Penulis: Spencer Sunshine
Pada 8 September 2007 di Sydney, Australia, gerakan anti-globalisasi kembali melakukan mobilisasi untuk menentang kebijakan ekonomi neoliberal, kali ini sebagai bentuk penolakan terhadap KTT APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation). Seperti halnya dalam aksi protes terhadap WTO (World Trade Organization) di Seattle, Washington, pada tahun 1999, jalan-jalan dipenuhi oleh beragam kelompok, seperti aktivis lingkungan, sosialis, dan pegiat hak asasi manusia. Sama seperti di Seattle, terdapat pula kelompok Black Bloc, yakni kelompok aktivis militan yang umumnya merupakan anarkis kiri, mengenakan topeng dan berpakaian serba hitam.
Di Sydney, Black Bloc berkumpul sambil mengibarkan spanduk bertuliskan "Globalization is Genocide" ("Globalisasi adalah Genosida"). Namun, ketika para demonstran lain mengamati lebih dekat, mereka menyadari bahwa para peserta Black Bloc tersebut sebenarnya adalah Anarko-Nasionalis, yakni kaum fasis lokal yang menyamar sebagai anarkis dan menyusup ke dalam demonstrasi. Polisi bahkan harus melindungi para penyusup itu agar tidak diusir oleh para aktivis yang marah.
Sejak saat itu, kaum Anarko-Nasionalis turut bergabung dalam berbagai aksi demonstrasi lain di Australia maupun Amerika Serikat. Pada April 2008, mereka ikut memprotes pemerintah Tiongkok atas nama Tibet saat estafet obor Olimpiade berlangsung, baik di Canberra maupun di San Francisco. Pada September tahun yang sama, kaum Anarko-Nasionalis di Amerika Serikat juga melakukan aksi protes terhadap Folsom Street Fair, sebuah acara tahunan komunitas gay bertema leather yang diselenggarakan di San Francisco.
Sekilas, kejadian-kejadian tersebut mungkin tampak sebagai insiden penyamaran yang aneh dan terpisah satu sama lain. Namun, kelompok yang mengaku sebagai "anarkis" ini sebenarnya merupakan ekspor internasional dari bentuk baru fasisme yang mencerminkan pergeseran penting dalam kecenderungan maupun ideologi gerakan tersebut. Kaum Anarko-Nasionalis memiliki pengikut di Australia, Britania Raya, Amerika Serikat, dan berbagai negara di daratan Eropa. Mereka juga merupakan bagian dari kecenderungan yang lebih luas, yaitu kelompok-kelompok fasis yang mengambil alih unsur-unsur dari Kiri radikal. Seperti halnya "Nasionalis Otonom" di Jerman maupun fasisme intelektual yang lebih halus dari Kanan Baru Eropa, kaum Anarko-Nasionalis mengadopsi gagasan dan simbol-simbol kiri, lalu menggunakannya untuk menyamarkan nilai-nilai inti fasis yang mereka anut. Sebagai contoh, kaum Anarko-Nasionalis mengecam negara yang tersentralisasi, kapitalisme, dan globalisasi, tetapi sebagai gantinya mereka ingin membangun sebuah sistem desa-desa yang homogen secara etnis.
Pada tahun 1990, Chip Berlet menunjukkan dalam Right Woos Left bagaimana kelompok kanan ekstrem di Amerika Serikat telah berulang kali berupaya mendekati kalangan kiri. Menurutnya, "Kaum kanan fasis telah berupaya merangkul kiri progresif terutama melalui penentangan terhadap isu-isu seperti penggunaan pasukan Amerika Serikat dalam intervensi militer di luar negeri, dukungan terhadap Israel, penyalahgunaan wewenang dan operasi rahasia CIA, represi pemerintah di dalam negeri, hak atas privasi, serta kebebasan sipil." [1] Belakangan, kanan fasis juga berusaha membangun aliansi dengan memanfaatkan isu-isu seperti kepedulian terhadap lingkungan hidup (enviromentalisme), anti-Zionisme garis keras, dan penentangan terhadap globalisasi.
Fasisme semakin bersifat internasional pada periode setelah Perang Dunia II, terutama seiring berkembangnya internet. Salah satu dampak yang paling jelas dari proses internasionalisasi ini adalah terus mengalirnya gagasan-gagasan dari Eropa ke Amerika Serikat. Sebagai contoh, gerakan Nazi skinhead berasal dari Britania Raya dan dengan cepat menyebar ke Amerika Serikat. Sebaliknya, dari Amerika Serikat mengalir ekspor Ku Klux Klan ke Eropa, serta penyelundupan literatur penyangkalan Holocaust dan neo-Nazi ke Jerman. [2]
Gagasan Anarko-Nasionalisme juga menyebar ke berbagai belahan dunia melalui internet. Di Amerika Serikat hanya terdapat beberapa situs web yang mengusung gagasan ini, tetapi sejauh ini kecenderungannya menunjukkan peningkatan yang stabil. Banyak pihak memandangnya sebagai wajah baru yang potensial dari fasisme. Dengan mengadopsi simbol, slogan, dan sikap tertentu dari gerakan anarkis kiri, bentuk baru fasisme pascaperang ini (seperti halnya Kanan Baru Eropa) berusaha menghindari stigma yang melekat pada tradisi fasis lama, sambil menyisipkan nilai-nilai inti fasis mereka ke dalam gerakan anti-globalisasi serta berbagai kelompok politik terdesentralisasi lainnya. Pada saat yang sama, kaum Anarko-Nasionalis juga berharap dapat menarik anggota, seperti kaum kontra-budaya yang reaksioner dan anggota British National Party, menjauh dari kelompok nasionalis kulit putih tradisional menuju perpaduan ideologi mereka yang diklaim sebagai "bukan kiri maupun kanan." [3]
Terlepas dari klaim tersebut, ideologi Anarko-Nasionalisme pada dasarnya berpusat pada apa yang oleh sarjana Roger Griffin didefinisikan sebagai inti dari fasisme, yaitu "ultranasionalisme populis palingenetik”. Menurut Griffin, “palingenetik” merupakan "istilah umum untuk suatu visi mengenai awal yang benar-benar baru setelah suatu periode kehancuran atau pembusukan yang dipersepsikan." Dengan demikian, ultranasionalisme palingenetik adalah "ultranasionalisme yang memiliki visi mobilisasi berupa bangkitnya kembali komunitas bangsa laksana burung phoenix setelah melewati suatu periode kemerosotan yang hampir menghancurkannya." [4]
Bagi kaum Anarko-Nasionalis, bentuk ultranasionalisme inilah yang menjadi inovasi ideologis utama mereka, yakni keinginan untuk menciptakan suatu sistem desa-desa yang homogen secara etnis tanpa keberadaan negara (dan karena itu disebut "anarkis"). Ideolog utama mereka, Troy Southgate, menyatakan: "Kami hanya ingin menegaskan bahwa Anarko-Nasionalisme pada dasarnya merupakan sebuah fenomena rasialis. Itulah yang membuatnya berbeda." [5]
Mengapa kita perlu memberi perhatian pada bentuk-bentuk baru fasisme seperti ini? Memang, dalam waktu dekat tidak ada ancaman langsung bahwa fasisme akan merebut kekuasaan di negara-negara demokrasi liberal Barat yang telah mapan. Kebangkitan Benito Mussolini dan Adolf Hitler pada dekade 1920-an dan 1930-an terjadi dalam konteks sejarah dan kondisi sosial yang berbeda dengan situasi saat ini. Meskipun demikian, persoalan yang dipertaruhkan tetap sangat besar.
Bentuk-bentuk baru fasisme ini berpotensi menimbulkan kekacauan di dalam gerakan-gerakan sosial dengan menarik para aktivis keluar dari Kiri menuju Kanan. Sebagai contoh, ketika Uni Soviet runtuh, sejumlah kelompok kiri non-komunis bermunculan di Rusia dengan menawarkan harapan akan masyarakat yang lebih egaliter tanpa kediktatoran. Namun, kelompok yang kemudian menjadi dominan adalah "Bolshevik Nasional", yang kemungkinan merupakan kelompok fasis Posisi Ketiga (Third Position) paling berhasil pada masa kini (lihat glosarium). Dengan menarik imajinasi kaum muda yang kecewa melalui pengadopsian banyak posisi politik kiri serta keterlibatan dalam aksi langsung, mereka berhasil melumpuhkan para pesaingnya dengan menyerap basis massa mereka secara besar-besaran. Kelompok-kelompok kiri tersebut pun lenyap, sementara kaum Bolshevik Nasional tetap menjadi kekuatan politik yang berpengaruh hingga sekarang dengan basis akar rumput dan dukungan kaum muda yang sangat besar. Seiring bertambahnya usia para pendukungnya, mereka diperkirakan akan tetap memiliki pengaruh dalam politik Rusia selama beberapa dekade.
Bahkan ketika masih berukuran kecil, Jeffrey Bale berpendapat bahwa sekte-sekte fasis semacam ini tetap penting untuk diperhatikan karena dapat berfungsi sebagai saluran penyebaran bagi gagasan-gagasan politik yang tidak lazim, memengaruhi kelompok-kelompok yang lebih arus utama, serta membangun jaringan transnasional. [6]
Selama bertahun-tahun, gerakan anti-globalisasi juga telah menciptakan ruang bagi terbentuknya aliansi antara Kiri dan Kanan semacam ini. Kelompok anti-rasis Belanda De Fabel van de illegaal menarik diri dari gerakan anti-globalisasi pada tahun 1998 karena adanya hubungan gerakan tersebut dengan kekuatan-kekuatan kanan jauh. Pat Buchanan, politikus paleokonservatif yang memiliki pandangan rasis dan anti-semit, bahkan berpidato di atas panggung Serikat Buruh Teamsters dalam demonstrasi menentang IMF dan Bank Dunia di Washington, D.C., pada April 2000. [7] Sementara itu, tokoh-tokoh rasis seperti Louis Beam (yang pernah bekerja sama dengan Knights of the Ku Klux Klan dan Aryan Nations) serta Matt Hale (dari World Church of the Creator) justru memuji demonstrasi menentang WTO di Seattle pada tahun 1999. [8]
Pada saat yang sama, sebagian kalangan Kiri anti-imperialis (termasuk sebagian anarkis) juga membangun aliansi dengan gerakan-gerakan Islamis reaksioner seperti Hamas dan Hizbullah, menyerukan penerimaan terbuka terhadap antisemitisme, serta merangkul perjuangan-perjuangan nasionalis. [9] Sejarah ini mendorong banyak anarkis kosmopolitan untuk mengkhawatirkan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh kaum fasis gaya baru terhadap kaum kiri radikal dapat memperoleh keberhasilan sampai tingkat tertentu.
Sejarah dan Strategi Kelompok
Kaum Anarko-Nasionalis berakar dari National Front, sebuah partai sayap kanan jauh di Inggris yang sempat meraih keberhasilan elektoral tak terduga pada tahun 1977 berkat platform anti-imigran yang xenofobik. Setelah pemilu tersebut, kelompok itu terpecah ke dalam berbagai faksi internal sebelum akhirnya terbelah lagi menjadi sejumlah sekte. Troy Southgate, ideolog utama Anarko-Nasionalis, merupakan veteran dari labirin konflik internal tersebut. Ia bergabung dengan National Front pada tahun 1984, lalu masuk ke sebuah kelompok pecahan yang kemudian kembali terpecah dan akhirnya menjadi National Revolutionary Faction (NRF), sebuah organisasi kader kecil yang secara terbuka menyerukan perang gerilya bersenjata. [10]
Namun, pada akhir 1990-an, NRF mulai bertransformasi menjadi gerakan Anarko-Nasionalis. Selama beberapa tahun, kedua nama tersebut digunakan secara bergantian hingga NRF resmi dibubarkan pada tahun 2003. [11] Ideologi Southgate tampaknya tidak mengalami perubahan yang berarti selama proses pergeseran itu, dan ia terus menyebarluaskan esai-esainya yang ditulis pada masa NRF.
Satu-satunya aksi publik NRF yang diketahui ketika menggunakan identitas Anarko-Nasionalis adalah penyelenggaraan Anarchist Heretics Fair pada Oktober 2000, yang diikuti oleh sejumlah kelompok yang sangat marginal. Namun, ketika mereka berusaha menyelenggarakan pameran kedua, berbagai kelompok anarkis dan anti-fasis berhasil menggagalkannya. Setelah hal yang sama kembali terjadi pada tahun 2001, Southgate dan NRF meninggalkan strategi tersebut dan beralih sepenuhnya pada propaganda berbasis internet. [12]
Pameran tersebut mencerminkan adaptasi Southgate terhadap praktik “entrisme” yang berasal dari tradisi Trotskis, yaitu strategi menyusup ke dalam organisasi politik lain dengan tujuan mengambil alih organisasi tersebut atau memisahkan sebagian anggotanya. [13] Southgate menyatakan: "NRF menggunakan para aktivis kader untuk menyusup ke dalam kelompok-kelompok politik, lembaga-lembaga, dan berbagai institusi pelayanan... Ini merupakan bagian dari strategi kami, dan apabila kami ingin meraih keberhasilan di masa depan, pekerjaan semacam ini harus dilakukan dalam skala yang semakin luas." [14] Ia mengklaim bahwa NRF berhasil menyusup ke dalam demonstrasi Stop the City tahun 1999 dan aksi May Day tahun 2000, serta ke dalam berbagai kegiatan Hunt Saboteurs Association dan Animal Liberation Front. [15]
Selain sebagai strategi taktis, entrisme juga menjadi bagian dari filosofi Anarko-Nasionalis dalam merekrut anggota dari kalangan kiri, khususnya kelompok-kelompok anarkis. Alih-alih secara terbuka menyebut diri sebagai "komunitarian rasis", mereka dengan sengaja mengadopsi label "anarkis" serta mengambil alih berbagai simbol dan citra anarkisme. Contohnya adalah penggunaan bintang berwarna ungu (sementara kaum anarkis umumnya menggunakan bintang hitam, atau bintang yang separuhnya hitam dan separuh lainnya menunjukkan kecenderungan politik tertentu, misalnya merah untuk sindikalis, hijau untuk ekologis, dan sebagainya), ataupun bintang merah-hitam yang dipadukan dengan Salib Kelt (Celtic Cross), simbol yang lazim digunakan oleh kaum nasionalis kulit putih. Kelompok-kelompok sekutu mereka dalam Kanan Baru di Australia dan Britania Raya juga menggunakan "simbol kekacauan" (chaos symbol) berupa bintang bersudut delapan, yang mereka apropriasi dari kalangan anarkis kontra-budaya sayap kiri.
Penggunaan formasi politik Black Bloc oleh kaum fasis dalam berbagai demonstrasi juga merupakan bentuk apropriasi terhadap tradisi aksi langsung kaum anarkis dan kelompok kiri radikal. Dalam beberapa tahun terakhir, kaum fasis Jerman yang menamakan diri "Nasionalis Otonom" bahkan berbaris dalam formasi Black Bloc berskala besar, mengibarkan bendera hitam (simbol tradisional anarkisme), dan mengadopsi simbol-simbol yang digunakan oleh kelompok-kelompok anti-fasis di Jerman. [16]
Sejak tahun 1984, Pierre-André Taguieff, seorang pakar mengenai Kiri Baru Eropa, telah mengecam "taktik pengaburan ideologis yang dijalankan secara sistematis oleh GRECE", sebuah lembaga pemikir sayap kanan yang mengadopsi sebagian kritik kiri terhadap kapitalisme sambil tetap mempertahankan gagasan-gagasan inti fasisme. [17] Dalam praktik Anarko-Nasionalis, pengaburan ideologis tersebut diterapkan hingga ke tingkat akar rumput.
Perlu ditekankan bahwa, terlepas dari namanya, Anarko-Nasionalisme tidak muncul dari dalam gerakan anarkis, dan secara intelektual akar pemikiran mereka juga tidak berasal dari tradisi anarkisme. Kaum anarkis pada umumnya memandang diri mereka sebagai bagian dari gerakan kiri yang kosmopolitan dan secara tegas anti-nasionalis, yang bertujuan membongkar kapitalisme maupun negara yang tersentralisasi. Sebagai gantinya, mereka menginginkan terbentuknya komunitas-komunitas yang terdesentralisasi, non-hierarkis, dan mengatur dirinya sendiri secara mandiri. Walaupun memiliki sejumlah kesamaan dengan kaum Marxis, kaum anarkis sama teguhnya dalam menentang rasisme, seksisme, dan homofobia sebagaimana mereka menentang kapitalisme. Di Amerika Serikat, kaum anarkis memainkan peran penting dalam pembentukan serikat-serikat buruh, merupakan satu-satunya arus politik yang mendukung hak-hak homoseksual sebelum Perang Dunia I, menjadi pelopor gerakan kebebasan berbicara, serta aktif memperjuangkan legalisasi alat kontrasepsi. Oleh karena itu, adopsi label dan simbol anarkisme oleh kaum nasionalis kulit putih merupakan ironi yang sangat mencolok, mengingat kaum anarkis memiliki sejarah panjang dalam menghalangi kegiatan kelompok-kelompok nasionalis kulit putih secara langsung, misalnya melalui organisasi Anti-Racist Action. Bahkan, unit-unit militer anarkis pernah dibentuk untuk melawan Franco di Spanyol dan Mussolini di Italia.
Persoalan "Fasisme"
Kaum Anarko-Nasionalis mengklaim bahwa mereka bukanlah "fasis". Meskipun demikian, Troy Southgate menjadikan tokoh-tokoh fasis yang kurang dikenal sebagai rujukan, seperti pemimpin Iron Guard Rumania, Corneliu Codreanu, serta tokoh-tokoh Nazi yang kurang menonjol seperti Otto Strasser dan Walter Darré. Salah satu cara Southgate mengaburkan posisinya adalah dengan mengklaim dirinya "menentang fasisme" karena menganggap dirinya seorang sosialis (sebagaimana diklaim oleh tokoh-tokoh Nazi seperti Strasser) serta mendukung desentralisasi politik (sebagaimana dianut oleh tokoh-tokoh fasis Eropa kontemporer seperti Alain de Benoist). Terkadang ia bahkan menyamakan fasisme dengan kapitalisme yang ia tolak, atau dengan negara yang tersentralisasi, yang juga ia tentang.
Southgate tampaknya memang sungguh-sungguh dalam penolakannya terhadap fasisme klasik ala Hitler dan Mussolini, dan ia pernah menyebut hal tersebut sebagai salah satu alasan mengapa dirinya keluar dari salah satu kelompok pecahan National Front. Menurutnya, fasisme lama telah kehilangan legitimasi dan merupakan penyimpangan dari nilai-nilai sejati nasionalisme revolusioner. Namun, tujuan akhirnya, sebagaimana juga dianut oleh Kanan Baru Eropa, adalah menciptakan bentuk baru fasisme yang tetap mempertahankan nilai-nilai intinya, yakni membangun kembali komunitas yang telah diperbarui agar mampu bertahan menghadapi apa yang mereka anggap sebagai kemerosotan kapitalisme liberal kosmopolitan. Menurut pandangan ini, tujuan tersebut tidak akan tercapai selama gagasan-gagasan mereka masih dikaitkan dalam benak publik dengan tradisi fasisme lama.
Posisi Ketiga (Third Position)
Salah satu dari dua pengaruh utama terhadap kaum Anarko-Nasionalis adalah sebuah arus kecil dalam fasisme yang dikenal sebagai “Posisi Ketiga” (Third Position). Akar Posisi Ketiga berasal dari Bolshevisme Nasional, yang pada mulanya merujuk pada kaum komunis yang menginginkan revolusi bersifat nasional, bukan internasional. Istilah tersebut kemudian digunakan untuk menyebut kaum Nazi yang menginginkan aliansi dengan Uni Soviet. Tokoh terpenting di antara mereka adalah Otto Strasser, seorang "Nazi sayap kiri" dan mantan sosialis yang mengusulkan redistribusi tanah serta nasionalisasi industri. Setelah mengkritik Hitler karena bersekutu dengan kepentingan perbankan, ia dikeluarkan dari Partai Nazi. Saudaranya, Gregor Strasser, memiliki pandangan yang serupa, tetapi tetap bertahan di Partai Nazi hingga tahun 1934, ketika ia dibunuh oleh sesama anggota Nazi dalam peristiwa “Malam Pisau Panjang”.
Sejumlah tokoh fasis pascaperang kemudian melanjutkan garis pemikiran tersebut, termasuk Francis Parker Yockey dan Jean-François Thiriart. [18] Mereka memandang Amerika Serikat dan kapitalisme liberal sebagai musuh utama, menginginkan aliansi dengan Uni Soviet, serta mendorong solidaritas dengan berbagai gerakan revolusioner di Dunia Ketiga, termasuk revolusi-revolusi komunis di Asia dan Amerika Latin, serta gerakan Arab anti-Zionis (terutama kelompok-kelompok yang juga memiliki pandangan anti-semit). Para pengikut Thiriart di Italia bahkan membentuk sebuah sekte yang dikenal sebagai "Nazi-Maois", berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. Setelah pengeboman berdarah di Bologna pada Agustus 1980 yang menewaskan 85 orang, sekitar 40 fasis Italia melarikan diri ke Inggris, termasuk Robert Fiore.
Fiore kemudian dilindungi oleh anggota National Front, Michael Walker, yang juga merupakan editor majalah Scorpion. [19] Melalui majalah tersebut, gagasan-gagasan Posisi Ketiga dan Kanan Baru menyebar ke dalam National Front di Britania Raya, dan Troy Southgate secara terbuka mengakui bahwa Scorpion merupakan salah satu pengaruh utama terhadap pemikirannya. [20] Gagasan Posisi Ketiga juga menyebar melalui majalah Rising yang berafiliasi dengan National Front. [21] Setelah perpecahan internal pada tahun 1986, pengaruh baru ini mengubah orientasi politik partai tersebut. Sejumlah tokoh utamanya mengunjungi Libya di bawah pemerintahan Muammar Gaddafi, memuji Ayatollah Khomeini di Iran, serta menjalin hubungan dengan Nation of Islam di Amerika Serikat.
Southgate mengklaim telah meninggalkan fasisme Posisi Ketiga. [22] Namun, klaim ini bersifat menyesatkan. Memang, ia menolak negara yang tersentralisasi, sehingga juga menolak kemampuan negara untuk menasionalisasi industri ataupun membangun sebuah "negara-etnis" (ethnostate). Akan tetapi, kaum Anarko-Nasionalis tetap mempertahankan dua benang merah utama dari filsafat Posisi Ketiga. Pertama, mereka mempertahankan gagasan mengenai sosialisme yang bersifat rasis, yang diposisikan sebagai jalan ketiga di antara kapitalisme dan sosialisme kiri seperti Marxisme maupun anarkisme tradisional. [23] Kedua, mereka tetap menekankan pentingnya aliansi strategis dan konseptual antara berbagai gerakan nasionalis (terutama di Dunia Ketiga) dalam menghadapi Amerika Serikat. Sebagaimana dahulu National Front memuji Nation of Islam dan Gaddafi, kaum Anarko-Nasionalis juga memuji kelompok-kelompok separatis rasial kulit hitam dan Asia, serta mendukung berbagai gerakan penentuan nasib sendiri secara nasional, misalnya gerakan kemerdekaan Tibet. Berbeda dengan banyak kelompok nasionalis kulit putih lainnya (seperti British National Party), kaum Anarko-Nasionalis bersikap pro-Islamis, namun hanya sejauh kelompok-kelompok Islamis tersebut "bersedia membatasi perjuangan mereka pada wilayah-wilayah yang secara tradisional merupakan kawasan Islam." [24]
Sebagaimana dicatat oleh Chip Berlet dan Matthew Lyons, fasisme Posisi Ketiga memengaruhi sejumlah kelompok di Amerika Serikat, seperti White Aryan Resistance (WAR), American Front, dan National Alliance; pendeta Christian Identity, Bob Miles, juga menganut pandangan yang serupa. [25] Hal yang sering luput dari perhatian para pengamat adalah hubungan American Front dengan National Revolutionary Faction (NRF) milik Southgate, yang selama bertahun-tahun secara terbuka ia banggakan. [26] Seperti halnya National Front di Britania Raya, tokoh-tokoh fasis Amerika seperti Tom Metzger dan Lyndon LaRouche juga menjalin hubungan dengan Nation of Islam. [27] Belakangan, National Alliance pun mengadopsi politik Posisi Ketiga. Mereka berupaya merekrut aktivis kiri melalui peluncuran sebuah situs anti-globalisasi palsu, dan pada Agustus 2002 bahkan menyelenggarakan aksi Solidaritas Palestina di Washington, D.C.. [28]
Upaya awal untuk secara langsung memindahkan ideologi Anarko-Nasionalisme ke Amerika Serikat dilakukan oleh provokator politik Bill White. Setelah memulai perjalanan politiknya sebagai seorang anarkis sayap kiri, White sempat mengadopsi posisi Anarko-Nasionalis pada masa puncak gerakan anti-globalisasi. Pada November 2001, ia menulis sebuah artikel terkenal di Pravda Online yang secara keliru mengklaim bahwa kaum Anarko-Nasionalis merupakan bagian dari formasi Black Bloc anarkis. [29] Belakangan, White bergabung dengan National Alliance sebelum akhirnya menganut Nazisme secara terang-terangan melalui National Socialist Movement (NSM).
Saat ini terdapat dua situs web di Amerika Serikat yang secara langsung berafiliasi dengan kaum Anarko-Nasionalis. [30] Salah satunya dikelola oleh seorang mantan skinhead Nazi yang kini beragama Kristen dan sangat produktif menulis, sementara situs yang berbasis di Bay Area telah membangun sebuah "jaringan" regional. Kelompok kecil inilah yang mengklaim ikut serta dalam demonstrasi untuk kemerdekaan Tibet dan aksi protes terhadap Folsom Street Fair.
Selain itu, sebagai sebuah identitas di dalam lingkungan nasionalis kulit putih, kaum Anarko-Nasionalis terus menarik sejumlah pengikut di Amerika Serikat. Sebagai contoh, salah satu kolaborator awal majalah Green Anarchy yang berbasis di Oregon pernah berafiliasi dengan perspektif Anarko-Nasionalis. [31] Kaum Anarko-Nasionalis di Amerika Serikat juga kerap berpartisipasi dalam diskusi di Stormfront, forum internet utama bagi kaum nasionalis kulit putih. Di sana mereka berusaha meyakinkan kaum fasis tradisional mengenai komitmen mereka terhadap separatisme rasial dan antisemitisme, meskipun banyak di antara kaum fasis tradisional memandang politik Posisi Ketiga dengan skeptisisme, bahkan permusuhan terbuka. Tampaknya, mendengar kaum nasionalis kulit putih mempromosikan pemikir-pemikir Islamis, komunis, maupun anarkis sama sulitnya diterima oleh sebagian kalangan kanan sebagaimana hal itu juga sulit diterima oleh kalangan kiri.
Benoist dan Kanan Baru Eropa
Selain fasisme Posisi Ketiga, pengaruh ideologis utama lainnya terhadap kaum Anarko-Nasionalis berasal dari Kanan Baru Eropa, khususnya pemikiran Alain de Benoist. Kaum Anarko-Nasionalis mengadopsi gagasan Benoist mengenai ras, desentralisasi politik, dan "hak untuk berbeda" (right to difference).
Benoist mendirikan lembaga pemikir GRECE dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membangun suatu kerangka intelektual yang tampak terhormat bagi seperangkat gagasan inti fasisme. Seperti Southgate, Benoist dengan lantang menyatakan bahwa dirinya bukan seorang fasis. Namun, para akademisi seperti Roger Griffin tidak sependapat. Griffin berpendapat bahwa Kanan Baru Eropa "pada akhir 1980-an dapat dikatakan telah berhasil melakukan makeover terhadap wacana fasis klasik sedemikian rupa sehingga, setidaknya di permukaan, wacana tersebut telah berubah hingga nyaris tidak lagi dapat dikenali." [32]
Benoist mengembangkan gagasan mengenai aliansi antara bangsa-bangsa Eropa dan Dunia Ketiga untuk menghadapi musuh bersama mereka, yaitu Amerika Serikat, liberalisme, dan kapitalisme. Namun, berbeda dengan kaum fasis yang menginginkan Eropa bersatu di bawah sebuah negara super (super-state), Benoist justru menyerukan federalisme radikal dan desentralisasi politik di Eropa. Roger Griffin menggambarkan visi tersebut sebagai berikut:
“Masyarakat pluralistik dan multikultural dalam demokrasi liberal akan digantikan bukan oleh sebuah komunitas nasional yang seragam secara budaya, terkoordinasi, karismatik, dan (dalam kasus Nazisme) murni secara rasial yang bertepatan dengan negara-bangsa, melainkan oleh sebuah aliansi komunitas-komunitas etnokultural (ethnies) yang homogen dalam kerangka sebuah Imperium Eropa yang bersifat federalis.” [33]
Benoist juga mengadopsi banyak kritik kiri yang cukup canggih, sehingga terkadang tulisannya terdengar menyerupai pemikir Marxis Mazhab Frankfurt. Saat ini ia mengecam kapitalisme, imperialisme, liberalisme, masyarakat konsumeris, Kekristenan, universalisme, dan egalitarianisme. Sebaliknya, ia membela paganisme, "demokrasi organik", serta Dunia Ketiga. Ia juga mempertanyakan peran teknologi yang berkembang tanpa kendali, mendukung environmentalisme, serta mengusung suatu bentuk feminisme. [34] Selain itu, Benoist menolak determinisme biologis dan menganut konsep ras yang dipahami sebagai kategori budaya, bukan biologis. [35] Southgate mengikuti hampir seluruh posisi tersebut, yang sebagian besar tidak ditemukan dalam tradisi Posisi Ketiga.
Karena pandangan-pandangan tersebut, Kanan Baru Eropa sangat berbeda dengan Kanan Baru Amerika Serikat, yang menjadikan Kekristenan dan pasar bebas sebagai prinsip utama, dua hal yang justru ditolak oleh kalangan Kanan Baru Eropa. Sebaliknya, Kanan Baru Eropa lebih dekat dengan tradisi paleokonservatif di Amerika Serikat, dan memiliki hubungan dengan The Rockford Institute, penerbit majalah Chronicles.
Gagasan intelektual utama Benoist adalah konsep "hak untuk berbeda", yang menjunjung tinggi homogenitas budaya dan keterpisahan berbagai kelompok etnokultural yang berbeda. Dalam pengertian ini, ia memperluas gagasan "hak menentukan nasib sendiri" yang dikembangkan oleh Kiri anti-imperialis hingga mencakup kelompok-kelompok mikro-nasional di Eropa (yang kadang disebut sebagai "Eropa Seratus Bendera"). Konsep "hak untuk berbeda" ini turut memengaruhi kebijakan anti-imigran Front Nasional pimpinan Jean-Marie Le Pen di Prancis, dan sejumlah anggota GRECE kemudian bergabung dengan partai tersebut, meskipun Benoist sendiri menolak Le Pen. [36]
Benoist juga memberikan pengaruh terhadap gerakan separatis kulit putih di Amerika Serikat. Gerakan ini umumnya mengusung tuntutan pembentukan sebuah negara kulit putih yang terpisah di sebagian wilayah Idaho, Montana, Oregon, Washington, dan Wyoming, dan gagasan tersebut mulai memperoleh popularitas di kalangan nasionalis kulit putih sejak awal 1980-an. [37] Perspektif regional yang terdesentralisasi ini berjalan beriringan dengan munculnya model organisasi yang juga bersifat terdesentralisasi. Louis Beam mengembangkan konsep "perlawanan tanpa pemimpin" serta strategi "serigala penyendiri" untuk aksi terorisme sayap kanan, [38] sementara Pendeta Bob Miles dari gerakan Christian Identity mulai menyebut dirinya sebagai seorang "klanarchist”.
Dengan membalik makna istilah, Benoist mengklaim bahwa dirinya justru seorang anti-rasis. Menurutnya, rasisme merupakan produk dari ideologi-ideologi universalis seperti liberalisme dan Marxisme, yang dianggap menghapus identitas etnis dan regional. Ia menyatakan bahwa "rasisme tidak lain adalah penyangkalan terhadap perbedaan." [39] Namun, Pierre-André Taguieff, seorang pengamat tajam mengenai Kanan Eropa, mengidentifikasi adanya "fobia terhadap percampuran" sebagai inti dari bentuk rasisme ini. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari "bentuk-bentuk rasisme baru yang lebih halus dan eufemistis, yang memuji perbedaan (heterophilia) serta menggantikan konsep 'ras' dengan 'budaya'." [40]
Pengaruh gagasan-gagasan Kanan Baru Eropa terhadap kaum Anarko-Nasionalis terlihat secara jelas. Di Australia, kelompok Anarko-Nasionalis pada praktiknya hampir sepenuhnya menyatu dengan New Right Australia/New Zealand, bahkan mereka menyatakan bahwa "Kanan Baru adalah teorinya, sedangkan Anarko-Nasionalisme adalah praktiknya." [41] Di Britania Raya, Troy Southgate telah terlibat dalam berbagai pertemuan Kanan Baru sejak tahun 2005. [42]
Namun demikian, sementara Benoist mengklaim bahwa dirinya tidak membenci para imigran, menolak antisemitisme, dan mendukung feminisme, kaum Anarko-Nasionalis memperlihatkan seperti apa gagasan-gagasan Kanan Baru itu ketika diterapkan dalam praktik: separatisme rasial yang terang-terangan, antisemitisme terbuka, homofobia, dan anti-feminisme. Dalam praktik mereka, "hak untuk berbeda" pada akhirnya diwujudkan sebagai pembentukan desa-desa yang dipisahkan berdasarkan etnis.
Kanan Baru juga memiliki pengaruh, meskipun terbatas, terhadap sebagian kalangan intelektual kiri. Di Amerika Serikat, jurnal Telos, yang sebelumnya dikenal luas karena memperkenalkan karya-karya Marxis Barat kepada pembaca berbahasa Inggris, bergerak ke arah kanan pada dekade 1990-an ketika editornya menunjukkan simpati terhadap Kanan Baru Eropa dan mulai menerbitkan karya-karya Benoist. [43] Hingga kini, Telos masih menerbitkan tulisan-tulisan Benoist serta mengkaji pemikiran ahli hukum Nazi, Carl Schmitt. Akibatnya, banyak kalangan kiri kini menganggap jurnal yang dahulu sangat dihormati tersebut sebagai sesuatu yang harus dijauhi. [44]
Richard Hunt
Meskipun Benoist menganjurkan struktur politik federal yang terdesentralisasi, kaum Anarko-Nasionalis Australia menegaskan bahwa ia tidak sampai menganjurkan anarkisme itu sendiri. [45] Sebaliknya, klaim mereka terhadap "anarkisme" tampaknya berakar pada gagasan Richard Hunt tentang "desa-desa". Hunt awalnya merupakan editor majalah Inggris Green Anarchist, yang mengusung etika enviromentalis yang sangat anti-industri. Namun, ia kemudian dikeluarkan dari kolektif redaksi karena pandangan-pandangannya yang berhaluan kanan, sebelum akhirnya mendirikan Green Alternative, sebuah publikasi yang banyak dianggap sebagai media "eko-fasis."
Hunt mengembangkan visi apokaliptik tentang masyarakat pasca-industri yang mengingatkan pada dunia film Mad Max. Southgate bahkan menyatakan bahwa "mengatakan bahwa kami sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Richard Hunt adalah sebuah pernyataan yang terlalu meremehkan", dan kemudian ia mengambil alih posisi editor majalah Hunt ketika Hunt jatuh sakit. [46]
Kritik Hunt juga selaras dengan arus ekologis dalam fasisme klasik, khususnya pemikiran Walter Darré, Menteri Pertanian Hitler. Dalam satu tulisan, Southgate secara terbuka memuji ideologi "Darah dan Tanah" (Blood and Soil) yang dikembangkan Darré, [47] sementara dalam tulisan lain ia berusaha memoles citra Darré dengan hanya menyebutnya sebagai seorang "ekolog nasionalis". [48] Banyak kelompok fasis kontemporer lainnya, terutama White Aryan Resistance (WAR) di Amerika Serikat, juga mengadopsi agenda enviromentalisme.
Homofobia, Antisemitisme, dan Antifeminisme
Kaum Anarko-Nasionalis cukup terbuka mengenai sikap anti-feminis mereka serta keinginan untuk mengasingkan kaum queer ke dalam ruang-ruang yang terpisah. Namun, mereka cenderung menyembunyikan pandangan dunia mereka yang sangat anti-semit. Mengenai feminisme, Troy Southgate menyatakan: "Feminisme itu berbahaya dan tidak alamiah karena mengabaikan hubungan yang saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan, serta mendorong perempuan untuk memberontak terhadap naluri feminin yang secara inheren mereka miliki." [49]
Sikap mereka terhadap homoseksualitas bahkan lebih menarik. Southgate mengatakan: "Homoseksualitas bertentangan dengan Tatanan Alam karena sodomi jelas merupakan tindakan yang tidak alamiah. Kelompok-kelompok seperti OutRage bukan memperjuangkan kasih sayang antara laki-laki, yang selalu ada dalam bentuk persaudaraan atau hubungan ayah dan anak, melainkan telah menciptakan sebuah kultus besar yang menyebabkan meningkatnya praktik hubungan seksual di tempat umum, pemerkosaan terhadap laki-laki, dan pelecehan seksual terhadap anak. Namun, kami tidak berusaha menghentikan kaum homoseksual melakukan hal-hal tersebut sebagaimana dilakukan kaum moralis Kristen atau para pendukung sensor yang fanatik. Sebaliknya, selama perilaku itu tidak memengaruhi komunitas-komunitas Anarko-Nasionalis yang akan datang, kami tidak peduli apa yang mereka lakukan di tempat lain." [50]
Dalam skema politik Southgate, hal itu berarti kaum queer akan ditempatkan di "desa-desa" mereka sendiri yang terpisah. Demonstrasi Anarko-Nasionalis di San Francisco baru-baru ini ditujukan terhadap dua acara yang mayoritas pesertanya adalah komunitas queer, yaitu Folsom Street Fair dan Up Your Alley. Pengorganisir aksi tersebut, yang dikenal sebagai "Andy", secara terbuka menyatakan dirinya seorang "rasis" dan membenci kaum queer.
Andy juga membantah tuduhan bahwa Nasional-Anarkisme bersifat anti-semit. Menurutnya, mereka hanya melakukan "kritik terus-menerus terhadap Israel dan para pendukungnya", [51] sebagaimana juga dilakukan oleh banyak kalangan kiri dan anarkis. Sekali lagi, ini merupakan upaya khas kaum Anarko-Nasionalis untuk menghindari kritik. Padahal, antisemitisme merupakan unsur penting dalam pandangan politik Southgate maupun Herfurth.
Southgate secara aktif mempromosikan karya-karya para penyangkal Holocaust, termasuk Institute for Historical Review, dan menganut keyakinan anti-semit yang lazim dalam teori konspirasi mengenai peran "konspirasi Yahudi internasional". Sebagai bentuk eufemisme, ia terkadang menggunakan istilah "Zionis". Misalnya, ia menyatakan bahwa: "Kaum Zionis dikenal luas karena pandangan hidup mereka yang kosmopolitan, terutama karena mereka yang mendukung tujuan jahat tersebut tidak memiliki akar organik mereka sendiri." [52] Dalam wawancara lain ia mengatakan: "Tidak diragukan lagi bahwa dunia sedang diarahkan secara kejam (meskipun mungkin tidak sepenuhnya dikendalikan) oleh Zionisme Internasional. Hal itu dicapai melalui berkembangnya sistem perbankan berbasis riba." [53] Ia juga menggambarkan The Protocols of the Elders of Zion, sebuah dokumen palsu yang menjadi teks anti-semit paling terkenal di dunia, sebagai buku yang "meskipun belum terbukti keasliannya, selaras dengan peristiwa-peristiwa utama dalam sejarah dunia modern." [54]
Sementara itu, rekan Southgate di Australia, Welf Herfurth, bahkan lebih terang-terangan mengungkapkan pandangan anti-semit neo-Nazi. Dalam salah satu pidatonya, ia menyebut Holocaust sebagai sebuah "rekayasa yang dibesar-besarkan" yang "telah menjadi sumber keuntungan yang sangat besar bagi orang-orang Yahudi, sekaligus membuat Jerman dan Eropa pascaperang bertekuk lutut." Ia kemudian menyebut Israel sebagai "negara paling berkuasa di dunia Barat". Herfurth menutup pidatonya dengan menyatakan bahwa: "Dengan membebaskan Jerman dari belenggu Israel dan membangun kembali Jerman baru berdasarkan sebuah ‘Volksgemeinschaft’ (komunitas rakyat), kaum nasionalis Jerman akan membebaskan Eropa, dan juga dunia Barat." [55]
Kesimpulan
Belakangan ini, kelompok-kelompok Anarko-Nasionalis baru yang direkrut melalui aktivitas Troy Southgate di internet mulai melangkah keluar dari sekadar mendiskusikan gagasan-gagasan khas mereka di dunia maya menuju keterlibatan dalam politik nyata, dengan ikut serta dalam berbagai demonstrasi di Australia dan San Francisco. Sementara itu, situs web dan blog mereka terus bermunculan di berbagai negara dan dalam berbagai bahasa.
Bahaya yang ditimbulkan oleh Anarko-Nasionalis bukan terletak pada kekuatan politik mereka yang masih kecil, melainkan pada potensi mereka untuk menunjukkan cara baru bagi kelompok-kelompok fasis dalam membangun citra ulang dan meletakkan kembali proyek politik mereka di atas landasan yang baru. Mereka telah meninggalkan banyak praktik fasis tradisional, termasuk penggunaan simbol-simbol neo-Nazi secara terang-terangan serta perekrutan dari subkultur skinhead yang identik dengan kekerasan. Sebagai gantinya, mereka menawarkan pendekatan yang lebih halus dan lebih canggih. Referensi budaya mereka berasal dari skena musik neo-folk dan gothic yang memberikan kesan intelektual dan berkelas, berbeda dengan citra kasar subkultur skinhead. Mereka juga menghindari rujukan yang jelas kepada rezim fasis Hitler maupun Mussolini, bahkan sering kali mengklaim bahwa diri mereka sama sekali bukan "fasis".
Seperti halnya Kanan Baru Eropa, Anarko-Nasionalis mengadopsi kritik-kritik kiri yang relatif canggih terhadap berbagai persoalan masyarakat kontemporer, serta mengambil simbol-simbol dan orientasi budaya dari gerakan kiri. Namun, solusi yang mereka tawarkan atas persoalan-persoalan tersebut adalah separatisme rasial. Mereka berupaya menggunakan bentuk baru ini untuk menghindari stigma yang melekat pada fasisme lama yang telah kehilangan legitimasi. Apabila mereka berhasil, sebagaimana yang dicapai oleh kaum Bolshevik Nasional di Rusia, mereka berpotensi menghidupkan kembali gerakan mereka. Bahkan jika hasilnya terbatas sekalipun, strategi ini tetap dapat mengganggu gerakan-gerakan sosial kiri beserta fokusnya pada keadilan sosial dan egalitarianisme, sekaligus menyebarkan gagasan-gagasan elitis yang berlandaskan rasisme, homofobia, antisemitisme, dan antifeminisme di kalangan aktivis akar rumput.
Glosarium
Fasisme: Fasisme merupakan salah satu bentuk populisme sayap kanan yang paling ekstrem. Fasisme mengagungkan persatuan nasional, rasial, atau budaya serta gagasan tentang kelahiran kembali kolektif, sambil berupaya menyingkirkan musuh-musuh yang dibayangkan keberadaannya. Fasisme juga menyerang gerakan-gerakan kiri maupun pluralisme liberal. Ideologi ini pertama kali mengkristal di Eropa sebagai respons terhadap Revolusi Bolshevik dan kehancuran akibat Perang Dunia I, sebelum kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Setelah Perang Dunia II, para fasis menafsirkan kembali ideologi dan strategi fasis agar sesuai dengan kondisi-kondisi baru.
Posisi Ketiga (Third Position): Politik Posisi Ketiga merupakan salah satu cabang kecil dalam pemikiran fasis. Aliran ini menolak baik kapitalisme liberal maupun Marxisme, dan menggantikannya dengan suatu bentuk sosialisme yang didasarkan pada ras. Akar utamanya dapat ditelusuri pada kaum Bolshevik Nasional, yang memadukan nasionalisme dengan komunisme, serta Strasser bersaudara, tokoh-tokoh penting dalam sayap "kiri" Partai Nazi. Para penganut Posisi Ketiga umumnya mendukung gerakan-gerakan pembebasan nasional di Dunia Ketiga, berupaya membangun aliansi dengan kelompok-kelompok separatis etnis lainnya, dan dalam beberapa dekade terakhir juga menyatakan dukungan terhadap isu-isu lingkungan hidup.