apa yang diklaim sebagai ‘xenophilia’ pada akhirnya akan mengubah nasionalisme menjadi ultra-nasionalisme serta memperkenalkan berbagai bentuk eksklusi sosial dan indoktrinasi ideologis…” [35]

Kanan Baru Eropa relatif tidak banyak memberikan pengaruh di Amerika Serikat, setidaknya hingga beberapa tahun terakhir. Meskipun gerakan ini memiliki sejumlah kesamaan dengan paleokonservatisme Amerika, pertukaran gagasan di antara keduanya terbatas karena paganisme dan sikap anti-Kristen ENR, serta permusuhannya terhadap Amerika Serikat sebagai motor globalisasi. Jurnal Telos, yang didirikan oleh mantan aktivis kiri, telah memainkan peran penting dalam memperkenalkan teks-teks dan gagasan ENR kepada pembaca berbahasa Inggris setidaknya sejak awal dekade 1990-an. Belakangan ini, kaum Anarkis-Nasional juga muncul sebagai salah satu saluran penting penyebaran gagasan tersebut. ENR memberikan pengaruh besar dalam mengarahkan pendiri Anarkisme-Nasional, Troy Southgate, menjauh dari rasisme yang terang-terangan menuju bentuk “etnopluralisme” yang lebih canggih. Kaum Anarkis-Nasional juga mengikuti jejak ENR dengan mengagungkan para tokoh Revolusi Konservatif Jerman, terutama Ernst Jünger, yang karya-karya akhirnya berpusat pada konsep tentang "anark" (the anarch). [36]

Preston menulis bahwa Anarkisme-Nasional merupakan pintu masuknya untuk mengenal filsafat Kanan Baru Eropa. [37] Di antara berbagai titik persamaan, Preston menerima kritik ENR terhadap homogenisasi budaya dan universalisme yang dianggap "totaliter", serta pandangannya bahwa separatisme etnis termasuk pembatasan imigrasi merupakan hal yang penting untuk mempertahankan keberagaman budaya. Ia juga mengadopsi proyek ENR untuk menghidupkan kembali karya-karya para pemikir kanan jauh Jerman pada masa Weimar yang bukan bagian dari gerakan Nazi. Dalam konteks ini, ia menjadikan Ernst Jünger sebagai teladan elitisme meritokratis serta menulis sebuah kajian panjang mengenai Carl Schmitt sebagai pengkritik paling tajam terhadap demokrasi liberal. [38] Selain itu, meskipun menggunakan istilah yang berbeda, visi Anarko-Pluralisme Preston sangat menyerupai gagasan ENR tentang sebuah imperium federal yang terdiri atas komunitas-komunitas terdesentralisasi.

Perbedaan utama antara Preston dan Kanan Baru Eropa berpusat pada dua persoalan, yaitu agama dan liberalisme. Sebagian besar tokoh Kanan Baru Eropa menganut neo-paganisme, mendambakan "kembalinya yang sakral", serta mengecam agama Kristen sebagai akar dari universalisme, egalitarianisme, dan berbagai persoalan lainnya. Sebaliknya, Preston adalah seorang pragmatis yang bersedia bekerja sama dengan siapa pun tanpa memandang keyakinan agamanya, sementara ateismenya sendiri lebih ia anggap sebagai urusan pribadi. Yang lebih penting lagi, ENR tidak hanya mengkritik liberalisme negara kesejahteraan modern, tetapi juga liberalisme klasik, individualisme, dan pasar bebas, sedangkan Preston justru menerima ketiganya. Perbedaan-perbedaan ini membentuk perbedaan mendasar dalam cita-cita politik mereka. Jika utopia ENR menekankan komunitas-komunitas "organik" yang berakar pada budaya dan wilayah tertentu, maka visi Preston lebih menekankan individu yang bebas memilih komunitas yang ingin mereka masuki selama tidak mengganggu orang lain.

Dengan memadukan diferensialisme ENR dengan libertarianisme pragmatis khas Amerika, serta menerjemahkan wacana ENR yang cenderung akademis ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, Preston kemungkinan turut membuat gagasan-gagasan ENR lebih menarik bagi khalayak Amerika Serikat. Pembahasan mengenai karya dan gagasan ENR secara berkala dimuat tidak hanya di situs Attack the System milik Preston, tetapi juga di AlternativeRight.com dan berbagai situs lain yang berbasis di Amerika Serikat. Hubungan erat antara jaringan ATS/ARV dan kelompok-kelompok Anarkis-Nasional semakin mempertegas besarnya pengaruh ENR dalam diskursus kanan di Amerika Serikat.


Mengapa Keith Preston Penting

Keith Preston adalah seorang revolusioner sayap kanan yang permusuhannya terhadap kelas penguasa Amerika Serikat sama kuatnya dengan permusuhannya terhadap kelompok kiri. Ia menyerukan pembongkaran negara yang ada saat ini dan penggantiannya dengan suatu tatanan politik yang benar-benar baru. Revolusi ini akan mencabut kekuasaan politik dan budaya dari tangan para wakil kelas penguasa Amerika Serikat, tetapi tidak secara langsung menantang sistem kapitalisme, supremasi rasial kulit putih, patriarki, maupun heteroseksisme. Sebaliknya, revolusi tersebut justru akan mendorong bentuk-bentuk lain dari elitisme dan hierarki sosial, baik yang berbasis etnis, agama, maupun filsafat Friedrich Nietzsche. Dalam hal ini, Preston memiliki banyak kesamaan dengan fasisme. Namun, ia tidak menganut visi totaliter khas fasisme, yaitu keyakinan bahwa seluruh aspek kehidupan masyarakat harus ditundukkan pada satu doktrin tunggal yang dipaksakan dari atas. Anarko-Pluralisme merupakan ideologi yang berbahaya sekaligus menyesatkan. Alih-alih memaksakan satu tatanan represif, ideologi ini justru akan melahirkan beragam tatanan represif yang hidup berdampingan.

Meski demikian, revolusi Anarko-Pluralis masih bersifat hipotetis, sedangkan penindasan dan eksploitasi merupakan kenyataan yang langsung, brutal, dan dialami setiap hari oleh sebagian besar orang di Amerika Serikat, belum lagi di berbagai belahan dunia lainnya. Dengan kondisi seperti itu, mengapa kita perlu memedulikan Preston dan para sekutunya? Bukan karena ada ancaman langsung bahwa mereka akan segera merebut kekuasaan, melainkan karena mereka berpotensi "merebut permainan dari tangan kaum kiri", sebagaimana pernah didorong oleh Tom Metzger kepada kelompok-kelompok neo-Nazi pada dekade 1980-an. Peringatan Don Hamerquist mengenai kemunculan gerakan-gerakan fasis baru juga berlaku bagi para revolusioner sayap kanan seperti Preston. Menurutnya, bahaya sesungguhnya dari kekuatan semacam itu adalah bahwa mereka "dapat memperoleh dukungan massa dari kalangan pekerja yang berpotensi memberontak dan lapisan masyarakat yang terdeklasifikasi sebagai akibat dari kegagalan historis kaum kiri." [39]

Kedua sisi dari peringatan Hamerquist, yakni kegagalan historis kaum kiri dan potensi gerakan pemberontak kanan untuk menarik dukungan massa, termasuk dari basis sosial yang selama ini menjadi pendukung tradisional kaum kiri, tampak dengan jelas dalam pemikiran strategis Preston sendiri. Hal ini diuraikannya dalam tulisannya pada Februari 2011 yang berjudul The State of the Resistance Two Years Into the Age of Obama. Pertama, Preston berpendapat, dan hal ini cukup mengungkap banyak hal, bahwa terpilihnya Barack Obama justru mempercepat runtuhnya gerakan anti-perang dan gerakan menentang USA PATRIOT Act, meskipun Obama memperluas perang di Afghanistan serta melanjutkan kebijakan negara kepolisian yang diterapkan oleh George W. Bush. Menurut Preston, hal itu terjadi karena "kelompok kiri anti-perang maupun anti-Patriot Act pada dasarnya lebih digerakkan oleh penentangan terhadap Bush atau terhadap Partai Republik daripada oleh penentangan terhadap imperialisme ataupun negara kepolisian itu sendiri." [40]

Sebaliknya, Preston mencatat kemunculan dalam beberapa tahun terakhir apa yang ia sebut sebagai “oposisi kanan permanen”, yakni kekuatan kanan yang menentang kemapanan tanpa memandang partai mana yang sedang berkuasa, serta dengan tegas menolak apa yang disebutnya sebagai “konservatisme gerakan” dari Partai Republik. Menurutnya, kubu kanan paleokonservatif pertama kali mengambil posisi ini pada masa pemerintahan Bush, ketika kaum neo-konservatif yang mereka benci mendominasi pemerintahan. Sejak saat itu, gerakan paleokonservatif berkembang menjadi Alternatif Kanan yang jauh lebih radikal. Seiring dengan perkembangan tersebut, kelompok-kelompok lokal yang berafiliasi dengan Anarkisme-Nasional, jaringan Attack the System/American Revolutionary Vanguard (ATS/ARV) milik Preston sendiri, maupun arus-arus sejenis, mengalami pertumbuhan yang signifikan sejak Barack Obama mulai menjabat sebagai presiden. Menurut Preston, sebagian besar afiliasi tersebut “muncul di wilayah-wilayah yang secara kuat berhaluan biru (yakni cenderung ke kiri), seperti New York City, San Francisco, California Selatan, Ohio, Boston, Ontario, Negara Bagian Washington, dan Wisconsin. Lebih jauh lagi, kami juga mengalami pertumbuhan di kalangan demografi yang secara konvensional dianggap berhaluan biru, seperti warga Afrika-Amerika, penduduk asli Amerika, penduduk asli Alaska, kaum gay/queer, Muslim, dan kelompok-kelompok lain yang umumnya tidak dianggap sebagai bagian dari sayap kanan Amerika.” (Meskipun jumlah orang yang terlibat tampaknya memang relatif kecil, klaim-klaim tersebut tampaknya cukup akurat, dan Preston bukanlah orang yang dikenal gemar membual. Saya sendiri menghitung setidaknya terdapat sekitar 15 hingga 20 blog dan situs web milik kelompok-kelompok Anarkis-Nasional maupun afiliasi ATS di Amerika Utara. Sebagian besar di antaranya muncul dalam satu atau dua tahun terakhir, disertai lingkaran yang lebih luas berupa berbagai situs anarkis sayap kanan, berorientasi Kanan Baru Eropa, serta kelompok-kelompok separatis.)

Sebagai penutup, Preston berpendapat bahwa “perjuangan politik yang relevan di masa depan akan berbentuk semacam perang saudara di dalam kubu kiri (intra-Left civil war) antara kemapanan humanis totaliter dan oposisi anarkistis yang menolak paradigma kiri-kanan, mengadopsi pandangan populis, mengorganisasi unsur-unsur lumpen di kawasan perkotaan, terutama meskipun tidak secara eksklusif berorientasi pada kaum muda, serta menjalin aliansi politik dengan sektor-sektor populis sayap kanan yang lebih konvensional yang berasal dari wilayah-wilayah yang lebih konservatif atau berpenduduk jarang, bersama unsur-unsur revolusioner sayap kanan yang telah menolak sistem yang ada demi mewujudkan ‘Amerika pasca-Amerika’ (post-America) yang bercirikan politik yang lebih terdesentralisasi dan wilayah-wilayah yang memisahkan diri (seceded regions).”

Dalam konteks oposisi sayap kanan yang lebih luas, Preston berpotensi memainkan peran penting dalam mewujudkan visi strategis tersebut. Latar belakang dan pandangan politiknya menempatkannya pada posisi yang sangat menguntungkan untuk bertindak sebagai pembangun koalisi. Ia menawarkan suara politik yang militan, memiliki dasar analisis yang kuat, serta strategi yang koheren. Meskipun memiliki hubungan yang sangat erat dengan Anarkis-Nasional, jaringannya juga berpotensi menarik sebagian orang, termasuk kalangan kiri, yang merasa enggan bergabung dengan Anarkisme-Nasional karena muatan "tribalisme" yang lebih terang-terangan. Karena itu, Preston adalah sosok yang patut diamati dengan saksama.

Sebagaimana bentuk-bentuk lain dari populisme revolusioner sayap kanan, Anarko-Pluralisme ala Preston menuntut respons ganda dari kaum kiri. Di satu sisi, perlu diungkap kenyataan yang represif dan otoriter di balik klaim Preston bahwa ia memperjuangkan keberagaman dan kebebasan. Di sisi lain, yang jauh lebih sulit tetapi pada akhirnya jauh lebih penting, adalah membangun gerakan kiri revolusioner yang mampu menjadi kekuatan oposisi yang serius, siapa pun yang mengendalikan pemerintahan, baik kaum konservatif maupun liberal, Partai Republik maupun Partai Demokrat. Berbeda dengan versi revolusi Preston, hal itu berarti melawan bukan hanya kekuasaan negara yang tersentralisasi, melainkan juga seluruh bentuk penindasan.


Catatan Kaki:

[1] Keith Preston, "The Thoughts That Guide Me: A Personal Reflection," New Right Australia/New Zealand (situs web), 26 April 2006 (ditulis pada tahun 2005).

[2] Craig Fitzgerald, "Note on Racial Separatism," National Anarchist Tribal Alliance – New York (blog), 14 Januari 2011; lihat juga tulisan-tulisan Andrew Yeoman dari Bay Area National Anarchists di Stormfront.org; mengenai teori-teori anti-semit, lihat "N-AM Manifesto, Part One: Anti-Zionism," National-Anarchist Movement (situs web), 18 September 2010. Lihat juga Spencer Sunshine, "Rebranding Fascism: National-Anarchists," The Public Eye 23, no. 4 (Musim Dingin 2008).

[3] Keith Preston, "Learning the Hard Way: My Life as an Anarcho-Leftoid," AttackTheSystem.com (situs web) (selanjutnya disingkat ATS), 2002.

[4] Keith Preston, "Anarcho-Pluralism and Pan-Secessionism: What They Are and What They Are Not," ATS, 8 Agustus 2010.

[5] Keith Preston, "Why I Choose to Collaborate with Racialists and Theocrats," ATS, tanpa tanggal.

[6] Ibid.

[7] Keith Preston, "Third North American Secessionists Convention – A Review," ATS, 19 November 2008.

[8] American Revolutionary Vanguard, Twenty-Five Point Program, ATS.

[9] "Liberty and Populism: Building an Effective Resistance Movement for North America," ATS, 2006.

[10] Keith Preston, "Free Enterprise: The Antidote to Corporate Plutocracy," ATS, 2008; Keith Preston, "Crime and Conflict Theory," ATS, 30 Januari 2011; Keith Preston, "What Maoism Has To Offer Anarchism," ATS, 2 Juni 2008.

[11] Keith Preston, "Why I Choose to Collaborate with Racialists and Theocrats"; Keith Preston, "Is Extremism in the Defense of Sodomy No Vice?," ATS, 20 Mei 2009; Keith Preston, "The 'Purge' Revisted [sic]: Anarcho-Leftoids Unite in Hatred Against Keith Preston," ATS, 27 Mei 2009.

[12] Keith Preston, "Paul Gottfried and Me: An Exchange on Left and Right and Anarchism," ATS, 7 Desember 2010.

[13] Keith Preston, "The Thoughts That Guide Me."

[14] Ibid.

[15] Keith Preston, "We Will Win: The Case for Optimism," AlternativeRight.com, 6 Juni 2010; Keith Preston, "Liberty and Populism"; "Is Extremism in the Defense of Sodomy No Vice?"

[16] "The Critic Responds, and My Reply," ATS, 16 Januari 2011.

[17] Kersplebedeb, "Thinking about Warlordism," Sketchy Thoughts (blog), 29 Agustus 2010.

[18] Chester L. Quarles, Christian Identity: The Aryan American Bloodline Religion (Jefferson, North Carolina: McFarland & Company, 2004), bab 1; situs web Christian Exodus; "League of the South Core Beliefs Statement."

[19] Keith Preston, "Reply to a Cultural Marxist Critic," ATS, 22 Januari 2011.

[20] Keith Preston, "A Calm Anarchist Look at Race, Culture and Immigration," ATS, 2002.

[21] Mike Davis, Prisoners of the American Dream: Politics and Economy in the History of the US Working Class (London: Verso, 1986), hlm. 163–164.

[22] Robert Justin Goldstein, Political Repression in Modern America: From 1870 to the Present (Boston: G. K. Hall; Cambridge, Massachusetts: Schenkman, 1978), hlm. 9–12.

[23] Kutipan dari Sidang Pleno ke-13 yang Diperluas Komite Eksekutif Komunis Internasional (Desember 1933) tentang "Fascism, the War Danger, and the Tasks of the Communist Parties," dimuat ulang dalam International Fascism: Theories, Causes and the New Consensus, disunting oleh Roger Griffin (New York: Oxford University Press, 1998), hlm. 59.

[24] Noel Ignatiev, How the Irish Became White (New York: Routledge, 1995), hlm. 143.

[25] People Against Racist Terror, "PART's Perspective on the Militias," Turning the Tide 8, no. 2 (Musim Panas 1995).

[26] Chip Berlet dan Matthew N. Lyons, Right-Wing Populism in America (New York: Guilford Press, 2000); mengenai Massive Resistance, lihat Tom P. Brady, Black Monday: Segregation or Amalgamation... America Has Its Choice (Winona, Mississippi: Association of Citizens' Councils, 1955), kutipannya dimuat ulang dalam The Eyes on the Prize Civil Rights Reader, disunting oleh Clayborne Carson dkk. (New York: Penguin Books, 1991), hlm. 83–96.

[27] "American Legislative Exchange Council."

[28] Michael J. McVicar, "The Libertarian Theocrats: The Long, Strange History of R. J. Rushdoony and Christian Reconstructionism," The Public Eye 22, no. 3 (Musim Gugur 2007).

[29] Tom Burghardt, "State Citizenship: Patriot Ties To White Supremacists and Neo-Nazis," The Body Politic 5, no. 6 (Juni/Juli 1995).

[30] Keith Preston, "Paul Gottfried and Me."

[31] Roger Griffin, "Plus ça change! The Fascist Legacy in the Metapolitics of the Nouvelle Droite," bab dalam The Development of the Radical Right in France 1890–1995 (London: Routledge, 2000); Mark Wegierski, "The New Right in Europe," Telos 98–99 (Musim Dingin 1993/Musim Semi 1994); Anton Shekhovtsov, "Aleksandr Dugin's Neo-Eurasianism: The New Right à la Russe," Religion Compass 3, no. 4 (2009): 697–716; Franco Sacchi, Telos 98–99 (Musim Dingin 1993/Musim Semi 1994).

[32] Alain de Benoist dan Charles Champetier, "The French New Right In The Year 2000."

[33] Guillaume Faye, "The Cause of the Peoples?," Terre et Peuple, Titik Balik Matahari Musim Dingin 2003, dalam "The Faye-Benoist Debate on Multiculturalism"; Michael O'Meara, "Benoist's Pluriversum: an Ethnonationalist Critique," The Occidental Quarterly 5, no. 3 (Musim Gugur 2005).

[34] Anton Shekhovtsov, "Aleksandr Dugin's Neo-Eurasianism"; Alberto Spektorowski, "The French New Right: Differentialism and the Idea of Ethnophilian Exclusionism," Polity 33, no. 2 (Musim Dingin 2000): 299; Roger Griffin, "Plus ça change," hlm. 9.

[35] Roger Griffin, "Plus ça change," hlm. 7.

[36] Lihat, misalnya, edisi khusus Telos Musim Dingin 1993–Musim Gugur 1994 (no. 98–99) tentang "The French New Right: New Right-New Left-New Paradigm?"; mengenai asal-usul Anarkisme-Nasional, lihat Graham D. Macklin, "Coopting the Counter Culture: Troy Southgate and the National Revolutionary Faction," Patterns of Prejudice 39, no. 3 (September 2005).

[37] Keith Preston, "Anarcho-Pluralism and Pan-Secessionism"; mengenai penyebutan dirinya sebagai fellow traveler Anarkisme-Nasional, lihat Keith Preston, "Response to a Left-Anarchist Critic," ATS, 13 Januari 2011.

[38] Keith Preston, "America's Left Conservative Heritage," Taki's Magazine, 16 Juni 2009; Keith Preston, "Carl Schmitt" (Bagian I–IV), AlternativeRight.com, 27 Agustus–29 September 2010.

[39] Tom Metzger dikutip dalam "Metzger Begins Move to the Top," The Monitor (buletin Center for Democratic Renewal), Januari 1988, hlm. 5; Don Hamerquist, "Fascism & Anti-Fascism," dalam Confronting Fascism: Discussion Documents for a Militant Movement (Montreal dan Chicago: Kersplebedeb, ARA Chicago, dan Arsenal Magazine, 2002), hlm. 16.

[40] Seluruh kutipan dalam catatan kaki ini dan dua paragraf berikutnya berasal dari Keith Preston, "The State of the Resistance Two Years Into the Age of Obama," ATS, 10 Februari 2011.



Diterjemahkan dari: